
setelah berunding dengan kedua putrinya,dan kedua setuju untuk tetap tinggal di Indonesia, meskipun harus berpisah dengan ibunya, elisa.
Carlos pun mencari seorang asisten rumah tangga yang mengerti dalam segala hal. Carlos memilih seorang sarjana, untuk menjadi asisten rumah tangga kedua putri sambungnya, Vania dan Maureen.
Carlos sengaja memilih seorang wanita yang umurnya di atas 40 tahun, supaya beliau lebih telaten mendidik dan mengajar kedua putrinya ini.
seorang sarjana yang sudah pasti berpendidikan dan berpengalaman dalam mengurus seorang anak remaja.
bahkan Carlos rela membayar dua kali lipat, dari gaji seorang asisten, dari yang seharusnya.
******
tanpa terasa, tujuh bulan telah berlalu.
dan kini usia kandungan Elisa sudah menginjak delapan bulan.
seperti biasanya, Elisa dan Carlos selalu membawa Felicia untuk mengunjungi Vania dan Maureen, di Indonesia.
tapi kali ini, Carlos dan Elisa kembali ke negara ini karena mereka akan hadir di pernikahan Glen dan Dewi.
*****
dari kejauhan, pada saat keluarga kecil ini memasuki gereja dengan menggunakan kebaya modern, dengan model dan motif bahkan warna yang sama, semua mata tertuju pada mereka.
bagaimana tidak, Elisa dengan perut buncitnya, sedang berjalan dengan menggandeng tangan suaminya, Carlos.
mereka berdua terlihat sangat mesra.
sedangkan tangan kanan Carlos memegang tangan Felicia. sedangkan Maureen dan Vania menyusul dari belakang.
Elisa menggunakan kebaya bordir warna silver, dengan di padukan rok kain batik.
begitu juga dengan ketiga putrinya.
sedangkan Carlos, menggunakan setelan jas berwarna silver juga.
berpenampilan seperti ini, membuat keluarga kecil ini menjadi perhatian banyak orang.
apalagi sekarang Elisa terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.
tentu saja, karena dia banyak melakukan
perawatan pada wajah dan tubuhnya.
apalagi, Elisa memadukan kebaya nya, dengan memakai satu set perhiasan berlian. membuat Elisa bagaikan seorang ratu.
semua orang yang hadir di sana, mengatakan bahwa Elisa saat beruntung menikah Carlos yang begitu baik pada elisa dan ketiga putrinya.
setelah acara pemberkatan pernikahan sudah selesai.
seluruh anggota keluarga di minta untuk hadir di acara ramah tamah di rumah Glen. karena pernikahan Glen dan Dewi di lakukan dengan sangat sederhana.
semenjak, Elisa hamil besar, sekarang dia sudah doyan makan.
tapi ketika dia mencium bau daging yang di hidangkan di sana membuat Elisa kembali merasa mual.
Carlos yang sudah hapal dengan kelakuan istrinya, selalu siap siaga, ketika istrinya membutuhkan dirinya.
sejak Elisa hamil muda, sampai hamil besar seperti ini. rasa mual nya hanya akan hilang, jika dia di peluk dan cium oleh suaminya, Carlos.
Elisa yang sedang merasa mual, tanpa malu-malu lansung memeluk Carlos. bahkan dia menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak suaminya, carlos.
Hanya dengan mencium bau wangi tubuh Carlos, atau bau wangi parfum yang di gunakan Carlos. entah lah, author juga tidak tahu. yang jelas, Elisa akan merasa lebih baik, ketika dia di peluk dan cium suaminya ini.
Carlos dengan spontan, malah semakin mempererat pelukannya pada istrinya,Elisa.
dan tidak hanya sekedar peluk aja, Carlos bahkan malah mencium pucuk kepala Elisa. dan sesekali dia mencium pipi Elisa.
sebagian orang yang hadir di sana ikut senang melihat aksi romantis Carlos dan Elisa. tapi ada juga yang masih dalam keadaan sedang bingung melihat keromantisan Elisa dan Carlos. bahkan ada juga yang mencibir, mungkin karena mereka merasa iri, kerena kehidupan Elisa jauh lebih baik dari mereka.
******
__ADS_1
satu Bulan lebih telah berlalu. Elisa sedang duduk di ruang tamu, dengan kaki berselonjor di atas sofa. dia duduk berdua dengan ibu mertuanya.
mereka berdua sedang menonton TV. sesekali mereka berdua mengobrol.
tapi keduanya lebih banyak diam. karena mereka mempunyai hobi yang sama, yaitu menonton drama Korea, jadi keduanya lebih fokus ke layar tv.
sedang Felicia sedang bermain di taman rumah ini, di temani seorang Baby sister nya.
seorang baby sister yang selalu menemani diri nya, di manapun Felicia berada. ke sekolah dan tempat-tempat yang lainnya. bahkan tidur dan makan pun harus di temani, baby sister nya ini. mereka berdua sudah sangat akrab.
seorang baby sister yang berasal dari negara ini, tapi dia sudah lancar menggunakan bahasa Indonesia.
jadi dengan mudahnya, dia mengobrol dengan Felicia.
