Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 79 – Peninggalan Leluhur.


__ADS_3

“Begitulah ketua ... ”


Salazar menghela napas panjang setelah menceritakan pengalamannya saat pergi meneliti prasasti dan artefak di Negara Werbei.


Saat itu kelompok orang yang bernamakan Hujan Darah tiba-tiba menyerang pasukannya, dalam serangan itu pasukan Salazar sebagian besar terluka cukup parah.


Beruntungnya setelah berhasil mendapatkan celah, Salazar berhasil lari bersama sebagian besar pasukannya yang terluka parah, Salazar memutuskan untuk mengintai lebih jauh di dekat pohon Hun dan menyuruh pasukannya Kembali lebih awal ke Lembah Eve.


Mengingat kejadian itu, bisa dikatakan Salazar merasa pasukan di belakangnya tidak seperti pendekar menengah pada umumnya, mengingat sebagian besar pasukan arkeolog suku adalah pendekar menengah. Dia berpikir bahwa pasukan arkeolog suku terlalu lemah untuk mengemban tugas-tugas jika tidak berlatih lebih giat.


Seharusnya pendekar menengah bisa menghabisi sekitar 20 orang pendekar awal namun Salazar melihat pasukannya hanya bisa menghadapi pendekar menengah beberapa orang saja. Sebab itu Salazar ingin Basile lebih memperhatikan komposisi orang-orang yang hanya kuat saja untuk pergi ke dunia luar.


Basile mengganguk pelan, dia menyadari kekhawatiran Salazar ada benarnya, mengingat saat dirinya dahulu masuk di pasukan arkeolog suku, orang-orang di dalamnya sangat kuat bahkan ada beberapa yang mencapai pendekar sakti diantara para ketua.


Sulit untuk membandingkannya dengan sekarang dalam pikiran Basile, dalam waktu dekat dirinya akan melatih yang pergi dan mengizinkan individu kuat saja yang bisa pergi dunia luar.


Salazar cukup puas dengan keputusan Basile, dengan begini ke depannya dia lebih bisa tenang membawa banyak orang kuat dan tidak perlu khawatir mereka akan terluka parah lagi.


“Dan kau, aku mengetahui kedatanganmu kemari dari terbukanya pintu. Pasti kau memiliki alasan khusus bukan?” Basile berganti melirik Liu Chang yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraannya dengan Salazar.


Liu Chang mengganguk pelan sebelum mulai menjelaskan niatnya kemari, karena Basile mengetahui Liu Chang telah menyelamatkan Salazar dan Severin, Liu Chang tidak menceritakan hal itu lagi.


Liu Chang kemudian menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu sebelum bertemu Salazar, dia menemukan pohon aneh bernama Hun dan ciri-cirinya mirip dengan yang Salazar gambarkan. Liu Chang lalu menceritakan penemuan berbagai artefak dan prasasti lain yang juga tidak kalah penting.

__ADS_1


Selepas mendengarkan cerita Liu Chang selama beberapa menit, Basile memijat keningnya sementara Salazar menghela napas panjang. Mereka berdua sangat mengetahui betapa berbahayanya situasi Liu Chang andai kelompok aliran hitam mengetahui itu.


“Kau membawa sebagian prasastinya kemari?” Basile menangkap maksud Liu Chang, dia tentu ingin menanyakan lebih jauh mengenai keberadaan prasasti itu.


“Tentu ada ...” Liu Chang mengayunkan tangannya di depan Salazar dan Basile. “Semuanya kusimpan dengan baik di sini.”


Basile dan Salazar menahan napasnya ketika melihat puluhan prasasti tiba-tiba muncul di hadapan keduanya. Liu Chang bersikap dengan santai melihat reaksi keduanya, mengingat menurut Feng San Cincin Galaksi sangat sedikit jumlahnya baik itu kualitas rendah maupun tinggi.


“Inilah batu yang kuceritakan mempunyai petunjuk ke sebuah pulau.” Liu Chang menyingkirkan beberapa batu prasasti agar batu kubus setinggi dua meter memiliki cukup ruang.


“Ini?!”


Belum selesai dengan keterkejutan yang tadi, Basile dan Salazar kembali menahan napasnya, saat Liu Chang pertama kali mengeluarkan beberapa buah prasasti sekaligus keduanya tidak begitu memperhatikan batu ini namun kali ini mata mereka berdua terbuka lebar.


