Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 66 – Pintu dimensi.


__ADS_3

“Chang'er, sudah berapa lama kau tinggal di Lembah ini.”


Jing Quo melirik ke arah Liu Chang sambil menyiapkan beberapa barang yang ia punya untuk diberikan pada Liu Chang.


“Hm ... menurut perhitungan kasarku, setidaknya dua tahun, Senior.”


“Dua tahun? Nampaknya kau sungguh berbakat, hanya dalam waktu dua tahun bisa mencapai Pendekar Naga.” Jing Quo tersenyum kecil.


Pagi ini, Liu Chang memasak daging siluman seperti biasanya, sebelum pergi Liu Chang berencana untuk melakukan pesta besar dengan memakan daging siluman dalam jumlah banyak.


Chiriyu datang beberapa saat kemudian dengan membawa pakaian-pakaian berbahan sutra setelah mengetahui Liu Chang dan dirinya akan pergi hari ini.


Liu Chang dan Jing Quo hanya bisa menggelengkan kepala, tubuh Chiriyu yang kecil terlihat seperti gundukan pakaian saat memasuki gubuk.


“Chiriyu, tinggalkan sebagian di sini, kita bisa membeli lebih banyak saat di dunia manusia.” Liu Chang menyarankan.


“Tidak, Kakak Yu. Aku suka baju-baju ini.” Chiriyu memelas, dia membujuk Liu Chang agar Liu Chang mau membawa pakaian-pakaian yang dibawanya.


Liu Chang menghela napas sejenak sebelum kemudian memasukkan semua baju itu ke dalam Cincin Galaksi.


“Kita makan sepuasnya sebelum pergi. Walaupun hidup sebagai pendekar nantinya. Makanan seperti ini bisa jadi hiburan yang bagus, Chiriyu.”


Liu Chang menarik tangan Chiriyu dan mendudukkannya di kursi, sementara dirinya menyiapkan makanan, minuman dan berbagai buah-buahan lain.


Tidak lama setelah cukup banyak makanan tersaji, Jing Quo datang dan bergabung tidak lama kemudian setelah mengambil sumber daya yang berguna untuk perkembangan Chiriyu.


Ketiganya berbincang hingga waktu tidak terasa kembali menjadi pagi, Chiriyu yang memiliki tubuh kecil bahkan sampai begitu kekenyangan karena terus memakan daging siluman yang lezat itu.


°°°°


Karena pesta kemarin yang berlangsung hingga pagi, Liu Chang dan Chiriyu harus memundurkan hari mereka keluar dari Lembah Liko menjadi jadi ini. Beruntungnya dengan kemunduran satu hari itu Liu Chang bisa menyiapkan banyak hal, begitu pun dengan Chiriyu.


“Ini kertas segelnya.”


Salah satu barang yang Liu Chang dapatkan untuk Chiriyu adalah kertas segel. Kertas yang terbuat dari pohon ulin ini berguna untuk menyegel mahkluk hidup khususnya siluman.


Jing Quo memberikannya pada Liu Chang untuk memasukkan Chiriyu agar ketika pertarungan Liu Chang bisa memanggilnya dengan kertas segel ini. Ataupun saat Chiriyu terluka, Liu Chang bisa menggunakannya untuk memindahkan tubuh siluman Chiriyu yang cukup besar.

__ADS_1


Kertas segel mengandalkan prinsip dasar tulisan kuno yang terdapat pada kertas-kertas dengan bahan pohon ulin yang memiliki batang keras hingga dijuluki kayu besi. Liu Chang mendapatkan sepuluh lembar dari Jing Quo karena keterbatasan stok yang dimiliki selain karena bahannya juga sulit untuk didapatkan.


“Chang'er, kau dan Chiriyu harus bergandengan tangan, karena perpindahan lokasi ini bisa melukai tubuh Chiriyu!!”


Jing Quo mengingatkan Liu Chang bahwa pintu dimensi Lembah Liko bergerak dengan kecepatan cukup tinggi, sehingga akan melukai mereka yang tidak memiliki tubuh kuat seperti Chiriyu.


“Chiriyu!"


“Baiklah, Kakak Yu.”


Setelah keduanya telah bergandengan tangan, Jing Quo segera merapalkan sesuatu untuk membuka pintu segel dari dimensi di Lembah Liko. Beberapa saat kemudian cahaya biru terang mengisi ke seluruh hutan.


“Senior, terima kasih telah melatih dan membimbingku selama di sini.” Liu Chang menunduk hormat, ini akan jadi terakhir kalinya Jing Quo dan dirinya bertemu.


“Chiriyu, ucapkan sesuatu untuk Kakek Guru!!" Liu Chang melirik ke arah Chiriyu yang sejak tadi hanya melamun.


“Eh, baiklah. Ka ... Kakek Guru, terima kasih.”


Liu Chang dan Jing Quo hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku Chiriyu.


“Senior, kami pergi.”


