
Jurus kelima itu dengan tepat berhasil mengenai salah satu mata dan antena siluman Lintah. Namun Liu Chang tidak berhenti sampai di sana, ia kembali melepaskan tebasan lainnya yamg tidak kalah kuat.
Sambil memutar pedangnya Liu Chang memberikan tebasan pada tubuh siluman Lintah beberapa kali dengan gerakan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Beberapa detik kemudian Liu Chang berhenti sejenak untuk mengatur napasnya agar staminanya tidak cepat terkuras apalagi qi yang ia lepaskan sedikit banyak ikut andil menjadi penyebab kelelahannya.
"Sepertinya ini akan sulit...."
Liu Chang melihat kembali luka yang ada di tubuh siluman Lintah yang baru saja ia berikan. Dengan cepat luka itu kembali menutup, dan membuat Liu Chang semakin bersemangat serta sedikit geram.
Liu Chang kembali melompat, ia sedikit banyak memberikan luka pada beberapa lubang yang disinyalir olehnya merupakan tempat keluar gas beracun, dan beberapa tebasan lain yang mengenai mulut.
"Jurus ketiga, kesulitan tiada akhir!!" Liu Chang kembali melompat. Namun kali ini tujuannya berdiri di atas tubuh siluman lintah untuk menusukkan pedangnya ke arah kepala siluman tersebut.
Tepat sebelum ia benar-benar menusukkan pedang itu ke tubuh siluman Lintah, sebuah suara terdengar oleh Liu Chang yang mengatakan bahwa ia harus berhenti menyerang siluman ini.
"Siapa itu?!" Liu Chang berteriak cukup keras untuk mencari keberadaannya. Namun tidak ia menemukan satu orang pun yang terlihat berada di radiusnya saat ini.
Liu Chang tidak menghiraukannya lebih jauh, ia kembali meneruskan niatnya untuk menusuk kepala siluman lintah. Beberapa detik kemudian hal yang sama terjadi seperti sebelumnya, tepat sebelum ia akan menusukkan pedangnya sebuah suara kembali terdengar. Namun kali ini terdengar lebih jelas.
"Kubilang berhenti, aku sudah menyerah. Apa kau tidak mendengarkan ucapanku?"
Liu Chang melihat ke sekelilingnya, benar-benar tidak ia temukan seseorang yang berteriak seperti itu. Pada awalnya ia berpikir ada yang sedang bertarung di sekitar sini. Namun lama kelamaan ia mulai menyadari satu hal bodoh yang sejak tadi ia tidak sadari.
"Kau yang berbicara padaku?"
__ADS_1
Liu Chang melompat ke dahan pohon yang lebih tinggi. Sebelumnya ia tidak yakin suaranya berasal dari sana, tetapi setelah melihat dan mendengar lebih jauh ia sangat yakin sekarang.
"Ya, itu aku. Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan dariku, aku sedang mengandung anakku dan kau tiba-tiba membuat keributan. Jadi, aku berpikir kau ingin mengambil nyawaku dan anak-anakku," siluman Lintah tersebut berbicara cukup keras sekarang. Liu Chang menyipitkan matanya, benarkah yang ia lihat saat ini benar-benar siluman yang bisa berbicara.
Dari yang ia ketahui siluman baru mempunyai kecerdasan hingga bisa berbicara pada siluman seribu tahun atau paling tidak yang setingkat dengan kekuatannya. Ia benar-benar terkejut mengetahui siluman berukuran setara rumah kecil ini bisa berbicara sementara siluman Singa yang ia hadapi kemarin tidak berbicara sedikit pun.
"Maafkan aku, aku diberi perintah untuk menjadikanmu bawahan yang bisa aku panggil kapan pun. Maka dari itu aku datang ke sini dan mencoba bertarung denganmu, siapa tahu saja setelah kalah kau akan tunduk padaku."
Liu Chang menjelaskan alasan yang ia rasa cukup bisa diterima oleh siluman Lintah, jika penjelasannya sekali pun dibalas dengan semburan racun, maka dengan senang hati ia akan bertarung kembali.
Namun diluar dugaan Liu Chang, siluman tersebut hanya terdiam tanpa kembali berbicara sedikit pun. Ia hanya termenung seolah sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa detik kemudian suara itu kembali terdengar. Namun dalam nada bicaranya terkandung kesedihan yamg mendalam, seolah menceritakan sesuatu yang paling sedih dari hidupnya.
"Jadi begitu ya? Kalau begitu maafkan aku karena telah mengganggu, kuharap kau tidak menyimpan dendam padaku," Liu Chang perlahan-lahan meninggalkan tempat itu dan bergerak cepat kembali ke arah gubuk Jing Quo.
Tentu Liu Chang mengetahuinya sendiri bahwa ditinggalkan oleh orang tersayang merupakan hal yang paling menyakitkan. Karena beberapa tahun yang lalu ia juga merasakannya sendiri melihat tubuh orang tuanya tergeletak dihadapannya tak bernyawa saat desa mereka diserang oleh sekelompok aliran hitam.
Sebelum Liu Chang semakin pergi menjauh, siluman Lintah meneriakkan sesuatu yang membuat Liu Chang menoleh kembali ke arah sarang tersebut.
"Jika kau benar-benar ingin menjadikanku bawahanmu, kau bisa...."
Suaranya terdengar parau, karena begitu jauhnya Liu Chang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang siluman Lintah teriakan. Dengan langkah cepat Liu Chang kembali ke sarang tersebut setelah mendapat isyarat untuk kembali mendekat kepada siluman Lintah.
Selepas beberapa menit berbicara dengan siluman Lintah, Liu Chang melompat kegirangan karena dengan begitu ia tidak akan kembali dengan tangan kosong, dan akhirnya ia benar-benar bisa memiliki bawahan seorang siluman.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi anak-anakku akan lahir, saat itu aku meminta tolong padamu untuk menjaga sarang ini, kau mau kan?" tanya siluman Lintah.
Liu Chang mengangguk pelan, ia selalu bersedia jika hanya diminta untuk membantu menjaga sarang siluman Lintah saat melahirkan anaknya nanti agar tidak ada yang bisa menggangu proses melahirkannya.
"Mungkin beberapa siluman rakun akan datang kemari. Jika saatnya nanti aku mulai mengurung diri untuk melahirkan, sekali lagi aku ingin meminta tolong padamu untuk menjaga sarang ini." permintaan siluman Lintah segera disetujui Liu Chang dengan cepat, jika hanya itu saja Liu Chang sangat bersedia karena menjaga sarang dari serang siluman bisa menjadi alat latihannya juga.
Siluman Lintah menjelaskan bahwa tadi pagi, dia berhasil mendapatkan mangsa dari ras siluman rakun karena itu mungkin beberapa hari lagi mereka akan mencari dari jejak lendir yang ia tinggalkan.
Liu Chang mengangguk pelan, ia kembali berjanji jika saat itu tiba dia akan datang kemari untuk membantunya menghadapi para siluman rakun.
Selepas berbagai kesepakatan selesai dan Liu Chang mendapatkan darah siluman Lintah, Liu Chang kembali ke gubuk Jing Quo dengan perasaan senang.
Sepertinya ia tidak akan melupakan pengalaman seperti ini sampai kapan pun. Apalagi saat hari itu tiba, dia akan merasakan hari-harinya ditemani seekor siluman penjaga.
°°°°
Saat sampai di gubuk Jing Quo, Liu Chang menceritakan banyak hal dari mulai keberhasilannya dengan tubuh racun yang telah ia coba sendiri dengan menyerap kabut beracun. Meskipun beberapa hal masih belum bisa ia atasi dari kabut beracun yang memiliki ketebalan racunnya lebih tinggi.
Hingga keberhasilan mengadakan perjanjian dengan siluman Lintah yang bersedia ia jadikan bawahan. Namun dengan syarat bahwa ia harus melindungi sarangnya saat mulai melahirkan.
Jing Quo bereaksi cukup senang mendengar hal itu, artinya mulai saat ini Liu Chang tidak akan susah payah mencari tanaman obat atau sumber daya untuk penyembuhan, karena menurutnya salah satu kemampuan siluman Lintah selain lendir beracunnya adalah kemampuan penyembuhan yang sangat cepat dalam menyembuhkan luka.
"Oh, benarkah?"
••••
__ADS_1
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.
Ibnu R.