
“Dewa Feng, muridmu sungguh jenius dalam mempelajari sesuatu.”
Gang Wei memuji Liu Chang di hadapan Feng San yang baru saja pulang dari Alam Para Dewa. Setelah tiga bulan terakhir pergi, Feng San baru kembali tepat hari ini.
“Aku tahu namun fungsi guru juga sangat berperan dalam perkembangan Chang'er, kerja bagus, Gang Wei.” Feng San tersenyum tipis sambil berjalan ke arah gubuk menyimpan sesuatu yang dibawanya.
Tidak jauh dari gubuk, Liu Chang berlatih ilmu pedang sambil melapisi mata pedangnya dengan qi. Setelah menguasai qi dengan cukup baik selama satu bulan terakhir, Liu Chang mencoba melapisi pedangnya dengan qi dua bulan berikutnya.
Dengan tambahan tiga bulan terakhir ini, maka total Liu Chang berlatih di Dimensi Kematian adalah satu tahun lamanya. Tidak terasa perjuangan Liu Chang selama satu tahun itu, berawal dari pelayan restoran hingga diselamatkan dewa adalah hal yang menurutnya ajaib selama ini.
“Huh ... akhirnya selesai, bagaimana tekanan qi-nya?” Liu Chang menyeka keringat di dahinya walaupun hanya sedikit setelah berlatih selama beberapa jam. Dia segera menanyakan reaksi Gang Wei yang melihatnya berlatih ilmu pedang dengan qi.
Gang Wei terperanjat mendengar perkataan Liu Chang, dia segera menjawab dengan asal bahwa latihan Liu Chang cukup bagus dan tekanan qi-nya sangat kuat.
“Sial, untung saja saat tadi aku tertidur tidak ada Dewa Feng,” batin Gang Wei, sambil menghembuskan napas pelan. Dia tidak menduga melihat seseorang berlatih akan membuatnya ketiduran.
Feng San keluar dari gubuk setelah dua jam kemudian, dia sibuk menata sesuatu yang dibawanya dari Alam Para Dewa. Feng San kemudian berjalan ke salah satu batu lalu duduk di atasnya.
Feng San memanggil Gang Wei dan Liu Chang untuk mendekat ke arahnya karena ia harus menyampaikan sesuatu yang penting.
“Gang Wei kerja bagus telah melatih Liu Chang dengan sangat baik, dan untuk Chang'er kau berhasil membuatku bangga.”
Liu Chang dan Gang Wei hanya mengganguk pelan namun dalam hati mereka memikirkan sesuatu penuh harap. Mungkinkah aku akan mendapatkan sesuatu sebagai hadiah? Begitulah pikiran keduanya di dalam hati.
“Aku tidak membawa sesuatu sebagai hadiah lalu untuk kalian kuharap akan seperti ini terus, selalu akrab dan membantu satu sama lain.” Feng San berkata dengan senyum puas seolah tahu apa yang diharapkan Liu Chang dan Gang Wei adalah hadiah.
Feng San kemudian mengatakan bahwa waktunya hanya sedikit lagi untuk melatih Liu Chang sebelum kembali ke Alam Para Dewa. Karena itu beberapa hari lagi, Feng San berencana akan memberikan Liu Chang sesuatu untuk membantu latihannya lagi.
__ADS_1
Liu Chang yang mendengar itu terlihat antusias dan tidak sabar menunggu apa yang dia dapatkan nanti. Feng San berkata bahwa dalam beberapa hari lagi sesuatu itu akan siap, jadi Liu Chang harus dengan sabar menunggunya.
“Tugas yang diberikan untuk melatihmu hanya terbatas, karena itu kuharap kau mengerti, Chang'er.” Feng San terlihat menghela napas pelan.
“Selebihnya kau harus menentukan arah yang akan kau ambil selanjutnya tetapi kuharap semua ilmu bela diri dan juga pengetahuan yang kau dapat digunakan untuk kebaikan.”
Liu Chang mengganguk pelan, dia mengerti kekecewaan Feng San jika dirinya berpihak pada aliran hitam. Gang Wei juga tersenyum puas mendengar reaksi Liu Chang pada pernyataan Feng San.
Setelah berbincang cukup lama, Feng San lalu meninggalkan Liu Chang dan Gang Wei ke dalam gubuk, dia mengatakan ada sesuatu yang harus dia lakukan saat ini terkait suatu benda rahasia.
°°°°
“Suasana seperti ini membuatku bosan ...” gumam Gang Wei pelan, dia berbaring di atas rumput setelah selesai melatih Liu Chang hari ini.