“Akhirnya mereka pergi, mulai dari sini aku akan sendiri lagi.” Jing Quo berjalan pelan ke arah gubuk tuanya.


°°°°


Di dalam dimensi saat ini, Liu Chang dan Chiriyu menemui lorong yang cukup panjang berwarna putih. Mereka melesat dengan kecepatan tinggi selama dua puluh menit sebelum akhirnya menemui pintu dimensi lainnya.


“Chiriyu, pegang tangan Kakak dengan kuat!!"


Liu Chang mengingatkan kembali bahwa mereka akan terlempar cukup keras saat keluar dari dimensi ini. Sehingga yang mungkin terjadi nanti bisa melukai tubuh Chiriyu.


Tepat setelah merasakan berhasil keluar dari dimensi Lembah Liko, Liu Chang menggendong Chiriyu lalu segera melesat dan terbang ke atas untuk menghindari benturan.


Insting Liu Chang yang cukup tajam akhirnya berhasil mendeteksi tempat keluar mereka berdua cukup berbahaya.


“Kita keluar tepat di tengah-tengah lautan, beruntungnya aku langsung melesat. Kalau tidak–”

__ADS_1


Liu Chang melihat di bawah mereka berdua saat ini adalah lautan dalam yang mungkin akan membahayakan Chiriyu. Setelah melihat di sekelilingnya dan tidak menemui daratan apapun, Liu Chang terbang lebih ke atas.


Setelah berlatih cara terbang dengan Bing Qing, Liu Chang menguasai cara terbang dengan kecepatan tinggi. Dalam beberapa menit perjalanan Liu Chang melihat sebuah daratan yang memiliki pelabuhan di pantainya.


“Chiriyu, itulah dunia manusia.” Liu Chang menepuk Chiriyu yang saat ini masih bersembunyi di balik bajunya karena ketakutan saat keluar dimensi tadi. Chiriyu berusaha menoleh dengan hati-hati, karena masih trauma dengan kecepatan tadi.


Sesaat setelah melihat pelabuhan besar yang cukup indah, Chiriyu membuka mulutnya lebar. Dia benar-benar terpesona dengan keindahan arsitektur pelabuhan dan rumah-rumah di sekitarnya.


Meskipun terbilang hanya rumah khas pantai berbahan kayu, Chiriyu begitu kagum karena hari-harinya hanya dihabiskan dengan menemui pohon setiap hari.


Ketika hampir mendekati pantai Liu Chang segera menurunkan kecepatannya dan berjalan di air untuk menghindari kehebohan yang akan timbul dari reaksi penduduk pantai.


“Apa Tuan Muda seorang pendekar?” beberapa orang nelayan yang baru saja kembali dari mencari ikan menyadari Liu Chang yang berjalan di air laut segera menyapa dan bertanya.


“Ya, kami baru melakukan perjalanan jauh. Apakah kami bisa meminta tumpangan hingga ke pantai? adikku tidak terbiasa dengan caraku berjalan di air.”


“Silahkan Tuan Muda , maaf jika kapal kami hanya seperti ini.” pria yang kelihatannya merupakan ketua nelayan di kapal itu segera mempersilahkan Liu Chang untuk naik.


Akhirnya Liu Chang melanjutkan perjalanannya dengan ikut menaiki kapal nelayan yang baru saja kembali dari mencari ikan dan pulang dengan mengandalkan angin laut yang mengarah ke pantai.


Dengan hanya mengandalkan kecepatan angin yang tidak seberapa, Liu Chang sampai di tepi pantai saat matahari sudah cukup naik. Untuk mengucapkan rasa terima kasihnya Liu Chang memberi beberapa buah keping perak sebagai biaya perjalanan.


“Tuan Muda terlalu berbaik hati, lagipula koin ini terlalu besar nilainya, kami memberikan tumpangan ini dengan ikhlas.” pria berusia setengah abad itu menolak kembali koin perak yang berikan Liu Chang. Namun karena Liu Chang terus memaksa, akhirnya pria tersebut mau menerimanya.


Liu Chang melambaikan tangannya pada para nelayan itu dan melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Untungnya para penduduk di wilayah sekitar sini telah terbiasa dengan gaya para pendekar ketika bepergian jadi mereka tidak terkejut jika ada yang melesat secepat angin seperti Liu Chang.


“Chiriyu, kau ingin makan sesuatu?” Liu Chang melirik ke arah Chiriyu yang sejak tadi ada di pelukannya.


“Ya, Kakak. Aku ingin merasakan masakan di sekitar sini.” Chiriyu tersenyum kecil.


“Baiklah, aku mencium bau masakan enak di sekitar sini. Mari kita ke sana.” Liu Chang melirik Chiriyu yang akhirnya turun dari pelukannya dan ikut berlari di sampingnya karena tidak enak hati setelah memberatkan Liu Chang cukup lama.


••••


Like dan komentar untuk Chapter ini ....


Kebetulan bisa update pagi hari ini.

__ADS_1


TBC


Ibnu R.


__ADS_2