
Liu Chang menahan napasnya setiap kali melihat hal mengejutkan, saat melihat artefak lain selain guci buah tadi Liu Chang banyak menemukan sesuatu yang cukup asing sekaligus tabu.
Sementara Chiriyu terus berlari dari satu sudut ke sudut ruangan lain. Dia terlihat antusias ketika menemukan banyak barang menarik yang dilihatnya. Menurutnya semua ini sulit ditemukan di Lembah Liko.
Saat Liu Chang sedang melihat satu artefak, Chiriyu tiba-tiba memanggilnya dari arah yang tidak diketahui. Liu Chang mencari ke sekelilingnya namun tidak dapat menemukan keberadaan Chiriyu.
“Chiriyu, jangan bercanda di waktu seperti ini! Waktu kita sangat berharga!” Liu Chang kembali melihat ke sekelilingnya untuk menemukan Chiriyu.
“Kakak, kemarilah!! Di bawah sini!" Chiriyu tiba-tiba muncul dari dalam tanah, ia sepertinya menemukan ruangan lain yang tidak kalah penting. Liu Chang segera bergegas dan ikut memasukinya setelah mengetahui hal itu.
Jarak kedua ruangan dipisahkan puluhan anak tangga seperti saat Liu Chang masuk ke ruangan sebelumnya. Kali ini Liu Chang menuruni anak tangga yang cukup dingin, berbeda dari saat dia menuruni anak tangga menuju ruangan pertama.
Chiriyu terlihat antusias ternyata tidak memiliki niat main-main, dia menemukan lebih banyak artefak kuno lainnya di bawah sini. Tujuannya berlarian ke sana kemari tadi karena menemukan hawa dingin yang terpancar dari tanah di bawahnya.
“Kakak, lihatlah guci dan batu-batu ini ... sangat penting, bukan?” Chiriyu menunjuk batu dan guci di sekelilingnya yang berjejer rapi mengelilingi ruangan ini hingga penuh.
Liu Chang menyentuh batu-batu itu, menurutnya ini bukanlah batu biasa. Sebab terdapat tulisan yang menghiasinya, lebih tepatnya seperti sebuah prasasti yang ingin menceritakan sesuatu.
Liu Chang membersihkan debu-debu yang berada di atasnya, membaca huruf kuno cukup sulit jika saat membacanya ada sesuatu yang menghalangi. Beruntung bagi Liu Chang, dia menemukan huruf-huruf di batu prasasti ini memiliki kesamaan huruf dengan artefak di ruangan pertama.
“Chiriyu, berhenti berlarian. Aku butuh bantuanmu!” Liu Chang berusaha menyatukan pesan-pesan yang tersirat di batu prasasti ini dan prasasti lainnya, karena itu ia butuh bantuan seseorang untuk menulisnya.
Chiriyu duduk di dekat Liu Chang tidak lama setelah melihat raut wajah Liu Chang yang cukup serius.
“Baiklah kita mulai.” Chiriyu telah memegang bulu tinta di tangannya, bersiap untuk menuliskan apa yang akan dikatakan Liu Chang.
__ADS_1
“Baiklah tulis ini, (tabir itu menuntunku masuk ke dalam lebih jauh, seperti menyiratkan apa yang ada di sana harus ditemukan di oleh seseorang) sudah selesai?” Liu Chang melihat Chiriyu yang masih menulis, dia menunggunya hingga selesai.
Beberapa detik kemudian, tulisan di prasasti pertama cocok dengan apa yang disebutkan Liu Chang, Chiriyu menulis sesuai dengan huruf zaman sekarang seperti yang sudah Liu Chang ajarkan.
“Kita lanjutkan ....” Liu Chang beralih ke prasasti selanjutnya, terdapat puluhan batu prasasti yang terkumpul di sini. Sebab itu penerjemahannya akan selesai dalam waktu lama.
°°°°
Waktu telah kembali menjadi pagi saat Liu Chang sibuk dengan artefak-artefak kuno di bawah pohon Hun. Di sisi lain, penduduk kota Xian Qi kembali menghadapi masalah besar seperti bulan-bulan sebelumnya.
