Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Pelelangan


__ADS_3

Derrel membiarkan wanita itu mencium lehernya dan memainkan dada bidangnya. Derrel tersenyum puas saat pelelangan hari ini berjalan dengan lancar dan dia mendapatkan keuntungan yang sangat besar.


bugh


"auw" ringis Clara saat Derrel menghempaskan dirinya ke lantai


"sayang kenapa melempar ku". ringis Clara sambil memegang pantatnya yang terasa sakit


"sudah ku peringatan bukan, aku tidak suka bagian pribadi ku di sentuh". geram Derrel dan meninggalkan tempat itu


Clara mengepalkan tangannya dan menatap punggung Derrel yang menjauh


"aku pastikan suatu saat nanti aku akan mendapat mu Derrel". umpat Clara


selama ini Clara berusaha untuk mendekati Derrel tapi tidak berhasil juga. Derrel selalu menolaknya untuk tidur bersama


"Clara ada pelanggan yang minta untuk di layani oleh mu". ucap Pablo


"ayo". ucap pablo dan menarik tangan Clara menuju sebuah kamar


"layani dia dan berikan servis yang terbaik, awas jangan buat ulah, jika kamu buat ulah aku pastikan hidupmu tidak akan tenang ". ancam Pablo dan meninggalkan Clara


Clara masuk ke dalam kamar dan menatap jijik ke arah laki laki yang sudah berumur dan memiliki perut buncit.


"dasar aki aki sudah bau tanya masih saja buat dosa". ucap Clara dalam hati


Clara langsung melepaskan pakaian dan berbaring di ranjang dan pria itu merangkak di atas tubuh Clara


"ishh nafasnya bau lagi". ucap Clara dalam hati sambil menahan nafasnya saat pria itu mencium dirinya.


satu jam telah berlalu Clara menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan Clara mengumpat dalam hati karena pria itu tidak menggunakan pengaman dan jangan sampai di hamil lalu melakukan aborsi lagi


"ini bayaran mu". ucap pria itu dan memberikan sebuah cek dan meninggalkan kamar begitu saja


"untuk bayaran besar jadi tidak masalah menahan bau mulutnya". ucap Clara dan terseyum puas saat melihat nominal seratus juta dalam cek tersebut.

__ADS_1


Clara mengambil pakaian dan meninggalkan kamar tersebut. saat melewati sebuah kamar Clara menghentikan gerakan dan membuka sedikit pintu yang sedikit terbuka. Clara mengepalkan tangannya saat melihat Derrel yang sedang bercumbu dengan salah satu gadis yang ada di pelelangan itu


"sial aku yang menginginkan berada di bawah Derrel tapi malah gadis cupu itu yang tidak ada pengalaman, lihat saja dia malah menangis seperti itu mana bisa memberikan sebuah kepuasan". ucap Clara dan meninggalkan tempat itu dengan emosi.


pagi hari di sebuah pesantren beraktifitas seperti biasanya, Shazia dengan malas mendengarkan penjelasan ustadz Ghazali tentang menutup aurat. Shazia sesekali menguap dan matanya terasa berat. Shazia rasanya ingin meninggalkan tempat itu tetapi tidak bisa karena ustadz Ghazali menyuruh untuk duduk yang paling depan. Shazia menopang dagunya dengan tangan dan menatap ustadz Ghazali


"ternyata tampan juga tapi sayang ketampanan ketutup dengan brewoknya dan juga berpakaian kuno, coba saja itu brewok di cukur dan memakai jas atau pakaian casual pasti tampan". ucap Shazia dalam hati mengomentari penampilan ustadz Ghazali yang memakai sarung, baju Koko dan peci


"apa istimewanya pakaian itu coba". ucap Shazia sambil mencebikkan bibirnya


sedangkan di kamar asrama Kemala berjalan menghampiri ranjang Shazia dan membuka bantal tetapi tidak menemukan apapun


"seperti semalam dia menyembunyikan sesuatu di bawa sini tapi kok tidak ada". ucap Kemala dan mencoba mencari sesuatu tetapi tidak menemukan apapun


mata Kemala malah tertuju pada makanan milik Shazia dan matanya memindai sekitar yang tidak ada siapapun. Kemala yang penasaran dengan makanan tersebut mengambil selembar roti dan memberi selai lalu menggigitnya


