Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 65 – Moksa III.


__ADS_3

Malam harinya, Liu Chang memasak daging siluman setelah memperlihatkan kemampuannya dalam memasak, saat itu Bing Qing ingin membakarnya dengan Api hitam namun Liu Chang buru-buru menghentikannya karena daging silumannya tidak akan memiliki rasa jika dibakar seperti itu.


“Biarpun kau laki-laki, tetapi bisa memasak seperti ini ... kau aneh, Chang'er.” Bing Qing tersenyum kecil ketika melihat Liu Chang yang begitu lihai dengan teknik memasak daging-daging siluman keras itu.


“Silahkan dinikmati, Senior. Setelah ini aku akan kembali.” Liu Chang duduk dan menyerahkan panci berisi sup daging siluman yang telah matang. Perut Bing Qing berbunyi ketika mencium wangi rempah-rempah yang Liu Chang pakai dalam masakannya.


“Aiyo, Chang'er. Mari kita makan dulu, setelah itu barulah kita bahas masalahmu.” Bing Qing tersenyum lebar. Dia mengambil cukup banyak daging siluman pada mangkuknya karena tidak ingin melewatkan kesempatan memakan makanan selezat ini hanya dengan makan sedikit.


Liu Chang tersenyum tipis melihat kelakuan Bing Qing yang seperti anak kecil tetapi tidak lama kemudian Liu Chang juga ikut mengambil dan memakan daging siluman itu bersama Bing Qing.


Bing Qing tidak mengetahui bahwa dalam sela-sela makan malam mereka, Liu Chang kembali bernostalgia dengan suasana seperti ini. Seingat Liu Chang terakhir kali ia merasakan makan malam dengan penuh canda tawa seperti ini adalah dua belas tahun yang lalu, saat Liu Chang masih berusia 5 tahun.


Nahas, suasana bahagia itu berakhir setelah Liu Chang mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya tewas saat melawan siluman di Lembah hutan yang tidak jauh dari Kota San Yie.


Kehidupannya berubah setelah salah satu pamannya yang bekerja di kediaman keluarga Han mengajaknya untuk bekerja di sana. Akhirnya selama dua belas tahun terakhir itu Liu Chang mulai bekerja pada keluarga Han.


Melakukan berbagai pekerjaan yang ia bisa, seperti memberi makan kuda, mengantar surat, hingga menjadi pelayan. Semua itu Liu Chang lakukan semenjak kehilangan kedua orang tuanya.


“Chang'er, mengapa kau menatapku seperti itu?” Bing Qing tiba-tiba bertanya karena melihat Liu Chang terus menatap kepadanya dari tadi.


“Ah, tidak senior. Aku hanya sedang melamun saja.” Liu Chang tersenyum canggung, setelah itu ia kembali melanjutkan makannya seperti biasa tanpa memikirkan kembali nasibnya.


°°°°

__ADS_1


Keesokan harinya, Liu Chang mengecek barang-barang yang ia bawa saat melakukan moksa. Seingatnya ia hanya membawa Cincin Galaksi dan Pedang Dewa Petir saja. Sementara pakaian yang ia kenakan sama sekali berbeda dengan pakaian saat mulai bermeditasi.


“Senior, kira-kira berapa lama aku berada di dimensi ini?” Liu Chang bertanya karena tidak mengetahui perbedaan waktu yang ada di tempat ini dengan Lembah Liko.


“Yah, jika kau kembali ke Lembah Liko, waktunya satu tahun beberapa bulan. Karena satu minggu di sini seperti satu tahun di dunia sana.”


Bing Qing menjelaskan sambil memakan sisa daging siluman yang kemarin Liu Chang masak. Walaupun Dewa tidak membutuhkan makanan seperti itu, menurut Bing Qing daging seperti ini bisa menjadi obat rindu yang bagus untuk Dewa.


“Berarti usiaku sekarang harusnya 17 tahun, kan? Karena berlatih di Lembah Liko telah kulalui satu tahun dan di sini satu tahun.” Liu Chang bergumam pelan. Menurut perhitungan kasarnya, usianya sekarang adalah 17 tahun beberapa bulan.


“Chang'er jika ingin mengunjungiku lagi, kau bisa datang ke Kekaisaran Giok Timur. Di hutan yang bernama Ampera terdapat beberapa pintu yang hanya bisa digunakan Pendekar Naga untuk masuk ke istanaku.”