"ibu....."
nyonya Salva, kaget mendengar Elisa tiba-tiba memanggil dirinya. walaupun suara nya sangat pelan, tapi nyonya Salva masih bisa mendengar nya.
"ada apa, Elisa?"
tanya nyonya Salva dengan sedikit panik, setelah melihat raut wajah Elisa yang tiba-tiba tegang.
"Bu... ibu, kenapa perut ku tiba-tiba sakit ya Bu?"
ucap elisa, sambil memegang perutnya dan merebahkan dirinya di sofa.
" apa.... sakit. kamu sakit perut?"
tanya nyonya Salva, dengan agak panik.
" ya Bu. perut ku, terasa Sangat sakit sekali"
"jangan-jangan, ini sudah waktunya kamu mau melahirkan, Elisa?"
tanyakan nyonya Salva.
"benar Bu. seperti nya, saya memang akan segera melahirkannya Bu?"
"ibu, ibu akan segera menelepon Carlos, dan memberitahukan bahwa kamu akan segara melahirkan"
ucap nyonya Salva.
sedangkan,Carlos yang sedang mengadakan rapat di perusahaan nya, memilih untuk mengabaikan panggilan telepon dari ibunya. meskipun sudah berkali-kali handphone nya berbunyi.
nyonya Salva merasa sangat jengkel dengan anak semata wayangnya ini,Carlos. karena sudah mengabaikan panggilan telepon dari dirinya.
"Elisa, sayang. Sekarang kita kerumah sakit saja ya."
"tidak Bu.saya tidak ingin kerumah sakit, tanpa di temani oleh carlos Bu"
jawab Elisa dengan sedikit engos engosan.
bahkan sekarang, wajah nya sudah bercucuran keringat dingin.
"tapi sepertinya suamimu Carlos, sedang sibuk. bahkan dia tidak sempat untuk sekedar mengangkat telpon dari ku"
ucap nyonya Salva dengan sangat pelan-pelan. ingin memberikan perhatian untuk elisa.
"tidak Bu. aku akan menunggu sampai Carlos sendiri yang mengantarkan diriku ke rumah sakit"
jawab Elisa, bersikeras untuk menunggu kedatangan Carlos.
'dasar Carlos... selalu saja tidak menjawab telpon dari ku'
gumam nyonya Salva.
satu jam kemudian, rapat kantor telah selesai.
Carlos melihat ponselnya.
dan betapa terkejutnya Carlos karena melihat, ada 20 panggilan tidak terjawab dari ibunya.
__ADS_1
'20 panggilan tidak terjawab dari ibu'
'ada apa ini?'
tanya Carlos di dalam hatinya. lalu Carlos, segera menelpon balik ibunya.
Tut....Tut....Tut....
nyonya Salva, lansung meraih handphone nya,lalu segera mengangkat telepon dari Carlos.
"selamat siang Bu. ada apa menelpon ku?"
tanya carlos pada nada santai.
"Carlos.... kamu kemana saja sih ?."
"kenapa kamu tidak menjawab panggilan telpon ku."
"kamu harus segera pulang sekarang!!!!"
ucap nyonya Salva dengan suara yang sangat nyaring.
"sayang.... perutku sakit. kamu harus segera pulang"
ucap elisa sambil berteriak lebih nyaring dari nyonya Salva.
"ibu... siapa yang sedang sakit perut. apakah itu suara istri ku"
tanya carlos dengan perasaan yang tidak enak.
"iya Carlos. itu suara istri mu, Elisa."
"sekarang, elisa sedang sakit perut, seperti nya dia akan segera melahirkan"
jawab nyonya Salva.
"apa????"
"istri ku, akan segera melahirkan."
"aku akan segera pulang Bu. tunggu aku."
ucap Carlos dengan wajah panik.
"ibu, tolong berikan handphone nya sama Elisa. " ucap Carlos, Masih dengan paniknya. sebelum dia pulang, Carlos ingin menyemangati istrinya terlebih dahulu.
dan ibunya lansung memberikan handphonenya pada Elisa.
"sayang..... maaf tadi saya tidak mengangkat telepon dari ibu. tadi saya sedang ada rapat penting. kamu yang sabar ya. saya akan segera datang"
ucap Carlos panjang lebar. tanpa memiliki apakah, bisa mendengar ucapannya atau tidak.
"baiklah...."
jawab Elisa singkat.
bukan nya dia tidak ingin mengomel pada suaminya ini. tapi rasa sakit di bagian perut dan pinggang nya, membuatnya tidak ingin banyak bicara.
"aduh....."
ucap elisa lagi. pada saat, sebuah tendangan dari bayi di dalam perut nya kembali dia rasakan.
"sayang....., sabar ya. saya akan segera datang. da....."
ucap Carlos Tevez menutup sambungan telepon nya.
meskipun rasanya sangat sakit. tapi Elisa tetap sabar menunggu kedatangan suaminya.
karena dia tidak merasa panik sedikit pun. mungkin karena ini adalah pengalaman yang ke empat kalinya Elisa rasakan.
Hanya saja, rasa sakit yang dia rasakan sekarang, jauh lebih sakit dari yang sebelumnya.
__ADS_1