Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 51 – Potensi inti ungu.


__ADS_3

Liu Chang terbangun seperti biasa saat fajar belum terlalu menyingsing, walaupun Lembah Liko sedikit mencekam dan berbahaya, nyatanya suasana pagi hari di Lembah ini tidak ada bedanya dengan suasana pagi di pedesaan.


Setelah membersihkan dirinya, Liu Chang memulai aktivitas yang biasa ia lakukan di pagi hari seperti pemanasan dan juga melatih jurus-jurus Ilmu Pedang Sutra. Menurutnya Ilmu Pedang harus sering-sering dilatih agar pemahamannya tidak tumpul.


"Hentikan dulu pemanasannya, kemarilah Chang'er!!" Liu Chang menoleh ke asal suara itu, ia melihat Jing Quo datang menghampirinya sambil membawa buntalan besar.


Jing Quo menjelaskan bahwa latihan hari ini adalah memaksimalkan potensi inti ungu yang ada ditubuh Liu Chang, itulah alasan mengapa ia membawa buntalan besar ini. Menurut penjelasannya buntalan ini berisi berbagai sumber daya untuk pembersihan jiwa.


"Tangkap ini, makan secara perlahan!" Jing Quo melemparkan buah berwarna kemerahan, yang langsung Liu Chang tangkap dengan cepat.


Tanpa pikir panjang Liu Chang segera memakannya karena mengira khasiatnya akan sama seperti buah delima yang ia makan dahulu.


Jing Quo yang berada di depan Liu Chang cukup kagum dengan keberaniannya memakan sekaligus buah itu. Mungkin Liu Chang ingin memakan buah itu dalam satu kali proses, pikirnya.


Dalam tatapannya itu, diam-diam Jing Quo iba pada Liu Chang. Sementara Liu Chang yang menyadari kebodohannya mulai bereaksi terkejut.


"Jadi, buah in--"


Kalimat Liu Chang terpotong sebelum sempat menyelesaikannya. Liu Chang mulai merasakan khasiat buah itu sudah mulai menunjukkan efek pada tubuhnya, akibatnya ia meronta kesakitan ke sana kemari di tanah.


Hal itu terus terjadi hingga lima menit kemudian Liu Chang berhenti meronta. Asap putih keluar dari mulut Liu Chang terus menerus hingga beberapa menit, menandakan bahwa efek buah tersebut cukup membuat Liu Chang kepanasan.


"Makan ini!!"


Jing Quo memberikan satu buah lagi, kali ini yang ia lemparkan adalah buah manggis namun memiliki bentuk yang sedikit berbeda dari biasanya. Liu Chang menatap heran buah yang baru saja ia makan efeknya saja belum sepenuhnya keluar, apakah buah ini harus ia makan juga?


Jing Quo mengganguk pelan dan menjelaskan bahwa buah ditangan Liu Chang kali ini akan membuat efek dari buah tadi sedikit berkurang, karena buah ini bersifat mendinginkan rasa panas.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Liu Chang kembali menelan buah pemberian itu sampai habis dalam beberapa gigitan.


"Chang'er memang hebat, bisa menyerap khasiat dua buah sekaligus," Jing Quo menatap kagum pada Liu Chang, sementara Liu Chang mulai berekspresi panik karena menyadari kebodohannya.


Efek buah itu bereaksi cukup lama seperti buah delima tadi namun efeknya yang cukup berkebalikan yaitu menimbulkan beberapa bunga es pada rambut dan alis Liu Chang, beberapa menit setelahnya barulah rasa dingin itu mulai turun.


Perlu waktu lama agar Liu Chang kembali ke suhu tubuhnya sebelum ia memakan kedua buah itu, meskipun Liu Chang menyadari efek kedua buah itu cukup menyiksa. Namun setelah menyadari khasiat lebih dari yang ia kira, Liu Chang mulai tertawa senang.


"Ini ... hebat."


Liu Chang tersenyum puas, dalam beberapa menit keadaan tubuhnya seperti terlahir kembali, ia merasakan aliran tenaga dalam maupun Qi miliknya terasa ringan dan bertenaga, ditambah dengan efek dingin tadi juga memperkuat tulangnya saat ini.