“Ini ... batu inilah yang selama ini kami cari-cari!” Basile tersenyum senang sambil terus memandangi batu kubus di depannya. Meskipun beberapa huruf kuno menghiasi di sana Liu Chang cukup yakin suku ini pasti memiliki metode untuk menerjemahkan huruf-huruf ini setelah melihat reaksi Basile.


“Kau bisa membaca huruf-huruf ini bukan? Kau tidak merasakan ada sesuatu yang janggal?”


Liu Chang mengganguk pelan, sebelum mulai mengeluarkan beberapa kertas segel berisi terjemahan dari batu kubus ini agar Basile dan Salazar juga bisa melihatnya. Tak lupa Liu Chang ikut mengeluarkan Chiriyu agar bisa mengetahui situasi di sini.


“Ini lihatlah, semua terjemahan ini ditulis olehnya.” Liu Chang menyerahkan kertas-kertas berisi terjemahan itu dan mengenalkan Chiriyu pada keduanya.


Basile dan Salazar hanya bisa tertegun melihat kecantikan dari Chiriyu. Basile berniat untuk menjadikan Chiriyu istri begitu pun dengan Salazar yang telah lama melajang.

__ADS_1


Namun Liu Chang yang melihat tatapan kedua orang itu mempunyai maksud lebih segera melindungi Chiriyu dengan tangannya.


“Aku hanya bercanda.” Basile tersenyum kecil melihat Liu Chang bersikap seperti itu.


“Sepertinya aku cukup serius.” Salazar tersenyum canggung.


Liu Chang menggelengkan kepalanya pelan, dia menjelaskan bahwa Chiriyu bahkan belum berusia lima belas tahun saat ini. Tentu dia tidak akan mengizinkannya menikah dengan orang lain saat ini. Karena itu bisa merenggut masa mudanya yang naif.


“Kakak ...” Chiriyu hanya bisa mengangkat alisnya karena tidak mengerti.


Setelah suasana terasa lebih canggung, Liu Chang mengalihkan topik pembicaraan kembali ke masalah batu kubus di hadapannya saat ini.


“Saat membacanya aku menyadari beberapa bagian yang tidak lengkap, karena itu aku menyuruh Chiriyu mengisinya dengan titik-titik.” Liu Chang berpendapat setelah mengetahui maksud Basile sama dengannya ketika melihat huruf-huruf kuno yang menghias batu.


Basile dan Salazar mengganguk pelan, Basile kemudian memanggil seorang gadis terlihat berusia tidak jauh dari Chiriyu. Nama gadis itu adalah Aqua.


“Dia cucuku, usianya saat ini 200 tahun. Dia memiliki kemampuan yang lebih baik dariku dalam membaca huruf ini.” Basile menjelaskan singkat mengenai Aqua dan kembali melanjutkan soal batu kubus.


Liu Chang tidak terkejut lagi mendengar usia yang begitu tua di suku ini setelah mendengar usia Salazar dan Severin saat itu.


Menurut penjelasan Basile huruf-huruf di atas batu ini disebut Savoy. Savoy terkenal sejak dahulu untuk memberikan pesan tersirat pada orang lain namun hingga saat ini cara membacanya hanya diketahui beberapa suku di Benua Dataran Giok.


“Oh ya, seingatku aku mempunyai salah satu teman dunia luar yang menguasai huruf Savoy, dia bernama Jing Quo. Aku yang mengajarkannya membaca huruf ini setelah dia menolongku saat kesulitan. Jika masih hidup kemungkinan usianya sekitar seribu tahun.” Basile berusaha mengingat-ingat pertemuannya dengan temannya dulu.

__ADS_1


Liu Chang dan Chiriyu melebarkan matanya mendengar nama Jing Quo. Chiriyu bereaksi pertama kali dengan mengatakan bahwa Jing Quo adalah Kakek Gurunya. Begitu juga dengan Liu Chang yang langsung mengatakan Jing Quo adalah guru sekaligus senior yang melatihnya.


“Jika seperti maka tidak ada alasan aku menunda keputusan, karena murid dari Jing Quo pasti memiliki kekuatan yang dahsyat.” Basile tertawa dengan lantang mendengar pengakuan Liu Chang dan Chiriyu. Sementara Salazar dan Aqua hanya tersenyum tipis karena tidak mengetahui apapun.


__ADS_2