
"Kira-kira sudah berapa lama aku terjatuh?"
Liu Chang bertanya-tanya dalam batinnya, rasanya lebih dari 10 menit ia telah terjatuh seperti ini. Ditambah dengan gelapnya jurang, ia tidak bisa melihat dasarnya berapa jauh lagi.
"Apakah aku akan mati?"
Liu Chang kembali membatin, ia menyesali turun ke bumi dalam keadaan belum terlalu kuat, sehingga bisa kalah dalam pertarungannya dengan Dong Enlai. Rasanya ia ingin menangis, tetapi ditangisi pun percuma, semua sudah terjadi saat ini.
Liu Chang terus bergumam dan berpikir seperti itu, beberapa kali ia berpikir untuk pasrah dengan keadaan, lima menit kemudian ia menemukan sebuah cahaya. Ya, cahaya. Berwarna biru cukup terang, dan berbunyi seperti sungai yang sedang mengalir deras.
Liu Chang mencoba pasrah, ia melihat sendiri tubuhnya saat ini tepat berada di atas batu-batu sungai itu. Bisa ia bayangkan terjatuh dari ketinggian seperti ini akan menyebabkannya mengalami kematian atau yang paling beruntung sekali pun, ia akan mengalami luka yang tidak ringan.
Saat mencoba menerima dan pasrah dengan keadaan, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul didalam pikiran Liu Chang. Ia tidak mengetahui dari mana datangnya suara aneh itu, tetapi yang pasti suara ini begitu ia kenal karena telah lama bersamanya.
"Jangan berpikir menyerah secepat ini, aku menurunkanmu ke bumi bukan untuk mati sia-sia!!"
"Guru ... kau ada di sini?" Liu Chang bertanya-tanya.
"Jangan berpikir terlalu lama, buat perisai dari Qi, cepat ... kalau tidak cepat kau akan mati, Chang'er!!"
Liu Chang menuruti perintah yang diberikan padanya, tanpa mempedulikan lagi dari mana datangnya suara aneh itu. Ia mengeluarkan Qi dari tubuhnya dan menyusunnya secara berlapis-lapis secepat yang ia bisa.
Walaupun mencoba secepat yang ia bisa, Liu melihat jaraknya dengan batu hanya tersisa dua meter lagi, ia tidak yakin tubuhnya mampu menahan tekanannya.
Untungnya Saat Liu Chang telah melapisi tubuhnya dengan Qi, tubuhnya terpental ke aliran sungai berkat Qi yang ia kumpulkan cukup baik menahan tekanannya namun karena memang terjatuh dari ketinggian seperti ini, tubuhnya tenggelam hingga ke dasar sungai.
Liu Chang segera naik ke permukaan sungai dengan cepat, karena saat terjatuh ia tidak sempat mengambil napas panjang khawatir setelah selamat ia malah mati konyol kehabisan napas.
Tangan dan kaki Liu Chang bergerak-gerak, mencoba gerakan renang yang ia bisa, tidak menunggu waktu lama tubuhnya muncul di permukaan air beberapa detik kemudian, untungnya kedalaman sungai ini ternyata hanya lima meter.
"Fuaahh."
Liu Chang berenang ke tepian sungai untuk menghindari aliran sungai yang cukup deras, karena aliran air sederas ini bisa membawa tubuhnya terseret sangat jauh.
Saat menginjakkan kakinya di tepi sungai, Liu Chang baru menyadari satu hal yang tidak ia lihat sebelumnya.
"Hutan? Ada hutan di kedalaman jurang seperti ini?" Liu Chang mengerutkan dahinya, bagaimana pepohonan seperti ini bisa tumbuh dengan baik di dasar jurang dan lagi sungai di belakangnya saat ini begitu aneh, tidak mungkin aliran air ada di tempat sedalam ini.
Liu Chang tidak memikirkan keanehan ini lebih lama, ia berinisiatif melepaskan pakaiannya yang compang-camping dan mengobati luka-lukanya akibat pertarungan dengan Dong Enlai.