"hmmm ternyata rasanya seperti ini , enak". ucap Kemala dan memakan roti itu lagi dan tanpa sadar menghabiskan satu bungkus roti tawar


"astaga habis". ucap Kemala terkejut saat akan mengambil rotinya


"assalamualaikum umi". ucap Kemala


"waalaikumussalam". jawab umi


"maaf mu telat". ucap Kemala yang merasa tidak enak


"ya tidak apa, silahkan langsung membantu yang lain". ucap umi melanjutkan memasukkan adonan kue


"La ini Kenapa umi bikin kue dan masak banyak banget". bisik Kemala karena tidak biasanya umi Ikut ke dapur untuk membuat sesuatu karena biasanya yang memasak saja adalah yang piket


"tadi sih aku dengar malam ini gus Maher dan gus Faisal alam pulang". jawab Lala dan Kemala langsung berbinar mendengar jawaban Lala


"la ini benarkan tidak bohong". tanya kemala dan memastikan apa yang dia dengar benar


"iya Mala sudah itu di lanjutkan semakin cepat selesai kita bisa beristirahat". ucap Lala

__ADS_1


"yes aku harus ambil kesempatan ini untuk mendapatkan perhatian umi siapa tau langsung di jodohkan dengan Gus Faisal". ucap Kemala dalam hati


"untuk hari ini Sampai di sini kita belajar, ustadz akhiri wassalamu'alaikum warahmatullahi waBarrokatuh". ucap ustadz Ghazali dan di jawab dengan serempak oleh santri


"silahkan kalian boleh keluar selain Shazia ". ucap ustadz Ghazali


Shazia menatap tajam ke arah Ghazali dan Shazia duduk kembali


"mau apa lagi ini ustadz ". ucap Shazia dalam hati


"ada apa ustadz ". tanya Shazia dengan Ketus


ustadz Ghazali memberikan sebuah buku pada Shazia dan Shazia menatap buku kosong itu dengan tatapan bingung


"semalam ustadz lihat kamu keluar dengan menaiki pohon mangga yang dekat dengan kamar saya". ucap ustadz Ghazali dan Shazia membulatkan matanya saat ustadz Ghazali mengetahuinya karena dia pikir ustadz tidak tau bahwa dirinya ada di atas pohonnya


"jadi sebagai hukumannya kamu harus menulis huruf Hijaiyah satu buku penuhi itu dan di hafal ". ucap ustadz Ghazali


"huruf Hijaiyah, huruf apa itu ustadz saya hanya tahu huruf alfabet ". tanya Shazia dan membayangkan akan jadi apa jarinya jika menulis satu buku itu pasalnya itu buku yang berisi lima puluh delapan lembar


"silahkan ke perpustakaan pesantren dan cara huruf Hijaiyah, nanti sore harus sudah selesai dan kamu harus mengucapkan huruf itu tanpa melihat catatan ". ucap ustadz Ghazali dan Shazia membuka mulutnya dengan lebar karena terkejut


"ustadz Jangan bercanda tadz ini buku tebal mana selesai hari ini, ustadz ingin membuat jari saya putus". ucap Shazia dengan menggebu-gebu


"pasti selesai jika kamu langsung mengerjakan dan saya rasa jarimu tidak akan putus karena menulis huruf Hijaiyah satu buku itu". ucap Ustadz Ghazali


"assalamualaikum". ucap ustadz Ghazali langsung meninggalkan Shazia yang masih emosi


"dasar ustadz Menyebalkan saya sumpahin jadi perjaka tua dan tidak ada yang mau menikah dengan ustadz ". teriak Shazia dan ustadz Ghazali mengabaikan teriak Shazia


"kau dengar itu ustadz ". teriak Shazia yang melihat ustadz Ghazali mulai menjauh


dengan langkah kesal Shazia berjalan menuju perpustakaan pesantren


"huruf Hijaiyah ". sepanjang perjalanan Shazia mengucapkan dua kata tersebut seperti anak kecil yang di perintah ibunya untuk membeli sesuatu ke warung

__ADS_1


__ADS_2