Legenda Dewa Naga

Legenda Dewa Naga
Ch. 84 – Sebuah Desa Gurun.


__ADS_3

“Di mana ini? gurun?” Liu Chang menyipitkan matanya untuk melihat ke sekelilingnya.


Setelah berhasil keluar dari pintu dimensi itu, Liu Chang dan juga yang lainnya cukup terkejut bahwa mereka terlempar sangat jauh. Bahkan tempat gersang ini tidak mereka ketahui masuk ke wilayah negara mana.


“Aku telah mengalami dua kali terlempar akibat pintu dimensi seperti ini ...” Liu Chang bergumam pelan.


Liu Chang menyentuh tanah di bawahnya yang mirip seperti pasir. Sedikit panas dan penuh dengan tulang hewan. Sekarang dia yakin tempat ini memang gurun, tidak ada tanda-tanda sebuah ilmu ilusi hadir di sini.


“Kita akan ke mana selanjutnya? Aqua tidak cukup kuat berdiri di bawah terik seperti ini.” Aqua menyeka dahinya yang terus mengeluarkan keringat. Dia meminta Liu Chang untuk segera pergi dari gurun ini.


Liu Chang menggelengkan kepalanya pelan, dia berkata untuk keluar dari gurun seperti ini harus memiliki sebuah peta dan petunjuk. Jika tidak, maka kondisinya akan mirip seperti labirin.


Namun melihat kondisi Aqua yang terlihat semakin lemah itu, Liu Chang akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan daripada hanya sekedar duduk tanpa atap di bawah terik seperti ini.


“Salazar kau bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh?” Liu Chang melirik Salazar yang sedang bersila di atas batu.


Salazar mengganguk pelan, “Tentu, apa kau sudah menentukan ke mana kita pergi? kalau belum, kita cari sebuah gua untuk berteduh dahulu. Sejak tadi aku tidak menemukan kepadatan qi yang besar di sini, lihatlah kondisi adikmu!”


Salazar menunjuk Chiriyu tidak jauh dari tempatnya, terlihat Chiriyu berlutut dengan lemah.


“Chiriyu, jangan jauh-jauh dariku! Iklim gurun sangat berbahaya. Bahkan badai di sini bisa menguburmu ke dalam pasir.” Liu Chang segera tersadar dari lamunannya, dia menemukan Chiriyu sangat jauh dari tempatnya saat ini.


Biarpun suara Liu Chang terdengar jelas, Chiriyu tidak menghiraukannya. Sebenarnya sejak tadi dia bukan berlutut karena lemas, tetapi dia sedang melihat-lihat sebuah jejak kaki seekor hewan. Sifat Chiriyu persis seperti sifat anak kecil pada umumnya yang tidak mementingkan kondisi.


“Sebentar, Kakak. Lihat jejak kaki ini! Seekor hewan baru saja melewati jalan ini.” Chiriyu menunjuk jejak-jejak lain untuk menunjukkannya pada Liu Chang.

__ADS_1


Liu Chang segera menyadari bahwa sejak tadi dia tidak memperhatikan kondisi sekitarnya dengan baik. Sampai sebuah jejak seekor hewan yang berguna untuk menunjukkan jalan terlewat oleh pengelihatannya.


Melihat adanya sebuah petunjuk Liu Chang merasa inilah saatnya untuk berjalan kembali, mencari sebuah desa atau kota.


“Salazar, kau bawa Aqua bersamamu! Aku akan membawa Chiriyu.” Liu Chang berteriak ke arah Salazar.


Liu Chang langsung membawa Chiriyu terbang ke langit untuk menemukan jejak-jejak kaki lain, dan berharap menemukan sebuah oasis dari perjalanan seekor hewan ini.


“Ayo pergi, Nona Aqua. Kita harus segera menemukan mata air atau sebuah desa untuk bertahan hidup.”


Salazar membawa Aqua dalam pelukannya, dia langsung melesat mengikuti Liu Chang yang terbang sementara dirinya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


“Terbangnya cepat sekali. Nona Aqua berpeganganlah lebih erat, kita akan mengikuti Liu Chang lebih cepat!” Salazar mengumpat keras melihat kecepatan terbang Liu Chang.


Sementara Salazar masih berusaha mengimbangi kecepatan terbangnya, Liu Chang di atas langit meminta Chiriyu lebih memperhatikan ke sekitar lebih jelas.


“Terbang lebih lambat, Kakak! Aku melihat sebuah menaran pancang di arah jam 2, sepertinya itu sebuah desa.” Chiriyu menunjuk ke satu arah.


