Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
CH. 8 – Ilmu Pedang.


__ADS_3

Liu Chang menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan Feng San. Sesuatu apa yang dimaksud guru di dalam pohon?


Setelah melihat beberapa saat, Feng San lalu mendekati salah satu pohon yang memiliki diameter paling besar. Sekejap kemudian pohon itu tumbang dan hanya menyisakan batang pohon dan beberapa dahan tanpa ada satu pun daun tersisa.


Setelah berkali-kali mengetuk beberapa bagian batang, Feng San mengibaskan lengannya ke arah batang pohon itu, tidak berapa lama sebuah pedang lengkap dengan ukiran dan selongsongnya telah berada di tangannya.


“Kita mendapatkan yang paling baik, terimalah pedang kayu ini!” Feng San melempar pedang kayu di tangannya pada Liu Chang.


Setelah berada di genggamannya, Liu Chang baru menyadari berat pedang kayu ini tidak biasa. Beratnya bahkan lebih dari bongkahan besi. Jika saja tidak melihat Feng San membuat pedang ini dari batang kayu, Liu Chang pasti akan mengira bahwa pedang di tangannya adalah titanium.


“Hah, ... mengapa berat sekali meskipun bahannya terbuat kayu?” Liu Chang menggerutu dalam batinnya. Setelah mencoba berusaha mengangkat satu tangan, Liu Chang akhirnya menyerah dan menggunakan tangan kirinya untuk menopang berat pedang kayu ini.


Liu Chang melirik ke arah Feng San yang sejak tadi hanya duduk di bawah pohon memperhatikannya.


“Gu–guru, kayu apa ini? Beratnya sangat tidak masuk akal.”


“Bahan pedang itu disebut Ulin. Kayu Ulin juga mempunyai julukan kayu besi di tempat asalnya, sebab saking kerasnya kayu itu, memotongnya sendiri sudah seperti memotong besi.


Oh ya, untuk melatih otot tanganmu, lakukan gerakan mengayunkan pedang seperti seorang samurai, jangan berhenti sebelum mencapai 10000 kali!” Feng San kembali menatap bukunya setelah berkata demikian.


Liu Chang hanya memandang kayu di depannya dengan tersenyum pahit. Dengan berat seperti ini, 10000 kali ayunan adalah hal yang begitu sulit, mungkin saja akan tercapai setelah satu minggu,


Menyadari sifat pesimis seperti itu tidak ada gunanya, Liu Chang membuang jauh-jauh pikiran itu dan mulai mengayunkan pedang kayunya sedikit demi sedikit.


“Pendekar yang gigih, teruslah berlatih seperti itu. Maka saat mulai berkelana dirimu akan mengetahui kerasnya hidup, Chang'er.” Feng San menatap Liu Chang beberapa saat sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah bukunya.


°°°°


Waktu berjalan satu hari setelah Liu Chang mulai mengayunkan pedangnya tanpa henti, terlihat tangannya sendiri mulai mencapai batasnya hingga memiliki memar merah pada bagian ototnya.


“2367 ... 2368!” Liu Chang terus menghitung jumlah ayunannya tanpa henti, berat pedang kayu yang setara puluhan kilogram itu membuat tangannya sendiri seperti tidak merasa ada saat ini.

__ADS_1


Hingga saat ini seluruh ayunan pedang itu dilakukan Liu Chang tanpa berisitirahat sedikit pun, meski itu hanya beberapa menit Liu Chang akan mengulangi itungannya ke angka tadi saat dia lengah.


Sepertinya sifat ayahnya yang keras kepala secara tidak langsung turut menurun padanya. Tidak mudah menyerah dan tidak membiarkan orang lain kesusahan adalah beberapa hal diantaranya.


“Beritirahatlah, Nak! Menyelesaikan itu sebelum pagi juga tidak akan membuatmu kuat dalam sekejap!” Feng San menepuk pundak Liu Chang sebelum berjalan ke arah gubuknya.


Biarpun terlihat Liu Chang memiliki stamina melebihi manusia biasa pada umumnya, Feng San juga tidak bisa membiarkan murid satu-satunya itu terluka karena terlalu memaksakan diri.


“Baik, Guru.”


Liu Chang mengganguk pelan, setelah sejauh ini Liu Chang baru menyadari kelelahan tubuhnya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Akhirnya Liu Chang tertidur di atas rumput yang beberapa detik lalu ia gunakan.


Pagi harinya, Liu Chang bangun lalu berniat membasuh wajahnya dan melanjutkan latihannya yang belum selesai kemarin.


“Apa ini? Tidak mungkin?"


