
nyonya Salva membawa Elisa dan ketiga cucu baru nya untuk berkeliling di taman rumahnya.
Vania, Maureen dan Felicia sedang asik bermain di sekitar kolam yang ada air mancurnya di sana.
sedangkan Elisa dan ibu mertuanya sedang duduk di kursi di taman tersebut.
elisa sedang memperhatikan apa yang sedang di siapkan oleh beberapa pelayan di rumah ini, mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pesta kecil-kecilan untuk penyambutan kedatangan dirinya di sana. semua pelayan tersebut, melakukan pekerjaan nya sesuai instruksi dari nyonya Salva.
sedang Carlos, seperti biasanya, sedang berada di kantor nya. sedang sibuk bekerja.
meskipun dia selalu ingin terus bersama istrinya, tapi pekerjaan nya yang tidak bisa di tunda membuat dia, harus tetap bekerja.
****
sedangkan di Indonesia.
Glen dan Dewi sedang liburan ke puncak.
mereka sedang duduk di sebuah cafe.
cafe yang pernah mereka kunjungi sebelumnya.
"Dewi, sebetulnya ada yang ingin saya sampaikan pada mu"
ucap Glen, di sela-sela obrolan mereka berdua.dengan wajah serius.
" ada apa?"
"katakan saja"
jawab Dewi. di hatinya, dia merasa sedikit canggung melihat ekspresi wajah Glen yang tiba-tiba serius.
"sebenarnya, aku sudah lama sekali ingin menyampaikan hal ini padamu. tapi aku selalu merasa ragu"
jawab Glen, menatap mata Dewi, dengan penuh arti.
"apa yang membuat mu merasa ragu?"
"katakan saja..."
jawab Dewi, sambil menundukkan kepalanya. dia merasa tidak nyaman di tatap oleh Glen seperti itu.
"sebenarnya.... hmmm "
ucap Glen dan ragu-ragu
"ya...."
jawab Dewi, sambil kembali menatap mata Glen, karena merasa penasaran.
"sebenarnya....aku merasa, aku telah jatuh cinta padamu"
ucap Glen dengan sangat pelan, tapi Masih bisa di dengar oleh Dewi.
"aku sudah jatuh cinta padamu, Dewi"
ulang Glen, lalu meraih tangan Dewi, dan menggenggamnya.
"Dewi, mau kah kamu menjadi pacarku"
ucap Glen lagi.
tapi Dewi tidak menjawab sepatah katapun ucapan Glen.
"Dewi...."
ucap Glen lagi, sambil menepuk-nepuk pipi Dewi, yang sedang bengong, mendengar ungkapan cinta Glen pada dirinya.
"Dewi, apakah kamu mendengar ku"
"iya....."
jawab Dewi. yang kaget karena Glen sudah berpindah duduk di samping nya.
"maaf, jika ucapan ku sudah membuat mu kaget. aku hanya ingin menyampaikan perasaan cinta ku padamu. tapi tidak jadi masalah jika kamu tidak mau menerima cinta ku"
ucap Glen lagi. dia menatap wajah Dewi dengan seksama, seakan-akan menunggu jawaban dari Dewi
"tidak masalah."
jawab Dewi dengan salah tingkah. bukannya dia tidak mendengar ucap Glen. tapi dia cuma bingung, karena Glen tiba-tiba saja mengatakan cintanya padanya. ada rasa tidak percaya dihatinya.
"apa maksud mu, 'tidak masalah' ?"
tanya Glen. dia mengharapkan jawaban yang pasti dari Dewi.
"sebenarnya....aku juga merasa..."
__ADS_1
jawab Dewi. dia sengaja menggantungkan kalimatnya, untuk menyakinkan dirinya apakah, dia benar-benar juga sudah jatuh cinta pada Glen.
"sebenarnya... apa Dewi?"
tanya Glen dengan panasaran.
"huh....."
Dewi Manarik nafasnya, lalu kembali menghembus nya.
"sebenarnya, aku juga sudah jatuh cinta padamu"
jawab Dewi dengan sangat pelan, dia kembali menundukkan kepalanya. tapi Masih bisa di dengar oleh Glen.
"syukurlah.... ternyata kita punya perasaan yang sama"
ucap Glen sambil mengakat dagu Dewi supaya menatap wajahnya.
"aku mencintaimu Dewi. maukah kamu menerima cintaku?"
" maukah kamu menjadi pacarku, Dewi"
ucap Glen lagi.
"ya.... ya,saya mau jadi pacar mu"
jawab Dewi.
Glen merasa sangat bahagia mendengar jawaban dari Dewi. tanpa terasa Glen lansung merangkul bahu Dewi lalu mencium pucuk kepala Dewi.
"terima kasih, karena sudah mau jadi pacarku. karena mau menerima cintaku. aku mencintaimu mu"
ucap Glen, dia mempererat pelukannya pada Dewi.
"aku juga mencintaimu"
Glen sangat senang karena ternyata Dewi mau menerima cintanya. tidak seperti yang sudah dia bayangkan sebelumnya. dia berpikir bahwa Dewi tidak akan mau menerima cintanya karena usia mereka yang terpaut jauh.
'mana mungkin, Dewi mau sama aku. aku terlalu tua untuk nya. kami beda usia 10 tahun' pikir Glen pada waktu itu.
tapi setelah berpikir panjang, akhirnya Glen memberanikan dirinya untuk mengatakan cintanya pada Dewi, karena dia juga merasa Dewi selalu meresponnya.
