
"Ya, benar. Salah satu kemampuan lintah adalah menyembuhkan." Jing Quo menjawab santai, siang ini ia kembali membawa satu guci arak di tangannya. Sepertinya masalah kelamnya yang banyak terlintas setara dengan jumlah mabuknya.
Liu Chang berpikir sejenak, itu artinya kemampuan siluman Lintah akan sangat berguna bagi dirinya di masa mendatang, apalagi ketika mulai berkelana di dunia persilatan lagi.
°°°°
Keesokan harinya, Liu Chang melakukan pemanasan seperti biasanya. Karena hari di mana siluman Lintah melahirkan anaknya masih cukup lama, Liu Chang ingin sedikit meningkatkan kekuatannya sebelum waktu itu tiba, sehingga ketika saatnya menjaga sarang siluman Lintah ia sudah benar-benar siap menghadapi para penggagunya.
Beberapa waktu setelah Liu Chang selesai, ia menghampiri Jing Quo untuk menanyakan saran Jing Quo mengenai latihan apa yang sebaiknya dilakukan olehnya selanjutnya.
"Karena potensi inti ungu telah terbuka dan kau juga telah memiliki tubuh racun. Langsung memasuki tahap Pendekar Sakti saat ini pun tidak masalah." Jing Quo menjelaskan bahw tingkat Pendekar Menengah Liu Chang telah mencapai puncak, karena itu latihan sekeras apapun tidak akan berpengaruh pada kekuatannya.
Liu Chang keluar dari gubuk dengan tertunduk lesu. Ia sebenarnya ingin memasuki tingkat Pendekar Sakti namun yang menjadi masalahnya Jing Quo tidak memberitahukannya sedikit pun bagaimana cara memasuki.
"Senior bilang harus mencari jawabannya sendiri, ini cukup sulit." Liu Chang menggaruk kepalanya, sepertinya untuk menemukan caranya sendiri ia harus bermeditasi.
Liu Chang berlari ke tengah hutan cukup jauh, bermeditasi di dekat gubuk Jing Quo memang aman namun aktivitas berkebun Jing Quo yang menggunakan qi membuat suasana jadi cukup berisik.
Tepat di tengah-tengah hutan sebelah kanan Lembah Liko, Liu Chang menemukan sebuah batu yang cukup besar dan terlihat tidak ada tanda-tanda siluman disekitarnya yang bisa menggangu meditasi.
"Baiklah sepertinya di sini akan aman." Liu Chang mulai mengambil posisi meditasi, memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk memasuki tingkat Pendekar Sakti Tahap Kesucian.
Dalam beberapa jam waktu telah terlewati, dan hari sudah menunjukan siang. Selain itu karena qi miliknya masih terlalu lemah, sering kali Liu Chang masih merasakan lapar seperti manusia biasa.
Beberapa saat sebelum Liu Chang mengakhiri meditasinya, sebuah pikiran muncul dan memberi tahu caranya naik ke tingkat Pendekar Sakti.
"Ternyata seperti itu caranya, mengapa aku tidak menyadarinya dari tadi!" Liu Chang tersenyum puas, perut yang sedang berbunyi memang cukup efektif untuk berpikir lebih tajam dan juga cepat.
Berdasarkan pencerahannya itu, cara pertama untuk naik ke tingkat Pendekar Sakti adalah mencari buah persik yang berwarna keperakan, menurut petunjuk itu ia harus memakannya agar qi yang berada dalam Dantiannya naik menjadi qi Dewa.
Lalu cara lainnya adalah menelan hati siluman berumur ribuan tahun, setelah itu menyerap khasiatnya hingga beberapa jam kemudian melakukan pembersihan otot dan organ dalam setelah menelannya.
Sebenarnya Liu Chang tidak yakin bisa menemukan buah persik berwarna keperakan namun mengingat cara kedua lebih sulit akhirnya Liu Chang lebih memilih cara yang pertama.
__ADS_1
Liu Chang kemudian berlari menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh ke seluruh hutan, mencoba mencari apa yang disebut buah persik berwarna keperakan.
Beberapa menit setelah berkeliling ia melihat seekor Siluman Rakun dari arah jam dua belas sedang mengincar mangsanya yang seekor Siluman Ular.
Namun dalam pengelihatan Liu Chang Siluman Rakun tersebut memiliki bagian tubuh yang cukup aneh, sebuah benjolan sebesar telapak tangan orang dewasa terlihat sedikit terbenam pada bagian punggungnya.
Liu Chang cukup yakin bahwa itulah yang dimaksud buah persik berwarna keperakan, karena bentuknya cukup mirip dengan buah persik.
Liu Chang bergerak lebih mendekat untuk melihat lebih jelas, sambil menunggu gilirannya tiba Liu Chang melihat pertarungan dua siluman berumur kurang dari seratus tahun itu.
Pertarungan dua siluman itu cukup merusak hutan disekitarnya hingga mencapai radius puluhan meter, setelah beberapa jam bertarung akhirnya salah satu siluman berhasil dikalahkan oleh yang lainnya.
