
Liu Chang bersama kelompok Tujuh Kunci akhirnya sampai di Kota Kinabalu, tempat wilayah Beigan yang diselimuti oleh salju es. Sebelumnya Liu Chang telah berpisah dengan penduduk Desa Yuki di pintu masuk kota karena tujuan mereka yang berbeda.
Setelah sampai di dalam, Chiriyu dan Aqua mengatakan ingin berbelanja beberapa helai pakaian tebal sambil mencari penginapan untuk mandi air hangat, sementara Salazar mengatakan ingin mendatangi salah satu restoran untuk mencari makanan khas sekitar.
Liu Chang memberi ketiganya masing-masing sepuluh keping emas dan puluhan keping keping perak sebagai bekal, Liu Chang khawatir kondisi mereka yang sedikit lusuh akan menyebabkan masalah ketika tidak memiliki uang.
“Aku akan berjalan-jalan sementara yang lain sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing ...” Liu Chang tersenyum tipis sambil melangkahkan kakinya ke pusat Kota Kinabalu.
Luas Kota Kinabalu cukup besar, ukurannya hampir mencakup sepertiga dari Negara Beigan. Selain wilayahnya, penduduknya juga memiliki ekonomi yang cukup bagus menurut Liu Chang, terlihat dari banyaknya pedagang-pedagang besar maupun kecil di sepanjang jalanan kota.
Banyak hal yang membuat Liu Chang sedikit tertarik, namun Liu Chang mengetahui benda-benda itu telah ada di Cincin Galaksi jadi dia tidak perlu membelinya lagi kecuali jika kehabisan stok.
Liu Chang berencana untuk membeli beberapa keperluan untuk Chiriyu yang akan naik ke Pendekar Menengah nanti, Liu Chang juga berharap kota ini memiliki cabang Asosiasi Pedang Muda agar bisa membeli sumber daya bagi peningkatan kekuatan Chiriyu dan mungkin untuk yang lainnya nanti.
“Hm, kenapa yang di sana ramai sekali?” Liu Chang mengerutkan dahinya ketika melihat kehebohan serta sorak-sorai penduduk di pusat Kota Kinabalu.
Setelah melihat lebih jelas apa yang terjadi, Liu Chang hanya bisa terkejut sekaligus terheran-heran.
Di depan Liu Chang saat ini, terdapat seorang manusia yang memiliki telinga runcing dan memiliki kulit berwarna hijau gelap yang sedang digantung di atas tiang eksekusi. Liu Chang sedikit mendengar suara sayup-sayup mengatakan bahwa manusia yang sedikit berbeda itu disebut sebagai Elf!
Liu Chang cukup mengetahui legenda tentang Elf namun melihatnya secara langsung adalah hal lain, selain itu biasanya bangsa Elf memang tidak suka berbaur dengan manusia apalagi sampai tertangkap seperti ini pasti menunjukkan ada sesuatu yang salah, pikirnya.
Liu Chang kemudian menanyakan pada orang-orang yang berkerumun di sampingnya, apa yang menyebabkan Elf tersebut bisa ditangkap dan digantung seperti itu.
Setelah sedikit berbincang-bincang dengan beberapa orang, Liu Chang hanya bisa terkejut bukan main karena alasan Elf tersebut akan dieksekusi hanya karena mencuri sepotong roti beberapa hari yang lalu.
“Sungguh ironi, rasa toleransi yang rendah sekali! Karena sepotong roti dia sampai di eksekusi ...” Liu Chang mengepalkan tangannya geram.
__ADS_1
Liu Chang berada di situasi sulit, untuk melakukan sesuatu yang berujung pada kekacauan di saat seperti ini butuh keberanian yang begitu besar apalagi terlihat tidak ada satu orang pun yang ingin menyelamatkan Elf itu.
Liu Chang ingin bergerak namun kedatangannya di kota ini baru beberapa jam yang lalu, jika dirinya sampai membuat masalah maka Salazar dan yang lainnya bisa saja terseret, pikir Liu Chang.
“Sepertinya tidak ada pilihan lain, masalah Salazar dan yang lainnnya nanti saja aku pikirkan ...” Liu Chang menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan cengkraman Elf tersebut dari panggung eksekusi.
Beberapa detik kemudian, sang algojo terlihat telah naik sambil membawa guillotine yang telah dipersiapkannya beberapa saat yang lalu.
Kepala sang Elf tersebut kemudian di simpan di tempat pemenggal yang telah disiapkan, sementara sang algojo menarik tali rantai perlahan sambil diikuti sorakan penduduk yang ingin cepat-cepat menyaksikan kepala Elf itu terpenggal.
Terlihat wajah pasrah dan lemah dari Elf tersebut, seolah memberi isyarat pada siapapun untuk menolongnya dari situasi ini namun sorakan penduduk kota selanjutnya semakin membuatnya ketakutan setengah mati.
“Ayo, cepatlah!! Dia memang pantas mendapatkan hal itu!”
