
Tidak lama berlari, Liu Chang dan Chiriyu akhirnya tiba di mana bau-bau masakan sedap itu muncul. Sebuah restoran yang bangunan dua lantai, bertuliskan huruf perak untuk menuliskan nama restoran Partikel Hitam di depan bangunannya.
“Chiriyu, mari kita masuk!”
“Ya, Kakak. Aku mencium bau yang sangat sedap dari restoran ini.”
Setelah memutuskan untuk mengisi perut di sini, Liu Chang dan Chiriyu masuk ke dalam restoran bernama Partikel Hitam itu.
Suasana yang terlihat dari restoran Partikel Hitam tidak terlalu ramai, saat memasukinya Liu Chang hanya menemukan dua puluh meja yang disediakan di lantai pertama. Sementara yang berada di lantai kedua memiliki sepuluh meja dengan ukuran besar.
Liu Chang memilih untuk memasuki lantai kedua karena suasana cukup berisik timbul di lantai pertama akibat diisi para nelayan atau penduduk biasa lainnya, topik yang mereka bicarakan biasanya terkait aktivitas sehari-hari.
“Untuk memasuki lantai kedua, Tuan Muda harus membayar dua keping perak,” ucap seorang gadis pelayan, dia bertugas menjaga meja kasir dan resepsionis.
“Aku tidak memiliki uang yang lebih kecil, bisa memakai ini saja.”
Liu Chang menyerahkan satu keping emas sebagai gantinya. Setelah menerima pembayaran Liu Chang wajah keterkejutan muncul pada wajah gadis pelayan itu. Dia buru-buru memanggil manajernya karena berpikir Liu Chang adalah orang penting dari pemerintahan negara.
Tidak menunggu lama, seorang pria berusia setengah abad datang ke arah Liu Chang dengan setengah berlari. Dia menyambut Liu Chang begitu baik, berpikir bahwa Liu Chang mungkin tamu yang harus diistimewakan.
Setelah tiba di lantai kedua Liu Chang memilih meja yang berada cukup jauh dari pintu masuk, dia memilih meja yang berada di dekat jendela.
“Kakak, kenapa perlakuan mereka pada kita tadi cukup aneh?” Setelah sampai di mejanya, Chiriyu akhirnya bertanya hal yang mengganjal dipikirannya sejak tadi.
“Di dunia manusia, uang sering kali lebih dihormati daripada identitas.” Liu Chang mengelus kepala Chiriyu dengan lembut. Memang saat ini uang adalah sesuatu yang paling manusia hargai dibandingkan identitas, saat itulah timbul hukum tak tertulis yang menyatakan bahwa adanya uang akan membawa kehormatan.
Seorang gadis pelayan menghampiri meja Liu Chang dan Chiriyu tidak lama setelah keduanya duduk.
__ADS_1
“Tuan Muda, uang yang anda berikan memiliki jumlah lebih. Anda ingin menggunakannya untuk memesan sesuatu dari sisa uang ini?” tanya seorang gadis pelayan, dia bersikap dan berbicara pada Liu Chang dengan sangat hati-hati.
Liu Chang melihat ke sekelilingnya, dia melihat orang-orang memesan masakan yang cukup sedap dan memiliki porsi besar.
“Apa di sini memiliki masakan terkenal?”
“Ya, ada. Kami memiliki masakan Tuna Sirip Biru pedas dan memiliki harga per gram 2 keping perunggu,” jawab gadis pelayan itu kemudian.
Liu Chang memutuskan memesan menu terkenal itu setelah melihat reaksi Chiriyu yang juga tertarik. Akhirnya Liu Chang memesan daging Tuna Sirip Biru yang memiliki berat sepuluh Kilogram.
Orang-orang disekitar meja Liu Chang dan Chiriyu yang mendengar pembicaraan mereka terkejut dengan jumlah yang Liu Chang pesan. Dengan berat sepuluh Kilogram, Tuna Sirip Biru akan memiliki harga puluhan keping perak.
Setelah menunggu selama lima belas menit, bau masakan yang merupakan favorit sekaligus masakan terkenal di Partikel Hitam itu tiba di meja Liu Chang. Semua pandangan langsung beralih ke meja Liu Chang dan Chiriyu saat menyadari keduanya memesan masakan paling mahal itu.
