
Shazia yang sudah bosan melihat video seputar kehamilan meletakkan ponsel tersebut di atas nakas
"bosan kalau hanya diam saja seperti ini". ucap Shazia lalu turun dari ranjang
Shazia yang melihat mama mertuanya yang sedang membaca Alqur'an di ruang tamu menghampirinya. Khadijah mengakhiri bacaan ketika Shazia duduk di sampingnya lalu menutup Al-Qur'an
"ada apa Shazia". tanya Khadijah
"bosan ma, mas kapan pulangnya kenapa lama sekali". ucap Shazia
"biasanya pulang sebelum dhuhur". ucap Khadijah
"ma aku keluar jalan jalan di sekitar pesantren ya". ucap Shazia
"jangan nanti mas mu marah". jawab Khadijah
"tidak akan, Shazia pergi dulu assalamualaikum". ucap Shazia
"Shazia tunggu". ucap Khadijah
Shazia yang sudah keluar dari rumah langsung melangkahkan kakinya menuju ke kelas santri putra. sesampainya di depan salah satu kelas Shazia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara suaminya yang sedang menjelaskan. Shazia mengintip dari balik jendela.
"untung kelasnya laki laki semua". ucap Shazia
Shazia menundukkan kepalanya ketika Ghazali melihat ke arah jendela. sedangkan Ghazali yang merasa di perhatikan oleh seseorang menghentikan penjelasan. Ghazali berjalan menuju jendela.
"aman sepertinya dia tidak melihat ku". ucap Shazia dan mengangkat kepalanya saat itu juga Shazia terkejut karena suaminya berada tepat di jendela dan menatapnya dengan tajam
"mampus". ucap Shazia dan membalikkan badannya
"berhenti di sana". ucap Ghazali lalu keluar dari kelas
"kenapa ada di sini". tanya Ghazali saat berada di depan istrinya
"ishh aku bosan di rumah". jawab Shazia
"aku jalan jalan di sekitar pesantren ya". sambung Shazia
"oke, tapi jangan keluar pesantren". ucap Ghazali dan Shazia tersenyum
"terima kasih". ucap Shazia
__ADS_1
cup
Ghazali melebarkan matanya saat Shazia mencium di tempat umum sedangkan sang pelaku sudah berjalan menjauhi dirinya. Ghazali melihat ke sekeliling dan bernafas lega karena tidak ada satupun orang di sana. Ghazali masuk kembali ke dalam kelas.
"ishh Zia kenapa tadi kamu menciumnya di depan umum lagi". umpat Shazia dan kakinya melangkah mengelilingi pesantren
Shazia menghentikan langkahnya di bawah pohon mangga yang ada di belakang ndalem.
"sepertinya enak tapi tinggi". ucap Shazia
"assalamualaikum ". ucap Ning Humaira
"waalaikumussalam Ning ". ucap Shazia
Humairah menatap ke arah perut Shazia yang terlihat membuncit
"sudah berapa bulan ". tanya Ning Humaira
"lima bulan Ning ". jawab Shazia
"sepertinya tadi aku lihat kamu memperhatikan buah mangga, ingin makan mangga ya". tanyanya
"iya tapi buahnya tinggi semuanya ". jawab Shazia
"terima kasih Gus".. ucap Shazia
"iya sama sama". jawab Shazia
"Shazia pamit dulu tidak sabar ingin membuat rujak, assalamualaikum ". ucap Shazia
"waalaikumussalam". jawab Gus Amer dan Ning Humaira
"ya Allah sedang memberikan kesempatan untuk kita pacaran lebih lama lagi, nanti kalau sudah waktunya pasti kita di kasih percayaan untuk memiliki anak". ucap Gus Amer saat melihat istrinya terus melihat ke arah Shazia
"iya Gus". jawab Humaira
Ghazali yang sudah selesai mengajar sedang kebingungan mencari istrinya tidak ada di mana mana, di rumah tidak ada .
"sayang kamu di mana, sebentar lagi mau dhuhur". ucap Ghazali
Ghazali melebarkan matanya saat melihat istrinya yang sedang berlari sambil membawa buah mangga
__ADS_1
"sayang jangan lari". ucap Ghazali yang langsung berlari menghampiri istrinya
Shazia menghentikan larinya saat akan menabrak suaminya
"membuat ku terkejut bagaimana kalau aku jatuh". ucap Shazia
"kenapa lari lari, kamu sedang mengandung Lima bulan sayang ". ucap Ghazali
"hehehe aku tidak sabar untuk memakan buah mangga ini". ucap Shazia
"dapat dari mana". tanya Ghazali
"dari belakang rumah Abah" jawab Shazia
"kamu manjat sayang ". tanya Ghazali karena Ghazali tau buahnya sangat tinggi
Ghazali memutar tubuh Shazia dan mematikan istrinya baik baik saja
"Gus Amer yang mengambilkan ". jawab Shazia
"ya sudah ayo pulang ". ucap Ghazali lalu merangkul pinggang istrinya
sesampainya di rumah Shazia dan Ghazali berdebat karena Shazia ingin makan rujak dengan cabai yang begitu banyak sedangkan Ghazali melarang dan hanya boleh menggunakan tiga cabai
"ma lihat mas masak aku tidak boleh pakai cabai banyak ". adu Shazia
"sayang, dengar nanti kalau sakit perut bagaimana tiga aja ya, kasihan sama si kembar nanti kalau terlalu pedas". ucap Ghazali
"sayang kalian tidak apa apakan kalau umi makan pedas". ucap Shazia sambil mengusap perut
"anak anak Abi beritahu tau umi mu, tidak baik jika makan pedas, dokter sudah melarangnya demi kesehatan umi dan kalian, ayo beritahu umi ". ucap Ghazali tepat di perut Shazia
dug
dug
dug
"nah lihat anak kita merespon berarti kamu tidak boleh makan pedas ". ucap Ghazali
"iya deh". jawab Shazia pasrah
__ADS_1
"hey kalian di dalam perut umi tapi kenapa kalian lebih suka pada Abi". protes Shazia
"karena mereka tau mana yang baik untuk kesehatan dan tidak baik untuk kesehatan sayang ". ucap Ghazali lalu meletakkan sambal yang sudah dia buat