Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 60 – Kelahiran Chiriyu.


__ADS_3

"Menyingkir dari jalanku, kalau tidak kau akan merasakan akibatnya!!"


"Baiklah, ini cukup sulit. Mari kita buat negosiasi, jika kau kalah kau harus menyerahkan permata silumanmu, bagaimana?" Liu Chang menyeringai, dua siluman ini bisa cukup merepotkan jika tidak dia tahan dengan bicara dulu.


"Huh ... anak manusia yang mencoba menjadi sok kuat, aku terima tantanganmu!!" Siluman Rakun dengan tinggi 7 meter segera menyerang menggunakan cakarnya.


Liu Chang melompat ke atas dahan pohon yang lebih tinggi, namun Liu Chang tidak melihat siluman satunya bergerak menyerang.


"Apa kalian punya kode etik? Dengan menyerang satu-satu begini?" Liu Chang melompat lagi, selagi bertahan dan berpindah-pindah Liu Chang terus menerus mengatakan sesuatu yang bisa membuat konsentrasi mereka berdua terpecah.


Siluman lain yang berwujud Kera mengacuhkan pertanyaan Liu Chang, dia lebih memilih bersandar di sebuah pohon setinggi lima puluh meter. Menurutnya Siluman Rakun lebih dari cukup untuk mengalahkan Liu Chang.


"Jurus pertama, tebasan keheningan!!"


Liu Chang melompat ke tubuh kanan Siluman Rakun, dia menebas ke berbagai arah dan tepat melukai salah satu kaki Siluman Rakun. Siluman Kera yang sedang bersandar terkejut melihat hal itu, menurutnya butuh kekuatan yang sangat besar untuk melukai siluman seperti mereka.


"Hei, aku akan membantumu!!" Siluman Kera menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku akan mengalahkannya sendiri!!"


Siluman Rakun membuat sebuah bola raksasa dengan unsur tanah di dalamnya, dia menembakkan hal itu dengan cepat ke arah Liu Chang. Liu Chang menghindarinya dengan cepat namun serangan yang dia hindari itu malah mengarah ke sarang yang dia jaga.


"Pertarungan ini tidak menguntungkan ... aku harus memancingnya ke tengah hutan." Liu Chang berlari dengan kecepatan tinggi ke arah hutan tengah. Dia terus menerus menebaskan sesuatu hingga Siluman Rakun tidak sadar bahwa dirinya saat ini telah cukup jauh dari sarang Siluman Lintah.


Liu Chang terus menyerang dengan Ilmu Pedang Sutra dan Ilmu Pedang Dewa Naga. Menyebabkan wilayah di sekitar pertarungan itu menjadi hutan gundul seketika dengan suara pohon-pohon bertumbangan setiap detiknya.


"Sulit sekali ******* tubuhnya ini!!" Siluman Rakun mengumpulkan kembali bola-bola tanah, kali ini ukurannya lebih besar dua kali lipat dari tubuhnya begitu pun dengan kecepatannya yang bertambah. Liu Chang hampir tidak sempat menghindarinya ketika bola-bola berukuran sebesar rumah itu menuju ke arahnya.


Biarpun berhasil menghindar dari serangan itu, jubahnya sedikit terbakar akibat gesekan panas dari bola-bola tanah yang melaju dengan cepat.


"Begitu seharusnya ... kalau pertarungan ini hambar, tidak menarik 'kan?"


Liu Chang kembali melompat dengan cepat ke atas tubuh Siluman Rakun, dengan Perubahan Bentuk Api Liu Chang menusuk tubuh keras Siluman Rakun seperti halnya tahu.


Darah segar berhamburan keluar dengan jumlah yang cukup banyak, membanjiri tubuh Liu Chang dan wilayah di sekitar mereka.

__ADS_1


"Argghhh!!"


Siluman Rakun mati dengan kepala terbelah dua. Setelah mengambil permata silumannya Liu Chang segera kembali ke sarang Siluman Lintah karena khawatir salah satu siluman lain akan bertindak licik sementara dia bertarung.


"Selagi dia bertarung maka sarang yang dijaganya akan kosong, 'kan? Sungguh tindakan yang bodoh!!" Siluman Kera menyeringai, akhirnya dia bisa membalaskan dendam anaknya yang dibunuh oleh Siluman Lintah beberapa bulan yang lalu. Kebetulan pemimpin para Rakun juga mempunyai masalah yang sama sehingga mereka berdua memutuskan untuk menyerang secara bersamaan ke sarang ini.


"Chiyu, kau akan mati hari ini!!"


Tidak lama setelah Siluman Kera masuk ke sarang itu, suara seseorang memecah konsentrasinya.


"Seharusnya terbalik!! Kau yang akan mati!!"


Siluman Kera terkejut mendengar suara itu, dia membalikkan badannya dan menemukan Liu Chang yang telah bersimbah darah.


"Kau ... apa yang kau lakukan pada Gyuni?" Siluman Kera berbicara terbata-bata.


Liu Chang mengangkat alisnya. "Oh, jadi namanya Gyuni? Baru saja aku membunuhnya. Sekarang giliranmu!!" Liu Chang maju ke arah Siluman Kera dengan cepat.


Sementara itu, Siluman Kera mengucurkan keringat dingin mendengar pengakuan Liu Chang, setahunya Gyuni merupakan Raja Para Rakun yang disegani. Tidak mungkin membunuhnya dalam waktu singkat. Apalagi Gyuni terkenal setelah wilayah hutan Lembah Liko sebagian besar dikuasai oleh bangsa Rakun.


