Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 46 – Elang Merah bergerak II.


__ADS_3

"Sepertinya sudah tidak ada, kemungkinan mereka akan kembali ke sini sangat besar. Aku harus berhati-hati." Liu Chang menatap ke sekelilingnya, sejauh mata memandang tidak ia temukan sisa-sisa kelompok Elang Merah.


Liu Chang melanjutkan perjalanannya lagi, kali ini ia merasa harus menggunakan ilmu meringankan tubuhnya agar lebih cepat menemukannya pemukiman, barang kali di sana bisa menemukan peta, pikirnya.


Peta adalah salah satu barang yang sangat penting bagi pendekar, biasanya disaat tidak tahu arah seperti ini, peta akan menjadi penolong yang tak ternilai.


Liu Chang kembali mempercepat langkahnya, daerah hutan seperti ini yang seharusnya paling ia hindari, siluman tidak mengenal waktu ketika menyerang karena itu Liu Chang tidak ingin mengambil risiko dengan memperlambat ilmu meringankan tubuhnya.


Baru beberapa menit Liu Chang berlari, ia melihat pintu masuk sebuah kota secara samar-samar sekitar 1 kilometer setelah keluar dari hutan.


"Ah, sangat beruntung...," Girangnya dengan senyuman tipis di ujung bibir. "Kelihatannya itu adalah kota."


Liu Chang kembali berlari, beberapa saat kemudian ia tiba di pintu masuk kota tersebut. Beberapa penjaga mendekati Liu Chang, karena kebetulan saat ini hanya ia yang ingin masuk ke kota, tidak ada orang lainnya di belakang Liu Chang.


"Anak muda, kau seorang pendekar?" pria sepuh diantara mereka bertanya lebih awal.


"Benar, aku baru melakukan perjalanan jauh. Ingin mencari sebuah penginapan." Liu Chang membalas dengan senyuman tipis, berusaha bersikap akrab dengan para penjaga dihadapannya.


Penjaga tersebut tidak melihat tanda-tanda Liu Chang berbohong, ia lalu menyuruh Liu Chang mengenalkan identitasnya. Menurutnya penjelasannya, akhir-akhir ini sering terjadi pemalsuan identitas oleh para pendekar dari aliran hitam, karena itu setiap orang wajib memberitahukan identitasnya.


Karena kebetulan kota ini merupakan kota di perbatasan Negara Dorrego dan Negara TakChi, sebab itulah pemeriksaan memasuki kota ini begitu ketat.


"Jika ada yang membuatmu terancam, segera laporkan pada kami, nak!" pria sepuh diantara para penjaga itu kembali berbicara pada Liu Chang, sejauh yang terlihat hanya dia yang paling sering berbicara dengan Liu Chang, sepertinya teman-temannya yang lain hanya memeriksa barang-barang milik pendatang saja.


Liu Chang lalu melanjutkan memasuki kota tersebut. Menurut penjaga tadi nama kota ini adalah Jing Quo, dinamakan begitu karena kota ini dahulu kala diselamatkan oleh seorang penguasa negeri dari serangan perampok.


Untuk menghormatinya para penduduk kemudian menamai kota ini seperti namanya.


"Ini cukup bagus, sebuah penginapan dengan restoran kecil di bawahnya." Liu Chang melihat bangunan dua lantai dihadapannya, beberapa menit berjalan hanya bangunan ini yang ia temukan cukup unik.


Saat memasukinya terlihat ada beberapa meja yang telah terisi, selain itu didekat jendela sebelah kanan ada sekumpulan orang-orang yang memakai baju mirip dengan kelompok yang baru saja Liu Chang habisi beberapa jam yang lalu.


Saat kedua pandangan Liu Chang dan sekelompok orang itu bertemu. Beberapa orang dari kelompok itu langsung berkeringat dingin, sementara sisanya menarik senjata di pinggang mereka.

__ADS_1


Suasana di dalam restoran menjadi panas, beberapa penduduk yang bukan pendekar segera berlarian ke lantai atas atau keluar dari restoran, tak terkecuali para pelayan dan penjaga kasir.


"Kita bertemu kembali ... cukup aneh melihat kalian makan dengan tenang tanpa merampok, majulah!" tantang Liu Chang, ia mengeluarkan Pedang Semi Pusaka berjuluk Pedang Cakar Elang dari selongsong pedang di pinggangnya.


Beberapa detik kemudian tempat itu benar-benar menjadi medan pertempuran kedua bagi Liu Chang dan sisa-sisa kelompok Elang Merah yang berhasil kabur, tanpa Liu Chang sadari pertarungan tersebut semakin banyak disusupi oleh banyak orang.


Jumlah di pihak musuh semakin bertambah seiring waktu, membuat Liu Chang sedikit terdorong keluar karena sempitnya ruang di dalam restoran tersebut.


"Bagaimana mungkin?! Apa aku dijebak?" Liu Chang bertanya-tanya dalam batinnya, sejauh yang terlihat saat itu kelompok dihadapannya berjumlah lima orang saat di dalam restoran, tetapi sekarang jumlahnya mendekati dua puluh, benar-benar membuat pikiran keras dalam batin.


