
"Siluman Ular?!" Liu Chang melompat ke belakang dengan cepat. Dia tidak menduga sungai yang mengalir deras seperti ini bahkan memiliki penunggu di dalamnya.
Sayangnya gerakan Liu Chang telah diketahui oleh siluman itu sebelumnya. Dia menyerang Liu Chang dan keluar dari aliran sungai, tubuhnya yang sangat besar nyatanya tidak menghentikan gerakannya yang sangat cepat.
"Hei ini tidak bercanda kan? ... panjang tubuhnya mencapai tiga puluh meter!!" Liu Chang terkejut melihat besarnya tubuh Siluman di hadapannya kali ini. Liu Chang mundur beberapa langkah mencoba memancing Siluman Ular itu ke dalam hutan. Wilayah bertarung yang cukup sempit memaksanya harus melakukan hal ini.
"Shhhhh."
Tidak berhenti sampai di sana, Siluman Ular mengikuti gerakan Liu Chang dan mengejar hingga masuk ke dalam hutan. Dengan mudah Siluman Ular sampai di hadapan Liu Chang bahkan dengan jarak keduanya yang tadinya terpaut dua puluh meter.
Liu Chang menyiapkan kembali kuda-kudanya, sebenarnya Liu Chang sudah cukup lelah akibat pertarungan tadi namun kehendak berkata lain padanya. Kali ini ada seekor siluman yang mau tidak mau harus ia kalahkan, atau jika kalah dia yang jadi santapannya.
"Shhhhh."
"Ingin membunuhku, tidak semudah itu!!" Liu Chang melompat cukup jauh, selain mulut Siluman Ular yang terus menyemburkan bisa, ternyata ekornya juga ikut menyerangnya. Dengan ini Liu Chang terpaksa harus mencari jalan keluar, jangan sampai pertarungan ini malah mengundang siluman lain kemari.
"Jurus ketiga, hantaman naga perkasa!!"
Liu Chang maju dan menyerang dengan agresif. Tubuhnya berputar dan berpindah untuk menghindari serangan Siluman Ular lalu maju dan menebas dengan cepat.
Sayangnya lawannya kali ini cukup pintar, sebelum mengenai tubuhnya sendiri Siluman Ular telah lebih dulu menyerang Liu Chang menggunakan ekornya. Tubuh Liu Chang terkena hantaman ekor itu dan terpental hingga puluhan meter.
Darah segar mengalir di tepi bibir Liu Chang, dengan cepat Liu Chang menyeka karena Siluman Ular itu telah sampai ke hadapannya lagi. Liu Chang menyiapkan Pedang Dewa Petirnya kembali.
Liu Chang kembali bersiap-siap, ia menduga pertarungan ini tidak akan selesai dalam waktu cepat. Di sisi lain lawan Liu Chang kali ini, mengumpulkan bola korosif di mulutnya dan bersiap menembakkannya pada Liu Chang.
Tanpa Liu Chang dan Siluman Ular sadari, ada yang mengawasi pertarungan mereka berdua dari jarak yang cukup jauh. Orang itu adalah Jing Quo. Dengan menyembunyikan keberadaannya Jing Quo bisa dengan mudah mengintai tanpa bisa diketahui.
"Ilmu pedangnya sebentar lagi mencapai tahap emas, huh." Jing Quo menenggak guci araknya kembali.
__ADS_1
Liu Chang melesat kembali menggunakan ilmu meringankan tubuh, sesekali ia muncul dan menebas ke titik buta Siluman Ular. Namun kulit Siluman Ular yang begitu keras membuat tebasan itu terpental dengan tangan Liu Chang yang tidak berhenti bergetar.
"Jurus pertama, tebasan keheningan!!"
"Jurus ketiga, badai petir naga!!"
"Jurus kelima, takdir kabut kehidupan!!"
Tangan Liu Chang kembali bergetar, dia sudah menyerang dengan semua jurus yang dikuasainya. Namun hasilnya Siluman Ular tidak bergeming sedikitpun dengan serangan itu.
"Mati kau anak manusia!!"
Siluman Ular kembali menyerang Liu Chang dengan ekornya dan tepat mengarah pada kepalanya, Liu Chang secara reflek langsung menahannya menggunakan tangan dan Pedang Dewa Petirnya.
