
Dua bulan berlalu sejak Liu Chang berhasil memasuki Pendekar Sakti, dua bulan terakhir ini Liu Chang banyak memakan sumber daya dari kebun Jing Quo untuk mempercepat proses penyesuaian kekuatannya.
Selain itu, Ilmu Pedang di Kitab Dewa Naga juga telah ia buka sebanyak dua jurus dengan bimbingan Jing Quo. Setelah cukup lama berada di Tahap Kesucian, Liu Chang berniat menaikkan kembali kekuatannya ke Tahap Kemahiran.
Tahap Kemahiran biasanya mulai dimasuki saat teknik pedang ataupun teknik bertarung lainnya telah dikuasai seorang pendekar hingga 50% atau dengan kata lain di Tahap Kemahiran ini seorang pendekar harus melatih kembali dengan keras teknik bertarungnya hingga melebihi persentase itu.
Karena Liu Chang terfokus pada Ilmu Pedang, Jing Quo menyarankan Liu Chang untuk melatih Ilmu Pedangnya dengan siluman yang ada di Lembah Liko ini. Terutama seperti Siluman Kura-Kura dan Siluman Trenggiling yang memiliki cangkang luar yang keras.
Tepat hari ini setelah kembali meminum lendir beracun, Liu Chang akan kembali memasuki hutan Lembah Liko yang banyak dihuni siluman-siluman berbahaya.
Di sisi lain, tugasnya untuk menjaga sarang Siluman Lintah masih cukup lama. Jarak waktunya dari sekarang kira-kira beberapa hari lagi.
"Ketemu." Liu Chang tersenyum kecil, baru beberapa kilometer memasuki hutan, dia melihat beberapa Siluman Rakun dan siluman yang sejenisnya sedang berkumpul.
Biarpun sedikit tidak menyangka siluman juga bisa berkumpul seperti itu selain bertarung. Liu Chang tidak menghiraukannya lebih jauh, ia maju untuk menyerang mereka semua.
Terlihat lima ekor siluman langsung bersikap waspada saat Liu Chang mulai mendekat, mereka bahkan sudah menyiapkan mode bertarung seolah sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Oops ... tidak semudah itu menyerangku!!" Liu Chang melompat ke atas pohon menghidari serangan Siluman Rakun, berkat kekuatannya yang telah meningkat ilmu meringankan tubuhnya sekarang lebih cepat dari sebelumnya.
Tiga siluman lain tidak berdiam diri, mereka segera membentuk formasi untuk menghadapi Liu Chang. Mereka bergerak berpindah-pindah dengan gerakan memutari Liu Chang.
Liu Chang sedikit terkejut, ia menduga para siluman ini berumur lebih dari 500 tahun karena kecerdasan mereka dalam membentuk formasi. Lima siluman yang cukup merepotkan, pikirnya.
"Jurus ketiga, hantaman naga perkasa!!" Liu Chang memutar pedangnya ke arah lima siluman itu, seolah seperti tubuh naga serangan itu dengan tepat menghantam tubuh kelimanya dengan keras.
Liu Chang tersenyum puas, baru beberapa minggu dia menguasai jurus pedang ini namun kekuatannya sungguh diluar dugaan. Tidak berhenti sampai di sana, Liu Chang kembali melepaskan jurus lain pada salah satu siluman.
__ADS_1
"Jurus kelima, takdir kabut kehidupan!!"
"Jurus keempat, kabut membunuh lawan!!"
"Jurus pertama, tebasan keheningan!!"
Liu Chang melompat ke atas pohon, salah satu siluman berhasil tewas dengan kepala terbelah oleh serangkaian serangannya. Melihat teman mereka terbunuh begitu mudah, keempat siluman yang tersisa menyerang secara agresif ke arah Liu Chang.
Sejumlah besar bola api muncul diantara mulut para Siluman Rubah, mereka dengan cepat segera mengarahkan itu ke arah Liu Chang. Liu Chang melompat dengan panik, untungnya bola-bola api itu tidak berhasil mengenainya.
"Sungguh kekuatan yang dahsyat ... pohon-pohon itu bahkan langsung jadi abu..." Liu Chang mengumpat pelan, baru saja perhatiannya teralihkan para siluman segera menyerangnya kembali. Pertarungan Liu Chang dan keempat siluman yang tersisa menimbulkan kerusakan di mana-mana.
Pohon-pohon disekitar mereka bertumbangan satu per satu. Liu Chang melihat situasinya tidak cukup menguntungkan, ia melompat dan mundur cukup jauh memancing mereka ke arah aliran sungai tidak jauh dari sini.
Dengan bodohnya mereka terpancing strategi Liu Chang. Liu Chang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lebih lama, ia langsung berpindah tempat ke belakang para siluman yang mengejarnya.
