Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
CH. 18 – Tiba Di Jian Yi.


__ADS_3

Setelah berhasil masuk ke dalam, Liu Chang menemukan sesuatu yang menakjubkan baginya. Karena ini pertama kalinya Liu Chang masuk ke dalam pintu dimensi, Liu Chang takjub dengan keindahan langit malam penuh bintang yang ada di sini.


Liu Chang merasa bintang-bintang itu cukup dekat seolah mampu dia sentuh, namun Liu Chang juga tidak benar-benar menyentuh kumpulan bintang tersebut karena mengetahui resikonya.


Sebelumnya Gang Wei telah memperingatkan bahwa sesuatu di dalam pintu tidak boleh sedikit pun di sentuh walaupun hal itu begitu mengejutkan bagi Liu Chang.


“Kau dan Guru membuat tujuan pintu ini ke mana?” Liu Chang bertanya demikian setelah perjalanan di dalam pintu dimensi tidak juga sampai.


“Aku tidak akan memberitahukannya, tetapi yang pasti ukurannya mengimbangi kota besar ...” Gang Wei tertawa kecil melihat ekspresi Liu Chang yang tidak senang dengan perkataannya.


Liu Chang jelas tidak senang karena hanya dia yang tidak mengetahui tujuan dari pintu ini, sehingga pikirannya hanya terus menebak-nebak. Meskipun begitu Liu Chang sangat berharap keluar di Kota San Yie agar dirinya bisa melihat kondisi setelah penyerangan siluman saat itu.


Setelah waktu berjalan beberapa menit pintu dimensi memancarkan cahaya putih dan kicauan burung yang menggema. Gang Wei mengatakan bahwa itu adalah ujung dari pintu ini karena ujungnya memang memiliki cahaya yang berbeda.


Setelah berhasil keluar, Gang Wei kemudian membuat mantra tangan dan mengubah bentuk pintu dimensi menjadi sebuah medali. Gang Wei membagi medali itu menjadi dua bagian, dan memberikan satu medali pada Liu Chang untuk berjaga-jaga.


Gang Wei berpesan jika hal buruk terjadi Liu Chang bisa menyelamatkan diri ke Dimensi Kematian untuk memulihkan diri. Dengan begitu sesulit apapun kondisi pertarungan mereka nanti, tetap ada harapan untuk menang karena kemungkinan memulihkan diri begitu besar.


Setelah cukup lama diam di sini, Liu Chang baru menyadari bahwa mereka terlempar keluar ke dalam hutan. Namun Gang Wei berkata tujuan awalnya adalah di dekat sebuah kota tetapi jika keluar di tempat seperti ini artinya ada pergeseran beberapa kilometer dari tujuan awal.


Liu Chang mengganguk pelan mendengar penjelasan Gang Wei, meskipun keluar di dalam di hutan seperti ini, Liu Chang tidak khawatir mengingat kekuatan Gang Wei dan dirinya mampu membunuh Siluman seratus tahun sekali pun.

__ADS_1


Setelah melihat ke atas pohon dan memastikan bahwa beberapa kilometer dari sini adalah kota, Liu Chang dan Gang Wei melanjutkan perjalanan ke kota itu tanpa berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.


°°°°


Setelah berjalan cukup lama, Liu Chang bisa melihat sebuah kota dari jarak 2 Km dari sini. Gang Wei menyipitkan matanya untuk melihat kota tersebut namun hasilnya sia-sia karena pengelihatan tidak sebaik Liu Chang.


Liu Chang sendiri baru menyadari kemampuan ini beberapa minggu setelah dirinya mengkonsumsi Buah Darah Siluman, sejak saat itu Liu Chang mengkonsumsi buah tersebut lebih banyak, selain bisa meningkatkan kualitas fisik kemampuan matanya juga meningkat pesat.


Gang Wei hanya menatap Liu Chang iri karena mendapatkan kemampuan seperti itu, yang berarti menunjukkan kualitas sumber daya yang diberikan Feng San pada Liu Chang begitu bagus.