Liu Chang mengganguk pelan, ia akan mengunjungi Istana Bing Qing saat ada kesempatan kembali ke wilayah itu. Setelah menyiapkan berbagai hal, dan mendapatkan beberapa saran Bing Qing, Liu Chang kembali ke air terjun saat pertama kali bermeditasi untuk moksa.


Saat kembali kesadarannya semula, yang pertama kali Liu Chang rasakan adalah pakaiannya yang telah lusuh dan udara di dalam gua yang lebih hangat.


Setelah mengganti pakaian yang telah lusuh, Liu Chang kembali melesat ke arah sarang Chiyu. Mungkin Chiriyu dan Jing Quo masih ada di sana, pikir Liu Chang.


“Chiriyu, Senior Jing!! Kalian ada di dalam?” Liu Chang tiba di sarang Chiyu namun saat memasukinya Liu Chang tidak menemukan keberadaan Jing Quo dan Chiriyu. Jadi, Liu Chang segera berlari kembali ke arah gubuk Jing Quo.


Beberapa detik kemudian, Liu Chang sampai di depan gubuk yang menjadi tempat tinggalnya di Lembah ini. Tidak ingin berlama-lama, Liu Chang segera memanggil Jing Quo dan Chiriyu untuk keluar dari gubuk. Berharap mereka berdua sedang ada di dalam saat ini.


“Hm, apa tidak ada orang. Kucoba sekali lagi, Senior!! Chiriyu!!”

__ADS_1


Liu Chang telah memanggil kedua nama itu hingga beberapa kali namun sampai saat ini ia tidak melihat keberadaan keduanya. Sesaat sebelum Liu Chang memutuskan untuk berkeliling dan mencarinya. Ia melihat Jing Quo dan Chiriyu sedang berjalan ke arahnya.


“Chiriyu!! Senior!! Apa kalian sehat?” Liu Chang melebarkan tangannya untuk memeluk tubuh Chiriyu yang telah ia anggap seperti adik sendiri. Namun yang terjadi Chiriyu hanya memperhatikan Liu Chang dari jauh tanpa mau mendekat.


“Ini aku Kakak Liu? Kau tidak rindu dengan kedatanganku?” Liu Chang mengangkat alisnya.


“Kakak Yu yang kukenal tidak memiliki kumis. Kakek Guru, berhati-hatilah dengannya, bisa saja dia siluman!” Chiriyu bersikap waspada terhadap Liu Chang bahkan ia sampai memperingatkan Jing Quo juga. Sementara Liu Chang yang merasa keanehan dengan ucapan Chiriyu mulai mencari cermin di dalam Cincin Galaksi.


Setelah melihat pantulan mukanya betapa terkejutnya Liu Chang, saat ini ia memiliki kumis yang cukup tebal di bawah hidungnya. Jing Quo yang melihat ekspresi Liu Chang tertawa lantang. Terlihat Liu Chang yang begitu konyol karena kumis itu sama sekali tidak cocok dengan muka Liu Chang yang masih muda.


“Segera bersihkan itu! Chiriyu mungkin tidak mengenalimu, Chang'er!!" Jing Quo memberi saran.


°°°°


“Bagaimana? Kau mengenalku sekarang?” Liu Chang menunjukkan wajahnya kepada Chiriyu setelah kumis itu telah benar-benar ia bersihkan seluruhnya.


“Kakak Yu, kau ada di sini! Aku tidak melihatmu datang?” Chiriyu bertanya dengan polosnya, padahal dari tadi Liu Chang telah ada di depannya. Liu Chang dan Jing Quo hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Chiriyu.


Untuk mencairkan suasana, Liu Chang mengajak Jing Quo dan Chiriyu untuk makan siang, Liu Chang yakin selama ia pergi keduanya tidak mendapatkan makanan yang lezat.


Di sela-sela makan siang ketiganya, Liu Chang juga membicarakan tentang perkembangan Chiriyu. Mulai dari tingkat pendekar hingga kualitas tulangnya dalam wujud manusia.


••••

__ADS_1


**Akhirnya setelah 18 Chapter berlalu, Liu Chang akan kembali lagi berkelana. Ikuti terus petualangan Liu Chang karena mulai dari sini konflik-konflik baru akan mulai bermunculan kembali.


Berikan Like, komentar atau vote untuk mendukung Auhtor, hal itu menunjukkan jika kalian benar-benar menyukai novel ini**.


__ADS_2