Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 44 - Ilmu Pedang Sutra.


__ADS_3

Sebagai permintaan maafnya, Patriark Niu menawarkan Liu Chang dan Gang Wei untuk beristirahat di Villa kediamannya, sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanannya.


Liu Chang dan Gang Wei masing-masing mendapatkan satu kamar untuk beristirahat, selain itu mereka juga disediakan makan malam oleh Patriark Niu. Mengingat jabatannya yang seorang Patriark, Niu Enlai bisa dengan mudah menawarkan itu semua pada tamunya.


Setelah menyantap makan malamnya, Liu Chang langsung beranjak ke kamarnya. Namun, sebelum tidur Liu Chang berencana untuk bermeditasi dan mempelajari Kitab Ilmu Pedang Sutra yang diberikan Xie Bing sebagai pelengkap.


Sementara Gang Wei bersikap seperti naga pada umumnya, ia langsung tertidur setelah makan.


Setibanya ia di kamarnya, Liu Chang langsung mengambil posisi bermeditasi. Dalam meditasinya Liu Chang mulai memikirkan kembali kejadian-kejadian hari ini yang banyak membuatnya tersadar.


Mulai dari pertarungannya dengan Fang Duan di tingkat pendekar menengah inti hijau hingga Patriark Niu Enlai yang memiliki kemampuan pendekar sakti tahap kemutlakan.


Liu Chang merasa selama ini ia hanya mengandalkan kekuatan yang diberikan permata dewa dan darah siluman, sementara dalam hal ilmu pedang, pemahamannya begitu tumpul.


Liu Chang teringat saat menerima serangan trisula Patriark Niu Enlai, ia begitu kesulitan hanya untuk mengimbangi gerakannya, jika saja saat itu kemampuannya berada pada tingkat pendekar sakti mungkin ia bisa sedikit mengimbangi serangan itu dan membalasnya.


"Setidaknya aku harus membuka ini..." Liu Chang mengeluarkan Kitab Ilmu Pedang Sutra dari Cincin Galaksi, ia berpikir untuk mempelajarinya sedikit demi sedikit setelah meditasinya selesai.


Liu Chang memperhatikan Kitab Ilmu Pedang Sutra, menurut hematnya Kitab Ilmu Pedang Sutra tidak terlalu berbeda dengan Kitab Dewa Naga milik Feng San, hanya saja sampul Kitab Dewa Naga sedikit lebih usang lagi berdebu dan dilengkapi juga dengan enkripsi untuk melindungi isinya.


"Sepertinya harus dimulai dari kitab ini dulu sebelum membaca Kitab Dewa itu." gumam Liu Chang, ia merasa Kitab Dewa Naga memang cukup sulit karena begitu banyak kriteria hanya untuk mempelajari jurus-jurus ilmu pedangnya saja.


Liu Chang membuka perlahan kitab Ilmu Pedang Sutra. Pada bagian pertama kitab ini, disebutkan beberapa tingkatan kemahiran ilmu pedang sama seperti yang dijelaskan di Kitab Dewa Naga. Karena bagian ini Liu Chang sudah cukup memahaminya, ia langsung membuka halaman selanjutnya.


Mata Liu Chang kemudian tertuju pada bab kedua dari kitab itu, ia melihat beberapa gerakan dan metode-metode untuk melakukan jurus pertama dari Ilmu Pedang Sutra.


"Tebasan... Keheningan." gumam Liu Chang. Ia membacanya secara perlahan, halaman demi halaman, agar ia tidak melewatkan satu hal pun dari pengamatannya.


Setelah membaca hingga jurus kelima, Liu Chang menyimpulkan sesuatu dari kitab itu. Menurutnya Ilmu Pedang Sutra memang bukan ilmu pedang sembarangan karena efek jurusnya cukup berbahaya mengingat sangat sedikit ilmu pedang yang dijadikan Kitab seperti ini.


Beberapa diantaranya biasanya hanya tersebar sebagai lembaran-lembaran pada ilmu pedang lainnya.


"Gerakan ini harus diperagakan esok hari. Untuk sekarang aku sudahi ini dulu." Liu Chang tersenyum puas, setelah menguasai teori dan metodenya, ia ingin cepat-cepat menguasai ilmu pedang ini.


°°°°

__ADS_1


Keesokan harinya, Liu Chang melakukan pemanasan saat fajar belum terlalu menyingsing. Maklum, kebiasaannya saat masih menjadi pelayan di restoran keluarga Han ia harus selalu bangun lebih awal dari pelayan lain yang lebih junior darinya.


Secara tidak sadar, Liu Chang mendapat perhatian dari orang lain karena pemanasan yang dilakukannya dini hari ini.


"Kau bangun pagi-pagi sekali. Apa ada sesuatu?"


Liu Chang menoleh dan menemukan Patriark Niu yang saat ini sedang menatapnya.


