Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 85 – Kesulitan Air.


__ADS_3

“Apa mungkin aku harus membawa semua orang di desa ini untuk pindah secara nekat,” gumam seorang lelaki tua melihat masuknya para pria ke dalam desa.


Tidak lama kemudian, datang seorang pria ke arah lelaki tua itu lalu duduk di sebelahnya.


“Tetua, kondisi sungai saat ini tidak menguntungkan kami. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?” tanya orang tersebut pada pria si sampingnya, tetua desa gurun.


“Kau tahu, tadi aku memikirkan rencana membawa seluruh orang di desa ini ...


untuk pindah ke wilayah es. Melihat tangisan anak-anak itu, rasanya kedamaian yang kubangun bertahun-tahun ini, seperti tercabik-cabik.” Tetua Desa menghela napasnya sejenak, “Ditambah ... selain tidak adanya persediaan, Buaya Gurun itu juga terus mengancam nyawa kita, kau tahu sulitnya memikirkan solusi saat situasi seperti ini ...”


Tetua Desa mengusap matanya yang berair, dia sampai tidak bisa menahan tangisnya melihat penderitaan warganya sendiri.


“Tetua ...” Pria tersebut menatap Tetua Desanya cukup lama. Baru kali ini dia melihatnya menangis, padahal sejak dua tahun yang lalu saat desa masih ramai. Tidak sekalipun tangisan hadir di pelupuk mata Tetua Desanya itu.


Setelah cukup tenang, Tetua Desa mulai berbicara kembali.


“Maaf, aku terlalu meratapi kondisi ini. Usia tuaku tidak cukup untuk mencari solusi bagi kalian ... andaikan ada sebuah keajaiban,” gumam Tetua Desa pelan sambil menatap langit siang yang terik. Diam-diam dia mengharapkan seorang penolong untuk desa ini.


Pria di sampingnya juga ikut menatap langit siang yang terik ini, rasanya begitu menenangkan jiwa ... seolah semua masalah hidup hilang saat menatapnya.


°°°°


Kembali ke Liu Chang. Saat Chiriyu berkata melihat sebuah menara pancang, Liu Chang segera menghentikan terbangnya, dia melayang sejenak untuk memastikan yang Chiriyu katakan.


“Kita ke sana? Bisa jadi itu hanya sebuah besi dari bangunan yang tertinggal.” Liu Chang memberi argumennya.


“Tidak, aku yakin. Bisa saja itu sebuah desa, atau jika beruntung kita akan menemukan kota di sana,” ujar Chiriyu menyakinkan.


Akhirnya setelah memikirkan matang-matang, Liu Chang bergerak ke arah menara pancang itu. Sebelumnya Salazar telah diberitahu untuk mengikutinya, jadi Liu Chang bisa tenang.

__ADS_1


“Nona Aqua, bertahanlah sedikit lagi. Liu Chang dan Chiriyu menemukan sebuah desa.” Salazar sedikit memberi motivasi pada Aqua yang hampir pingsan, di pelukannya.


Mendengar perkataan Salazar, Aqua segera meresponnya dengan semangat, “Benarkah? Itu sebuah kabar baik, rasa panas ini sangat kontras sekali dengan iklim Lembah Eve.”


Salazar tersenyum tipis melihat sebuah senyuman kembali mengembang di bibir gadis itu, setidaknya ada kebahagiaan yang muncul walaupun Salazar hanya memberi Aqua sebuah informasi tidak pasti.


Liu Chang menghentikan terbangnya ketika telah melihat menara pancang itu lebih dekat. Liu Chang mengernyitkan keningnya sementara Chiriyu menahan napasnya.


Yang ada di hadapan mereka saat ini, bukanlah sebuah menara pancang dari kota ataupun desa melainkan hanya sebuah besi tertancap yang memiliki papan nama desa bernama Yuku.


“Apa ini fatamorgana? Aku yakin melihat sebuah bangunan besar kala itu.” Chiriyu menutup mulutnya tidak percaya, setelah melihat lebih dekat.


“Ini bukan fatamorgana. Kita memang melihat sebuah besi tertancap di sebuah desa miskin. Kita tunggu Salazar dan Aqua, baru kita masuk ke dalam desa.” Liu Chang mendarat tidak jauh dari desa setelah berucap demikian.


Cukup lama keduanya menunggu, langkah-langkah kaki yang telah lemah terdengar menghampiri. Terlihat Salazar dan Aqua muncul dari balik bukit pasir.


“Tolong Aqua!! Dia tidak sadarkan diri!!” Salazar segera berteriak melihat Liu Chang serta Chiriyu.


Saat berada di sampingnya, Liu Chang melihat keadaan Salazar begitu buruk, tubuhnya terkena dehidrasi. Bahkan ketika Liu Chang menanyakan alasannya, Salazar hanya menjawab dengan bergumam, seolah semua tenaganya yang terakhir ia kerahkan saat berteriak tadi.