°°°°


Beigan, sebuah negara di Benua Dataran Giok yang memiliki wilayah dan iklim yang unik. Jika dilihat dari peta, wilayahnya yang berada di dekat laut mempunyai kode warna berwarna biru, yang menandakan bahwa daerahnya diselimuti oleh es.


Sementara yang berbatasan langsung dengan negara atau kekaisaran lain, memiliki kode warna coklat keemasan di peta. Menandakan bahwa wilayahnya diselimuti oleh gumpalan pasir, atau yang biasa disebut gurun.


Sebagian besar penduduk Beigan memilih untuk memadati wilayah yang diselimuti es, sebab sedikit orang yang memiliki kemampuan untuk hidup di iklim gurun yang keras. Entah itu soal mencari makanan atau karena teriknya matahari yang menyinari sepanjang hari.

__ADS_1


Ratusan kilometer dari pusat Negara Beigan di wilayah es, terdapat sebuah desa gurun yang terkenal sebagai persinggahan para pedagang dari berbagai kabilah suku. Banyak suku-suku gurun akan singgah di desa ini untuk sekedar beristirahat atau menjual dan membeli beberapa barang.


Namun itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu, sekarang kondisi desa yang dulu begitu ramai itu hanyalah kumpulan rumah miskin dengan kayu penyangga yang sedikit banyak telah hancur dimakan oleh rayap gurun.


“Apa kita akan kembali merasakan makanan bernama daging itu, Bu?” ucap seorang anak berusia sekitar 7 tahun pada ibunya, terlihat tubuhnya hanya seperti tulang berbalut kulit.


“Mungkin saja, Nak. Bersabarlah ayahmu dan beberapa temannya sedang berburu di sungai dekat sini, semoga dia mendapatkan banyak sekali ikan.” Ibunya hanya menjawab dengan seadanya, dia hanya berharap suaminya itu benar-benar membawa banyak ikan seperti perkataannya.


Mendengar perkataan ibunya, anak kecil tersebut tersenyum tipis. Sementara dia tidak mengetahui bahwa orang tuanya mati-matian memikirkan cara bertahan hidup di iklim gurun yang keras.


Memang, makanan adalah sesuatu yang paling dicari di daerah gurun selain air yang lebih utama. Bahkan daging yang mereka sering makan dulu itu, saat ini hanyalah nama yang mereka ingat saja, tanpa mengetahui kapan mereka akan memakannya lagi.


Pernah satu kali mereka memikirkan untuk berpindah tempat ke wilayah Beigan yang dingin namun dalam perjalanan, persediaan mereka habis tidak bersisa. Karena beberapa orang di dalam rombongan, membawa kabur persediaan tersebut saat semua orang tertidur.


Setelah mengalami kejadian tidak mengenakkan itu, mereka kembali ke desa lagi untuk mengumpulkan persediaan agar bisa melakukan perjalanan untuk kedua kalinya.


Pada akhirnya setelah dua tahun berusaha mengumpulkan biaya dan persediaan, jumlah itu hanya cukup untuk biaya mereka makan sehari-hari. Bahkan terkadang jumlah persediaan itu harus dibagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan makan mereka.


Beberapa kali mereka mengirimkan surat kepada pemerintah Negara Beigan untuk meminta bantuan makanan atau sekedar pakaian dan air bersih.


Namun beberapa orang yang mereka kirim tidak pernah kembali lagi ke desa, entah itu karena mereka telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik atau bisa saja menunjukkan kepedulian pemerintah Negara Beigan yang rendah untuk menolong saudara Beigan mereka sendiri.


“Sayang, bagaimana hasil tangkapan kalian?” Seorang wanita yang merupakan ibu dari anak kecil tadi menyambut suaminya yang baru saja pulang setelah beberapa jam mencari ikan.


“Sungainya telah kering, kami mati-matian mencari ke seluruh gurun untuk menemukan hewan yang bisa diburu namun tidak ada satu pun hewan yang terlihat,” jawab suaminya dengan lesu. Dia bersama beberapa orang pria lain segera memasuki desa untuk beristirahat.

__ADS_1


Keadaan di desa terlihat lebih buruk dari pagi tadi, anak-anak mereka menangis karena perut yang belum terisi sejak dua hari yang lalu. Para pria yang baru saja pulang hanya bisa menundukkan kepala ke bawah, merasa bahwa betapa tidak bergunanya laki-laki seperti mereka ini.


“Apa mungkin aku harus membawa semua orang di desa untuk pindah secara nekat ...”


__ADS_2