“Hahahha, belah kepala Elf itu menjadi empat!”
Liu Chang semakin banyak mendengar sorakan-sorakan tidak berguna yang keluar dari penduduk kota, sementara itu rantai guillotine telah sampai ke atas dan siap untuk dilepaskan ke bawah pada kepala Elf.
Liu Chang bernapas perlahan sebelum kemudian melesat di saat yang bersamaan dengan dilepasnya rantai yang ditarik oleh sang algojo ke kepala Elf tersebut.
Beberapa detik kemudian, saat penduduk kota mengira akan melihat darah dari sang Elf dan kepalanya yang terpenggal, mereka malah menemukan hal sebaliknya dan tidak kalah mengerikan dari yang mereka pikirkan.
Terlihat Kepala sang algojo hancur dengan posisi tubuh yang masih berdiri tegak, bahkan di tangannya masih terdapat rantai yang sebelumnya telah dia lepaskan untuk memenggal kepala sang Elf.
Situasi menjadi hening sesaat setelah kejadian itu, tubuh sang Elf hilang bersamaan dengan seorang pemuda yang bertanya identitas sang Elf di sekitar panggung eksekusi beberapa saat yang lalu.
Pemuda tersebut tidak lain adalah Liu Chang, semua orang tidak ada yang curiga sedikitpun dengan perbuatannya yang menyebabkan semua ini.
__ADS_1
Cukup jauh dari panggung eksekusi, Liu Chang bersama sang Elf tengah melihat ke arah panggung tersebut yang cukup kacau karena kehilangan orang yang akan dieksekusi.
Di mata mereka terlihat beberapa orang sedang berupaya mencari sang Elf sambil membersihkan darah yang berceceran akibat kepala algojo yang hancur.
“Tuan, terima kasih telah menolong mahkluk yang hina ini. Jika aku boleh tahu, apa tujuan Tuan menolongku?” Elf tersebut masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya beberapa saat yang lalu, jadi dia cukup sopan dalam bertanya pada Liu Chang.
Liu Chang tersenyum tipis melihat tingkah polos Elf di depannya, tubuhnya memang terlihat lebih kecil dari manusia biasa namun Liu Chang yakin umurnya pasti tidak sekecil ukuran badannya.
“Tidak, senior, Jangan bersikap seperti itu. Junior hanya ingin menyelamatkan orang yang tidak mendapatkan keadilan saja. Kalau begitu mari pergi agar keselamatan senior bisa lebih terjaga.” Liu Chang tersenyum tipis sebelum memberi isyarat tangan menunjuk ke arah ujung gang yang terlihat sepi dari jalanan kota.
Elf tersebut menggelengkan kepalanya pelan sebelum mulai menceritakan tentang teman-temannya yang lain. Tujuannya datang ke kota ini dan mencuri makanan berupa sepotong roti bukanlah alasan yang main-main sebenarnya, dia memiliki tujuan khusus.
Liu Chang membawa Elf tersebut ke wilayah yang sedikit aman sebelum mulai mendengarkan ceritanya tentang bangsa Elf yang lain. Elf tersebut mengganguk pelan, tidak melawan ajakan Liu Chang yang berniat membawanya ke tempat yang lebih aman.
Setelah berada cukup jauh dari jalanan pusat Kota Kinabalu, Liu Chang menemukan sebuah rumah kosong yang tidak terpakai karena kondisinya cukup rapuh. Liu Chang kemudian memasuki rumah itu setelah melihat Elf tersebut sedikit kedinginan karena memiliki pakaian yang tipis dari kebanyakan orang.
“Pakailah ini, Senior. Sekarang tempat ini cukup aman, aku sudah membuat pelindung agar orang yang tidak dikehendaki tidak bisa memasuki rumah ini.” Liu Chang menyerahkan beberapa kain yang cukup tebal untuk selimut, kebetulan Cincin Galaksi memiliki kain-kain seperti in.
“Terima kasih, sepertinya kau adalah seorang pendekar jika menurut dari perkataanmu.” ucap sang Elf sambil mengambil selimut yang ditawarkan Liu Chang.
Liu Chang tersenyum tipis dan kemudian membersihkan lantai seadanya sambil membuat beberapa bangku sederhana untuk duduk dari kayu di samping rumah. Liu Chang memberikan bangku tersebut satu pada sang Elf dan untuk dirinya satu.
“Senior, Anda mengatakan sebelumnya akan menceritakan sesuatu tentang temanmu, mengenai apa itu?” Liu Chang bertanya demikian setelah api di perapian telah menyala sambil memanaskan teko berisi coklat dengan tangannya yang diselimuti oleh api hitam.
Elf tersebut sedikit terkejut dengan tindakan Liu Chang tetapi tidak mengutarakannya lebih jauh dan kembali terfokus pada pertanyaan Liu Chang tentang ceritanya.
“Ya, mungkin kau bisa membantu anak muda. Aku sepertinya bisa percaya padamu.” sang Elf tersenyum kecil.
__ADS_1