
— Saat ini di ruang tamu —
“Begitukah, mungkin karena senior Qian adalah anak walikota dan karena itu juga banyak pemuda yang ingin menikahimu.” Liu Chang tersenyum kecil, sejak tadi topik obrolannya dengan Andini, anak walikota Xin Long. Banyak yang menjurus ke arah perjodohan dan masalah cintanya.
“Hm, mungkin saja. Oh ya, Chang'er ini pendekar yang berasal dari mana?” tanya Xin Qian penasaran karena wajah Liu Chang yang asing dan berbeda dari penduduk Negara Werbei.
“Eh, Kekaisaran–” Liu Chang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba Xin Long muncul di tangga menuju lantai dua.
“Chang'er, ikutlah denganku. Aku ingin menunjukkan sesuatu!" ucap Xin Long, dia bergegas naik kembali setelah memastikan suaranya didengar.
Liu Chang mengikuti Xin Long yang berkata ingin menunjukkan sesuatu tanpa banyak bertanya. Liu Chang merasa Xin Long ingin memberitahunya sesuatu mengenai wabah Hun.
Tidak sampai satu menit Liu Chang berjalan, ia menemui pintu ruangan bertuliskan Xin Long. Liu Chang ikut memasukinya setelah Xin Long mengajaknya untuk masuk.
Xin Long membuka jendela ruang kerjanya, ia mengatakan bahwa sesuatu yang ingin ia tunjukkan ada di balik jendela ini.
“Chang'er, mendekatlah!!" Xin Long memanggil setelah melihat Liu Chang yang sejak mereka masuk tadi memutar bola matanya melihat ke seluruh sudut ruangan. Liu Chang mendekat tidak lama setelah Xin Long memanggil.
“Kau lihat itu? Itulah yang menyebabkan penduduk di sini terkena wabah bernama Hun. Kami menyebutnya seperti itu karena di pohonnya terdapat huruf kuno yang terbaca Hun.” Xin Long menunjuk pohon berwarna keperakan yang bersinar cukup terang menjelang malam seperti ini.
“Sebuah pohon?” Liu Chang mengangkat alisnya, dia tidak menduga bahwa sesuatu yang menyebabkan sebagian besar penduduk terkena wabah Hun adalah pohon.
Namun menurut Xin Long, pohon itu memiliki bentuk yang aneh dan batangnya sedikit berbeda dari pohon pada umumnya.
“Ya, pohon. Pohon itu tiba-tiba saja muncul saat kelompok bengis itu datang.” Ekspresi wajah Xin Long berubah menjadi buruk ketika membicarakan suatu hal terkait kelompok yang ia sebut bengis.
Tidak lama setelah mengatakan kelompok bengis secara samar, Xin Long segera melanjutkan penjelasannya tentang kelompok yang ia maksud.
Xin Long menjelaskan bahwa beberapa bulan yang lalu, kelompok bernama Hujan Darah datang dengan membawa pasukan berkuda yang berjumlah lima puluh orang.
Kelompok Hujan Darah mengatakan bahwa Kota Xian Qi akan menjadi daerah kekuasaan mereka, dan setiap bulannya Kota Xian Qi harus membayar upeti beberapa koin emas. Jika jumlah itu tidak tercapai maka para gadis dan anak-anak akan mereka tangkap untuk dijual sebagai budak.
__ADS_1
Saat mendengar hal itu, tentu penduduk Kota Xian Qi tidak hanya diam dan pasrah. Mereka melakukan perlawanan pada kelompok Hujan Darah namun hanya dalam beberapa menit penduduk yang melakukan perlawanan— berjumlah hampir 300 orang—itu berhasil dikalahkan.
Setelah kejadian itu, setiap bulan Kota Xian Qi harus membayar upeti berupa koin emas yang cukup memberatkan. Xin Long mengatakan bahwa saat itu ia sudah beberapa kali mengirim surat permintaan bantuan pada beberapa sekte di sekitar Kota Xian Qi.
Namun para pendekar yang datang untuk membantu kota Xian Qi pasti akan berakhir dengan tragis, entah tewas dengan kepala terpenggal atau ditebas beberapa bagian tubuhnya hingga keadaannya cacat.
Sejak menemui banyak kegagalan, akhirnya Xin Long menghentikan usahanya untuk meminta bantuan sekte karena khawatir rencananya akan diketahui kelompok Hujan Darah.
Sementara itu, Liu Chang sebenarnya cukup terkejut karena kembali mendengar kelompok Hujan Darah namun dia tidak enak hati untuk menyela ucapan Xin Long dan menunggunya hingga selesai berbicara.
“Itu artinya kelompok Hujan Darahlah yang menanam pohon itu?” Liu Chang menyimpulkan sesuatu setelah mendengar penjelasan Xin Long.
“Ya, aku yakin itu mereka. Penduduk kota ini satu per satu tewas akibat wabah Hun. Namun anehnya wabah ini tidak menular, mereka hanya menjangkiti satu korbannya hingga mati.
