
“Ini ... tidak padam sedikit pun?!” Liu Chang cukup terkejut tangkai Lidah Kucing di tubuhnya tidak padam, padahal beberapa detik yang lalu dia mendengar suara api yang dipadamkan. Setelah lama terkesima, Liu Chang segera sadar bahwa dirinya ada di dalam air, nafasnya akan habis dengan cepat jika tidak segera mengambil buah itu.
Liu Chang kemudian menggerakkan kakinya lebih cepat ke dasar sungai, ia berharap tubuh kecilnya cukup kuat menahan arus sungai yang sangat deras.
Namun setelah mencobanya berkali-kali arus sungainya selalu berhasil menghanyutkan tubuhnya lebih jauh dari dasar sungai. Sebelum benar-benar nafas yang ditahannya habis, Liu Chang berusaha lebih keras lagi. Paling tidak aku harus mendapatkan satu buah, pikir Liu Chang.
Setelah usaha terakhirnya tadi berhasil, Liu Chang buru-buru kembali ke permukaan, menghangatkan tubuhnya sambil memikirkan beberapa cara untuk mengatasi dinginnya air sungai dan juga arusnya yang deras.
“Puahh!!”
Liu Chang sampai di permukaan sungai, dalam percobaan pertama ia hanya mendapatkan satu buah dan buah yang ia dapatkan kondisinya tidak dalam keadaan baik. Buah tersebut sedikit hancur terkena batu saat Liu Chang mencengkeramnya secara paksa.
Setelah meredakan rasa dingin sungai, Liu Chang memutuskan untuk kembali mengambil beberapa tangkai Lidah Kucing, Liu Chang merasa harus membawanya lebih banyak agar rasa dingin sungai lebih bisa ia redakan.
“Dengan ini tubuhku sudah cukup hangat.” Liu Chang meraba ke seluruhan tubuhnya. Rasa panas api perlahan mulai masuk setelah Liu Chang melingkarkan lebih banyak tangkai Lidah Kucing.
Setelah melakukan beberapa pemanasan tubuh sederhana, Liu Chang kembali melompat ke aliran sungai. Kali ini Liu Chang mencoba lebih keras untuk menahan tubuhnya agar tidak mudah terbawa arus, ia mencengkeram salah satu batu di bawah aliran sungai namun aliran air yang juga lebih kuat membawa tubuhnya kembali menjauh dari tempat sebelumnya.
“Jika seperti ini terus ... Buah-buah itu tidak akan bisa kudapatkan!!” Liu Chang menggerakkan kakinya lebih keras, kali ini ia tidak segan-segan mengeluarkan seluruh tenaganya melawan arus bawah sungai yang deras dan juga dingin itu.
Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya tangan Liu Chang berhasil mendapatkan tiga Buah Darah Siluman sekaligus. Liu Chang dengan cepat segera kembali ke permukaan sungai. Ia bisa merasakan tubuhnya terkena kondisi yang cukup aneh karena rasa panas serta dingin menyatu di suhu tubuhnya.
“Huh ... akhirnya, tiga buah ini sudah cukup untuk satu hari.” Liu Chang melompat kegirangan, walaupun tubuhnya masih merasa aneh tetapi sensasi menyelam seperti tadi juga menyenangkan baginya.
__ADS_1
Setelah mengeringkan pakaiannya, Liu Chang kembali ke gubuk Feng San dengan senyum merekah. Rasanya terakhir kali Liu Chang merasa senang seperti ini adalah saat diberi uang yang cukup banyak setelah bekerja selama satu bulan di kediaman keluarga Han.
Setelah berlari beberapa menit, Liu Chang akhirnya sampai di gubuk Feng San. Jarak sungai Es dan gubuk ini memang tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa kilometer saja.
“Guru, aku kembali!” Liu Chang berteriak mencari Feng San ke segala sudut gubuk, ia berpikir Feng San ada di dalam. Namun setelah mencari-cari cukup lama dan tidak juga menemukannya, Liu Chang akhirnya menyerah dan menunggu Feng San di halaman depan.
Liu Chang duduk di depan gubuk seperti biasanya, ia mencoba mengonsumsi Buah Darah Siluman yamg baru saja ia dapat. Salah satu dari tiga buah itu berwarna sedikit kehitaman membuat Liu Chang menatapnya cukup lama, ia begitu senang karena mendapatkan buah berkualitas baik.
