Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 49 – Lembah Liko II.


__ADS_3

"Sialan jika sebanyak ini silumannya, siapa seseorang yang bisa hidup di tempat seperti ini?"


Liu Chang kembali menghadapi seekor siluman, kali ini sudah kelima kalinya ia menghadapi siluman seperti ini. Yang pertama adalah siluman serigala saat ia berbelok ke arah kiri pertama kali.


Dan siluman seterusnya adalah seekor kera hingga yang keempat namun kali ini siluman yang ia hadapi sedikit berbeda. Liu merasa siluman dihadapannya ini merupakan siluman seribu tahun atau mungkin saja raja siluman.


"Kulitnya keras sekali ... rasanya seperti menebas berlian!!" Liu Chang mendengus kesal, lima puluh kali telah ia tebas tubuh siluman berwujud singa ini, tetapi yang berefek pada tubuhnya hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali.


Hal tak terduga terjadi dan menimpa Liu Chang selanjutnya, siluman singa itu tiba-tiba menghilang dan muncul dibelakang titik buta Liu Chang.


"Apa!!!


Liu Chang mengumpat dalam batinnya. Bagaimana tubuh sebesar itu bergerak dengan sangat cepat, bahkan terkesan seperti menghilang jika dilihatnya.


Saat Liu Chang mencoba membalikkan badannya, siluman itu kembali berpindah tempat. Liu Chang terperanjat, ia begitu terkejut hingga tidak sempat menghindari pukulan yang dilayangkan siluman singa.


"BUUUUMMM!!!


Tubuh Liu terkena cakaran dan pukulan kaki siluman itu, untungnya ia sempat menahannya dengan beberapa lapis Qi sehingga lukanya tidak terlalu parah.


Namun serangan itu tidak sesuai perkiraan Liu Chang, darah segar tetap menetes di tepi bibir dan dahinya, sungguh kekuatan yang tidak bisa diterima nalar, pikirnya.


"Siluman ini, benar-benar membuatku muak!!" Liu Chang menyeka darah di bibirnya, semua cara telah ia lakukan untuk mengalahkan siluman singa ini namun karena kekuatannya sungguh diluar nalar, yang bisa dia lakukan saat ini hanya menghindar dan terus melompat dari pohon ke pohon.


Menurut perhitungan kasar Liu Chang, ia telah bertarung dengan siluman ini satu jam lamanya, dan telah melepaskan lebih dari seratus jurus mulai dari jurus paling dasar hingga pukulan-pukulan tenaga dalam namun tetap saja tubuh siluman dihadapannya ini tidak bergeming sedikit pun.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Liu Chang memilih untuk lari dan berpindah tempat dari pohon ke pohon untuk menghindari kejaran siluman singa itu.


Tentu Jika mengandalkan ketahanan tubuh, Liu Chang yang akan pertama kali tumbang dibandingkan siluman ini namun jika menyangkut kecerdasan ia yakin akan bisa melarikan diri dari pertarungan tidak menguntungkan seperti ini.


"Mungkin sudah aman, tetapi ... aku tidak boleh lengah," Liu Chang kembali menambah kecepatan larinya. Liu Chang menyadari satu hal dari larinya sepertinya kecepatan larinya bertambah seiring waktu sejak sering menggunakan ilmu meringankan tubuh.

__ADS_1


Setelah bermain kejar-kejaran dengan siluman tersebut lebih dari dua puluh menit, Liu Chang mulai bisa melihat pemukiman kecil, Tepatnya seperti gubuk yang berada di tengah-tengah hutan dan berada disekitarnya kebun sumber daya.


Liu Chang mengerutkan dahinya, ia tidak yakin yang ia lihat saat ini adalah sebuah gubuk, bisa saja itu adalah ilusi seperti yang dilakukan Dong Enlai padanya saat itu namun rasa penasaran membuatnya tidak bisa menghentikan langkahnya mendekati gubuk itu.


Setelah berada cukup dekat beberapa meter dari halamannya, Liu Chang menurunkan kecepatan larinya dan berjalan lebih pelan, berjaga-jaga jika kemungkinan ada sesuatu yang lebih berbahaya dari siluman singa di gubuk itu.


"Masuklah!! Masuk ke dalam gubuk di depanmu!!"


Liu Chang bertanya-tanya dalam batinnya ia kembali mendengar suara telepati yang sama, tidak mungkin ia menuruti keinginan suara itu kembali, setelah berpikir cukup lama dan karena suara itu terus memerintahkan hal yang sama akhirnya Liu Chang memutuskan untuk mengikuti perintah itu sambil menyiapkan Pedang Dewa Petir di balik bajunya.


