Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 64 – Moksa II.


__ADS_3

Liu Chang mengganguk pelan namun tidak berkata apa-apa. Meski demikian dalam batinnya, Liu Chang bertanya-tanya tentang identitas pria di hadapannya ini, Mengapa dia bisa mengetahui Feng San adalah Gurunya?


Prasangka Liu Chang pun terpatahkan oleh kalimat selanjutnya yang keluar dari pria tersebut.


“Selamat karena telah mencapai tingkat ini, meskipun bagi manusia biasa sepertimu sulit namun bagi Dewa sepertiku adalah perkara mudah.” Pria berjubah merah tersenyum lembut, sangat kontras dengan perlakuannya pada Liu Chang sebelumnya.


Liu Chang terkejut saat pria tersebut menyebutkan dirinya adalah Dewa, meskipun begitu kata-kata keterkejutan tidak keluar dari mulut Liu Chang. Dia masih menahannya karena memikirkan tentang kejujuran pria di hadapannya ini. Bisa saja dia berbohong demi menipunya, pikir Liu Chang.


"Aku melihat ekspresi ketidakpercayaan pada wajahmu ... atau mungkin kau perlu pembuktian?" Pria tersebut menawarkan suatu solusi, dia kemudian membawa Liu Chang ke pojok ruangan.


“Jangan terlalu dekat! Aku akan melakukan sesuatu.” Pria berjubah merah mengangkat tangannya agar Liu Chang tidak terlalu dekat, karena sesuatu yang akan di lakukannya mungkin berbahaya bagi tubuh Liu Chang.


Pria tersebut lalu menyingkap tembok di ujung ruangan ini. Meskipun Liu Chang melihatnya seperti orang aneh namun sekejap kemudian ruangan yang tadinya serba putih itu, menjadi begitu bercahaya dengan pemandangan pegunungan luas dengan sungai yang begitu jernih.


Pepohonan yang rimbun dan segala hal asri lain yang biasanya menghias gunung tergambar di hadapan Liu Chang. Liu Chang sempat ingin berteriak kagum namun karena harus menjaga sikapnya Liu Chang tidak jadi melakukannya.


“Perkenalkan namaku Bing Qing, namamu?”


Pria bernama Bing Qing menoleh ke arah Liu Chang, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


"Namaku Liu Chang, Senior Qing." Liu Chang menunduk hormat seperti yang biasa ia lakukan saat berkenalan.


“Liu Chang ... nama yang bagus, sesuai dengan sikapmu.” Bing Qing tersenyum lembut, dia kemudian membuka pintu ruangan di mana Liu Chang dan dirinya saat ini berada.


Bing Qing berlari menuju ke sebuah Padang rumput hijau di tepi sungai berjarak 1 Km dari ruangan tadi. Bing Qing menyiapkan satu meja dan dua kursi untuk menjamu Liu Chang.


“Kau ingin minum apa?”


“Teh atau kopi tidak apa-apa, Senior.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Sekejap kemudian di tangan Bing Qing muncul beberapa gelas, dua teko berisi teh dan kopi. Selain itu beberapa beberapa guci arak kualitas terbaik dan daging siluman yang telah di bakar ada di hadapan Liu Chang saat ini.


“Aku ingin mendengar cerita tentang dirimu.”


Liu Chang mengganguk pelan sebelum mulai menceritakan beberapa hal tentang perjalanannya selama ini dari mulai menjadi pelayan hingga terjatuh ke Lembah Liko. Meski begitu beberapa hal sengaja Liu Chang singkat agar ceritanya tidak memakan waktu.


Sementara itu, Bing Qing yang mendengar cerita Liu Chang hanya mengangguk pelan dan beberapa kali tersenyum tipis di bagian cerita Liu Chang yang cukup lucu.


“Kau jatuh ke jurang karena kalah dari bola tenaga dalam yang diciptakan Pendekar Sakti?" Hahaha itu lucu sekali ... bukankah Pendekar Sakti itu mudah dihadapi?”


“Tidak, Senior. Saat itu aku kalah karena kemampuanku berada di tingkat Pendekar Menengah. Jadi, semestinya dia menang saat itu.” Liu Chang tersenyum canggung, mengenai kejadian jatuh ke jurang saat itu memang tidak ia perkiraan sebelumnya.


“Hm, seharusnya kau akan menang sekarang, mengingat kemampuanmu sudah mencapai tingkat Pendekar Naga.” Bing Qing berkata pelan namun kata-katanya berhasil membuat Liu Chang terkejut sekaligus terheran-heran.


