Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 47 – Dong Enlai Vs Liu Chang.


__ADS_3

Liu Chang menggelengkan kepalanya, ia berpikir orang dihadapannya ini mungkin sudah gila karena memperkenalkan diri dengan berteriak, seperti bukan manusia saja.


Sekarang giliran pria bernama Dong Enlai itu yang menggelengkan kepalanya, ia melihat Liu Chang dengan tatapan iba karena tidak mengetahui identitasnya yang begitu terkenal.


"Kau tidak tahu, Dong Enlai ... si Elang Merah dari kelompok Hujan Darah, jenderal terkuat di kelompoknya." ia kembali menyombongkan dirinya, tetapi kali ini Liu Chang tidak mendengar tawa khasnya itu.


Setelah mengetahui kebenarannya, Liu Chang benar-benar geram dengan sifat Dong Enlai terkait perbudakannya pada para gadis.


"Jadi kau adalah Dong Enlai, yang membantai beberapa desa dan kota hanya untuk mengambil gadis-gadisnya lalu menjadikan mereka budak, benar?!"


Dong Enlai tersenyum puas dengan perkataan Liu Chang, ia kembali tertawa dengan tawa khasnya itu.


"Kau benar, itu aku. Ternyata aku cukup terkenal, kehhehehhe." Dong Enlai kembali tertawa.


Tepat setelah pria tua itu menggemakan kembali tawa khasnya, Liu Chang mengeluarkan Pedang Dewa Petir dari Cincin Galaksi secepat yang ia bisa dan menyerang pria yang merupakan dalang perbudakan itu.


"Sialan, orang sepertimu ini ... harus benar-benar dibantai!!" Liu Chang menggeretakkan giginya, dirinya benar-benar geram dengan sifat tidak tahu malu dari Dong Enlai.


Menurut informasi yang Liu Chang dapat dari Patriark Niu, kemampuan Dong Enlai berada pada tingkat pendekar sakti tahap kemutlakan, Liu Chang yang terbawa amarah tentu tidak menyadari hal itu, ia meneruskan tekadnya dan menyerang dengan brutal tanpa peduli orang dihadapannya lebih kuat.


"Kau terlalu percaya diri, menyerang secara brutal hanya bermodalkan pedang ini!!" Dong Enlai menahan serangan Liu Chang dengan santai, tajamnya Pedang Dewa Petir tak sedikit pun melukai tangan Dong Enlai.


Liu Chang terkejut, ia menduga orang dihadapannya ini mempunyai ilmu pedang tingkat emas atau lebih tinggi lagi, menahan pedang dewa petir dengan mudah memang bukan hal yang sulit bagi pendekar sakti, tetapi menahannya tanpa terluka adalah hal lain.


"Kau terkejut, bagaimana jika kita bermain-main sedikit?!" Dong Enlai tersenyum kecil, raut wajahnya kali ini seperti orang kegirangan.


Sedetik kemudian, Dong Enlai telah berada di belakang Liu Chang, ia membuat Pedang dari tenaga dalam dan mengarahkannya pada leher Liu Chang. Namun akhirnya serangan itu bisa dihindari oleh Liu Chang dengan cepat.


Liu Chang mulai kebingungan dengan gerakan Dong Enlai, setiap detiknya gerakan Dong Enlai berpindah-pindah ke sana kemari dan terus seperti itu hingga menimbulkan efek ilusi bagi Liu Chang, sampai ia tidak menyadari bahwa wilayah mereka bertarung saat ini begitu dekat dengan jurang di sisi kanan hutan.


"APAA?? Sialan!!"


Liu Chang hampir saja terjatuh ke dalam jurang di sisi kanannya, untungnya ia sedera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan langsung kembali melesat ke atas.


"Berhati-hatilah, Dasarnya begitu dalam. Kehhehehhe." Dong Enlai menertawakan Liu Chang yang hampir terjatuh, serangan-serangan yang ia lancarkan begitu menyusahakan untuk ditangkis oleh Liu Chang dengan Pedang Dewa Petirnya.


Dong Enlai mulai menyerang lebih brutal lagi dengan mengeluarkan pedang pusaka miliknya, kali ini ia tidak mengeluarkan kembali pedang energi seperti tadi.

__ADS_1


Pedang yang dikeluarkan Dong Enlai terlihat begitu mencolok karena ukurannya setara dengan ukuran tubuhnya dan terlihat begitu berat. Namun saat diayunkan olehnya begitu ringan dan gerakannya begitu cepat.


"Aku pikir kau cukup kuat...," Dong Enlai menyeringai. "Jika hanya begini, mati saja kau!!"


"Badai Gunung Darah!!"


Selepas merapalkan jurusnya itu, sekejap kemudian beberapa serangan secara beruntun menyerang Liu Chang dari segala arah.


"Jurus pertama, Tebasan keheningan!!!"


Liu Chang membalas jurus pedang Dong Enlai dengan Ilmu Pedang Sutra. Balasan itu cukup berhasil mematahkan beberapa serangan tetapi sebagian lainnya dengan cepat menusuk pada kaki dan bahu Liu Chang.


"Kau coba yang ini, Syair dari Kematian!!"