Liu Chang yang melihat tatapan Gang Wei padanya begitu aneh berusaha menanyakannya pada Gang Wei tetapi melihat Gang Wei tidak mau mengatakannya, Liu Chang tidak membahasnya lebih jauh.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di kota tersebut, Liu Chang melihat parahnya tembok kota yang batunya sudah terkikis. Selain itu ekspresi para penjaga di pintu kota juga begitu aneh, Liu Chang melihat tatapan kosong dari para penjaga itu seolah telah pasrah menghadapi sesuatu.


Liu Chang kemudian menjelaskan bahwa kondisi kota yang terawat dan memiliki ekonomi yang baik, biasanya memiliki kondisi tembok yang kokoh dan tidak seperti kondisi tembok kota ini, yang terlihat seperti baru diserang oleh sesuatu, selain itu papan nama kota juga tidak terlihat terpajang di pintu masuk.


Keduanya lalu tiba di pintu masuk, di depan Liu Chang ada dua orang yang terlihat sedang memberikan identitas untuk masuk ke kota. Selain Liu Chang berserta Gang Wei dan kedua orang itu tidak ada orang lagi yang mengantri untuk masuk ke kota ini.


Liu Chang dan Gang Wei kemudian mendapat gilirannya setelah penjaga selesai memeriksa pendatang tadi, Liu Chang diminta memberikan beberapa koin perak sebagai biaya masuk kota.


Sebelum masuk ke kota, Liu Chang sempat menanyakan apa yang terjadi pada kota ini namun penjaga kota terlihat tidak ingin membahasnya lebih jauh, seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Liu Chang tidak menanyakan lebih jauh, dia mengajak Gang Wei untuk mencari penginapan sekaligus mencari apa yang menyebabkan kota ini begitu sepi.


Sepanjang perjalanan Liu Chang menemukan banyak toko yang telah tutup,


banyak diantaranya yang merupakan restoran dan toko-toko yang menjual kebutuhan pendekar.


“Bukankah Kota ini adalah Jian Yi? Jelas ini kota perbatasan, seharusnya kondisinya lebih baik dari kota lain ...” Liu Chang melihat sebuah gedung restoran yang memiliki papan nama ukiran naga, dia mengetahui restoran di depannya ini adalah cabang restoran Han di Jian Yi.


Beberapa tahun yang lalu Liu Chang pernah berkunjung ke kota ini untuk menemani salah satu seniornya menghadiri undangan pernikahan namun saat itu Jian Yi merupakan kota yang makmur dengan julukannya yang terkenal sebagai Seribu Pedagang, karena banyaknya pedagang yang berjualan di kota ini.


Melihat kondisinya seperti ini, Liu Chang hampir tidak percaya kota ini berubah begitu drastis hanya dalam beberapa tahun, apalagi beberapa restoran yang sebelumnya cukup terkenal terlihat sepi seperti telah ditinggalkan begitu saja.


Liu Chang kemudian mengajak Gang Wei ke salah satu kedai kecil yang ada di ujung kota, Liu Chang berharap salah satu kedai yang dahulu di kunjunginya saat ke sini masih ada dan memiliki kondisi baik.


Tidak lama berjalan Liu Chang akhirnya sampai dan menemukan kedai tersebut dalam kondisi baik, apalagi seorang pemuda yang dia kenal masih menjaga kedai ini. Liu Chang dan Gang Wei kemudian masuk dan duduk di salah satu meja dekat jendela.


Pemuda pemilik kedai kecil ini kemudian menghampiri meja keduanya, dan memberikan daftar menu yang dimiliki kedai. Liu Chang menatap pemuda itu sejenak, jelas dia tidak berubah sedikit pun namun tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya.


Pemuda tersebut melihat Liu Chang menatapnya dengan tatapan dalam, dia sedikit aneh dan risih tetapi tidak berprasangka buruk.


“Maaf Tuan Muda, apa ada sesuatu yang salah?”

__ADS_1


“Kau tidak mengingatku, Lin Gui? Ini aku ...”


__ADS_2