Pertarungan Liu Chang dengan Siluman Kera setinggi 5 meter itu memakan waktu yang cukup singkat dengan Liu Chang yang berhasil keluar sebagai pemenang. Biarpun cukup singkat namun sebagian besar hutan hancur dan menambah kehancuran yang disebabkan pertarungan sebelumnya yang dilakukan oleh Liu Chang dan Gyuni.


"Karena menggangu, itu saja."


Siluman Kera mati dengan kepala terbelah dua seperti Gyuni dari bangsa Rakun. Terlihat wajahnya yang menunjukkan ekspresi terkejut karena tidak percaya bisa kalah dengan cepat oleh anak manusia.


Liu Chang menghela napas panjang setelah melalui dua pertarungan tadi. Pertarungan itu membuat baju dan jubahnya menjadi lengket karena sifat darah siluman yang tidak mudah dibersihkan.


Sebagai gantinya Liu Chang mulai mengeluarkan beberapa baju yang seragam dengan pakaiannya saat ini untuk mengganti bajunya yang bersimbah darah.


Setelah mengganti bajunya Liu Chang mulai memastikan wilayah di sekitarnya lagi hingga beberapa jam kemudian sarang tempat Siluman Lintah mengeluarkan suara erangan yang cukup keras.


Liu Chang dengan cepat segera bergegas untuk masuk ke dalam sarang melihat kondisi Chiyu yang terdengar mengkhawatirkan.


"Chiyu!! Kau tidak apa-apa?"

__ADS_1


Liu Chang masuk dengan wajah khawatir, dia mendengar erangan tadi cukup keras hingga dia yakin kondisi Chiyu lumayan parah. Namun saat masuk ke dalam sebuah pemandangan badan cukup besar dengan selaput-selaput setipis sutra bersimbah darah terlihat di hadapan Liu Chang.


"Chang'er, mendekatlah kemari. Aku ... huh ... huh, ingin menitipkan satu hal padamu–" Chiyu berbicara lirih, sedikit lendir lengket keluar dari matanya.


"Hei, nada bicaramu ... baiklah aku mengerti ... aku akan mendengarkannya." Liu Chang menghentikan bicaranya melihat kondisi Chiyu yang telah sekarat.


Chiyu terbatuk-batuk, dia mengeluarkan beberapa darah dari mulut yang biasanya mengeluarkan racun itu. Dengan napas terengah-engah Chiyu mengeluarkan maksudnya.


"Setidaknya berikan dia nama." Liu Chang tersenyum lembut sambil mengelus kepala anak Chiyu.


"Ka-kau benar, dengan itu dia bisa bangga pada ibu ... uhuk–uhuknn ... huh ... baiklah, akan kuberi nama ... Chiriyu."


Tepat setelah mengucapkan nama untuk anaknya itu, Chiyu mati dengan segumpal darah terakhir yang membentuk tanda hati pada tubuh anaknya. Liu Chang yang biasanya cukup kuat dengan situasi seperti ini bahkan sedikit mengeluarkan air matanya.


Baginya, bayi Siluman Lintah bernama Chiriyu ini akan dianggapnya sebagai harta seperti halnya keluarga sendiri ke depannya.


"Chiyu, karena tubuhmu cukup besar ... aku ... akan memasukkanmu ke dalam peti ini. Di dunia manusia, kami menggunakan ini untuk menghormati dan mengubur orang-orang yang mati, berisitirahatlah." Liu Chang mengeluarkan sebuah peti kayu berukuran besar, secara perlahan Liu Chang memasukkan tubuh Chiyu yang besar itu ke dalamnya dengan hati-hati.


Setelah melakukan penghormatan yang bisa dia lakukan, Liu segera membawa tubuh bayi Lintah bernama Chiriyu itu dengan tangannya sendiri. Meskipun disebut bayi, tubuh Chiriyu nyatanya setara dengan ukuran sapi dewasa. Namun hal itu tidak sedikit pun menyulitkan Liu Chang yang memiliki kualitas fisik bagus.


Setelah sampai di gubuk Jing Quo, Liu Chang segera menceritakan tentang Chiriyu, berharap Jing Quo memiliki solusi. Beruntungnya Jing Quo memiliki cara untuk merawat bayi siluman seperti Chiriyu, dan hal itu membuat Liu sedikit tenang setelah membawa Chiriyu tanpa solusi berarti.


Setelah Chiriyu ditidurkan pada tempat yang cukup besar, Jing Quo keluar dari gubuknya dengan membawa beberapa buku.


"Chang'er, kemarilah!!"


"Oh, senior! Bagaimana kondisi Chiriyu?" Liu Chang yang sedang bermeditasi untuk menenangkan diri segera bangun dan menghampiri Jing Quo.


"Chiriyu sedang tidur, tenang saja. Kau ingin mendengar sesuatu tentang Chiyu?" Jing Quo tiba-tiba bertanya seperti itu dengan menunjukkan sebuah buku.


"Chiyu? ada apa dengannya?" Liu Chang mengangkat alisnya.


••••


Berikan Like dan komentar kalian, saya harap kalian selalu mengikuti perjalanan Liu Chang hingga akhir, terima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya ....


Ibnu R


__ADS_2