Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
CH. 7 – Tingkatan Pedang.


__ADS_3

Liu Chang terdiam sejenak setelah menelan beberapa gigitan. Liu Chang menduga efeknya akan sama atau paling tidak lebih baik dari Buah Darah Siluman, maka dari itu ia mencoba tanaman Cabai Stun langsung tanpa banyak bertanya.


“Ini–” Napas Liu Chang tertahan, ia mulai merasakan efek Cabai Stun yaitu rasa pedas yang sangat kental hadir tenggorokannya. Liu Chang tidak menduga efek Cabai Stun yang baru saja ditelannya akan separah ini, ia mulai menyesali keputusannya menelan beberapa gigitan langsung.


Setelah beberapa detik, Liu Chang merasakan kesakitan itu sampai ke bagian tubuh lainnya, ia meronta di tanah dan berguling-guling ke sana kemari. Suhu tubuh Liu Chang naik dengan cepat yang menimbulkan efek samping seperti demam.


“Bagaimana mungkin Cabai seperti ini disebut bisa meningkatkan kualitas tulang ....” batin Liu Chang menyesali keputusannya.


Selama lima belas menit selanjutnya Liu Chang terus meronta sambil mencari-cari sesuatu untuk meredakan rasa panas di tubuhnya. Namun semua usaha yang ia lakukan tetap tidak bisa meredakan tanaman berbentuk cabai tersebut.


Setelah hampir setengah jam meronta dan merasakan rasa sakit yang amat perih, Liu Chang akhirnya berhenti dan terbaring lemas di atas rumput.


“Huh ... Ugh, itu tadi keputusan yang bodoh!” gerutu Liu Chang ketika merasakan tubuhnya lebih baik.


Tidak jauh dari tempat Liu Chang, terlihat Feng San sedang membaca bukunya dengan tenang. Bahkan saat Liu Chang meronta-ronta kesakitan pun, dia tetap tidak bergerak dari tempatnya.


Melihat Liu Chang sampai saat ini masih terlihat kesakitan, akhirnya Feng San melemparkan sebuah guci berisi air untuk membantu meredakan rasa sakitnya.


Liu Chang yang masih berbaring segera menangkapnya dengan ceoat. Setelah beberapa saat ia memperhatikan guci itu tidak memiliki keanehan, Liu Chang membuka penutupnya dan langsung meminum airnya.


“Huh ... Huh, ini lebih baik. Terima kasih, Guru.” Liu Chang berdiri dan memberi hormat.


Dengan memakan beberapa gigitan cabai tersebut, Liu Chang akhirnya berhasil menaikkan kualitas tulangnya sampai ke Tulang Serigala Perak hanya dalam waktu setengah jam!


Selepas beristirahat selama beberapa menit lagi, Liu Chang lalu menghampiri Feng San untuk menanyakan hal selanjutnya yang harus ia lakukan. Seharusnya Guru mempunyai rencana untuk melatih kemampuanku yang lain selain kualitas tulang, pikir Liu Chang.

__ADS_1


Feng San menutup bukunya sebelum mulai berbicara, “Mempelajari ilmu pedang dan cara mengendalikan qi lalu memanfaatkan kemampuanmu untuk melakukan kebaikan.” Setelah berkata demikian, Feng San mengelus kepala Liu Chang.


Feng San lalu masuk ke dalam gubuk untuk mengambil sesuatu setelah sebelumnya menyuruh Liu Chang untuk melatih fisiknya dengan lari seperti biasa.


“Mungkin Chang'er kuajarkan ilmu pedang saja. Sepertinya tubuhnya cukup cocok menerima ilmu pedangku ...” Feng San memegang dagunya sambil meraih satu kitab di rak.


°°°°°


Liu Chang kembali ke gubuk Feng San setelah berlari selama beberapa jam. Selepas memakan Cabai Stun itu, Liu Chang bisa merasakan staminanya lebih kuat dari sebelumnya dan hal itu membuat Liu Chang berlari tanpa henti hingga kembali ke gubuk ini.


“Kau kembali lebih cepat dari sebelumnya. Untuk sekarang aku akan menjelaskan sesuatu mengenai pedang. Duduklah!!” Feng San tersenyum lembut sebelum duduk di kursi yang biasa ia pakai.


Liu Chang duduk dan bersila seperti biasanya, sejak beberapa bulan yang lalu yang lalu ia akan mendengarkan penjelasan Feng San seperti ini saat akan mempelajari sesuatu.


Feng San kemudian menjelaskan bahwa bela diri kekuatan bela diri seseorang tidak hanya dilihat berdasarkan kualitas tulang. Ada beberapa faktor lain yang bisa memberikan kemenangan pada seorang pendekar ketika bertarung.


