Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 63 – Moksa.


__ADS_3

Liu Chang berhenti di depan sungai saat dahulu pertama kali datang ke Lembah ini. Sebelumnya saat datang ke sini, dia diserang oleh leluhur para ular dan mengalami kekalahan dengan luka yang tidak ringan. Namun sekarang setelah mencapai puncak Pendekar Sakti, Liu Chang yakin jika bertarung kembali dengannya pasti bisa membawa kemenangan.


“Chang'er, kau kembali.” Siluman Ular tiba-tiba muncul dari balik air sungai, seperti biasanya saat muncul hawa kehidupan yang ditunjukkannya selalu tidak ada atau dengan kata lain Siluman Ular bisa menyembunyikannya.


“Oh ya, Jie Kun ... hari ini aku akan melakukan Tahap Moksa untuk memasuki Pendekar Naga, bisa aku minta pertolonganmu untuk menjagaku saat itu?”


“Itu mudah. Sepertinya kau semakin kuat ya ... dahulu, saat kita bertarung pertama kali kau mengalami kekalahan. Namun sekarang aku tidak yakin bisa mengalahkanmu lagi, Chang'er.” Siluman Ular menatap kagum.


Tentu wajar mengingat kemampuan para siluman di Lembah Liko hanya mencapai Pendekar Sakti tahap awal dan sebagian kecil memang ada yang mencapai puncak namun memiliki kekuatan yang jauh jika dibandingkan dengan kekuatan Liu Chang saat ini.


“Kau terlalu berlebihan, Jie Kun. Baiklah, aku pergi dahulu.” Liu Chang melambaikan tangannya ke arah Jie Kun, leluhur para ular. Biarpun memiliki kemampuan yang melebihi para siluman di Lembah Ini, tidak sedikit pun Liu Chang menjadi arogan karenanya.


Liu Chang merasa para siluman di sini adalah para guru yang mengajarkannya berbagai hal saat bertarung. Dari banyak pertarungan yang Liu Chang lalui, sedikit banyak Liu Chang mengambil pelajaran darinya.


“Ini cocok, tempatnya cukup sunyi.” Liu Chang berhenti di tengah aliran sungai. Lalu menghadap ke air terjun dan menyingkap airnya untuk masuk ke gua yang ada di dalamnya. Sejujurnya akan melakukan Tahap ini merupakan yang tidak bisa Liu Chang percayai mengingat Moksa adalah sesuatu yang sangat sakral bagi para pendekar di dunia persilatan.


Karena saat moksa Liu Chang harus meninggalkan urusan keduniawian, segala rasa kemauan yang masih melekat dan keinginan-keinginan yang berhubungan dengan hawa nafsu.


Namun di sisi lain dirinya mempunyai tugas yang sangat penting yang berhubungan dengan perdamaian dari Dewa Naga, Feng San. Jadi, dalam hal ini Liu Chang harus menyatukan dua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.


Liu Chang duduk di tengah-tengah gua tersebut, meskipun tubuhnya menghadap ke air terjun yang cukup deras namun suara-suara air tidak sedikit pun Liu Chang dengar setelah berada di dalamnya.


Liu Chang mengatur napasnya perlahan-lahan, membuat tubuhnya senyaman mungkin. Dan memutuskan semua inderanya dari dunia ini. Detik berganti ke menit lalu berganti ke jam, Liu Chang sudah tidak bisa merasakan apapun.


Dimulai dari pengelihatannya yang mulai kabur selanjutnya pendengarannya tidak bisa mendengar suara apapun, lalu indera perabanya tidak bisa merasakan hawa sejuk dinginnya air terjun, kemudian penciumannya yang tidak bisa menghirup bau atau wangi, dan terakhir lidahnya yang tidak bisa merasakan apa-apa lagi.


Beberapa menit kemudian setelah suasana menjadi hening, Liu Chang menemui sebuah lorong cahaya dengan panjang yang terlihat tidak berujung. Liu Chang merasakan situasi seperti mati saat ini.

__ADS_1


Namun sesuatu yang muncul selanjutnya, membuat Liu Chang terkejut karena tiba-tiba dirinya telah keluar dari lorong tersebut dan melihat ruangan serba putih mulai dari dinding dan semua perlengkapan di dalamnya, mirip sesuatu yang disebut Alam Ilusi.


Samar-samar Liu Chang mulai melihat seorang pria berusia setengah abad yang tiba-tiba muncul dan duduk di kursi berwarna putih di depannya. Liu Chang hanya memandangi pria itu hingga Liu Chang hingga dipanggil untuk mendekat.


“Kau bisa bermain catur?” pria tersebut bertanya tiba-tiba dan membuat Liu Chang sedikit terkejut. Namun tidak lama setelahnya Liu Chang mengganguk pelan.


“Ya, aku tahu cara permainannya.” setelah berkata seperti itu, pria tersebut mulai mengeluarkan papan catur di bawah meja putihnya.