Sementara Jing Quo yang melihat hal itu, ikut senang dengan perkembangan Liu Chang yang cukup signifikan dalam waktu sesingkat ini.


"Bagaimana? Apa qi milikmu sudah terasa ringan?" Jing Quo bertanya tiba-tiba, ia bisa merasakan Liu Chang memiliki aura lebih kuat dari sebelumnya karena itu ia ingin mendengarnya langsung dari Liu Chang.


"Senior, lihat dalam pukulan ini ... daun yang jaraknya belasan meter juga ikut terkena efeknya." Liu Chang memperlihatkan pukulan tenaga dalamnya yang terasa lebih ringan tetapi juga begitu bertenaga, hingga daun-daun pepohonan dengan jarak belasan meter bisa ia goyangkan.


"Baiklah mulai besok, kau akan makan kedua buah ini setiap pagi dan melatih pengendalian qi yang kau punya," Jing Quo mengelus rambut Liu Chang sebelum ia memasuki gubuknya kembali, seperti malam tadi ia ingin Liu Chang yang memasak makanannya malam ini.


Setelah makan malam, Liu Chang mulai mengambil posisi bermeditasi, mulai saat ini ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi kuat, karena itu jika ada waktu luang ia pasti akan mengisinya dengan latihan ataupun meditasi dan berlatih ilmu pedang.


Meskipun sebenarnya yang Liu Chang lakukan di lembah ini setiap harinya memang akan selalu diisi dengan latihan dan latihan.


°°°°


"Chang'er, bangun!!"

__ADS_1


Jing Quo menepuk pipi Liu Chang beberapa kali untuk membangunkannya, setalah Liu Chang terbangun ia menjelaskan ingin menunjukkan sesuatu pada Liu Chang. dan pagi-pagi buta seperti ini adalah waktu yang tepat.


"Ikuti aku, basuh mukamu menggunakan air yang sudah aku siapkan," Jing Quo keluar dari gubuk lebih dulu dibandingkan Liu Chang, ia duduk di atas batu seperti biasanya sambil menenggak guci berisi arak ditangannya.


Beberapa menit kemudian, Liu Chang keluar dengan keadaan wajah yang cukup segar, ia merasa harus selalu siap dengan situasi seperti ini karena latihannya memang akan lebih berat ke depannya.


"Kau pernah melihat lintah?" Jing Quo tiba-tiba bertanya tentang lintah pada Liu Chang, Liu Chang mengganguk pelan di belakang Jing Quo yang berjalan di depan, ia memang pernah melihat lintah dan sejenisnya saat di restoran keluarga Han karena itu menu yang paling disukai pelanggan.


Jing Quo mengganguk pelan, informasi yang Liu Chang berikan sudah lebih dari cukup agar dirinya tidak terkejut dengan wujud lintah yang nantinya akan ia tunjukkan namun kali ini lintah yang ia tunjukkan bukan lintah biasa karena sebagian besar hewan yang ada di Lembah Liko adalah siluman.


Setelah berjalan cukup lama ke dalam hutan, Jing Quo menunjuk ke satu arah.


"Lihat itu, menurutmu itu apa?"


Liu Chang menoleh ke arah tersebut, menurut pengelihatannya itu sebuah gua yang cukup besar dan begitu dipenuhi semak-semak belukar, sementara Jing Quo mengganguk pelan setelah mendengar pendapat Liu Chang sebelum membantahnya.


Menurut penjelasannya itu adalah sarang lintah namun bukan lintah biasa yang ia maksud melainkan siluman berjenis lintah dan mengeluarkan racun yang cukup berbahaya dari lendirnya.


Liu Chang terkejut bukan main mendengarnya, ia tidak menyangka lintah yang di dunia manusia sering digunakan untuk pengobatan adalah hewan tang berbahaya di dalam hutan Lembah Liko.


"Ya, selain itu kabut beracun muncul dari mulutnya saat terancam, jadi kita harus berhati-hati."


••••


Berikan Like dan komentar kalian teman-teman pembaca, dengan harapan melihat like kalian semangat saya bertambah.


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.

__ADS_1


Salam author.


Ibnu R.


__ADS_2