
tidak terasa, satu Minggu telah berlalu.
dan hari adalah akhir pekan.seperti yang di janjikan oleh Rafael sebelumnya, hari ini dia akan kembali ke London untuk menemui Vania.
hari ini, Vania lebih bersemangat dari hari-hari biasanya, karena hari ini adalah hari yang telah di tunggu tunggu oleh Vania. pasalnya hari ini tunangannya Rafael akan kembali ke London.
dan sekarang dia sedang bersiap-siap untuk menjemput Rafael di Bandara.
di kamarnya Vania kebingungan memilih baju yang cocok untuk dia kenakan.
saking bingungnya, Vania sampai meminta bantuan ibunya untuk memilih baju dan melihat penampilan nya. kali ini, dia ingin tampil cantik.
"ya ampun Vania.... apa yang sedang kamu lakukan?. kenapa baju-baju mu jadi berantakan seperti ini?"
tanya Elisa,pada putri nya Vania.
Elisa yang baru saja masuk kedalam kamar Vania, sangat kaget melihat kamar Vania yang sangat berantakan.
baju-baju Vania berserakan di mana-mana. di atas kasur, sofa dan bahkan ada yang di atas lantai.
sepertinya, Vania sedang membongkar seisi lemari nya.
"ibu, tolong bantu saya pilihkan baju yang cocok untuk saya kenakan"
bukannya menjawab pertanyaan ibunya, tapi Vania malah semakin sibuk sendiri memilih, dan mencoba baju-baju nya.
"semua baju-baju ini bagus-bagus Vania. semuanya cocok untuk anak mama yang cantik ini."
ucap Elisa, memuji kecantikan putri nya.
baju mana sih yang tidak cocok untuk anak gadis seperti Vania. kulitnya yang putih mulus, bertubuh langsing. dengan rambut panjang,hitam, lebat yang selalu tergerai indah, berhasil membuat Vania terlihat lebih cantik dari gadis-gadis lainnya.
bukan tanpa alasan, rambut Vania yang hitam berkilau,membuat dia berbeda dari yang lainnya, berbeda dari orang-orang barat yang mempunyai rambut pirang.
di tambah lagi penampilan dia yang selalu modis setiap hari. jadi tidak mungkin pakaian yang ada didalam lemarinya tidak cocok untuk dia kenakan.
sepertinya hari ini Vania hanya sedang salah tingkah saja, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan pujaan hatinya, Rafael.
"tapi ma...."
"memang nya kamu mau kemana sih?
kenapa baju-baju ini kamu berantakan seperti ini?"
tanya Elisa, mengambil sehelai dress, lalu memberikan nya pada Vania.
"saya mau ke bandara ma...mau jemur Rafael"
"jadi, Rafael benar-benar akan kembali?."
"ya ma... makanya saya ingin tampil cantik" jawab Vania, malu-malu.
"waduh Vania.... mama pikir ada apa, ternyata kamu cuma lagi bucin aja"
"mama.... mau bantuin Vania gak?"
"ya maulah. kamu coba yang ini ya"
jawab Elisa,sambil mengambil dengan asal, salah satu dress mini, lalu memberikan nya pada Vania.
Vania mengambil baju pemberian ibunya, dan segera mencobanya.
beberapa menit kemudian.
"Tara .... cantik gak ma?"
tanya Vania pada ibunya, dengan wajah bahagia, pasalnya dia merasa puas dengan baju pilihan ibunya.
__ADS_1
"kamu cantik sekali sayang. sini mama rapikan rambut mu"
jawab Elisa, dia tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Vania.
Elisa mengambil sisir, lalu menyisir rambut putri nya, kemudian merapikan riasan wajah Vania.
sedangkan Vania,dia hanya bisa duduk manis di depan meja riasnya.dia selalu menuruti ibunya, dia percaya bahwa ibunya pasti akan merias dirinya dengan sangat sempurna.
"lihatlah, kamu cantik sekali Vania"
ucap Elisa, setelah dia selesai merias wajah Vania.
"ya ma, cantik"
"Sekarang kamu pakai sepatu yang ini ya"
ucap Elisa, sambil memberikan sepasang sepatu pada Vania.
"ya ma...."
****
"kenapa lama?"
tanya Carlos pada istrinya. pada saat Elisa berjalan menuju dirinya.
"Vania minta di pilihkan baju. sore ini dia ingin menjemput Rafael di bandara"
jawab Elisa, lalu duduk di samping suaminya.
"benarkah?. kenapa hari ini Vania ingin sekali tampil perpeks?. gak biasanya dia bersikap seperti ini"
ucap Carlos.