Barulah ia ketahui bahwa luka akibat pertarungannya dengan Dong Enlai berefek cukup parah pada tubuhnya. Liu Chang merasa luka ini disebabkan oleh bola-bola cahaya yang dilepaskan Dong Enlai saat mendorong tubuhnya ke jurang saat itu.
Tentu membiarkan luka separah ini terlalu lama tidak baik, karena itu Liu Chang segera mengeluarkan sesuatu dari Cincin Galaksi.
__ADS_1
"Cincin Galaksi, keluarkan baju pendekar berkualitas baik dan sumber daya obat-obatan!!"
Selepas cukup lama membersihkan dirinya dan mengobati lukanya menggunakan sumber daya, Liu Chang mulai memikirkan kembali tempat ia terjatuh saat ini.
Saat mencoba melangkah lebih jauh ke dalam hutan, suara aneh tiba-tiba kembali muncul dipikirannya namun bukan suara Feng San yang ia dengar kali ini, suara ini lebih terdengar seperti telepati.
"Kubilang jangan melangkah nak!! Kau bisa mati, apa kau tidak mengerti?!" teriak suara tersebut.
"Siapa itu?" Liu Chang kembali mendengar telepati dipikirannya, ia spontan bertanya karena suaranya terus-menerus muncul dan mengganggunya.
"Tidak penting siapa aku, tetapi yang pasti ... selamat datang di Lembah Liko." suara itu kembali muncul dipikiran Liu Chang, ia menyebut sesuatu tentang nama tempat ini, Liu Chang mengerutkan dahinya mendengar nama Lembah Liko.
"Hei tunggu ... apa itu Lembah Liko?" Liu Chang kembali bertanya namun bukan jawaban yang ia dapat dari suara ini. Ia malah mendapatkan sebuah petunjuk tentang Lembah ini.
"Pergi ke kanan seratus meter, lalu berbelok ke arah kiri dan jalan lurus ke depan satu kilometer!!" telepati itu kembali muncul dipikiran Liu Chang, kali ini bukan peringatan yang ia berikan melainkan memberitahu jalan memutar di lembah ini.
Liu Chang heran, mengapa tidak langsung lurus saja jalan ke depan satu kilometer, bukankah hal itu lebih cepat?
Namun saat menanyakan tentang hal itu, suara telepati itu telah menghilang dari pikirannya.
Setelah berpikir cukup lama Liu Chang akhirnya mengikuti saran dari suara tersebut, ia mengambil jalan memutar seperti yang perintahkan.
°°°°
"Seratus meter, lalu ke kiri ka--" kalimat Liu Chang terhenti tatkala ia melihat siluman serigala berjarak lima meter darinya sedang menatap ke arahnya saat ini. Siluman berwujud serigala itu terlihat kelaparan, terlihat dari air liurnya yang terus menetes saat melihat Liu Chang ada dihadapannya.
Liu Chang mengira-ngira kekuatannya dari siluman dihadapannya, sepertinya siluman ini berumur seratus tahun. Liu Chang tidak tahu sebesar apa kekuatannya, tetapi yang pasti ini akan menjadi pertarungan yang sulit karena luka ditubuhnya belum sembuh.
"Kau menataku seperti itu ... ingin tubuhku? Tidak semudah itu?!" Liu Chang melompat ke atas setelah siluman tersebut benar-benar menyerang dirinya. Dengan cepat Liu Chang berpegangan pada dahan pohon di atasnya, sambil mengeluarkan Pedang Dewa Petir ia merapalkan jurus Ilmu Pedang Sutra.
Liu Chang memutar pedangnya ke arah siluman tersebut, begitu pun dengan siluman serigala itu, ia menyiapkan cakar dan gigi taringnya untuk mengoyak tubuh Liu Chang.
"Tidak semudah itu!! Terima ini!!" Liu Chang menghindari serangan cakar itu, ia kembali melompat ke dahan pohon yang lain, untuk merapalkan kembali jurus Ilmu Pedang Sutra.