Alasan ditanamnya aku tidak tahu tetapi yang pasti pohon Hun itu seperti menyerap energi kehidupan dari tanah Kota Xian Qi.” Xin Long menghembuskan napas pelan setelah menjelaskan cukup lama. Banyak kejadian yang membuatnya harus berpikir keras akhir-akhir ini.
“Tanah kota menjadi terkontaminasi?” batin Liu Chang. ia terkejut Hujan Darah memiliki metode seperti ini untuk melakukan kejahatannya.
Namun dalam hal ini sesuatu yang membuat Liu Chang sangat geram adalah tindakan Hujan Darah yang selalu membuat kekacauan terhadap daerah yang mereka lewati.
Namun jika pengaruh Hujan Darah sejauh ini, Liu Chang merasa memang harus memusnahkan kelompok Hujan Darah secepatnya.
°°°°
— Di suatu tempat reruntuhan —
“B-bos, upeti dari Kota Xian Qi beberapa hari lagi akan siap. Apakah bos Zhixin akan datang ke kota itu lagi?” beberapa orang berpakaian serba hitam—bertanda bercak darah—berlutut dihadapan seorang pria berusia lima puluhan tahun.
“Ya, mungkin aku akan ke sana lagi. Anak walikota itu kudengar sangat cantik, dia bisa menjadi bahan 'permainanku' yang baru.” Pria bernama Zhixin itu tersenyum licik, salah satu hobinya adalah 'bermain' dengan para gadis, apalagi gadis seperti Xin Qian yang memiliki paras cantik sangat jarang ia temui.
“Pergilah, siapkan beberapa kuda tercepat untuk menuju ke sana!!” Zhixin mengibaskan tangannya untuk mengusir anak buahnya.
__ADS_1
Dalam kelompok Hujan Darah, Zhixin memiliki wewenang sebagai ketua untuk memimpin pendekar berjumlah lima puluh orang. Selain itu, ada desas-desus yang mengatakan bahwa Zhixin berada di bawah perintah langsung dari Elang Perak Hujan Darah.
Selain menjajah beberapa kota, Zhixin juga diberi tugas Elang Perak untuk menanam sebuah pohon yang dikenal sebagai pohon Iblis.
Namun demikian, dalam menjalankan perintah Elang Perak, Zhixin bahkan tidak mengetahui alasannya diberi perintah untuk menanam pohon itu. Ia menjalankan tugasnya seperti biasa dan sisanya waktunya ia habiskan untuk menghibur dirinya dengan kenikmatan dunia.
°°°°
— Ruang kerja Xin Long —
“Aku pikir kita harus menebangnya, senior. Sementara Zhixin itu ... senior Long bisa mempercayakan padaku. Aku yakin kemampuanku cukup untuk menandinginya.” Liu Chang akhirnya memutuskan sesuatu setelah berdiskusi cukup lama dengan Xin Long.
“Kapan kau akan melakukannya? Penduduk yang sudah putus asa tidak akan membiarkanmu, Chang'er.” Xin Long mengetahui sendiri beberapa orang yang tidak senang dengan keputusannya dahulu untuk menebang pohon itu. Karena itu sampai saat ini ia tidak pernah melakukannya.
“Kupikir tengah malam akan bagus, dan saat itu aku yakin beberapa orang dari kelompok mereka akan menghalangiku melakukannya.” Liu Chang berencana untuk menebang pohon Hun saat waktu telah malam agar para penduduk atau mata-mata kelompok Hujan Darah tidak mengetahui hal sebenarnya yang terjadi.
Biarpun di sisi lain Liu Chang cukup yakin bahwa pendekar aliran hitam lebih banyak bergerak saat malam hari.
Beberapa jam setelah perbincangan itu, tengah malam tiba. Liu Chang yang tidak tidur karena sedang bermeditasi tiba-tiba bangun dari meditasinya sebab merasakan keberadaan aura pembunuh yang terasa pekat di sekitar rumah walikota Xin Long.
Liu Chang bergegas menuju naik ke atap rumah untuk melihat siapa yang berani memasuki rumah ini. Saat itu terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam sedang melakukan penyusupan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Sebenarnya mereka sudah menyembunyikan aura pembunuhnya sebaik mungkin namun insting Liu Chang yang tajam tidak akan lolos dari trik murahan semacam itu.
“Mereka cukup lucu.” Liu Chang tertawa kecil melihat gerakan ilmu meringankan tubuh para pembunuh yang kaku.
Liu Chang terbang dengan kecepatan tinggi, dalam sekali serangan pembunuh berjumlah lima orang itu tewas dengan kepala terpenggal.
Setelah membersihkan semua mata-mata dari kediaman Xin Long, Liu Chang bergerak kembali ke arah pohon Hun untuk menebangnya seperti rencana awal saat berdiskusi dengan Xin Long siang tadi.
••••
__ADS_1
“Menanam pohon sebenarnya bagus namun jika tujuan menanamnya memberikan kesulitan bagi orang lain, maka tebanglah!!” Liu Chang.
To be continued ....