“Silahkan dinikmati Tuan Muda, kami juga memberikan dua guci arak kualitas terbaik sebagai bonus dari pembelian ini.” gadis pelayan tersebut menuangkan guci berisi arak kualitas terbaik itu ke gelas besar ke sisi Liu Chang.
Selang beberapa menit setelah mulai menyantap makanan, Liu Chang menghentikan makannya karena menyadari semua pandangan menuju ke arah jendela.
“Kakak, ada apa? Mengapa orang-orang berdiri dari meja dan melihat ke jendela.” Chiriyu mulai bertanya-tanya kepada Liu Chang tentang kejadian serempak ini.
“Sepertinya ada yang menarik perhatian mereka di bawah sana. Aku akan melihatnya dulu.” Liu Chang berdiri dari duduknya dan pergi ke salah satu jendela besar yang ada di sudut kanan.
Saat itulah Liu Chang mendengar desas-desus orang-orang yang mengatakan bahwa kali ini ada yang lagi tewas setelah terkena sebuah wabah mengerikan. Dari yang terlihat oleh Liu Chang, hal ini sepertinya bukan kali pertama penduduk di sini melihat seseorang tewas karena wabah itu.
“Permisi, Senior. Kau tahu apa yang orang-orang ini bicarakan?" Liu Chang menghentikan seseorang yang lewat di hadapannya.
“Ah, itu. Mereka membicarakan wabah bernama Hun yang muncul tidak lama ini.” setelah menjawab pertanyaan Liu Chang, pria tersebut segera pergi dari hadapan Liu Chang.
__ADS_1
Liu Chang kembali ke mejanya, dia berpikir keras dari tadi. Sebenarnya apa yang orang-orang itu maksud dengan Hun?
“Ada apa, Kakak? Kau terlihat tidak baik.” Chiriyu melihat ekspresi Liu Chang cukup buruk setelah kembali ke meja mereka akhirnya bertanya karena penasaran.
Liu Chang menggelengkan kepalanya pelan, lalu membawa Chiriyu keluar dari restoran Partikel Hitam. Chiriyu yang mengikuti perintah Liu Chang akhirnya hanya bisa bertanya-tanya di dalam batinnya.
Setelah berjalan beberapa saat dan berada di tempat yang cukup sepi akhirnya Liu Chang berhenti. Dia menatap Chiriyu beberapa saat sebelum akhirnya menyuruhnya untuk memasuki kertas segel.
“Mengapa aku harus masuk saat ini, Kakak?”
“Untuk keselamatanmu, Chiriyu. Sepertinya keadaan kota ini cukup buruk, kau harus masuk agar terhindar dari yang mereka bicarakan. Sementara Kakak akan mencari Informasi-informasi tentang wabah bernama Hun ini. Cepatlah!!”
Setelah memastikan Chiriyu telah berada di yang tempat aman. Liu Chang segera mengaktifkan pendengaran jarak jauhnya untuk menguping pembicaraan orang-orang dari sekitarnya.
Beberapa menit setelah mendengar pembicaraan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, Liu Chang akhirnya mengetahui beberapa informasi cukup penting mengenai lokasi dan informasi terkait wabah Hun yang terjadi di sekitar lokasi ini.
Menurut yang Liu Chang dengar dari orang-orang tadi, saat ini dia berada di sebuah kota bernama Xian Qi yang masuk dalam wilayah negara bernama Werbei. Lokasinya berada di barat laut Benua Dataran Giok.
Sementara terkait wabah Hun yang mengganggu pikirannya, Liu Chang hanya mendapatkan informasi yang hanya menjelaskan sebab kematian dan gejala-gejala yang timbul setelah terkena wabah Hun ini. Namun penyebab munculnya wabah ini, informasinya saat ini abu-abu.
“Begitu rupanya, wabah Hun adalah penyebab yang membuat kota ini di hindari para pendatang. Sepertinya kumpulan informasi yang kudapatkan masih jauh dari cukup. Aku harus mencarinya kembali.”
••••
Wabah Hun, ini baru permulaan.
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan ....
__ADS_1
Ibnu R