
"Kabut beracun?! Itu berarti kita tidak bisa mendekat senior?"
Belum selesai dengan keterkejutannya yang pertama, Liu Chang telah dikejutkan lagi dengan kabut beracun ini. Untuknya yang berasal dari dunia manusia mendengar ada racun dan kabut yang keluar dari seekor lintah memang begitu mengejutkan.
Jing Quo kemudian menggelengkan kepalanya pelan, untuk ukuran kekuatannya kabut racun dari siluman lintah ini tidak akan berefek apa pun. Andaikan ada raja siluman berwujud lintah, barulah kabutnya akan berbahaya bagi dirinya.
Liu Chang mengangguk pelan, itu berarti Jing Quo membawanya kemari adalah untuk melatihnya, bukan bermaksud menunjukkannya sesuatu.
"Lihat, menunjukkan batang hidungnya. Tepatnya pagi hari adalah waktu yang tepat untuk dia mencari makanan," Jing Quo menunjukkan ke satu arah diikuti Liu Chang yang menoleh ke arah tersebut dan terkejut bukan main, ukuran siluman Lintah itu hampir memenuhi ukuran sarangnya sendiri.
Jing Quo kemudian memberikan isyarat tangan untuk tidak berbicara, karena itu bisa menjadi pertanda bagi sensorik siluman Lintah yang cukup tajam. Setelah memberikan isyarat itu, Jing Quo memberikan isyarat tangan lainnya untuk berpencar.
"Kau ke kanan, jangan buat suara sedikit pun!!" setelah berucap begitu Jing Quo pergi ke arah berlawanan dari Liu Chang.
Tepat seperti perintah Jing Quo, jika tidak membuat suara sedikit pun maka lintah itu tidak akan bereaksi. Siluman lintah itu terus maju ke arah depan sambil sedikit demi sedikit mengeluarkan racun dari lendirnya.
Akhirnya setelah lintah tersebut menjauh dari lokasi Liu Chang, Jing Quo mulai mendekat kembali ke arah Liu Chang.
"Kau lihat lendir yang mengeluarkan gas itu, itulah yang akan kita ambil. Ingat jangan sampai menginjaknya!!" bisik Jing Quo. Ia mundur beberapa langkah dan menyuruh Liu Chang yang mengambil lendir itu dari jalur yang dilewati siluman lintah.
"Ambil setelah gasnya menghilang!!" sebelum pergi menjauh Jing Quo memberikan pesan terakhirnya.
Liu Chang menelan ludahnya, bisa ia lihat sendiri bahwa dari jarak sepuluh meter pun gasnya tetap terasa menyakitkan ke dalam paru-parunya. Mungkin saja setelah beberapa menit akan hilang, pikirnya.
Tepat setelah Liu Chang berhasil masuk ke jalur lintah itu untuk mengambil lendir beracunnya, Jing Quo muncul kembali ke lokasi Liu Chang sambil membawa sebuah guci dengan ornamen khas berwarna keemasan.
"Masukan lendirnya ke dalam ini, kita bawa ke tempat tinggal kita!!" Jing Quo kembali naik ke atas pohon, sementara Liu Chang mulai memasukan lendir-lendir itu ke dalam guci menggunakan alat seadanya yang ada di Cincin Galaksi.
__ADS_1
Jing Quo tidak terkejut melihat Liu Chang menggunakan cincin seperti itu, karena sebelumnya ia telah diberitahu oleh Liu Chang bahwa Feng San banyak memberinya sumber daya berharga sebelum turun ke bumi.
Beberapa menit kemudian setelah Liu Chang memasukkan lendir itu ke dalam guci, Jing Quo berteriak kepadanya dari atas pohon.
"Hei, Chang'er. Cepat selesaikan sebelum lintah itu melihatmu!!"
Liu Chang melihat ke satu arah yang ditunjuk oleh Jing Quo, terlihat bahwa lintah seukuran gua itu telah kembali dengan membawa mangsa siluman Rakun. Liu Chang bergerak cepat menyelesaikan pengambilan lendirnya dan langsung mengikuti Jing Quo ke arah gubuknya.
Dalam perjalanan Liu Chang beberapa kali sempat melihat ke belakang untuk memastikan siluman lintah itu tidak mengejar keduanya. Dalam batinnya ia sempat bertanya-tanya mengapa Jing Quo tidak melawan siluman itu?