Namun hal itu sia-sia, tubuhnya terpental lebih jauh dari yang tadi dan merobohkan pepohonan hingga ratusan meter ke segala arah. Liu Chang merasakan tubuhnya seolah remuk dengan beberapa tulang rusuknya yang patah.
Siluman Ular tidak tinggal diam, setelah melemparkan tubuh Liu Chang sejauh itu dia kembali merayap dengan cepat ke arah Liu Chang dengan bola-bola bisa korosif di mulutnya.
"Aku akan berhenti, karena menghargaimu, Master." Siluman Ular menundukkan kepalanya, ia kembali merayap ke arah sungai tadi.
Di sisi lain Liu Chang yang baru saja terkena hantaman bangun beberapa saat kemudian, ternyata Pendekar Sakti pun tidak sanggup menahan hantaman siluman sebesar itu, pikirnya.
Jing Quo segera mendekat ke arah Liu Chang, dia tersenyum hangat seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal sebelumnya saat ada bahaya datang mengarah pada Liu Chang, dia yang menghentikannya.
"Senior?"
"Kita pergi Chang'er, yang kau lawan tadi adalah leluhur para ular. Dia menyerang karena mencium bau darah dari tubuhmu." Jing Quo menjelaskan sebelum menarik kerah Liu Chang dan terbang dengan kecepatan tinggi ke gubuknya.
°°°°
__ADS_1
"Makan ini!!" Jing Quo melemparkan buah berwarna kebiruan.
"Buah apa ini?" Liu Chang mengangkat alisnya, kali ini satu buah lagi yang akan dia konsumsi.
Jing Quo tersenyum lembut, sebelum menjelaskan bahwa buah itu untuk mempercepat proses penyembuhan Liu Chang. Dan Liu Chang harus memakannya dalam beberapa proses hingga buah ketujuh.
Liu Chang tidak membantah sedikit pun, lagipula rasanya tidak jauh berbeda dengan buah apel yang biasa dimakannya.
"Aku keluar sebentar. Kau istirahat dan jangan kemana-mana!!" Jing Quo mengingatkan.
"Baik, Senior Jing." Liu Chang menatap ke arah pintu gubuk yang perlahan-lahan kembali tertutup setelah keluarnya Jing Quo. Kali ini Liu Chang kembali berfokus ke arah buah di tangannya, setelah memakannya cukup banyak ternyata tidak ada efek yang berarti pada tubuhnya.
Di luar gubuk, Jing Quo menatap ke langit malam seperti kemarin. Meskipun sedikit lebih gelap dari biasanya bintang-bintang hari ini cukup indah, pikirnya.
"Harusnya beberapa jam setelah ini efeknya akan bekerja. Semoga saja Darah Siluman itu masih cukup masuk akal rasanya, sehingga dia sendiri tidak menyadarinya."
Jing Quo kembali memandang langit, dengan ekspresi yang biasa saja ia kembali menenggak guci arak di tangannya. Sepertinya kenangan kelam itu kembali muncul dan memaksanya kembali menenggak guci yang berisi arak itu, walaupun pada akhirnya tidak sedikit pun membuatnya mabuk.
Beberapa jam kemudian, Liu Chang yang masih tertidur tiba-tiba terbangun dan merasakan tubuhnya yang seperti ditimpa oleh batu seberat puluhan ton dan meridiannya seperti dipaksa untuk terbuka.
Liu Chang melirik ke arah kamar Jing Quo dan melihat Jing Quo tidak terbangun sedikit pun dengan teriakannya. Liu Chang kembali mengerang kesakitan, tubuhnya kembali merasakan hal itu hingga dia harus menjaga kesadaran untuk menahannya rasa sakitnya.
Pagi hari tiba, Liu Chang merasakan seluruh tubuh lemas dan tidak bertenaga. Di sisi lain keringat dingin terus bercucuran dari wajah dan sekujur tubuhnya, ia tidak mengerti kondisinya tetapi yang pasti ia menyakini ini efek buah yang kemarin diberikan oleh Jing Quo padanya.
••••
Berikan Like dan komentar kalian, tetap jaga kesehatan dalam situasi seperti ini
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya
__ADS_1
Ibnu R