Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 68 – Bercak darah.


__ADS_3

Liu Chang kembali berkeliling ke sekitar kota pelabuhan ini untuk mencari informasi tentang wabah bernama Hun. Sebagian besar informasi yang Liu Chang dapatkan berasal dari pendengarannya yang cukup tajam dan sebagian lainnya Liu Chang tanyakan pada orang-orang yang ditemuinya.


Menurut kumpulan informasi yang didapatkan, Liu Chang mengetahui bahwa wabah Hun ini memiliki gejala yang cukup aneh, di mana para korbannya tidak mengetahui bahwa mereka akan terserang sebelum waktu terlewati satu minggu.


Satu minggu pertama, para korban akan memiliki sebuah bercak darah yang tiba-tiba muncul dan tidak bisa dihilangkan, tempat munculnya cukup acak namun sebagian besar korban memiliki tempat muncul yang sama, yaitu di kening mereka atau bagian wajah yang lain.


Selanjutnya setelah waktu terlewati satu bulan, bercak darah itu akan berkembang biak dan menyebar ke anggota tubuh yang lainnya. Jika berada di tangan maka akan menyebar ke seluruh bagian lengan lalu ke bagian rusuk korban.


Sementara untuk yang memiliki bercak darah di kening akan menyebar ke seluruh wajah. Dan begitu juga dengan bagian lain seperti kaki atau badan korban, bercak darah itu menyebar setelah waktu terlewati satu bulan.


Biarpun kumpulan informasi yang didapatkan cukup banyak, Liu Chang kembali mencari ke seluruh penjuru Kota Xian Qi. Bertanya dari satu penduduk ke penduduk lain, lalu menanyakan pada seseorang yang bertugas menjadi penjaga kota.


“Lebih baik kau cepat pergi, anak muda!”


“Ini bukan hal sepele, nak!!"


“Urusi hidupmu sendiri!"


Jawaban-jawaban seperti itu Liu Chang dapatkan saat bertanya pada penjaga kota. Liu Chang merasa mereka seperti menyembunyikan sesuatu tentang wabah ini.


“Mungkin bertanya pada seorang walikota adalah salah satu cara.” Liu Chang menyadari bahwa ia tidak memiliki wewenang untuk mengetahui informasi tentang wabah ini dari para penduduk. Namun jika bertanya pada seorang walikota maka mau tidak mau walikota itu harus menjawabnya.


Liu Chang menuju ke sebuah kedai kecil yang terdapat di ujung kota. Menurut informasi penduduk yang cukup sering ke sana, kedai itu biasanya sering didatangi walikota Xian Qi untuk melepaskan penat setelah bekerja.


“Aku memesan satu gelas arak!"


“Aku memesan satu masakan daging lagi!"


“Arak di gelasku sudah kosong, tolong tambah lagi!"


Suara-suara orang memesan terdengar ketika Liu Chang memasuki kedai tanpa nama ini. Suasana yang ditunjukkan tidak terlalu ramai karena berada di sudut kota, hanya ada lima meja di dalamnya dan empat meja diantaranya saat ini sudah terisi.

__ADS_1


Liu Chang duduk di salah satu meja di sudut ruangan, pakaian Liu Chang yang cukup mahal sempat menjadi perhatian para orang tua namun mereka tidak menghiraukannya lebih jauh dan melanjutkan kembali aktivitasnya.


“Aku memesan masakan daging dan satu guci arak kualitas terbaik!” Liu Chang memesan makanan untuk sekedar berbasa-basi meskipun sebenarnya ia tidak terlalu lapar karena tubuhnya bisa tidak makan satu bulan penuh setelah memasuki Pendekar Naga.


“Maaf tuan–” ucapan seorang gadis yang melayani itu terpotong.


“Kau bercanda, anak muda. Tak ada arak kualitas terbaik di sini, yang kami minum saat ini adalah yang paling bagus dan itu pun rasanya sungguh pahit!” ucap seorang pria dari meja di depan Liu Chang, ejekan itu langsung diikuti tawa dari teman-temannya.


Beberapa saat setelah pria itu mengejek Liu Chang, seorang pria lain berusia setengah abad menggebrak mejanya. “Hei, lanjutkan makan dan minum kalian, jangan mengganggu seorang pemuda sepertinya!!" bentak pria itu dengan tegas.