“Karena gurumu sangat menguasai ilmu pedang. Mulai saat ini kau akan mempelajari pedang dalam pengawasanku.” Feng San menjelaskan.


Pada umumnya, sebelum mulai mempelajari ilmu pedang yang sesungguhnya, biasanya para pendekar akan mempelajari tingkatan ilmu pedang terlebih dahulu agar mengetahui berbagai ketentuan saat mempelajarinya.


Feng San lalu menjelaskan bahwa dalam beberapa kitab catatan bela diri, tingkatan ilmu pedang terbagi menjadi beberapa kategori yaitu Pedang Tanah, Pedang Kayu, Pedang Besi, Pedang Emas, Pedang Berlian, Dan yang terkuat adalah Dewa Pedang.


Di tahap pertama, ketika seseorang yang baru saja mengenal ilmu pedang dan hanya menguasai satu jurus disebut Pedang Tanah. Dengan kata lain di tahap Pedang Tanah, seorang pendekar akan lebih mudah dikalahkan saat berada dalam pertarungan antar pendekar pedang seolah memiliki pedang berbahan tanah.


Kemudian di tahap kedua, ketika seorang pendekar berhasil menguasai sepenuhnya jurus yang dia hapalkan dan memberi sedikit variasi gerakan untuk menambah keragamannya, tahap ini disebut Pedang Kayu.

__ADS_1


Selanjutnya di tahap ketiga, ketika seorang pendekar berhasil menyatu dengan pedangnya seumpama pedang tersebut adalah bagian tubuhnya sendiri, tahap ini disebut Pedang Kayu.


Lalu pada tahap keempat, ketika seorang pendekar berhasil menciptakan jurus pedang yang setara dengan ilmu pendekar pedang tahap kayu, tahap ini disebut Pedang Emas. Yang berarti juga, di tahap ini kemampuan seorang pendekar begitu berharga layaknya emas.


Pada tahap kelima, ketika seorang pendekar memiliki pemahaman yang sangat tinggi terhadap ilmu pedangnya dan berhasil menciptakan variasi jurus yang setara dengan ilmu pendekar pedang tahap besi, tahap ini disebut Pedang Berlian.


Lalu terakhir ketika seorang pendekar berhasil menguasai lebih dari seratus jurus dan berhasil ia kuasai dengan sempurna hingga bisa mengubah sehelai daun atau pun kertas menjadi pedang tajam, tahap ini disebut dengan Dewa Pedang.


“Menurut Kitab Dewa Naga yang ada di tanganku seperti itulah tingkatan pedang yang ada saat ini. Untuk pengetahuanmu kitab ini ditulis oleh Dewa Naga Ke-VI yang hidup seratus ribu tahun yang lalu. Rohnya saat ini ada di Alam Para Dewa, kau memiliki pertanyaan?” Feng San tersenyum tipis sebelum menutup kitab di tangannya.


Sementara itu Liu Chang mengganguk pelan setelah mendengar semua tingkatan dan juga berbagai ketentuannya.


“Aku mengerti, Guru. aku akan mengikuti kemauanmu. Lalu apa hal selanjutnya yang harus dilakukan untuk mempelajari ilmu pedang, Guru?” Liu Chang mengangkat alisnya.


Feng San tersenyum tipis sebelum mulai menjawab, “Pertanyaan ini yang sejak tadi kutunggu. Ikuti aku, kau pasti akan terheran-heran saat melihatnya!!”


Keduanya lalu berjalan ke arah pemukiman penduduk suku Langit. Liu Chang sejak tadi hanya bisa menahan rasa penasarannya, sebelum benar-benar melihat apa yang akan diperlihatkan Feng San padanya.


“Kau pasti akan terheran-heran ... apa mungkin sesuatu yang mengerikan ....” batin Liu Chang sambil terus mengikuti langkah Feng San yang semakin jauh dari gubuknya.


Setelah berjalan beberapa menit, pasangan guru dan murid itu sampai di sebuah padang rumput yang dikelilingi pepohonan.


Terlihat pepohonan yang tumbuh di tempat ini sangat berbeda dari yang biasa Liu Chang lihat.


Di tempat ini pohon-pohon tumbuh dengan ukuran yang tidak masuk akal seperti salah satu pohon di depan Liu Chang yang memiliki tinggi 40 meter dan berdiameter sekitar 7 meter.

__ADS_1


“Pohon? Ini yang akan membuatku terheran-heran?” gumam Liu Chang pelan.


“Tentu saja bukan pepohonan ini, tetapi sesuatu di dalamnya.”


__ADS_2