Mereka kedatangan tamu yang tidak diinginkan keberadaannya yaitu kelompok Hujan Darah. Kelompok ini selalu datang tepat seperti bulan sebelumnya, tidak pernah telat sedikit pun untuk melakukan kejahatannya.
Zhixin berdiri di hadapan para penduduk yang sudah berbaris menyambut kedatangannya, penduduk yang lama berada dalam ketakutan turut menyeganinya meskipun di sisi lain mereka enggan melakukannya.
Di lain tempat, saat Xin Long mengetahui kedatangan Zhixin ke kota ini, ia langsung memerintahkan Xin Qian untuk mencari Liu Chang dan meminta pertolongannya. Xin Qian cukup lama berada dalam dilema sebelum akhirnya ia pergi dengan do'a dalam hatinya agar keselamatan selalu menyertai ayahnya.
Luas kota yang tidak seberapa, tidak lama membuat Xin Long datang di hadapan Zhixin yang sudah memegang pedang di pinggangnya. Zhixin sudah siap menebas seseorang untuk melampiaskan kekesalannya jika Xin Long tidak juga datang dalam waktu sepuluh menit.
Sejak tadi Zhixin menunggu datangnya upeti sambil mengurut janggut panjangnya dengan sabar. Jika saja Xin Long memilih bersembunyi mungkin populasi penduduk kota Xian Qi akan ia bantai tanpa tersisa sedikit pun.
“Tuan Zhixin, ini hasil yang kami dapatkan selama sebulan.” Xin Long dengan tangan gemetar menyerahkan kantong koin emas— yang telah dikumpulkannya—bulan ini dari pajak penduduk.
Beberapa bulan terakhir ini, Xin Long terpaksa memotong gaji para pegawainya sendiri karena tidak tega menaikkan pajak untuk penduduk yang sudah cukup besar.
“Kau bekerja cukup baik namun kali ini tujuanku tidak hanya ini.” Zhixin tersenyum penuh makna, sejak awal tujuannya datang ke kota ini tidak hanya untuk mengambil upeti tiap bulan.
__ADS_1
“Tu–Tuan Zhixin, apa lagi yang harus kami berikan?” Xin Long bertanya hati-hati.
Zhixin kembali tersenyum penuh makna, bicaranya tidak terlalu banyak namun saat keluar hal itu akan mengejutkan seseorang yang mendengarnya.
“Budak! Akan kuambil kembali gadis-gadis kota ini untuk kujadikan budak!” ucapan Zhixin seolah menembus hati masing-masing orang tua yang memiliki gadis di rumahnya. Mereka khawatir Zhixin tidak juga puas dengan budak yang selama ini telah ia bawa.
“Kenapa kalian diam saja, aku hanya meminta anak gadis kalian ... jika tak ada yang bergerak, biar aku yang bergerak ...
Yuan, bawa dua puluh orang untuk berkeliling ke rumah-rumah yang memiliki gadis, temukan dan bawa walaupun mereka menangis saat ditangkap!” Zhixin melirik tangan kanannya, memerintahkan sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh para orang tua di hatinya masing-masing.
Yuan, tangan kanan Zhixin langsung bergerak tanpa aba-aba lebih lanjut. Dengan kuda-kuda cepatnya Hujan Darah selalu menyelesaikan tugas yang diperintahkan dengan cepat.
Salah satu pria menyerang Zhixin diam-diam, sepertinya kemarahannya sudah sangat memuncak melihat Zhixin yang semena-mena terhadap Kota Xian Qi.
Dengan kemampuan yang tidak seberapa pedang yang diarahkan pria tersebut berhasil ditangkap Zhixin dengan satu jari. Baginya untuk menghadapi kemarahan manusia biasa, tidak harus mengeluarkan banyak usaha yang tidak perlu.
“Apa ada lagi?! Kepala kalian akan bernasib seperti dirinya jika berani melawanku!!” Zhixin melempar kepala pria yang baru saja menyerangnya. Dia memperingatkan bahwa ancamannya tidak main-main kali ini.
Semua penduduk yang melihat tewasnya pemuda itu terdiam, begitu pun dengan Xin Long. Identitasnya sebagai walikota tidak berarti apa-apa kali ini.
••••
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan.
To be continued ...
__ADS_1