
“Sepertinya aku harus membangunkan Chiriyu.” Liu Chang mendarat di salah satu atap rumah penduduk. Ia mengeluarkan kertas segel yang saat ini menyegel Chiriyu.
Untuk mengeluarkan sesuatu yang tersegel di dalamnya, kertas segel perlu memakan korban, biasanya berupa darah atau permata siluman. Dalam hal ini, Liu Chang memakai darahnya karena tidak memiliki permata siluman.
Liu Chang mengigit ujung jarinya hingga mengeluarkan setitik darah lalu menulis beberapa huruf kuno yang bertuliskan nama Chiriyu seperti saat melakukan kontrak darah dengannya.
“Chiriyu, keluarlah!!"
Kabut berwarna putih terlihat begitu jelas saat Chiriyu keluar dari kertas segel. Beruntungnya bagi Liu Chang, Chiriyu tidak keluar dengan wujud silumannya karena jika itu terjadi atap rumah di bawah Liu Chang akan roboh saat dipijak Chiriyu.
Setelah memasukkan kembali beberapa kertas segel yang memiliki kondisi cukup baik, Liu Chang segera membangunkan Chiriyu yang saat ini tertidur. “Hei, bangunlah!" Liu Chang menepuk pipi Chiriyu beberapa kali.
“Hm, Kakak. Ini sudah malam?” Chiriyu melirik ke sekelilingnya, ini pertama kalinya dia melihat malam hari di dunia manusia.
“Ya, mari kita pergi. Tugas kita saat ini adalah menebang pohon Iblis itu.”
°°°°
— Sepuluh kilometer dari Kota Xian Qi. —
Beberapa kuda yang memiliki tubuh besar melaju kencang di tengah badai angin malam ini. Orang-orang yang menungganginya terlihat berpakaian serba hitam dengan corak darah yang menarik perhatian.
Suara langkah kuda mereka menimbulkan ketakutan bagi orang-orang yang mendengarnya, seakan menyiratkan bahwa malaikat pembunuh sedang lewat saat ini.
Di barisan paling depan, terlihat kuda paling besar ditunggangi pria yang mengeluarkan aura pembunuh paling pekat. Sementara di belakang kuda itu berjajar lima kuda lain yang diikuti sepuluh kuda di barisannya masing-masing.
“Bos Zhixin, apa kita akan terus melanjutkan perjalanannya seperti ini tanpa istirahat?” Salah satu anggota Hujan Darah mendekati kuda Zhixin, semua kelompok berkuda ini adalah kekuatan penuh yang dipimpin Zhixin ke Kota Xian Qi.
“Jangan bersikap terlalu lemah!! Jika kalian merasakan perjalanan berkuda dengan bos Elang Perak. Pasukan di belakangnya tidak akan berhenti selama berhari-hari sebelum mencapai tujuan. Sebab itu kobarkan semangat kalian!!” Zhixin menyeru pasukan di belakangnya, diam-diam semangat yang ditanamkannya berpengaruh pada pasukannya yang mulai kelelahan.
Zhixin kembali memecut kudanya agar berlari lebih cepat. Ia dan pasukan kudanya akan terus berlari hingga mencapai Kota Xian Qi. Sebab sesuatu yang mereka tanam selama ini akan membuahkan hasilnya esok hari.
__ADS_1
°°°°
Liu Chang telah sampai di depan pohon Hun, sebelumnya dalam perjalanan ke sini Liu Chang melihat beberapa orang yang mencurigakan mengawasi pohon ini dari waktu ke waktu. Karena mengeluarkan aura pembunuh akhirnya Liu Chang menghabisi mereka semua dan hanya menyisakan satu orang untuk diinterogasi.
“Hujan Darah akan kembali hari ini ... sesuatu yang tidak disangka mereka merekrut penduduk disekitar sini untuk dijadikan mata-mata .... ” gumam Liu Chang pelan sambil memikirkan kecerdikan Hujan Darah yang sering kali tidak memakai tangannya langsung untuk melakukan kejahatan.
Saat berada di dekat pohon Hun, Liu Chang baru menyadari satu hal aneh yaitu ukuran pohon Hun yang tidak masuk akal. Dengan tinggi sekitar 50 meter dan lebar 6 meter pohon ini akan sulit untuk ditebang dengan kekuatan manusia biasa. Ditambah tekstur batangnya yang keras juga menambahkan kesulitan itu.
Selepas memastikan tidak ada lagi orang yang dapat menggangunya, Liu Chang bergegas terbang ke atas pohon Hun dan mulai menebangnya sedikit demi sedikit.
“Tidak sekeras yang dibayangkan .... ” Liu Chang tersenyum kecil, Pedang Dewa Petir yang dikombinasikan dengan jurus Pedang Dewa Naga sangat efektif mengurangi cukup banyak kayunya.
