
Waktu telah berjalan dua minggu, saat ini Liu Chang hampir memasuki tingkat Pendekar Sakti menurut pengamatan yang dilakukan Jing Quo, bagian buah yang telah dipotong-potong mencapai lima puluh bagian itu telah sampai di bagian empat puluh.
"Guru, bisakah kita istirahat sejenak?" Liu Chang merasakan tubuhnya begitu panas. Pada awalnya Liu Chang menduga cara naik menggunakan buah adalah perkara mudah.
"Tidak bisa Chang'er, saat ini kita telah mencapai bagian empat puluh. Jika aku menghentikannya aliran qi ini tiba-tiba, kita berdua bisa tewas." Jing Quo kembali mengingatkan Liu Chang, empat puluh bagian telah terlewati, percuma jika mengulang dari awal karena untuk menghentikannya pun mustahil.
Liu Chang menghela napas berat, bahkan seluruh organ dalamnya sekarang terasa lebih sakit dari biasanya. Tidak ia kira hanya untuk memasuki tingkat Pendekar Sakti harus melewati ujian yang begitu menyakitkan.
Jing Quo menceritakan sesuatu untuk menyemangati Liu Chang. Ia menceritakan bahwa pada zamannya dulu, saat memasuki tingkat Pendekar Sakti para pendekar tidak ada yang membantu menetralkan rasa sakit dengan aliran qi, mereka sendirilah yang harus menahan semua rasa sakit saat menjalani ini.
Karena itu seharusnya Liu Chang bersyukur, saat ini ada dia yang membantu menetralkan rasa sakit yang diderita Liu Chang selama melewati proses ini. Dan mulai saat ini harusnya Liu Chang mulai bertekad untuk segera menyelesaikannya lebih cepat agar rasa sakit serta kelelahan ini bisa dibalas dengan kekuatan yang lebih besar nantinya.
°°°°
– Tiga minggu –
"Tahan sedikit lagi Chang'er, murid seorang Dewa sepertimu harusnya lebih kuat dari murid seorang manusia biasa!!" Jing Quo kembali meneriakkan kata-kata yang sama berulang kali.
Saat ini prosesnya telah mencapai bagian ke lima puluh, dan Liu Chang mulai terlihat mengeluarkan beberapa asap putih dari tubuhnya. Bahkan beberapa jari kakinya mulai banyak mengeluarkan cairan hitam, menyebabkan air dalam tubuhnya sedikit banyak berkurang.
Pada bagian ke empat puluh hingga sekarang Liu Chang masih bisa menahannya dengan qi nya sendiri, dengan dibantu lagi oleh qi milik Jing Quo karena itu ia tidak terlalu merasakan sakitnya saat itu.
Namun kali ini berbeda, hanya Jing Quo yang masih mempunyai qi karena Dantiannya berkapasitas cukup besar sementara milik Liu Chang yang hanya tersisa sedikit tidak bisa digunakan untuk proses ini lagi.
"Guru, tulang ... rusuknya!!" Liu Chang menjerit kesakitan, kualitas tulang Serigala Hitam nyatanya tidak cukup untuk menahan rasa sakit dalam proses ini. Ia terus-menerus merasakan sakit dari sejak bagian ke dua puluh dimulai namun dalam proses terkahir ini rasa sakitnya seakan bertambah puluhan kali lipat.
"Gawat ... ini akibat aku menyuruhnya terlalu terburu-buru dalam melakukan proses ini," Jing Quo bergumam pelan. ia menyadari seharusnya kualitas tulang paling minimal haruslah Harimau Hutan untuk memasuki tingkat Pendekar Sakti, tetapi karena terlalu percaya diri dengan kualitas inti Liu Chang ia tidak memperkirakan hal ini.
Jing Quo menyadari ia terlalu terpaku pada kualitas inti Liu Chang, dan tidak memperhatikan kualitas tulang yang dimilikinya.
Biasanya pada Pendekar Menengah tahap puncak, gurunya akan menyarankan untuk menaikkan kualitas tulang hingga ke Harimau Kebun paling tidak, dan setelah itu barulah bisa naik ke tingkat selanjutnya.
Akhirnya Liu Chang memasuki proses terakhirnya, di mana saat ini dua bukan hanya Liu Chang melainkan Jing Quo juga akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Liu Chang.