“Sebaiknya aku mengonsumsi buah ini dari yang termuda ... efek buah yang berwarna gelap itu belum kuketahui ....” Liu Chang menyimpan sebagian buah yang berwarna kehitaman, saat ini buah berwarna lebih muda memang harus ia dahulukan dalam mengkonsumsinya.
Liu Chang lalu membagi buah yang berwarna muda menjadi beberapa bagian, sejak beberapa hari yang lalu cara ini selalu Liu Chang gunakan, sebab efek buahnya belum bisa diterima tubuhnya dengan baik.
Tidak lama setelah Liu Chang mulai bermeditasi untuk menyerap khasiat, Feng San datang dengan membawa kantung besar di tangannya seperti beberapa hari yang lalu.
“Kau ini. Kemarilah! aku ingin membicarakan sesuatu.” Feng San mengusap kepala Liu Chang, lalu berjalan ke salah satu batu dan duduk di atasnya.
Feng San kemudian membuka kantung besar di tangannya, dia menjelaskan isi di dalamnya adalah tanaman yang berkhasiat untuk meningkatkan kualitas tulang.
Liu Chang mengangkat alisnya ketika mendengar istilah kualitas tulang.
Feng San yang mendengar itu, segera menjelaskan bahwa salah satu hal yang menjadi tolak ukur seorang pendekar adalah kualitas tulang juga struktur tubuh yang kuat. Untuk berlatih dan menaikkan kualitasnya, biasanya para pendekar akan melakukan latihan keras selama bertahun-tahun dengan persentase kenaikan yang juga kecil.
Sedangkan para pendekar yang cerdas lebih memilih meningkatkan kualitas tulangnya dengan sumber daya seperti tanaman atau obat ajaib namun harga tanaman yang memiliki khasiat seperti itu juga sangat mahal untuk dibeli.
__ADS_1
Dua metode berbeda itu membuat kekuatan mereka yang memakai sumber daya lebih unggul dari segala hal, baik secara waktu maupun kualitas.
Liu Chang mengganguk pelan setelah mendengar penjelasan Feng San, sekarang dia mengerti mengapa para pendekar bisa dikelompokkan berdasarkan kekuatannya.
“Lalu tanaman-tanaman itu pastinya memiliki hubungan dengan kualitas tulang, 'kan?” Liu Chang menunjuk beberapa tanaman yang memiliki bentuk aneh.
Feng San tersenyum tipis lalu menjelaskan bahwa beberapa tanaman yang ia bawa seluruhnya berkhasiat untuk meningkatkan kualitas tulang namun memiliki efek yang juga sama dengan Buah Darah Siluman.
Dalam menentukan kualitas tulang, beberapa pendekar terkenal berkumpul dan berdiskusi untuk membuat berbagai metode dalam menilainya. Hasil diskusi itu kemudian dituliskan dalam berbagai kitab ilmu bela diri.
Berdasarkan kitab belar diri tersebut, tulang seorang pendekar dibagi menjadi beberapa sub khusus diantaranya dari yang terlemah yaitu Tulang Serigala, Tulang Singa, dan Tulang Dewa Petir.
Tulang Serigala dibagi menjadi tiga yaitu yang terlemah adalah Tulang Serigala Hitam lalu Tulang Serigala perak dan yang terkuat Tulang Serigala Besi.
Tulang Singa dibagi menjadi tiga juga yaitu Tulang Singa Angin, Tulang Singa Perkasa dan yang terakhir Tulang Singa Berlian.
Lalu terakhir adalah Tulang Dewa Petir yang dibagi menjadi dua yaitu Tulang Dewa Petir Bumi dan Tulang Dewa Petir Langit.
Setelah menjelaskan secara keseluruhan mengenai kualitas tulang, Feng San lalu memberikan beberapa tanaman yang berkhasiat untuk menaikkan kualitas tulang.
Beberapa tanaman itu nantinya akan membantu Liu Chang dalam menaikkan kualitas tulangnya secara cepat namun efek yang diterimanya juga sebanding dengan khasiatnya.
Untuk tanaman pertama yang akan dikonsumsinya, Liu Chang memilih tanaman yang memiliki bentuk seperti cabai namun memiliki beberapa guratan-guratan cukup aneh yang menghiasinya. Feng San menyebutnya Cabai Stun.
__ADS_1
Liu Chang langsung menelannya beberapa gigitan, dia berharap cabai ini memiliki rasa normal, “Bagaimanapun rasanya, aku harap tidak aneh ...”