"iya, saya juga heran. Vania bahkan membongkar seisi lemari nya. dia bingung memilih baju yang mana yang cocok untuk dia kenakan"
"bagaimana, kalau kita segera nikahkan saja mereka berdua" usul Elisa.
"itu tergantung mereka berdua. kalau mereka berdua sudah siap menikah, saya pasti akan merestui nya"
jawab Carlos.
"mama.... ayah.... bagaimana penampilan ku?. aku cantik gak?"
tanya Vania yang tiba-tiba datang, mengganggu obrolan kedua orang tuanya.
Elisa dan Carlos pun saling pandang, kemudian sambil tersenyum mereka menjawab.
"cantik..."
"masak cuma cantik doang" jawab Vania, pura-pura merajuk.
"cantik banget, sayang"
jawab keduanya, serempak.
kali ini,Vania menggunakan dress mini, diatas lutut. dress berwarna gold, dan dipadukan dengan sepatu berwarna putih. kemudian menggunakan tas selempang nya, yang berukuran mini.
dengan penampilan seperti ini, semakin menambah kecantikan Vania.
Vania yang bertubuh langsing, semakin terlihat cantik,imut, **** dan semakin menarik tentunya.dia terlihat seperti anak remaja. apalagi rambut lurusnya tergerai dengan indah nya.
tidak seperti hari-hari biasanya, Vania selalu berpenampilan dewasa, sesuai dengan profesi nya yang sebagai seorang dokter.
dia selalu menggunakan kemeja dan celana bahan, yang dipadukan dengan jas berwarna putih nya. dan setiap kemanapun dia pergi, dia selalu membawa tas ransel nya, untuk mempermudah dia membawa barang-barang nya untuk belajar praktek sebagai seorang dokter.
"Vania pamit dulu ya... mau ke bandara jemput Rafael."
__ADS_1
ucap Vania, sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya, secara bergantian.
"hati-hati ya" jawab Elisa dan Carlos bersamaan.
"ya ma... ya ayah."
jawab Vania sambil berlalu.
sambil bersenandung, Vania berjalan menuju garasi mobil.
sekarang, untuk mempermudah urusan kuliahnya, Vania sudah dibelikan oleh ayahnya sebuah mobil.
sebetulnya Vania ingin menolak, tapi mengingat bahwa dia selalu sibuk dan sering praktek di rumah sakit yang berbeda, membuat dia menerima pemberian ayahnya, karena jika dia menyetir mobil sendiri, akan mempermudah kelancaran urusannya, pikir Vania.
'aku harus segera sampai di bandara' pikir
Vania, sambil terus melajukan mobilnya, di jalanan yang padat pengendara.
entah kenapa, pikiran Vania selalu tertuju pada tunangannya, Rafael. bahkan sikapnya seperti orang yang sedang kasmaran. ingin segera bertemu, bertemu dan bertemu. itulah yang selalu Vania pikiran.
bahkan sekarang, dia sudah mulai memperhatikan penampilan nya pada saat bertemu dengan Rafael.
tidak seperti biasanya. dulu Vania selalu cuek-cuek saja dengan penampilan nya.
tidak peduli dia terlihat cantik atau tidak di mata Rafael.
*****
sebuah pesawat baru saja tiba di bandara. pesawat yang membawa Rafael tentunya.
Rafael, yang baru saja tiba di bandara, berjalan menuju parkiran mobil.
dia berjalan sambil melihat sekeliling. seperti orang yang sedang mencari seseorang.
karena tidak menemukan seseorang yang sedang dia cari, akhirnya Rafael memilih untuk duduk di sebuah kursi tunggu.
kemudian dia mencari handphone nya di saku jaketnya. lalu menelpon seseorang.
'kamu di mana, sayang'
gumam Rafael, karena sambung telponnya tidak tersambung.
'sebelumnya kamu berjanji, mau jemput aku di bandara. tapi mana buktinya, sampai sekarang kamu belum sampai juga' gumam Rafael lagi.
'atau.... jangan-jangan????'
oceh Rafael di dalam hatinya. dia terus bertanya tentang keberadaan seseorang yang sedang dia tunggu. seseorang yang selalu bikin hatinya terasa nyilu, karena menahan rindu.
'ah.... jangan berpikir negatif, Rafael' gumam Rafael, menyadarkan dirinya sendiri.
'sabar.... dia pasti akan datang. mungkin dia terlambat karena macet'. gumam Rafael lagi.
dan akhirnya dia memilih untuk kembali menunggu kedatangan pujaan hatinya,Vania.
*****
hai...hai...hai... readers semua, apa kabar????
semoga kita semua dalam keadaan baik-baik saja ya.
puji Tuhan,setelah sekian lama gak update, akhirnya author bisa update juga.
dan mohon maaf ya, karena author terlambat update.
salam sehat
author.
__ADS_1