Liu Chang mengerutkan dahinya ketika melihat otot-otot tangannya membesar, biarpun begitu saat digerakkan seluruh tubuhnya terasa ringan dan bertenaga.


“Mungkin kucoba hal lain, berenang di Sungai Es Abadi akan membuktikan semua ini nyata atau hanya mimpi!”


Liu Chang berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya, sebelumnya beberapa kali telah ia coba melatih ilmu ini namun semua usahanya tetap gagal tetapi sekarang tubuhnya seperti ditempa dengan sangat baik hingga mampu berlari cepat.


Sebelum sempat Liu Chang ingin menceburkan dirinya ke air dingin itu, seseorang menarik tangannya dan membawanya ke kembali ke padang rumput yang tadi.


“Guru? Kenapa kau mencegahku?” Liu Chang menemukan Feng San yang saat ini membawanya.


“Ada batas antara jenius dan bodoh, kau sendiri untuk apa membuktikan kekuatanmu meningkat dengan menceburkan diri ke air dingin itu? Airnya malah akan membuatmu kesakitan.” Feng San dengan santainya menjelaskan kesalahan Liu Chang sambil terbang dengan kecepatan tinggi.


Tidak berapa lama, keduanya sampai di padang rumput yang kemarin digunakan Liu Chang berlatih, Feng San menurunkan Liu Chang tidak lama setelah mereka sampai.


“Kita akan berlatih kembali, kali ini menggunakan Ilmu Pedang Dewa Naga.”

__ADS_1


Liu Chang mengganguk pelan, dan bersiap untuk menerima latihan yang Feng San berikan.


“Terdapat 14 variasi jurus, dalam setiap jurus memiliki sub jurus sebanyak seribu gerakan. Perhatikan ini!”


Feng San mengambil pedang yang sejak tadi tersarung di pinggangnya, tidak lama setelah itu Feng San mulai memperagakan gerakan-gerakan rumit namun di sisi lain juga begitu kuat sehingga tercipta gerakan yang efektif.


“Bergeraklah seperti ini! Saat berada pada posisi bertahan gunakan beberapa gerakan pada nomor seribu yang memiliki pertahanan kuat, selalu ingat hal itu, Chang'er!


Setelah itu, pada jurus kedua ada beberapa gerakan yang membuat penyeranganmu akan semakin tumpul jika melakukan sedikit gerakan salah, lakukan seperti ini untuk mengantisipasinya!” Feng San memberitahu Liu Chang untuk mengikuti nasehatnya mengenai beberapa gerakan.


Setelah dirasa Liu Chang cukup mengingatnya, Feng San kemudian menyuruh Liu Chang untuk memperagakan jurus-jurus yang ia lihat tadi.


Liu Chang berdiri dari duduk bersilanya lalu mulai memperagakan jurus yang dicontohkan oleh Feng San. Pada awalnya terdapat banyak kesalahan dalam gerakan Liu Chang namun semakin lama Liu Chang memperagakan, semakin banyak ia menunjukkan beberapa jurus yang bahkan belum diperagakan oleh Feng San.


“Apa? Dia menguasai jurus kelima dengan semua gerakan sakit pinggang itu?” Feng San tertegun melihat keindahan permainan pedang Liu Chang, ia menduga Liu Chang sebelumnya telah mempelajari Ilmu Pedang Dewa Naga secara diam-diam.


“Cukup, Chang'er. Kemarilah!”


Liu Chang menghentikan permainan pedangnya saat akan menyelesaikan semua gerakan jurus kelima, lalu mendekati Feng San sesuai perintahnya.


“Apa ada sesuatu yang salah, Guru?” Liu Chang mengangkat alisnya ketika Feng San menatapnya cukup lama dengan heran.


Feng San tersenyum tipis sebelum berucap, “Apa kau pernah melihat kitab ini sebelumnya, lalu diam-diam membacanya?” Feng San menunjukkan kitab berwarna keemasan dengan ukiran naga pada sampulnya.


“Ah, buku itu. Itu buku yang menarik, sesuatu yang tidak aku ketahui semuanya berada di dalamnya, meskipun beberapa bahasanya tidak kuketahui tetapi melihat gerakan-gerakan itu seolah membawaku ke aliran sungai yang tenang.


Ketika aku bosan dengan buku-buku itu, biasanya aku akan membaca buku ataupun kitab yang dimilikimu, Guru.” Liu Chang menjawab pertanyaan itu dengan antusias.


Feng San menepuk dahinya, setelah sejauh ini ia baru menyadari mengajarkan gerakan pada orang yang telah mengetahui ilmunya tidak ada bedanya dengan orang bodoh.


“Peragakan beberapa gerakan yang kau kuasai! Aku ingin melihatnya.”

__ADS_1


__ADS_2