Selepas berlari ratusan meter, akhirnya mereka tiba di kediaman Jing Quo, Liu Chang langsung menaruh guci berisi lendir lintah itu di depan Jing Quo seperti perintahnya.
"Buka penutupnya!!" Jing Quo memberi perintah.
Selepas penutup guci itu terbuka, Jing Quo menyuruh satu hal yang membuat Liu Chang sedikit terkejut sekaligus bergidik ngeri.
Jing Quo mengganguk pelan, perintahnya adalah memakan lendir itu sekarang juga, jadi apa pun perintahnya Liu Chang harus menjalaninya tanpa sedikit pun perlu membantah. Liu Chang tersenyum pahit tetapi tidak berkata apa-apa, yang ia pikirkan saat ini bagaimana nasibnya setelah memakan lendir itu.
"Baiklah, ini harusnya mud--" kalimat Liu Chang terhenti.
Lendir yang telah sampai di tenggorokannya itu membuatnya serasa menelan daun mint dalam jumlah banyak. Biasanya saat menelan daun mint, yang kita akan rasakan adalah hangat bercampur sensasi segar saat mengambil napas tetapi saat ini Liu Chang merasakan tenggorokan panas tidak beraturan.
Liu Chang mencoba mengambil napas untuk meredam rasa panas itu namun yang terjadi tubuhnya malah terasa terbakar dan jika didiamkan rasanya malah semakin panas, hal itu membuatnya sedikit dilema.
Ingin sekali rasanya Liu Chang berteriak namun dirinya tidak ingin membuat keributan di depan Jing Quo, yang bisa ia lakukan hanya melihat ke arah Jing Quo seolah meminta solusi untuk menghilangkan rasa panas ini.
"Ah, ini habis ... kau tahan saja, aku ke dalam dulu mengambil arak!!" Jing Quo berjalan ke arah gubuknya, ia sepertinya sudah mengetahui bagaimana jadinya setelah menelan lendir racun dari lintah itu, makanya ia sendiri tidak terlalu menghiraukan tatapan Liu Chang yang meminta tolong.
__ADS_1
Waktu berjalan dua puluh menit sejak Liu Chang menelan lendir beracun itu, rasa panas tetap ia rasakan di tubuhnya dengan ditandai warna tenggorokannya yang masih berwarna kemarahan, sempat beberapa kali Liu Chang berpikir untuk memprotes metode latihan yang digunakan Jing Quo.
Namun Liu Chang sadar melakukan hal itu pun hanya akan membuatnya terlihat bodoh. Akhirnya setelah cukup lama berada di gubuknya, Jing Quo keluar dengan membawa guci arak yang selalu ia bawa Seperti biasanya.
"Bagaimana rasanya? Kau mau tambah lagi?" kata itulah yang pertama kali Jing Quo katakan pada Liu Chang saat keluar dari gubuk.
Liu Chang menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin lagi merasakan rasa panas yang sangat menyiksa itu bahkan dalam mimpi sekali pun. Jing Quo tersenyum puas, ia berdiri dihadapan Liu Chang dan menatapnya cukup lama.
"Kau sepertinya cukup penasaran, baiklah aku jelaskan...," Jing Quo kembali menenggak guci arak itu.
"Sebenarnya, lendir beracun adalah salah satu metode untuk membuka potensi tubuh racun dalam inti ungu, sekarang aku perintahkan padamu untuk menghadapi siluman lintah itu!! Bagaimanapun caranya ia harus jadi asisten yang bisa kau panggil, seharusnya tubuhmu sekarang sudah bisa bertahan dari racun dan kabut itu!!"
Liu Chang mengangguk pelan, ia segera mengganti bajunya yang cukup kotor karena meronta-ronta di tanah. Beberapa saat kemudian Liu Chang keluar dengan Pedang Dewa Petir yang tersarung di pinggangnya serta baju khas pendekar yang biasa ia gunakan.
"Aku berangkat senior," Liu Chang membungkuk hormat sebelum pergi melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh, kali ini ia tidak banyak membantah perintah Jing Quo sebelum membuktikannya sendiri benar apa tidaknya tubuh racun ini ada pada dirinya.
"Pendekar yang cukup bodoh namun di sisi lain cukup patuh," sambil menenggak kembali araknya Jing Quo bergumam pelan memikirkan sikap Liu Chang selama ini.
••••
Berikan like dan kritik kalian pada karya ini, dengan harapan karya ini bisa lebih baik ke depannya.
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.
Salam author.
Ibnu R
__ADS_1