
Sesampainya di tenda, Chiriyu melihat Liu Chang tidak berbicara sedikit pun melainkan langsung bermeditasi. Ketika Chiriyu ingin menanyakan apa yang terjadi pada kakaknya, Salazar menghentikan langkahnya dengan menepuk pundaknya.
“Biarkan dia seperti itu. Sebagai pemimpin misi ini, Liu Chang pasti menanggung beban yang berat, ditambah kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk bertahan hidup ...” Salazar menatap langit yang perlahan mulai berwarna oranye. “Bahkan bagi kita yang seorang pendekar ...”
“Aku mengerti, Salazar Gege. Aku hanya khawatir pada Nona Aqua ... selama tinggal di Lembah Eve, hidupnya pasti tidak pernah sesulit ini,” ucap Chiriyu seraya terus menyeka keringat di kening Aqua.
Salazar menghampiri Aqua yang terbaring seraya berkata, “Kau benar, Chiriyu. Bahkan ketika kami hanya memiliki roti kering, Aqua harus diusahakan memakan daging ...”
“Dia istimewa 'kan?” tanya Salazar kemudian.
“Benar, sangat istimewa sampai harus terbaring lemah begini ...,” ucap Chiriyu seolah mengaminkan pertanyaan Salazar.
°°°°
Malam datang tidak lama setelah beberapa jam, waktu terasa cepat memang saat tubuh sedang lemah. Ketika malam telah tiba, semua orang pasti paham udara akan semakin dingin, begitu pun dengan gurun.
Tidak jauh berbeda dengan wilayah lain, hanya saja ... ketika siang hari di gurun begitu panas, malam harinya akan terjadi sebaliknya. Suhu akan turun begitu cepat, dan menghembuskan angin disertai badai pasir.
Bahkan untuk menahan badai pasir ini, Liu Chang terpaksa membuat segel enkripsi tingkat lemah karena mempunyai qi yang hanya cukup untuk seminggu lagi. Jika untuk melindungi ancaman badai pasir, enkripsi selemah ini pun pasti cukup, batin Liu Chang.
“Maaf, Salazar, tolong buatkan api unggun kecil di sisi tenda! Aku khawatir kondisi Aqua akan semakin melemah terkena dinginnya malam. Sayangnya pelindung ini tidak bisa menahan suhu dingin,” pinta Liu Chang pada Salazar di sampingnya.
Salazar mengganguk pelan, ia membagi tugas pada Chiriyu untuk menyiapkan kayu-kayu kecil di sekitar tenda untuk api.
“Nona Aqua, Anda pasti kedinginan ... mari menghangatkan tubuh di dekat api.” Salazar membangunkan tubuh Aqua perlahan. Aqua hanya menurut tanpa sepatah katapun keluar, yang dia ketahui Salazar dan yang lainnya berusaha merawatnya sebaik mungkin saat ini.
*
__ADS_1
Tidak terasa malam itu mereka lewati dengan cepat. Malam hari tadi tidak lepas dari peran Liu Chang, ketiganya bersyukur Liu Chang mempunyai stamina tanpa batas setelah berjam-jam menahan enkripsi agar tidak hancur.
“Hari kembali panas, apa yang akan kita lakukan?” Salazar mendekati Liu Chang yang sedang bermeditasi, entah apa yang dilakukan Liu Chang dengan bermeditasi itu, sebab kepadatan qi di sini sangat tipis setahu Salazar.
Liu Chang membuka matanya, “Tidak seperti hari kemarin, kita ak--” Kalimat Liu Chang tiba-tiba terputus saat mendengar ada suara seseorang meminta tolong. Liu Chang dan Salazar langsung menoleh ke asal suara itu.
Asalnya dari Desa Yuki, apa yang sebenarnya terjadi? Batin Liu Chang dan Salazar menerka-nerka.
“Kau ikut?” tanya Liu Chang singkat.
“Tentu, Chiriyu kita tinggalkan sejenak menjaga Nona Aqua dan tenda.” Salazar juga menjawab singkat.
Selepas memberi tahu Chiriyu tentang niat mereka, keduanya langsung melesat ke arah desa yang kebetulan tidak jauh dari tenda. Liu Chang terbang ke atas Desa Yuki untuk melihat lebih jelas, sementara Salazar masuk ke dalam desa mencari informasi dari penduduk.