"Terus serang dia, jika jumlah kita lebih banyak ... kita menang!" seru salah seorang pemimpin diantara mereka.


Liu Chang tersenyum kecil, meskipun jumlah mereka semakin banyak, tetapi orang-orang yang berdatangan hanya pendekar awal dan beberapa pendekar menengah berinti merah, tentu saja jika hanya itu Liu Chang akan mudah menghadapinya.


"Jurus ketiga, kesulitan tiada akhir!!"


Liu Chang melepaskan jurus Ilmu Pedang Sutranya, kesulitan tiada akhir sangat cocok untuk menekan serangan dari banyak arah, sehingga akan lebih memberi keuntungan waktu digunakan saat terkepung.


Benar saja, beberapa saat kemudian dari kelompok mereka, beberapa orang mulai berjatuhan memegang perut mereka yang terkena hempasan tenaga dalam. Liu Chang terus-menerus menyerang mereka hingga pertarungan memakan waktu selama puluhan menit.


Melihat Liu Chang yang bisa berubah-ubah gaya bertarung, membuat orang-orang dari kelompok itu erkejut, mereka tidak menyangka pemuda yang mereka jebak memiliki kemampuan bertarung di atas rata-rata


"Cepat panggil bos!!"


Sekejap setelah perintah tersebut diucapkan seseorang, beberapa orang mulai bersiul dengan keras berbunyi seperti terompet. Liu bertanya-tanya dalam batinnya, mungkinkah bala bantuan yang sedang mereka panggil?


Siulan itu berbunyi cukup keras selama beberapa detik seolah memberitahu bahwa keadaan di sini cukup berbahaya, tidak lama kemudian siulan itu berhenti, menghadirkan dua orang berpakaian serba hitam yang berdiri di atas atap menatap dingin ke arah Liu Chang.


"Yang telah membantai kelompok Elang Merah di Kota Dorre, pemuda itu?"


"Ya, tidak salah lagi. Pakaian serta celana bangsawannya, itu memang dia."


"Baiklah ini bayaranmu. Terima kasih atas ilusinya, pergilah!"

__ADS_1


Setelah perbincangan cukup singkat di pihak musuh, Liu Chang melihat orang-orang yang sejak tadi menyerangnya sekarang menjauh dan membiarkan orang di atap tadi melesat ke arahnya.


"Wuuuush!"


Dengan sangat cepat sekelebat angin cukup kencang melesat ke arah Liu Chang, syukurlah ia sempat menghindarinya setelah merasakan bahaya.


Hal selanjutnya yang tidak kalah mengejutkan adalah berubahnya tanah perkotaan dan bangunan menjadi pepohonan seperti hutan, bahkan restoran yang dimasuki Liu Chang sekarang menjadi jurang.


"Apa? Bagaimana mungkin?!" Liu Chang membatin, ia merasakan bahaya yang sebenarnya bukanlah ilusi yang menyerangnya tetapi orang dihadapannya ini lebih berbahaya dari yang ia kira sekarang.


Pria dihadapan Liu Chang terkekeh melihat kebingungan yang terpancar dari raut wajah Liu Chang.


"Kau terkejut? Bukankah menyenangkan, menjebak seseorang menggunakan ilmu ilusi...," begitu girangnya ia hingga tertawa-tawa dihadapan Liu Chang. "Bahkan hutan seperti ini pun bisa diubah seperti suasana kota, kehhehehhe." lanjutnya kembali.


Mendengar hal seperti itu, Liu Chang semakin mengerutkan dahinya, ia tidak yakin ilmu ilusi bisa sejauh itu mengubah suasana alam menjadi perkotaan. Bahkan jika itu mungkin, bagaimana orang-orang dan penjaga kota tadi berbicara padanya dengan lancar?


"Kehhehehhe, kau semakin terkejut rupanya. Oh, wajahmu terlihat marah...," pria tersebut kembali mengeluarkan tawa khasnya. "Mungkinkah karena aku belum memperkenalkan diri? Hm ... mungkin saja."


Liu Chang semakin geram melihat tingkah pria tua dihadapannya ini, bukannya mengobrol seperti biasa ia malah terkekeh dan tertawa tidak jelas.


"Katakan saja namamu, basa-basi ini tidak perlu terlalu lama!!" saking geramnya Liu Chang, ia tidak sengaja malah mengeluarkan aura pembunuh yang terkumpul akibat membunuh beberapa orang Elang Merah.


"Oh, kau memanas anak muda. Jika kau ingin mendengarnya baiklah, kau pasti akan terkejut ... bersiaplah, namaku adalah Dong Enlai!!"


•••


**Saya tahu kalian kecewa, bahkan ada yang memang dari awal menyemangati saya untuk jangan berhenti di tengah-tengah, rasanya seperti dikhianati kan. Jadi karena itu saya memutuskan untuk melanjutkan novel ini lagi.


Mungkin kalian berpikir, "Ah plin plan nih authornya." oke memang benar, tetapi karena melihat ada orang yang masih menunggu cerita saya jadi saya lanjutkan.


Kalian pasti akan mengerti ketika ada diposisi menjadi author, karena itu tolong hargai keputusan author ini.


Terima kasih.

__ADS_1


Salam author,


Ibnu R**.


__ADS_2