"Jurus pertama, tebasan keheningan!!"
Liu Chang melompat dari dahan ke dahan, melepaskan beberapa tebasan pada tubuh siluman dihadapannya ini, beruntungnya beberapa tebasannya berhasil mengenai telinga siluman tersebut hingga lukanya menyebar ke arah mata.
Tidak berhenti sampai di sana, Liu Chang kembali merapalkan jurus Ilmu Pedang Sutra yang lainnya. Untuk membuat siluman itu kesal, Liu Chang terus berpindah-pindah dari pohon ke pohon yang lainnya, sambil menghunus pedangnya dengan sikap waspada khawatir bahwa siluman ini tidak hanya sendiri.
Strategi yang Liu Chang gunakan berhasil dengan baik, siluman tersebut terpancing hingga mengikuti gerakan Liu Chang tanpa tahu bahwa gerakan-gerakan itu bermaksud membuatnya kesal.
"Tidak seperti itu caranya ... kau harus bergerak secara elegan!!" Liu Chang memutar pedangnya ke arah perut siluman serigala, dengan jurus ketiga dari Ilmu Pedang Sutra ia berhasil merobek perut siluman tersebut.
__ADS_1
"ROAAARRRRR!!!"
Siluman serigala mengerang kesakitan, ia membalas Liu Chang dengan cakarnya. Namun nyatanya Liu Chang dapat menghindarinya dengan baik hingga membuat siluman itu semakin geram dengan perbuatan Liu Chang.
Liu Chang meneruskan langkahnya melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, beberapa kali gerakannya yang disertai tebasan ke tubuh siluman serigala membuat luka yang cukup banyak di mana-mana.
"Matilah!!
Liu Chang kembali menyerang, kali ini ia sudah menebas ekor dan salah satu kaki siluman itu hingga terluka di bagian lutut. Namun siluman itu tetap berdiri tegak menyerang Liu Chang, berpikir mangsa dihadapannya ini harus ia dapatkan apa pun caranya.
"Oi ... air liurmu itu masih menes, kau tidak berpikir nyawamu saat ini terancam!!"
Liu kembali menebas ke arah perut, ia akui memang siluman ratusan tahun mempunyai regenerasi yang cepat untuk ukuran sebesar itu, meskipun diserang beberapa kali tetap saja luka-luka itu menutup kembali dengan sangat cepat.
Liu Chang kembali menyerang perut siluman itu, meskipun lukanya sendiri sudah menganga cukup lebar, ia tidak ingin pertarungannya berlangsung terlalu lama.
"Jurus kelima, takdir kabut kehidupan!!"
Akhirnya setelah bertarung sekian lama, siluman tersebut mati oleh jurus Liu Chang yang terakhir. Siluman tersebut mati dengan luka di perut yang menganga dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian.
Liu Chang mendekati siluman yang sudah terbujur kaku itu, ia meraba-raba ke dalam perut siluman itu mencari sesuatu yang bisa ia ambil.
"Seharusnya di sebelah kiri sih ... Ah, ini dia," Liu Chang tersenyum puas, ia mendapatkan permata siluman yang cukup besar dari siluman ini. Dengan warnanya yang terlihat mencolok, Liu Chang yakin energi didalamnya pasti sangat besar.
Selepas memasukkan tubuh siluman tersebut ke Cincin Galaksi, dan menyerap permatanya untuk memulihkan tenaga dalam, Liu Chang kembali melanjutkan perjalanan mengikuti arahan suara telepati di pikiran beberapa saat yang lalu.
••••
Informasi mengenai jurus-jurus yang digunakan Liu Chang ( Ilmu Pedang Sutra ):
"Jurus pertama, tebasan keheningan!!"
"Jurus kedua, tarian kabut!!"
"Jurus ketiga, kesulitan tiada akhir!!"
"Keempat, kabut membunuh lawan!!"
"Jurus kelima, takdir kabut kehidupan!!"
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya....
Ibnu R
__ADS_1