Tidak lama kemudian Liu Chang datang dengan pakaian yang telah diganti, dan juga telah menyisir rambut ungunya rapi ke belakang lalu mengikatnya.
“Bukan acara tetapi hari ini suku Langit sedang mengadakan pesta ... mau ikut?”
“Pesta?! Apa daging di sana begitu melimpah?” Gang Wei bangun dari tidurnya, dia terlihat antusias ketika mendengar itu.
“Tentu saja, namanya saja pesta. Daging dan arak akan ada di sana.” Liu Chang tersenyum kecil melihat antusiasme Gang Wei.
Setelah menunggu Gang Wei mengganti pakaiannya yang kotor, kedua pria berbeda ras itu menuju ke arah pesta di pemukiman suku Langit.
“Terima kasih telah datang, kami sudah menunggumu, ini temanmu?” Salah satu anggota suku Langit menyambut Liu Chang di pintu masuk kota, dia cukup asing dengan keberadaan Gang Wei di sisi Liu Chang.
“Ya, kuharap temanku diperlakukan dengan sikap sama.” Liu Chang menjabat tangan anggota suku Langit itu, dia kemudian memberikan tanda tangannya dan identitas sebagai anggota pesta.
__ADS_1
“Itu tidak masalah, kami bisa mengaturnya. Mari, Ketua Shi dan Shu sudah menunggu.”
Liu Chang dan Gang Wei kemudian mengikuti orang itu ke alun-alun kota, tempat berlangsungnya pesta saat ini. Terlihat nyala api unggun telah disiapkan untuk memanggang daging siluman yang telah suku Langit dapatkan saat berburu siang hari.
“Pesta ini, suku Langit ternyata mempunyai tradisi yang unik ...” Liu Chang bergumam pelan, melihat tiga api unggun besar yang telah dinyalakan di alun-alun kota untuk memanggang tumpukan daging siluman.
Selain itu, Liu Chang tidak melihat adanya meja dan kursi sebagaimana pesta umumnya, di sini suku Langit memakai lembaran daun-daun yang disiapkan sebagai alas mereka makan. Dan saat menyantapnya nanti, mereka akan duduk di satu lingkaran besar dan mulai bercanda lalu tertawa bersama menikmati daging juga arak.
Setelah penjaga yang mengantar Liu Chang tadi juga ikut masuk dalam pesta, barulah suasana ramai mulai terasa. Ketua Shi dan Shu, si kembar itu mulai menari dan tertawa bersama dengan penari dari gadis-gadis suku Langit.
Liu Chang dan Gang Wei tidak jauh berbeda, keduanya berpesta mengikuti tradisi suku Langit yang unik ini. Liu Chang memilih bergabung dengan kelompok anak muda suku Langit yang saat ini sedang mengunjungi Dimensi Kematian.
Sementara Gang Wei, karena memang memiliki ketertarikan dengan pesta seperti ini, dia menari bersama gadis-gadis suku Langit. Meskipun suku Langit memiliki fisik cukup aneh yaitu sayap di belakang punggung mereka, Gang Wei tidak menghiraukannya sedikit pun dan tetap menari dengan bahagia.
Saat malam semakin larut, pesta tidak kunjung berhenti dan malah semakin ramai. Kumpulan daging siluman mulai berdatangan kembali untuk dipanggang, selain itu karena kehabisan arak suku Langit mulai mengeluarkan rum dan scoth dari tempat-tempat fermentasi mereka.
Bau minuman keras dan bau daging menyatu jadi satu malam ini, dinginnya malam tidak menjadi penghalang karena keberadaan api unggun yang tidak juga padam hingga tengah malam ini.
Liu Chang dan Gang Wei masih terus bercengkrama saat hampir dini hari dengan orang-orang suku Langit, keduanya memutuskan untuk menunda kepulangan mereka hingga pesta selesai.
“Jadi seperti itu ya ... hahaha, itu cukup konyol, 'kan?”
“Kau benar, seharusnya mereka membuatkan sesuatu untuk gadis itu ... hahaha.”
Tidak jarang arah pembicaraan para pemuda membawa Liu Chang ke ranah dewasa, atau membicarakan tentang gadis-gadis cantik suku Langit yang sedang mereka incar atau kencani.
Seperti itulah pesta, semua hal begitu terasa menyenangkan. Ditambah pesta ini mereka lakukan untuk melepas kelelahan beraktivitas di siang harinya.
__ADS_1