Dong Enlai kembali merapalkan jurusnya, syair dari kematian yang dikeluarkannya berbunyi seperti suara alunan seruling yang menyayat hati, bahkan efeknya sampai ke anak buahnya yang berada sekitar satu kilometer dari tempat ia bertarung.


Liu Chang mulai merasakan kesakitan disekitar telinganya setelah mendengar alunan seruling itu, suara itu seperti ilusi yang mengingatkan betapa ngerinya Alam Kematian.


"Jurus ketiga, Kesulitan tiada akhir!!"


"Ahhh ... sialan!!" Liu Chang mengerang kesakitan karena telinganya terasa seperti pecah, tetapi ia masih sempat merapalkan jurus untuk menahan serangan Dong Enlai.


Liu Chang berdecak kesal, ia menyadari kemampuannya berada jauh di bawah Dong Enlai yang merupakan pendekar sakti. Namun ia menyadari saat ini semuanya sudah terlambat, bajunya compang-camping dan beberapa bagian tubuhnya sudah terluka.


Liu Chang meneruskan pertarungannya, meskipun hasil akhirnya tidak ia ketahui. Karena menurutnya jika mati pun, ia akan bangga karena membela kebenaran.


Tidak berhenti sampai di sana, Dong Enlai kembali mengeluarkan jurus pedangnya dan menyerang Liu Chang lebih cepat dari pergerakannya yang tadi.


Jantung Liu Chang berdetak lebih cepat, hampir saja pedang pusaka itu menebas lehernya. Namun bukan leher Liu Chang yang diincar Dong Enlai, berkat perhatian Liu Chang teralihkan ia langsung memegang kaki Liu Chang dan membantingnya ke tanah dengan cepat.


"Matilah!!" Bugh.


Liu Chang terbenam ke tanah sedalam tiga meter, begitu kuatnya lemparan Dong Enlai sehingga menyebabkannya terbenam sedalam itu dengan tanah disekitarnya mengalami retakan cukup besar.


"Hah ... tidak semudah itu!!" Liu Chang mencoba berdiri.


Namun kejadian selanjutnya mengejutkan dirinya, tanah yang ia pijak nyatanya tidak kuat menahan hentakan tenaga dalamnya saat menggunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga tanah itu retak lebih besar dan menyebabkan Liu Chang terperosok ke dalam jurang.

__ADS_1


"Sialan ... hampir saja, berbahaya sekali jika terjatuh." Liu Chang memegang tanah keras sekepalan tangan untuk bertahan agar tidak terjatuh, ketika melihat ke bawah ia bergidik ngeri karena melihat jurang itu tidak terlihat dasarnya.


Dong Enlai yang melihat hal itu segera membuat energi dari tenaga dalam berbentuk seperti bola-bola, sedetik kemudian bola-bola cahaya itu merangsek masuk ke dalam retakan tanah.


Liu Chang yang masih melihat ke bawah jurang tidak menyadari datangnya bola-bola cahaya itu, dengan cepat bola-bola itu menyerangnya dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam jurang.


Liu Chang mencoba bertahan, ia menancapkan Pedang Dewa Petir pada tanah di hadapannya. Namun bola-bola itu terus-menerus mendorong hingga ia terperosok lebih dalam.


"Masih belum menyerah rupanya, terima ini." Dong Enlai mengeluarkan satu bola cahaya yang lebih besar, terlihat warna kemerahan pekat menghiasinya.


Anak buahnya yang sejak tadi hanya memperhatikan segera mendekat karena menyadari tindakan Dong Enlai telah salah, "Ketua Elang Merah! Tunggu." Para anak buahnya terus berlarian mendekat.


Namun si pria tua itu tidak mempedulikannya dan melemparkan serangan bola itu pada Liu Chang, dan akhirnya membuat Liu Chang terjatuh ke dalam jurang.


"Sialan ... inilah kematianku." Liu Chang memejamkan matanya, sejauh yang terlihat jurang ini bahkan tidak terlihat memiliki dasar, yang bisa ia lakukan saat ini hanya pasrah.


Saat para anak buahnya telah sampai Dong Enlai baru menyadari kesalahannya, menjalankan tugas yang diberikan padanya oleh pimpinan tertinggi kelompok Hujan Darah.


"Kenapa kalian tidak bicara dari tadi?! Bodoh sekali!!" Dong Enlai mendengus kesal.


"Kami lupa memberitahukan hal itu pada ketua, maafkan kami."


Anak buahnya serempak berlutut meminta maaf, melihat hal itu ia segera memakluminya. Dong Enlai menghela napas panjang sebelum berbicara kembali. Sambil mengelus dagunya, ia menghembuskan napas pelan berusaha memikirkan solusi.


"Laporkan pada pimpinan tertinggi, aku telah membunuhnya dan membuatnya jatuh ke dalam jurang tak berdasar di perbatasan Negara Dorrego dan Negara TakChi!!"


"Baik ketua."


•••


Berikan tanggapan kalian, beri kritik dan saran untuk kepenulisan saya. Mungkin saja beberapa orang diantara pembaca merupakan author atau guru bahasa Indonesia, siapa tahu saja.


Sekedar informasi novel :


°°° \= perpindahan alur.


- N - \= perpindahan tempat/ lokasi.

__ADS_1


Terima kasih.


Ibnu R.


__ADS_2