“Baru saja kau memasukinya, Chang'er. Meminum teh itu adalah salah satu alasannya.” Bing Qing menunjuk gelas berisi teh yang ada di tangan Liu Chang. Menurutnya isi dari teh itu adalah arak dan bukannya teh. Sementara dalam peraturan Kekaisaran, Liu Chang tidak diperbolehkan meminum arak sebelum berusia 17 tahun seperti yang Liu Chang ceritakan padanya.


Faktanya salah satu alasan seorang pendekar berhasil melakukan moksa adalah meninggalkan urusan duniawi dan segala peraturannya atau bisa juga dimasuki dengan cara melayani Dewa, seperti yang dilakukan para pendekar terdahulu di dunia persilatan.


Biarpun demikian cara melayani Dewa seringkali mendapatkan hasil yang nihil dibandingkan dengan cara yang Liu Chang lakukan. Meski terlihat cukup aneh dan tidak masuk akal, tetapi menurut Bing Qing seseorang yang memasuki moksa memang seperti ini.


Bahkan dalam pengalamannya, Bing Qing memasuki moksa sewaktu tertidur saat dimintai pertolongan untuk menyelamatkan anak-anak di tengah kota yang sedang kebakaran, yang akhirnya diketahui bahwa hal itu adalah kabar palsu yang disebarkan oleh seorang tabib gila.


“Kau masih belum percaya ... mari kita bertarung!!” Bing Qing melihat Liu Chang yang sejak tadi hanya termenung dengan penjelasannya berpikir bahwa Liu Chang tidak mempercayai ucapannya.


Liu Chang tersenyum kecil sebelum mulai berbicara, “Jadi benar aku sudah memasukinya, begitu mudah. Hanya melupakan aturan dunia dan hidup seperti orang gila saja?”


“Jaga ucapanmu, Chang'er! Kau merendahkan kami para dewa dengan menyamakan kami dengan orang gila. Maksudku tidak mengikuti peraturan itu adalah tunduk pada takdir yang Maha Kuasa.”

__ADS_1


Bing Qing tersulut amarah, tentu karena ucapan Liu Chang tidak semestinya diucapkan di hadapan Bing Qing yang merupakan salah satu Dewa. Liu Chang segera meminta maaf setelah menyadari bahwa dalam Kata-katanya bisa membuat para Dewa murka.


“Kalau masih tidak percaya, kita adu kekuatan ... bagaimana?" Bing Qing kembali menawarkan, ia merasa jika dengan kalimat tidak dimengerti mungkin Liu Chang akan lebih mengerti dengan tindakan.


Beberapa saat setelah Bing Qing mengatakan hal itu, keduanya benar-benar akan bertarung di dimensi ini. Seperti biasanya Liu Chang langsung mengeluarkan Pedang Dewa Petir dari Cincin Galaksi. Bertarung melawan Dewa tentu akan lebih sulit dari pendekar biasa, pikir Liu Chang.


Sementara Bing Qing hanya menggunakan pisau daging untuk menjadi senjatanya. Biarpun terlihat meremehkan kemampuan Liu Chang, sebenarnya Bing Qing benar-benar akan bertarung serius menggunakan pisau daging itu.


“Kau siap, Chang'er?”


“Ya!!”


“Mulai!!”


Bing Qing terbang ke atas langit dengan kecepatan tinggi sementara di sisi lain Liu Chang yang tidak bisa terbang hanya melihat Bing Qing dengan takjub sambil menggaruk kepalanya.


“Kau tidak bisa terbang?” tanya Bing Qing setelah turun kembali.


“Sejauh ini yang bisa kulakukan hanya ilmu meringankan tubuh, Senior.” Liu Chang tersenyum canggung, ia merasa tidak enak hati karena pertarungan keduanya menjadi terganggu gara-gara kemampuannya yang begitu rendah.


Bing Qing tersenyum tipis namun tidak lama kemudian dia mengajarkan Liu Chang bagaimana caranya terbang dengan bantuan Qi. Dalam waktu beberapa menit, Liu Chang berhasil menguasainya karena dalam latihan dengan Jing Quo sebelumnya ia telah mempelajari cara pengendalian Qi yang optimal.


Setelah Liu Chang dirasa cukup mahir dalam hal ilmu terbang, Bing Qing kembali mengajak Liu Chang untuk beradu kekuatan. Sepertinya tangan Bing Qing cukup gatal setelah tidak mendapatkan pertarungan selama seratus tahun terakhir.


°°°°


“Berhenti, Senior. Huh ... Staminamu benar-benar tidak normal ... huh ... huh.” Liu Chang menghela napas panjang setelah bertarung melawan Bing Qing selama satu minggu tanpa istirahat.


“Yah, baiklah. Sepertinya aku terlalu berlebihan, haha.” Bing Qing tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2