"Ah, Patriark Niu. Selamat pagi, aku bangun dini hari dan melakukan sedikit pemanasan untuk mempelajari beberapa gerakan." Liu Chang memberi hormatnya.


Patriark Niu menatap Liu Chang sejenak, dalam batinnya terkandung rasa kagum pada Liu Chang yang begitu rajin dalam berlatih, sangat kontras dengan muridnya yang bermalas-malasan saat dini hari seperti ini.


"Ilmu apa pun yang ingin kau pelajari, tetap berhati-hati saat mempelajarinya. Lukamu itu belum menutup sempurna!" Patriark Niu kembali memasuki Villanya setelah memberi nasihat pada Liu Chang.


"Aku akan berhati-hati, Patriark Niu." Liu Chang sekali lagi membungkuk hormat ke arah Patriark Niu.


Liu Chang berpikir nasihat Patriark Niu ada benarnya, tubuhnya memang belum sepenuhnya sembuh tetapi ia tidak bisa menunda-nunda latihan seperti ini. Keadaan tubuhnya harus selalu dalam kondisi fit untuk untuk bertarung melawan orang-orang yang lebih kuat kedepannya.


"Jurus pertama... Tebasan keheningan!!"


Liu Chang mempraktekkan Ilmu Pedang Sutra yang ia pelajari tadi malam, dalam percobaan pertamanya Liu Chang cukup puas karena efek yamg ditimbulkan sama seperti dalam Kitab Ilmu Pedang Sutra yaitu terdapat kabut-kabut setipis sutra saat ia memperagakan jurus pertama.


"Sekali lagi!! Jurus pertama tebasan keheningan!!"


"Jurus kedua, tarian kabut!!"


"Jurus ketiga, kesulitan tiada akhir!!"


"Keempat, kabut membunuh lawan!!"


"Jurus kelima, takdir kabut kehidupan!!"


"Wuuussh!!"


Akhirnya, setelah memperagakan secara langsung lima jurus dalam satu kali percobaan, kabut-kabut disekitar Liu Chang mulai muncul satu persatu dalam hitungan detik.

__ADS_1


Awalnya hanya sedikit, tetapi lama kelamaan kabut itu memenuhi area sekitar Villa Patriark Niu hingga membuat semua orang terbangun pada pagi hari itu.


"Uhuk... Uhk.. asap atau kabut apa ini? Ayah rumah siapa yang terbakar?!"


"Uhuk... Uhk.. arrggh. Siap yang bakar-bakaran dini hari seperti ini?!"


"Keluar dari rumah!! Semua ruangan dipenuhi kabut saat ini!!"


Benar, akibat perbuatan Liu Chang hampir semua Villa yang berada di sekitar Villa Patriark Niu mengalami badai kabut yang dahsyat, dan mereka menganggap kabut itu sebagai asap dari rumah yang terbakar.


Sementara para penghuni di Villa Patriark Niu telah mengetahui siapa pelakunya dan menatapnya dengan tatapan sinis saat ini.


"Chang'er, kau benar-benar membuat keributan pagi ini!!" Gang Wei mendengus kesal karena tidurnya jadi terganggu, ia buru-buru keluar setelah kabut mengisi ke seluruh ruangannya.


"Chang'er, aku sudah bilang berhati-hatilah!!" ujar Patriark Niu menambahkan, saat kabut itu muncul ia sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya. Melihat Liu Chang yang merupakan pelaku kejadian ini, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Chang'er, mandiku jadi terganggu karena ulahmu." Niu Xinxin menatap Liu Chang dengan sinis, ia baru membasuh sebagian wajah dan saat itu kabut Liu Chang muncul mengganggu mandi paginya.


Liu Chang yang melihat semua tatapan sinis itu hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya, "ahahahaha... Kalian semua, selamat pagi."


"Mari kita lupakan kejadian ini, dan menyongsong hari ini dengan perbuatan baik, hehe." tambah Liu Chang kembali.


Akhirnya pagi hari itu dimulai dengan kegiatan protes di Villa Patriark Niu dari orang-orang yang merasakan dampak dari jurus kabut Liu Chang.


•••


Genap satu bulan saya berkarya disini, semua dukungan kalian hingga saat ini begitu saya rasakan dampaknya. Mulai dari like dan views yang saya sendiri tidak percaya melihat jumlahnya.


Yang saya tunggu saat ini hanya surat kontrak yang belum keluar, doakan ya hehe.


Untuk Chapter ini semoga narasi dan dialognya sudah sedikit nyambung, terima kasih untuk para pembaca yang selalu memberi kritik, saya sangat hargai kritik itu.


Berikan kritik dan saran kalian, agar novel ini semakin menjadi bacaan yang menarik kedepannya.


Terima kasih...

__ADS_1


Salam author,


Ibnu R


__ADS_2