Terlihat Siluman Ular berhasil dibunuh oleh Siluman Rakun, Liu Chang yang melihat pertarungan itu telah selesai maju lebih mendekat untuk membunuh Siluman Rakun yang telah lemah.
"Kau cukup besar kepala, tetapi maaf saja aku harus membunuhmu untuk mendapatkan buah persik itu!!" Liu Chang melompat ke atas Siluman Rakun, dalam beberapa gerakan ia langsung memberikan tebasan ke arah leher serta punggung siluman itu.
"Jurus ketiga, kesulitan tiada akhir!!"
"Jurus kelima, takdir kabut kehidupan!!"
Liu Chang melompat ke dahan pohon, ia terus melakukan serangan-serangan yang ia rasa efektif untuk menembus kulit siluman yang cukup keras.
Tidak berhenti sampai di sana, Liu Chang juga menambahkan serangannya dengan melakukan pukulan-pukulan disertai qi yang mengarah pada leher Siluman Rakun.
Pertarungan keduanya berhasil menghancurkan sebagian wilayah hutan, beberapa kali serangan mereka beradu cukup keras hingga beberapa jam kemudian Siluman Rakun yang telah lemah akibat pertarungan sebelumnya, akhirnya tewas dengan kepala terpenggal oleh Pedang Dewa Petir.
Meskipun menang dalam pertarungan tersebut, Liu Chang juga tidak mendapatkan luka yang ringan. Ia banyak mengalami luka cakaran di sekitar punggung dan kaki saat beberapa kali mencoba menghindari serangan itu beberapa jam lalu.
Karena kondisi yang cukup lemah, akhirnya Liu Chang memasukkan tubuh Siluman Rakun itu ke dalam Cincin Galaksi. Ia berniat untuk mengambil buah persiknya setelah sampai di gubuk Jing Quo.
Beberapa saat kemudian Liu Chang sampai di gubuk Jing Quo setelah berlari selama dua jam lamanya.
Jing Quo yang melihat Liu Chang terluka berat langsung menghampirinya dan segera mengobatinya menggunakan sumber daya dari tanaman-tanamannya.
__ADS_1
"Siluman Rakun ... hahaha, ini cukup mengejutkan Chang'er. Kau tahu, beberapa tahun yang lalu sepertinya siluman itu melakukan kesalahan sehingga terdapat kelainan di punggungnya." Jing Quo menunjuk punggungnya saat menjelaskan bahwa ia pernah melihat Siluman Rakun tersebut beberapa kali dan siluman yang dibunuh Liu Chang adalah siluman yang sama.
Liu Chang pulih cukup cepat dalam tiga hari. Kali ini tubuhnya beberapa kali lebih kuat, karena dalam penyembuhannya ia juga menelan beberapa mangkuk lendir Siluman Lintah. Menurut Jing Quo terdapat beberapa kelebihan dalam individu seorang pendekar yang memiliki tubuh racun saat berada dalam tingkat pendekar sakti.
Dan ciri-ciri tersebut sangat cocok dengan tubuh Liu Chang saat ini. Karena itu waktu yang tepat untuk masuk ke tingkat itu adalah saat Liu Chang telah sepenuhnya mendapatkan tubuh racun seperti saat ini.
"Baiklah, kau makan ini secara perlahan ... jangan kau makan dalam satu kali proses. Saat itu aku akan mengalirkan qi dari punggungmu untuk membantu prosesnya!!" Jing Quo mengingatkan, menurutnya proses ini bisa memakan waktu selama satu minggu dan sampai semua khasiatnya telah diserap seluruhnya, ia dan Liu Chang tidak boleh bergerak dari tempat ini sedikit pun.
Liu Chang mengatur napasnya, perlahan-lahan ia mulai mengonsumsi buah itu sedikit demi sedikit. Sementara Jing Quo bersiap-siap untuk mengalirkan qi miliknya ke punggung Liu Chang.
"Guru!!"
"Tidak berteriak seperti itu Chang'er, aku tahu."
Dalam proses itu Liu Chang merasakan tubuhnya begitu kesakitan, rasanya seperti ia melalui penempaan tulang dan syaraf-syarafnya seperti ditarik-tarik.
Beberapa jam kemudian Liu Chang telah sampai pada bagian kelima dari buah itu, terlihat kondisinya berkeringat dingin sangat banyak. Meskipun kondisi saat ini telah memasuki malam, Jing Quo menyarankan untuk terus melakukan proses ini terus-menerus.
Jika Jing Quo menghentikan proses mengalirkan qi secara tiba-tiba, tubuh Liu Chang akan meledak dan Jing Quo sendiri bisa langsung menjadi Roh Dewa karena tidak memiliki jasad lagi.
"Guru!!"
"Tahan sedikit Chang'er, ini bagian ke dua puluh!!"
••••
Bagi teman-teman pembaca yang menjalankan, semangat terus hingga akhir dalam menunaikan ibadah puasa ramadhan.
Tetap jaga kesehatan kalian, apalagi di saat-saat seperti ini.
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya...
Ibnu R
__ADS_1