'sebaiknya aku coba saja untuk mengungkapkan cintaku pada Dewi. dari pada aku pendam terus seperti ini. toh Dewi kan singel, beda dengan Elisa'
pikir Glen lagi.
berbeda dengan Dewi. sejak pertama kali dia bertemu dengan Glen, Dewi sudah jatuh cinta pada glen. tapi dia memendam perasaannya, karena dia tau Glen dekat sama bibinya, Elisa.
dan bukan hanya itu saja. Dewi juga tau bahwa Glen sudah sejak lama mencintai bibinya, Elisa.
dia mau menerima cinta Glenn karena dia juga mencintai Glen. dan karena bibinya, sudah menikah.
juga karena semenjak dia mengenal Glen, Glen selalu bersikap baik pada nya. bahkan glen sudah tidak pernah meminum alkohol lagi.
kalau tentang usia mereka yang berbeda yang sangat jauh. dia berusia 23 tahun, sedang kan Glen berusia 33 tahun.
tidak jadi masalah bagi Dewi.
*****
Elisa sudah selesai di rias.
sekarang dia dan Carlos akan menuju taman di mana nyonya Salva akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk dirinya.
semua orang menatap wajah elisa yang berjalan, dengan tangan kanannya menggandeng tangan suaminya, Carlos.
kecantikan Elisa, membuat semua
mata menatap takjub pada dirinya.
Elisa menggunakan dress warna merah maroon. dan riasan wajah yang natural serta rambut pendeknya yang sekarang sudah di luruskan, terurai dengan indah nya.
tubuh Elisa yang sangat mungil, membuat dirinya terlihat seperti anak gadis remaja saja. tidak terlihat seperti seorang ibu dari tiga anak sedikit pun.
Carlos memperkenalkan Elisa sebagai istrinya, dan ketiga putri sambungnya, sebagai anaknya pada semua yang hadir di sana.pada rekan kerjanya dan juga kerabat ibunya.
semua orang memuji kecantikan Elisa, bahkan ada yang berkomentar bahwa Carlos sangat beruntung, karena bisa mendapatkan wanita yang masih muda dan sangat cantik seperti Elisa.
dan ada juga yang memuji kecantikan ketiga putri sambung Carlos ini.
bahkan ada yang dengan sengaja menggoda Felicia yang selalu bersikap lucu dan mudah bergaul dengan siapa pun.
sikap Felicia selalu saja bikin orang-orang
merasa gemes melihatnya.
Elisa hanya diam saja mendengar apapun yang dia bicarakan orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
'aku terlihat seperti orang bodoh saja, berada di antara mereka. andai
saja,dulu aku belajar bahasa Inggris lebih serius lagi. aku pasti tidak akan merasa seperti orang bodoh seperti ini'
pikir Elisa
sebetulnya, Elisa sedikit mengerti dengan apa yang orang-orang bule ini ucapkan.
tapi dia hanya bisa diam saja, karena dirinya tidak lancar menggunakan bahasa Inggris.
semua orang sedang menikmati makanan yang sudah di hidangkan.
berbeda dengan Elisa, dia merasa sangat mual ketika dia mencium bau daging yang sedang di panggang. karena di sini juga sedang BBQ.
Elisa membawa Felicia menjauh dari antara keramaian.
tapi nyonya Salva yang melihat Elisa yang terlihat seperti orang yang mau muntah, segera mengambil Felicia dari dalam gendongan Elisa.
"kamu kenapa Elisa?"
"kamu terlihat seperti orang yang sedang tidak sehat saja"
tanya nyonya Salva.
"saya baik-baik saja Bu. sepertinya saya sedang masuk angin, kepala saya pusing dan saya juga mual"
jawab Elisa. dia ingin segera pergi dari tempat itu, karena tidak tahan dengan bau daging BBQ,tapi dia merasa tidak nyaman pada ibu martua nya ini.
dan dengan terpaksa dia menahan rasa mual nya.
Elisa sudah tidak tahan lagi mencium bau daging. dan karena mual dan pusing sudah dia tahan beberapa menit, membuat dia merasa lemas.
"Carlos...."
panggil nyonya Salva, memanggil Carlos dengan melambaikan tangan nya, karena dia melihat wajah Elisa yang tiba-tiba saja pucat pasi.
"ya Bu...."
jawab Carlos, sambil berjalan menuju ibunya.
"sayang...."
ucap Carlos yang melihat Elisa, yang berjongkok, karena dia sudah merasa sangat lemas, sambil menutup hidungnya menggunakan tisu di tangannya.
Carlos segera menghampiri istrinya, Elisa .
lalu mengakat elisa dan menggendong nya, masuk kedalam rumah.
"sayang, kamu kenapa?"
tanya carlos sambil terus berjalan menuju kamar nya.
"saya pusing dan mual. disini cuacanya sangat dingin, saya rasa, saya masuk angin"
jawab Elisa, masih di dalam gendongan Carlos.
Carlos membaringkan istrinya di atas kasur empuk di kamarnya.
tidak lama kemudian nyonya Salva datang, dan meminta Carlos untuk memanggil kan dokter.
"Carlos, saya perhatikan selama kedatangan Elisa di sini, dia selalu terlihat seperti orang yang kurang sehat.
sebaiknya kamu panggilkan seorang dokter untuk memeriksa istri mu, Elisa."
ucap nyonya Salva, yang tiba-tiba masuk dan Felicia masih dalam gendongannya nya.
"mama kenapa, ma...?"
tanya Feli, berjalan menuju ibunya.
"mama baik-baik saja sayang, mana cuma sedikit ga enak badan"
jawab Elisa, sambil memeluk dan menciumnya pipi Felicia.
"sebentar lagi, dokternya akan segera datang ma."
ucap Carlos pada ibunya. sesaat setelah dia sudah selesai menelpon seorang dokter.
****
kira-kira Elisa sakit apa ya?
yuk kepoin terus kelanjutan cerita nya...
salam kenal
author
__ADS_1