“Ini buruk ... sekumpulan hewan aneh itu ternyata tidak hanya mitos!” Liu Chang cukup terkejut menemukan sekumpulan Buaya Gurun berjumlah puluhan berjalan beriringan, menyebabkan getaran dan debu pasirnya sampai ke Desa Yuki.
“Hei, hewan apa itu? Kenapa bentuknya sangat aneh?” tanya Salazar melirik Tetua Desa di sampingnya yang juga terkejut sekaligus ketakutan.
“Ah, Tuan pasti kelompok pengelana itu. He-hewan itu disebut Buaya Gurun ... orang-orang yang hidup di gurun pasti mengetahui betapa berbahayanya mereka. Tidak hanya mempunyai cakar yang melebihi elang, mereka juga memiliki gigi setajam pedang yang diasah puluhan tahun.
Sudah banyak korban yang mereka habisi, mulai dari kabilah dagang hingga orang-orang pengelana seperti kalian. Desa kami juga hancur karena mereka!” jelas Tetua Desa panjang lebar.
“Cakar melebihi Elang, dan gigi yang setajam pedang yang diasah puluhan tahun ... mereka benar-benar mengerikan, apa Liu Chang telah mengetahui betapa berbahayanya mereka ...” Salazar bergidik ngeri memandang Buaya-Buaya Gurun yang semakin mendekat ke arah Desa Yuki.
Sementara orang-orang mulai berlarian menyelamatkan diri, Salazar heran para pria dan Tetua Desa yang telah renta hanya diam di sisinya.
Begitu juga dengan Salazar, dari langit
__ADS_1
Liu Chang mendarat setelah melihat orang-orang berlarian dari desa tetapi heran karena masih ada sebagian dari mereka yang diam ditempat.
“Mengapa kalian tidak pergi?” tanya Liu Chang setelah berada di depan para pria.
“Sejak saat ini kami memutuskan untuk berjuang melawan kumpulan Buaya Gurun, biarlah hanya anak-anak dan para wanita yang menyelamatkan diri. Ini harga diri kami sebagai Tetua, ayah, suami, kakak, dan adik mereka!” Ucapan Tetua Desa itu segera mendapatkan sorakan semangat dari para pria di belakangnya.
Meskipun jumlah para pria ini hanya kurang dari dua puluh, Liu Chang cukup kagum dengan semangat juang pria Desa Yuki. Biarpun di sisi lain Liu Chang juga tidak ingin melihat adanya tumpahan darah di gurun suci ini.
“Tekad kalian menarik, tetapi kusarankan kalian tidak bertarung. Biarkan aku dan temanku ini yang menghadapi mereka ...” ucap Liu Chang sambil melirik Salazar di sampingnya.
“Tidak, Tuan Muda. Anda mungkin memang kuat, tetapi ini harga diri!” ucap Tetua Desa dengan kalimat harga diri itu, sorakan penduduknya pun dia dapatkan Kembali kali ini.
“Kalian memang bisa memaksa. Namun pikirkan tangisan yang menyertai gugurnya kalian di sana! Jika hanya aku dan temanku, kalian bisa mengubur kami di gurun suci ini ...” Liu Chang menatap jauh kepada kerumunan wanita dan anak-anak yang menyelematkan diri.
Mendengar ucapan Liu Chang tadi, relung hati para pria Desa Yuki seolah tertembus. Mereka akhirnya mau menuruti permintaan Liu Chang agar tidak bertarung.
Sementara Salazar hanya memandang tidak percaya mendengar keputusan sepihak Liu Chang. Tiba-tiba saja Liu Chang menyatakan bahwa dirinya akan bertarung bersama melawan kumpulan buaya mengerikan itu.
“Kau tidak perlu takut dengan mereka, justru jika menang kita akan beruntung. Lihatlah di bawah dagu Buaya paling besar itu!” Liu Chang berkata demikian seolah tahu apa yang Salazar takutkan sambil menunjuk tonjolan hitam di bawah dagu salah satu Buaya.
“Ah itu yang kita cari, aku ikut dalam perburuan besar ini. Dengan ini selain panen daging, kita akan berhasil menyelesaikan satu misi!” Salazar menggebu-gebu.
•
Setelah membaca usahakan berilah komentar, saya senang melihat adanya respon pada bacaan.
Terima kasih,
__ADS_1
To be continued