Beberapa menit proses akhir tersebut lebih terasa sakit bagi keduanya, saat ini bukan hanya Liu Chang saja tubuh Jing Quo pun mulai diserang rasa sakit itu. Buah persik perak memang benar-benar buah yang efektif. Namun khasiatnya sebanding dengan risiko yang harus diterima, pikir Jing Quo.
"Liu Chang tahan sedikit lagi ... karena buah ini berumur lebih tua, jadi beberapa efeknya akan masuk dalam penempaan tulang." Jing Quo mulai mengingatkan kembali, meskipun proses masuk ke Pendekar Sakti hanya tinggal sedikit lagi.
Ternyata kualitas tulang ikut merasakan khasiat serta risiko dalam proses ini. Jadi yang bisa dilakukan Liu Chang adalah bertahan beberapa jam lagi untuk melewati penempaan tulang.
__ADS_1
"Guru, tulang rusukku hampir patah!!"
"Mulai saat ini, aku akan menghentikan proses mengalirkan qi-nya karena telah selesai, dalam proses penempaan tulang kau harus melakukannya sendiri!!"
"Eh, ini ... baiklah tidak ada cara lain." Liu Chang kembali menghela napas panjang, meskipun ia menyadari tulangnya tidak kuat.
Jing Quo mundur beberapa langkah ke belakang Liu Chang, ia menyeka keningnya seolah benar-benar kelelahan. Namun nyatanya selama ini ia hanya pura-pura ikut kesakitan agar Liu Chang termotivasi.
"Anak muda ini ... berhasil kutipu, tetapi ini bagus untuk membantu semangatnya." Jing Quo tertawa kecil, dalam batinnya ia merasa sedikit kasihan pada Liu Chang. Namun apa pun yang terjadi pada Liu Chang salah satu cara untuk memotivasinya adalah merasakan penderitaan orang lain dan ia ubah menjadi semangat.
Beberapa detik kemudian hal yang paling menyakitkan bagi seorang pendekar ketika penempaan tulang dimulai. Liu Chang berteriak sangat keras ditengah malam seperti ini karena tulangnya saat ini serasa ditindih oleh batu seberat puluhan ton.
Rasa sakit itu sebenarnya adalah hal yang biasa, karena seorang pendekar akan lebih mengetahui bahwa kekuatannya bukan untuk main-main ataupun digunakan untuk kejahatan. Karena mendapatkannya pun harus melalui proses semenyakitkan ini dan waktu yang tidak sedikit.
Beberapa saat kemudian seluruh tulang Liu Chang mengeluarkan suara retakan yang sangat keras, Jing Quo menduga beberapa saat lagi proses ini akan selesai.
"Huh ... huh ... i–ini selesai." Liu Chang menghela napas panjang, proses selama dua jam terakhir itu ia lalui dengan penuh perjuangan. Penempaan tulang tadi berhasil membentuk tulang baru pada dirinya.
Saat ini kualitas tulangnya mencapai Harimau Besi, peringkat tulang kelima terkuat jika ditarik dari atas.
Liu Chang yang begitu kelelahan akhirnya pingsan tidak lama setelah proses itu selesai, Jing Quo yang telah menduga hal ini langsung membawa Liu Chang ke dalam gubuknya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar suara telepati dari Alam yang cukup jauh.
"Bagaimana Jing'er? Dia berhasil?"
"Huh ... ya, membutuhkan waktu tiga minggu tujuh jam untuk mencapainya. Itu sebuah prestasi yang membanggakan bagi pendekar seusianya," Jing Quo tertawa pelan.
"Hahaha ... itulah muridku, aku akan mengutus Bing Qing untuk tingkat selanjutnya, terima kasih untuk semuanya. Jangan lupa latih juga ilmu pedangnya!!"
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah tugasku...,"
"Feng Gege."
Malam ini sepertinya menjadi malam yang cukup indah di Lembah Liko.
••••
Catatan penulis :
__ADS_1
Kualitas tulang di Alam LDN
-
•} Bab* Merah
•} Bab* Hitam
•} Bab* Hutan
-
•} Serigala Merah
•} Serigala Hitam
•} Serigala Besi
-
•} Harimau Kuning
•} Harimau Hutan
•} Harimau Besi ( Liu Chang, sekarang )✓
-
•} Naga Bumi
•} Naga Langit
•} Dewa Naga
-
•} Dewa Peranh
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya...
__ADS_1
Ibnu R