Setelah membuat tenda sederhana dari batang kayu yang ada di sekitarnya, Liu Chang meminta Chiriyu untuk merawat Aqua.


“Salazar, minumlah ini. Meskipun ini arak tetapi kadar alkoholnya begitu sedikit. Cukup mirip dengan air.” Liu Chang menghampiri Salazar yang duduk dengan lemas di luar tenda lalu menyerahkan sebuah guci padanya. Namun Chiriyu yang mendengar itu segera menghentikan Liu Chang.


“Air berbeda dengan arak, Kakak. Kita tidak bisa memberinya ini.” Chiriyu mengambil guci itu.


“Chiriyu, kita tidak memiliki pilihan lain. Aku hanya mempunyai dua guci air di Cincin Galaksi, salah satunya telah diberikan pada Aqua, sementara sisanya hanya ini.” Liu Chang menjelaskan perlahan. Setelah cukup lama Chiriyu akhirnya bisa mengerti, lagipula Salazar pun setuju.


Selepas kondisi Salazar sedikit membaik setelah meminum arak itu, Liu Chang memintanya untuk menjaga tenda bersama Chiriyu. Liu Chang mengatakan akan berusaha mencari sesuatu di Desa Yuki.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Liu Chang sampai di depan pintu masuk Desa Yuki, keadaan desa bahkan lebih buruk dari yang Liu Chang bayangkan. Tidak sedikit bangunan rumah di Desa Yuki yang telah roboh bahkan rata dengan tanah.


“I-ini ... sebuah desa? Kupikir ada satu atau dua restoran di desa ini. Menara itu ternyata memang sesuai dengan fungsinya.” Liu Chang cukup terkejut dengan kondisi desa. Dia melihat tiang pancang yang sebelumnya dia lihat dengan Chiriyu, fungsinya memang hanya sebagai papan nama.


Tidak lama, seorang lelaki tua yang mengenalkan dirinya adalah Tetua Desa menyambut Liu Chang. Tubuhnya terlihat hanya tulang dibalut dengan kulit. Liu Chang memperhatikan cukup iba, sebelum akhirnya mengikutinya masuk ke desa.


Melihat kedatangan Liu Chang, satu per satu orang mulai keluar dari rumahnya. Mereka mengira Liu Chang adalah orang dari pemerintah karena baju Liu Chang cukup mewah sekaligus Liu Chang memancarkan aura kebangsawanan.


“Tuan, beri kami air dan makanan untuk hidup. Satu hari pun tidak masalah, anakku belum makan dari kemarin.” Seorang wanita paruh baya dengan lemas, datang dan berlutut di hadapan Liu Chang diikuti beberapa orang lagi di belakangnya.


Liu Chang hanya tersenyum tipis dan mengatakan dirinya bukanlah orang dari pemerintah Beigan. Dia kemari hanya untuk mencari sesuatu untuk mengisi persediaannya kembali.


“Begitukah, maafkan ketidak sopanan kami. Kami pikir Anda orang dari pemerintahan Beigan.” Wanita paruh baya itu meminta maaf diikuti dengan beberapa orang lain. Walaupun kecewa namun sikapnya masih tetap menghormati Liu Chang.


Tetua Desa kemudian mengajak Liu Chang menuju aula desa. Walaupun keadaan Desa Yuki tidak memungkinkan, tetapi Liu Chang kagum desa ini masih memelihara kondisi aula desa mereka.


“Katakan apa yang kau mau! Jika kau memberi kami uang, kami akan menolaknya,” ucap Tetua Desa tegas. Pada kondisi seperti ini, uang bukanlah satu hal utama lagi seperti katanya.


“Aku mengerti, Tetua. Sesaat setelah melihat kondisi desa kalian ...” Liu Chang melihat ke sekelilingnya, terlihat para pria menatapnya tidak suka, “Mungkin aku bisa mendapatkan air dari sumur kalian.”


Sontak perkataan Liu Chang segera memancing amarah para pria di sekitarnya, bagaimana mungkin meminta air sedangkan kami sendiri kekurangan? Begitu pikiran semua pria di sekitar Liu Chang.


Tetua Desa segera mengendalikan situasi lagi, “Tenanglah, saudara-saudaraku.”


Tetua Desa kemudian menatap Liu Chang kembali, “Aku mengerti kau membutuhkan air itu, tetapi sumur kami telah kering beberapa bulan belakangan, sedangkan hujan tidak turun selama satu tahun ini. Semoga kau mengerti.” Tetua Desa menutup penjelasannya.


Liu Chang mengganguk pelan, dia kemudian keluar dari aula Desa Yuki. Dan kembali ke tendanya di mana Chiriyu dan yang lainnya telah menunggunya.


**Catatan Author :

__ADS_1


Minal Aidzin Wal Faidzin untuk semua pembaca. Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. saat merayakan hari rayanya.


To be continued**


__ADS_2