
"Astaga, mereka memakai namaku untuk kota hantu itu."
Pria pemabuk menggelengkan kepalanya pelan, ia begitu terkejut mengetahui aliran hitam memakai namanya untuk sebuah kota hilang. Parahnya lagi kota hantu itu adalah ilusi buatan yang digunakan para pendekar aliran hitam untuk menjebak musuh.
"Jadi senior yang bernama Jing Quo?!" Liu Chang terperanjat, ternyata orang dihadapannya ini bukan pendekar biasa.
Pria tersebut mengganguk pelan dengan diiringi senyum tipis, ia sebenarnya adalah pendekar terkenal beberapa puluh tahun yang lalu dan sampai saat ini namanya tetap dikenang di dunia persilatan. Namun yang paling ia sesali setelah pensiun, ada saja orang yang ingin menggunakan namanya untuk kepentingan pribadi semata.
Misalnya seperti orang-orang dari kelompok aliran hitam, biasanya mereka akan menggunakan namanya agar para penduduk yang mereka serang lebih mudah ditipu.
Ia akui nama Jing Quo-nya tidak terlalu dikenal di dunia persilatan, karena itu orang-orang lebih sering memanggilnya Pendekar Tanpa Tanding, meskipun ia sendiri tidak mengetahui sebabnya.
Biarpun orang-orang menjuluki Jing Quo Pendekar Tanpa Tanding, kemampuannya hanya salah satu yang terkuat saja, masih ada lebih banyak orang yang lebih hebat darinya, karena itu ia berharap mulai saat ini tidak ada lagi yang menjulukinya seperti itu.
"Tidak usah terlalu dihayati, aku sendiri sering mengatasinya dengan mabuk setiap mengigat kenangan kelam itu, jadi tenang saja."
Jing Quo menepuk pundak Liu Chang, ia merasa ceritanya yang mendapat banyak perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang tidak perlu dikasihani, lagipula itu hanya kesalahpahaman saja. Andaikan mereka tahu kebenarannya mungkin saat ini sudah banyak yang meminta maaf dan berlutut padanya.
"Sepertinya topik ini cukup berat, mari kita ganti ... menurut ceritamu kekuatanmu hanya mencapai pendekar menengah saat ini, benar?" Jing Quo mengganti topik tentang dirinya ke pembicaraan yang mengarah pada cerita Liu Chang.
"Benar senior ... sepertinya lawanku saat itu merupakan pendekar sakti, jadi aku tidak diuntungkan dalam pertarungan melawannya." Liu Chang mengganguk pelan, ia memang mempunyai kemampuan setingkat di bawah Dong Enlai saat bertarung dengannya.
"Begitu rupanya, tetapi yang kulihat kau mempunyai potensi lebih ditingkat ini untuk mengalahkan pendekar sakti, ingin tahu sebab kau bisa kalah?" Jing Quo bertanya kembali.
Liu Chang mengganguk pelan, tentu dia ingin sekali mengetahui apa kelemahannya. Selama ini dia merasa telah begitu banyak diberi keuntungan dari inti ungu dan permata dewa namun sampai saat belum pernah ia temukan potensi dari dua hal itu.
__ADS_1
Jing Quo menatap Liu Chang sejenak sebelum ia berdiri dan mengajak Liu Chang untuk pergi keluar gubuk. Dalam hatinya Liu Chang bertanya-tanya sebenarnya apa yang ingin dilakukan Jing Quo diluar sana.
Tepat di sebelah kebunnya, Jing Quo berhenti dan menyuruh Liu Chang untuk berdiri dihadapannya. Katanya dia ingin memeriksa sesuatu dari Liu Chang.
"Ulurkan tanganmu!!" Jing Quo memberi perintah. Tanpa pikir panjang Liu Chang menuruti perintah itu tanpa membantah sedikit pun. Ia melihat Jing Quo sedang memeriksa kualitas tulang dan juga qi yang terkandung di dalam dirinya.
Beberapa kali ekspresi Jing Quo berubah-ubah dari senang ke kecewa dan sebaliknya, ia terus melakukannya hingga beberapa menit kemudian ia menyelesaikan hal tersebut sambil menghela napas panjang.
"Siapa gurumu?" tanya Jing Quo tiba-tiba.
Liu Chang sedikit terkejut ketika ditanyakan hal tersebut, dengan ragu-ragu dia menjawab bahwa gurunya adalah seorang Dewa, awalnya Liu Chang mengira Jing Quo akan tertawa lantang dan mengejek ketika mendengar hal itu.