"Jurus kedua, badai petir naga!!" Liu menebas leher dua siluman rubah di hadapannya, salah satu siluman mati dengan kepala terbelah seperti temannya saat itu. Namun salah satunya berhasil menghindar dan hanya mengenai punggungnya
Liu Chang merapatkan jari-jarinya membentuk cakar naga, ia ingin mencoba jurus yang diajarkan oleh Jing Quo padanya bernama Cakar Besi.
"Cakar besi, hujaman petir!!" Liu menyerang salah satu siluman yang telah terluka, tanpa siluman rubah itu duga sekali pun serangan Liu Chang berhasil menghujam jantungnya dan membuat dagingnya berceceran kemana-mana.
Liu Chang kembali melompat karena gerakannya telah diketahui oleh dua siluman yang tersisa, ia kembali ke depan mereka seperti sebelumnya. Siluman-siluman itu menjadi geram ketika melihat temannya terbunuh hanya dalam waktu beberapa detik.
Dua siluman yang tersisa menyerang Liu Chang secara agresif, salah satunya kembali melepaskan bola api seperti sebelumnya, sementara yang lainnya mencabut pohon dari akarnya dan menghujam Liu Chang dengan pohon itu.
Liu Chang melompat ke sana kemari, dia melakukan gerakan efektif yang diajarkan Jing Quo untuk menghindari serangan agar tidak kelelahan. Dua siluman itu semakin geram, mereka kembali melakukan cara yang sama namun dengan intensitas yang lebih besar lagi.
__ADS_1
Siluman Rubah menciptakan bola-bola api yang lebih banyak, sementara siluman Rakun mencabut lebih banyak pohon. Liu Chang cukup terkejut dengan kecepatan mereka berdua yang tiba-tiba meningkat. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Liu Chang kembali muncul di belakang mereka secara tiba-tiba dan melepaskan Cakar Besinya pada Siluman Rubah.
Teriakan saat Siluman Rubah mati terdengar cukup keras ke seluruh hutan, burung-burung segera berterbangan akibat suara itu. Sementara Siluman Rakun yang melihat hal itu mundur beberapa langkah setelah temannya mati.
Siluman Rakun berkeringat dingin, saat ini di hadapannya ia seperti melihat seorang malaikat kematian berwujud manusia. Sepertinya kabur pun akan sulit, pikirnya.
Liu Chang melepaskan tangannya dari tubuh Siluman Rubah yang terkena hujaman dengan Cakar Besinya. Liu Chang menatap dingin ke arah Siluman Rakun, dengan kembali menyiapkan Cakar Besinya.
"Kau selanjutnya!!" Liu Chang dengan cepat berlari ke arah Siluman Rakun. Siluman Rakun yang melihat itu tidak tinggal diam, dia bersiap dengan cakarnya untuk melawan Liu Chang walaupun mengetahui bahwa usahanya akan sia-sia.
"Cakar besi, Penghancuran gunung!!" Liu Chang memutar tubuhnya dan menyerang dari sisi samping. Siluman Rakun yang melihat serangan cakarannya berhasil dihindari mulai berkeringat dingin, ia tahu kematiannya tidak lama lagi.
Tepat di punggung sebelah kiri Siluman Rakun Cakar besi Liu Chang kembali menghujam, kali ini ia tidak segan-segan dengan menambahkan Qi yang tidak sedikit pada serangannya.
Suara teriakan untuk kedua kalinya kembali terdengar di hutan ini, darah Siluman Rakun berhamburan keluar dan mengenai tubuh Liu Chang yang berada di sampingnya. Tubuh Siluman Rakun tumbang ke tanah dengan suara keras karena tubuhnya cukup yang besar.
Liu Chang melihat ke sekelilingnya, pertarungan mereka ternyata membuat hutan menjadi gundul hanya dalam beberapa menit. Tumpukan tubuh siluman dan daging-dagingnya berceceran di mana-mana.
"Darah ini, seperti cukup sulit dibersihkan." Liu Chang melihat pakaiannya yang bersimbah darah siluman cukup banyak, terutama di bagian jubahnya. Liu Chang merasa darah yang berbau amis dan lengket ini akan susah untuk hilang.
Setelah memasukkan semua daging siluman yang berhasil dia bunuh. Liu Chang bergerak ke arah sungai yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini. Semoga saja darah-darah ini bisa hilang oleh aliran sungainya yang deras, pikirnya.
"Aura ini, seperti ada yang aneh dengan aliran sungai ini." Liu Chang melihat sebuah pusaran air, sepertinya ada sesuatu yang mendiami sungai ini.
•••
Tetap jaga kesehatan kalian, terutama dalam kondisi puasa seperti ini...
__ADS_1
Legenda dewa naga akan tetap menemani..
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya..