Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 72 – Keputusasaan Hujan Darah.


__ADS_3

Liu Chang berhasil menyelesaikan menerjemahkan setengah batu prasasti saat tiba-tiba suara seseorang mencarinya di sekitar pohon Hun. Liu Chang bergegas naik ke atas setelah mendengar orang itu memanggil namanya berkali-kali.


Sementara itu, Chiriyu meminta izin Liu Chang untuk mengumpulkan informasi lain sambil mencari-cari ruangan rahasia yang terhubung ke ruangan kedua. Dia masih penasaran untuk menemukan ruangan lainnya, karena struktur bangunan seperti ini cukup membuatnya tertarik.


Saat berada tepat di sekitar pohon Hun, Liu Chang melihat keberadaan Xin Qian yang dari ternyata sejak tadi memanggil namanya. Liu Chang bergegas menghampirinya setelah melihat kegelisahan muncul di raut wajah Xin Qian.


“Bagaimana senior bisa sampai ke sini?” Dengan setengah berteriak Liu Chang bertanya pada Xin Qian.


“Aku mengetahui kau pasti ke sini, sekarang ikut denganku ... seluruh penduduk kota membutuhkanmu!!” Xia Qian langsung menarik tangan Liu Chang dengan cepat ke arah pintu masuk kota. Gadis itu sangat khawatir Hujan Darah melakukan hal yang selama ini dikhawatirkannya.


Setiap kelompok Hujan Darah pasti akan selalu membawa beberapa gadis sebagai budak atau untuk memuaskan nafsu mereka semata. Xin Qian selama ini bisa selamat karena selalu bersembunyi setiap mendengar kelompok Hujan Darah datang.


Namun akhir-akhir ini keberadaannya diketahui kelompok Hujan Darah setelah mereka mulai menanamkan mata-mata di dalam kota Xian Qi.


Liu Chang sejak tadi melihat kecepatan gerak Xin Qian yang terlalu lambat berinsiatif menggendong Xin Qian dan membawanya terbang dengan kecepatan tinggi.


“Tunggu, Chang'er ... ini menakutkan!!” Xin Qian berteriak histeris.


“Tidak, senior. Dengan kecepatan seperti tadi, bisa saja kita sampai setelah penduduk kota mereka bantai habis.” Liu Chang tersenyum canggung, dia bingung melakukan sikap seperti apa saat menggendong gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya, bahkan Xin Qian memeluk tubuhnya beberapa kali karena ketakutan.


Dengan kecepatan Liu Chang yang tidak masuk akal, Xin Qian harus berusaha menahan dirinya dari tekanan angin yang datang ke arahnya, bahkan beberapa kali ia harus menjaga kesadarannya agar tidak pingsan.


Beberapa menit kemudian Liu Chang sampai di pintu masuk kota setelah sebelumnya dia menurunkan Xin Qian tidak jauh dari lokasinya saat ini. Tentu Liu Chang tidak ingin mengambil risiko bertarung dengan membawa seseorang yang bisa dijadikan tawanan.


“Sepertinya Senior Long juga hanya diam tanpa melawan ....” gumam Liu Chang pelan, dia melihat Xin Long yang hanya diam bersama para penduduk itu.


Liu Chang memperhatikan gerak-gerik kelompok Hujan Darah sambil memikirkan cara untuk membebaskan tahanan gadis-gadis yang juga ada di sana sambil bertarung.


Baginya memang tidak sulit menghabisi pemimpin Hujan Darah itu serta bawahannya dengan kemampuannya sekarang namun yang menjadi masalah situasi saat ini memaksanya harus memutar otak dengan cepat menemukan solusi terbaik.


Selepas berpikir cukup lama, akhirnya Liu Chang memilih cara yang selama ini jarang ia gunakan dalam bertarung yaitu menggunakan sesuatu sebagai anak panah.


Liu Chang berusaha mencari cara menggantikan anak panah untuk cara ini, Liu Chang lalu naik ke atas atap untuk mengambil beberapa atap rumah penduduk, selanjutnya melapisinya dengan Qi yang cukup besar dan melesatkannya ke arah pendekar yang memimpin kelompok Hujan Darah itu.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang tidak bisa diperkirakan oleh pendekar tersebut sebelumnya, atap rumah itu berhasil mengenainya dan melempar tubuhnya beberapa meter ke belakang.


“Bos Zhixin!!”


“Siapa yang menyerangnya?”


“Cepat cari di sekitar sini!!!” Yuan, tangan kanan Zhixin berteriak keras memerintahkan anak buahnya untuk mencari pelakunya.


Semua pendekar kelompok Hujan Darah menjadi waspada saat tiba-tiba ada yang menyerang ketua mereka, satu per satu dari mereka mulai mencari ke segala arah hingga tidak menyadari celah yang mereka tinggalkan.


Liu Chang tidak menyia-nyiakan kesempatan para pendekar yang berlarian itu, dia langsung muncul di belakang para gadis tawanan itu dan melepaskan ikatan mereka. Lalu Xin Long dan para orang tua lainnya, Liu Chang perintahkan untuk membawa gadis-gadisnya pergi dari lokasi ini secepatnya.


“Chang'er, kemampuan mereka tidak buruk, kau bisa kesulitan!” Xin Long memperingatkan Hujan Darah adalah kelompok yang terdiri dari pendekar-pendekar dengan handal yang tidak mudah dikalahkan.


“Senior, kau bisa percayakan padaku ... cepatlah pergi dengan yang lainnya!” Liu Chang tersenyum tipis, dia menyakinkan Xin Long bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Dengan berat hati Xin Long pergi bersama para penduduk itu ke arah yang berlawanan dari pendekar Hujan Darah. Mereka berjalan ke arah bukit yang menjadi tempat pohon Hun tumbuh.


Mereka melakukan formasi untuk mengepung Liu Chang, berputar dan menekan dengan aura pembunuh. Di sisi lain, Liu Chang hanya tersenyum tipis dengan gertakan ini, baginya aura pembunuh ini tidak lebih besar dari siluman singa di Lembah Liko.


“Serang!!"


“Hantam kepalanya!!”


“Sayat urat-uratnya hingga dia kesakitan!!”


Setiap orang berusaha meneriakkan kata-kata gertakan pada Liu Chang untuk membuatnya takut namun di sisi lain Liu Chang hanya tersenyum kecil sambil menyiapkan Pedang Dewa Petirnya.


Liu Chang menunggu dan bergerak cepat setelah para pendekar itu menyerang ke arahnya, ilmu meringankan tubuh yang dikombinasikan dengan Pedang Dewa Petir sungguh membuat kerepotan para pendekar itu.


Dalam sekali serangan Liu Chang berhasil membunuh dua sampai tiga pendekar dengan kondisi kepala terpenggal atau jantungnya yang terhujam.


Gerakan-gerakan Liu Chang yang gesit dan bertenaga sulit ditahan dan diikuti oleh para pendekar tingkat awal itu, apalagi sebagian dari mereka bahkan tidak membawa pusaka saat menyerbu Liu Chang. Keputusan mereka menyerang secara membabi-buta adalah bunuh diri.

__ADS_1


Liu Chang tidak berhenti menyerang setelah membunuh begitu banyak orang, ia melompat ke atas lalu menebaskan beberapa jurus Ilmu Pedang Sutra yang memiliki variasi jurus menghadapi banyak orang. Dalam sekejap serangan-serangannya berhasil membunuh setengah kelompok Hujan Darah yang menyerangnya.


Melihat teman mereka mati dengan mudah beberapa pendekar lain mundur perlahan-lahan, mereka tidak ingin mengambil risiko hanya untuk bunuh diri. Sementara beberapa orang yang lain berlutut ketakutan dengan keringat yang terus mengucur.


“Tidak mungkin, ini akhir dari kita.”


“Membunuh tiga puluh orang hanya dalam waktu dua menit ....”


“Berikan kami kesempatan kedua memulai hidup.”


Suara-suara putus asa mulai terdengar di telinga Liu Chang. Kelompok Hujan Darah yang biasanya sering memberikan teror akhirnya hanya bisa berlutut di hadapan Liu Chang saat ini.


***


Di lain tempat, Yuan mulai bernapas lega setelah melihat Zhixin yang bangun dengan wajah terlihat marah, hal itu menunjukkan bosnya ini terlihat baik-baik saja. Zhixin menatap ke depan sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


“Siapa yang menyerangku?”


“Aku tidak tahu, tetapi yang jelas di seorang pemuda.”


“Kita menuju ke sana sekarang, aku akan membalas perbuatannya!!” Zhixin bertekad.


Dengan ilmu meringankan tubuh keduanya, tidak lama Zhixin dan Yuan sampai di lokasi pertarungan Liu Chang dengan anak buahnya saat ini.


Melihat keadaan di medan pertarungan, Zhixin menahan napasnya sementara Yuan membuka mulutnya lebar melihat anak buah mereka berlutut dan gemetar. Ditambah tidak jauh dari sana tumpukan mayat kelompok Hujan Darah yang telah kaku bertumpuk dengan kondisi mengerikan.


“I–ini tidak mungkin ... sepuluh dari mereka bahkan sanggup menyulitkanku.” Zhixin berbicara sambil mematung memperhatikan anak buahnya yang ketakutan di hadapan Liu Chang.


Di sisi lain, Yuan yang mulai ketakutan melihat tumpukan mayat anak buahnya mulai berpikir untuk pergi dari tempat ini secepatnya. Dia tidak ingin mati mengenaskan karena mencoba melawan orang sekuat Liu Chang.


••••


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2