“Mungkin dia ingin mengujiku, apakah hatiku kuat atau tidak saat moksa ini.” Liu Chang bergumam pelan. Liu Chang mendapatkan sisi putih sementara pria itu mendapatkan sisi hitam di warna bidaknya.


“Mulailah!"


pria itu mengarahkan tangannya pada Liu Chang, memberi isyarat kepada Liu Chang untuk memulainya terlebih dahulu. Liu Chang segera menuruti keinginan pria tersebut, untuk bidak pertama Liu Chang memajukan Kudanya terlebih dahulu.


Melihat gerakan Liu Chang pertama kali, pria dengan baju merah itu tersenyum tipis. Menurutnya gerakan Liu Chang tidak buruk namun hanya terlalu menekankan pada kekuatan. Terlihat dari gerakan Liu Chang yang langsung memajukan Kuda tanpa pikir panjang.


Setelah bermain catur selama beberapa menit Liu Chang mulai menyadari kesalahannya, dia terjebak oleh strategi lawannya. Awalnya Liu Chang pikir celah pria tersebut namun ternyata celah yang ditunjukkannya hanya rencananya untuk menjebak Liu Chang.


“Bagaimana mungkin, apa dia bisa membaca pikiranku?” batin Liu Chang seraya memikirkan gerakan pria tersebut yang cukup aneh selama ini.


Sejauh yang dilihat Liu Chang, pria tersebut selalu mengikuti arah strateginya, setiap Liu Chang berniat memakan bidaknya, pria tersebut mencegahnya dengan mengincar bidak Liu Chang yang lebih tinggi.


Namun kali ini Liu Chang yakin gerakannya tidak bisa diprediksi pria tersebut. Liu Chang melakukan gerakan pengalihan menggunakan bidak yang lebih kecil tingkatannya dan menyerang beberapa bidak penting milik pria tersebut dengannya.


Awalnya Liu Chang pikir telah berhasil namun hal selanjutnya membuat Liu Chang membuka mulutnya tak percaya.


“Bagaimana mungkin? Aku yang sedang menjebaknya atau aku yang sedang berada dalam permainannya?” Liu Chang membatin, saat ini bidaknya telah termakan cukup banyak akibat strateginya sendiri. Seolah rencananya hanya isapan jempol belaka saat berada di hadapannya.

__ADS_1


Liu Chang mencapai kekalahannya setelah bermain selama satu jam, dia tertunduk lesu sebelum pria tersebut mulai menggebrak meja dengan keras.


“Kau tahu kesalahanmu?!" pria tersebut menunjuk-nunjuk Liu Chang tepat di wajahnya. Terlihat ia benar-benar marah dan kesal.


“Jelas Aku tidak tahu, senior. Datang-datang sudah tawarkan bermain catur.” Liu Chang menahan telunjuk pria tersebut yang semakin dekat ke wajahnya.


Melihat Liu Chang yang sama sekali tidak merasa bersalah membuat pria tersebut semakin marah dan membalikkan meja tempat dia bermain catur tadi. Liu Chang secara reflek langsung melompat kebelakang, dia tidak mengerti alasannya diperlakukan seperti ini.


“Senior, tolong tenanglah. Beritahukan kesalahanku dengan perlahan tanpa amarah.” Liu Chang mengangkat tangannya setinggi dada, berharap pria tersebut meredam amarahnya dan menjelaskan kesalahan dirinya.


“Setelah sejauh ini kau belum mengerti juga? Lalu untuk apa melakukan moksa?!” mungkin karena kemarahannya yang sudah tak tertahan pria tersebut membanting kursi dan membuat seisi ruangan menjadi bergetar karenanya.


“Jika aku benar-benar tidak mengetahuinya, apa kau akan marah lagi, Senior?” Liu Chang menghindari lemparan kursi yang mengarah padanya. Sejujurnya sejak awal Liu Chang sudah merasakan keanehan dari sikap pria di hadapannya ini.


"Huh ... duduklah!!"


Liu Chang menuruti perintahnya, dan anehnya meja dan kursi serta peralatan lain yang dibanting pria tersebut kembali seperti semula saat Liu Chang pertama kali masuk ke ruangan ini. Liu Chang merasa hanya satu hal yang bisa membuat sesuatu seperti ini yaitu Ilmu Ilusi.


Dengan Ilmu Ilusi, para korbannya yang terjebak oleh ilusi pasti akan merasakan berbagai kejadian tidak logis selama berada dalam pengaruhnya. Apalagi hanya untuk mengembalikan barang seperti yang pria tersebut lakukan adalah sesuatu yang mudah.


“Kau murid Feng Gege? Atau mungkin dalam panggilanmu kau menyebutnya Guru Feng, benar?”


••••


Tadinya mau saya masukin poker dalam tantangan pria misterius ini ke Liu Chang, tetapi setelah dipikir-pikir saya tidak jadi memasukkannya karena poker belum muncul saat pendekar masih berkelana ....


Sampai jumpa di Chapter selanjutnya ...

__ADS_1


Ibnu R.


__ADS_2