Setelah menegur seorang temannya, pria tersebut menghampiri meja Liu Chang karena semua meja sudah terisi penuh dan hanya meja Liu Chang yang terlihat masih memiliki cukup ruang.


“Apa kau mengijinkan aku duduk di sini?”


“Tidak perlu sungkan, senior. Silahkan." Liu Chang tersenyum lembut.


Setelah pria itu juga memesan sesuatu, Liu Chang hanya diam tanpa banyak bicara lagi hingga masakan yang dipesannya telah datang. Dan tidak lama setelah pesanan Liu Chang datang, pria tersebut juga mendapatkan pesanannya.


“Kau seorang pendekar, haha. Usiamu bahkan lebih muda dari anakku, tetapi sepertinya pengalamanmu akan dunia ini begitu banyak.”


“Senior, terlalu memuji. Aku bahkan jatuh ke jurang beberapa tahun yang lalu.” Liu Chang tertawa kecil, sejak tadi meskipun yang pria tersebut tanyakan adalah hal pribadi namun Liu Chang sama sekali tidak merasa terganggu dengannya.


“Jika jatuh ke jurang, seharusnya kau mati. Lalu apa kau ini hantu?”


“Eh, tidak. Kau terlalu berlebihan, senior.” Liu Chang tersenyum canggung. Akhirnya perbincangan itu semakin akrab hingga Liu Chang mendapatkan undangan makan malam di kediaman pria tersebut.


°°°°


“Kau pasti ingin membicarakan sesuatu, 'kan? Tentang wabah itu?” tanya pria yang beberapa saat lalu berbincang-bincang dengan Liu Chang di kedai kecil itu.


“Sepertinya cukup sulit menyembunyikannya. Benar, aku sedang mencari informasi tentang wabah Hun.” Liu Chang berkata mantap karena cukup percaya pada pria di sampingnya.

__ADS_1


“Aku sudah tahu. Karena itu aku mengajakmu ke rumahku. Jika kita berbicara di kedai, pembicaraannya akan didengar orang-orang tadi.”


Tidak lama berjalan Liu Chang tiba di rumah yang cukup besar, rumah yang sepertinya dimilik walikota.


“Senior, kau seorang walikota?” Liu Chang berhenti di pintu masuk, dia melihat papan nama yang menyatakan rumah di depannya ini adalah kediaman walikota.


“Ya, walikota. Meskipun jabatan itu tak ada artinya di sini.”


“Mari masuk, bicara di dalam lebih nyaman.”


Liu Chang mengikuti walikota masuk ke dalam rumah. Melihat ornamen ukiran khas yang terpajang di sudut ruangan, Liu Chang seolah bernostalgia karena kediaman keluarga Han juga mempunyai ornamen seperti itu.


Kediaman Han saat Liu Chang masih tinggal di dalamnya sungguh besar karena keluarga Han termasuk salah satu dari tiga bangsawan utama di Kekaisaran Giok Utara. Karena itu, Liu Chang yang merupakan pelayan memiliki kedudukan yang cukup tinggi dibandingkan manajer restoran yang bekerja bangsawan kecil.


Liu Chang berdiri dan melamun cukup lama sampai akhirnya seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Spontan Liu Chang langsung menoleh, ia menemukan seorang gadis yang usianya terlihat jauh lebih tua beberapa tahun darinya.


“Tidak baik membiarkan tamu berdiri seperti ini, mari duduk di sana.” ucap gadis itu menawarkan Liu Chang untuk duduk di ruang tamu.


“Ah, ya. Aku melihatnya cukup lama karena ukiran-ukiran ini membuatku bernostalgia.”


Liu Chang mengikuti langkah gadis bertinggi badan 160 Cm itu. Dengan gaun khas seorang anak pedagang pesona yang ditampilkannya berhasil membuat Liu Chang cukup tertegun.


“Ayah sedang mencari sesuatu di meja belajarnya. Untuk menunggu di kembali ke sini, silahkan nikmati dulu tehnya!”


••••


**Beberapa kali saya menghapus naskah untuk menggambarkan bagaimana wabah ini menyerang kota Xian Qi. Sepertinya Chapter selanjutnya akan cukup sulit, karena itu harap dimaklumi jika kualitasnya sedikit di bawah ekspektasi kalian.


Sampai jumpa..


Ibnu R**

__ADS_1


__ADS_2