Dalam waktu beberapa menit setengah dari pohon itu telah rata dan hanya meninggalkan bagian bawahnya saja. Sesaat sebelum Liu Chang akan menebang lagi, suara Chiriyu memanggilnya untuk turun ke bawah.
“Ada apa Chiriyu?” Liu Chang mendekat ke arah Chiriyu yang memperhatikan lubang kecil di pohon Hun.
“Lihat ini Kakak ... bentuknya sangat mirip dengan huruf kuno itu, bukan?” Chiriyu membersihkan debu yang menutupi huruf yang diduganya adalah huruf kuno.
“Chiriyu, menepi sedikit. Aku akan membacanya.” Liu Chang bersila untuk membacanya lebih dekat karena sisa huruf-huruf kuno itu masih terbenam dalam tanah dan hanya sedikit bagiannya yang timbul.
“Pohon ini sepertinya memiliki ruang di dalamnya. Ini terbaca, (Setiap buah yang kami tuai, akan selalu meningkatkan kesempatan kami agar kembali bebas. Jika telah sepenuhnya kami kumpulkan, saat itulah dunia akan kembali kami kuasai) apa yang dimaksud dengan buah di sini?” Liu Chang bergumam pelan. Begitu juga dengan Chiriyu yang melihat ke sekeliling pohon untuk mencari buah apa yang dimaksud huruf ini.
Setelah pergi cukup lama Chiriyu kembali beberapa saat kemudian setelah menemukan sesuatu, dia langsung menarik tangan Liu Chang untuk mengikutinya ke tempat itu.
“Lihatlah, tanah berair ini jika diperhatikan cukup aneh, bukan?” Chiriyu menunjuk tanah berair di bawahnya. Menurutnya air tanah ini tidak seperti biasanya.
Liu Chang menyentuh permukaan tanah yang berair itu. Ia langsung mencium aromanya dan yakin air ini bukan air kencing ataupun yang sejenisnya.
“Sepertinya air ini berasal dari ruangan di bawahnya. Aku akan menebas tanahnya ... menyingkirlah, Chiriyu!” Liu Chang mundur beberapa langkah, tebasannya bisa membuat tanah di sekitar pohon ini akan terbelah cukup besar.
Dalam satu tebasan tanah berair itu terbelah dan ikut membuka pintu berbahan berlian yang terpotong menjadi dua setelah ditebas Liu Chang.
__ADS_1
“Ruangan tersembunyi?”
Liu Chang dan Chiriyu saling berpandangan, mereka memikirkan hal yang sama yaitu untuk memasuki ruangan ini. Setelah berjalan menuruni tangga menuju ke bawahnya, Liu Chang menyadari bahwa air yang muncul di tanah itu adalah uap-uap air yang terkumpul akibat suhu panas ruangan bawah tanah ini.
Sepertinya pintu berlian itu berhasil menghantarkan suhu panas hingga menimbulkan uap-uap air.
Semakin lama masuk ke dalam Liu Chang mulai merasa suhunya semakin tinggi namun anehnya ia tidak melihat Chiriyu kepanasan sedikit pun.
“Kau tidak kepanasan?” Liu Chang bertanya setelah melihat Chiriyu yang sangat santai di suhu setinggi ini.
“Tidak, Kakak. Menurutku suhu ini normal.” Chiriyu tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, keduanya menemui ruangan besar yang tepat berada di tengah-tengah pohon Hun. Liu Chang melihat di sekelilingnya banyak artefak kuno dengan huruf-huruf yang juga tidak ada di zaman ini.
Chiriyu berlari ke sisi ruangan, gadis kecil itu selalu berhasil menemukan hal unik yang tidak disadari Liu Chang. Liu Chang mendekat ke arah Chiriyu tidak lama setelah memperhatikannya.
“Kau menemukan sesuatu, Chiriyu?” Liu Chang duduk di sisi Chiriyu. Gadis kecil ini selalu berhasil menarik perhatiannya sejak tadi.
“Aku tidak berpikir ini penting, tetapi coba lihat ini.” Chiriyu menyerahkan guci-guci berisi buah aneh yang menurutnya mengeluarkan aura seperti permata siluman.
Liu Chang menahan napas sejenak, sejak tadi semua kalimat adik angkatnya ini selalu mengejutkannya.
“Permata siluman memiliki aura ... Atau mungkin hanya Chiriyu yang merasakannya karena ia salah satunya,” batin Liu Chang sambil menatap Chiriyu yang tak henti-hentinya berkata aneh.
••••
**Saya sedikit ambil inspirasi dari Novel Kak Ricky Wicaksono tentang pembacaan huruf kuno yang ditebalkan di dialog itu. Mohon izin kak, hehe.
Ikuti terus ....
To be continued**
__ADS_1