Namun ekspresi Jing Quo sungguh diluar dugaan, ia tidak sedikit pun menertawakan Liu Chang apalagi sampai mengejek Liu Chang seperti yang dibayangkan olehnya.
"Dia mendapat tugas sebagai dewa apa?"
Jing Quo terdiam sejenak ketika mendengar Liu Chang menyebutkan nama Dewa Naga lalu beberapa detik kemudian sedikit senyum kecil terhias di wajahnya.
Liu Chang yang penasaran akan hal itu tentu segera menanyakan alasannya pada Jing Quo, ia berpikir alasannya hanya hal sepele namun setelah mendapatkan jawaban dari Jing Quo, Liu Chang sungguh terkejut mendengar fakta yang ada.
"Ja-- jadi senior ini--"
"Kau terkejut? Feng San itu teman lamaku, usianya saat ini mencapai lima ribu tahun. Dan fakta menarik lainnya, aku adalah pemuda yang menyelamatkannya seribu tahun yang lalu." Jing Quo menjawab dengan santai seolah keterkejutan Liu Chang merupakan hal yang biasa.
"Lima ribu tahun? Seribu tahun? berapa usia senior yang sebenarnya?!!" Liu Chang mundur perlahan, meskipun senang mengetahui fakta yang ada, tetapi soal umur tidak biasa ini ia begitu terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Turunkan pedangmu, kau pikir aku ini siluman!!"
Liu Chang menghembuskan napasnya sejenak, ia sampai terbawa suasana hingga mengeluarkan Pedang Dewa Petir dari balik bajunya. Setelah fakta itu begitu mengejutkan Liu Chang, akhirnya Jing Quo mulai menceritakan hal yang sebenarnya agar Liu Chang tidak panik dengan umurnya yang begitu panjang.
Barulah Liu Chang ketahui bahwa umur Jing Quo yang begitu panjang disebabkan oleh aliran waktu di Lembah Liko yang berbeda dari dunia manusia. Jing Quo menjelaskan bahwa Lembah Liko ini salah satu dimensi yang dibuat oleh Feng San seribu tahun yang lalu.
Sebagi hadiah karena telah menyelamatkannya, Feng San kemudian memberikan dimensi ini pada Jing Quo.
"Dan satu lagi, jangan menyangka aku ini siluman!! Aku tetap manusia namun karena aku abadi jadi usiaku memang bisa mencapai ribuan tahun!!"
"Oh, begitu. Baiklah."
Liu Chang tersenyum canggung, kali ini ia tidak mempermasalahkan usia Jing Quo yang begitu panjang. Setelah masalah usia itu selesai, barulah Liu Chang diberitahu mengapa inti ungu dan permata dewa yang menjadi kelebihannya seolah tidak terpakai sama sekali..
Menurut penjelasan Jing Quo, semestinya pemilik inti ungu akan menjadi orang yang sulit dikalahkan oleh siapapun satu tingkat di atasnya, sementara yang tingkat lebih jauh lagi barulah bisa mengalahkannya.
Tentu karena kemunculannya hanya 5000 tahun sekali, pemilik inti ungu begitu diperebutkan oleh aliran hitam maupun putih. Karena itu Jing Quo bersyukur Liu Chang tidak memihak aliran manapun, meskipun di sisi lain ia jiga membantu membasmi aliran hitam.
"Sepertinya Feng San melatihmu terlalu cepat, beberapa bulan yang lalu ia memang memberitahuku bahwa ia mengangkat seorang murid atas perintah Sang Pencipta ... kau akan kulatih dalam bimbinganku, kau mau kan?"
"Tentu saja, senior," Liu Chang tersenyum lebar, ia begitu senang mengetahui Jing Quo ingin melatihnya.
°°°°
"Kau bisa memasak, aku tidak percaya ini," Jing Quo tersenyum lebar ketika melihat keterampilan Liu Chang saat memasak daging siluman. Liu Chang mengatakan bahwa sebelum menjadi pendekar ia adalah seorang pelayan di restoran besar, sering kali ketika pesanan menumpuk ia membantu tugas para koki untuk memasak makanan.
__ADS_1
"Begitu ya. Itu bagus, tetapi lebih cepat sedikit dalam memasak, meskipun aku abadi makanan tetap menjadi hiburan yang bagus untuk perut, hahahaha," Jing Quo tertawa lantang. Malam hari itu, gubuk Jing Quo terrasa lebih ramai dari biasanya karena kehadiran Liu Chang.