Pada awalnya Liu Chang berpikir ia sedang dijebak namun kejadian selanjutnya akhirnya berhasil mengejutkannya.


"Siapa kau?!"


Liu Chang menghunuskan pedangnya ke arah pria didepannya saat ini. Meskipun kondisi pria itu terlihat mabuk namun tidak membuat Liu Chang menurunkan kewaspadaannya, ia sudah melihat begitu banyak pendekar dalam keadaan seperti itu bisa bertarung dengan baik di Kekaisaran Giok Utara.


"Anak muda ... ini aku, yang berbicara lewat telepati dan memberimu jalan sampai ke sini," orang tersebut mulai angkat bicara setelah cukup lama berdiri.


Liu Chang mendengus pelan, jika orang ini tidak membuatnya kesal mungkin saja ia bisa bersikap lebih ramah kepadanya. Bayangkan saja melewati jalan yang diisi oleh berbagai macam siluman berbahaya dan salah satu yang menyerang adalah siluman sekuat raja siluman, pendekar biasa mungkin sudah mati saat ini.


"Bisakah sedikit sopan, umpatanmu tidak sesuai dengan nama yang kau punya!" pria itu mulai bersikap serius, bahkan kali ini ia membahas masalah nama juga dengan Liu Chang.


Liu Chang mengangkat alisnya, untuk apa menasehatinya saat ini sedangkan beberapa saat yang lalu ia baru saja ingin mencelakainya.


"Baiklah, aku mengerti perasaanmu ... mari masuk untuk berbicara lebih banyak!!" akhirnya si pria mabuk mengajak Liu Chang untuk masuk ke gubuknya, dibalik sikapnya yang seperti itu Liu Chang bisa merasakan pria tersebut cukup menghargai perasaannya.


Merasa tidak memiliki pilihan lain akhirnya Liu Chang mengikuti langkah pria tersebut, tentu karena lukanya perlu istirahat lebih lama untuk bisa pulih dengan cepat.


Keadaan didalam gubuk itu seperti gubuk pada umumnya, Liu Chang tidak melihat hal aneh yang ada di dalamnya maupun sesuatu yang bisa mencerminkan ilmu ilusi.


"Kau masih saja curiga, duduklah!!" si pria mabuk itu akhirnya mempersilahkan Liu Chang duduk, kebetulan ia memiliki jumlah kursi lebih di dalam gubuk tuanya.

__ADS_1


"Baiklah, kuharap tidak ada pedang tersembunyi."


"Hahaha, kau cukup lucu nak. Perkenalkan siapa namamu!!"


Setelah berbincang cukup lama dan mengenalkan namanya, akhirnya Liu Chang cukup terbiasa dengan gaya bicaranya yang sedikit melantur dan sering bercanda, menurutnya sikapnya ini tidak jauh berbeda dengan Gang Wei saat mabuk.


Namun hal yang membuat Liu Chang terkejut adalah kesaksiannya yang menyebutkan bahwa sejak Liu Chang bertarung dengan Dong Enlai ditepi jurang, ternyata ia sudah memperhatikan Liu Chang dari jarak sejauh itu dengan tenang tanpa berniat membantunya sedikit pun.


"Lalu kenapa kau tidak menolongku melawan aliran hitam saat itu?" Liu Chang mengangkat alisnya, ia merasa heran dengan kesaksian pria ini.


"Untuk apa? dunia ini butuh keseimbangan. Membantu memusnahkan salah satunya akan menyebabkan yang lainnya terkena dampaknya."


Si pria mabuk menjawab santai, dengan gayanya yang berbicara sambil cegukan ia tidak pernah berhenti menenggak guci arak di tangannya.


"Begitu ya, kau benar. Tidak ada alasan kau menolongku saat itu."


Liu Chang bergumam pelan, memang saat itu terjatuhnya ia hingga ke jurang ini adalah kecerobohannya sendiri karena tidak menyadari ilusi yang digunakan pada kota bernama Jing Quo itu.


"Aku ingin bertanya, kau tahu kota bernama Jing Quo?"


Liu Chang bertanya tiba-tiba, ia teringat sebuah kota yang menurutnya sangat aneh. Keadaan kotanya yang cukup hidup membuatnya tidak mencurigai kota yang hanya ilusi semata.


"Jing Quo?! Kau menemukan kota dengan nama itu? Cepat ceritakan padaku!!"


"Sepertinya kau begitu tertarik ... baiklah, akan kuceritakan."


•••


Berikan Like dan tanggapan kalian....


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya....

__ADS_1


Ibnu R


__ADS_2