
Shazia membawa iqro untuk menemui ustadz Ghazali karena tadi kemala menyampaikan pada Shazia bahwa ustadz Ghazali memintanya untuk menemuinya di masjid
"ustadz itu sungguh menyebalkan, aku harus baca ini lagi". ucap Shazia sambil membolak-balikan iqra tersebut
"huff baru kali ini aku menjalankan tugas merasa tersiksa". ucap Shazia
"hmmm". Shazia terkejut saat ada seseorang yang membekab mulut lalu membawanya ke balik pohon
"sayang ini aku". ucap Marvin
"apa yang kamu lakukan di sini". tanya Shazia
"aku menyusul mu sayang, aku tidak bisa jauh darimu". ucap Marvin
Marvin langsung memeluk Shazia begitu erat sedangkan Shazia mencoba melepaskan pelukan Marvin dan mengamati sekitar takut ada yang melihat
"sayang lepas". ucap Shazia
"kenapa, kamu tidak mau aku peluk, apa kamu tidak merindukan aku". ucap Marvin
"bukan seperti itu sayang, di sini cowok dan cewek tidak boleh berpelukan atau berduaan seperti ini kalai ketahuan bisa di hukuman, mereka bilang kalau pelukan seperti tadi itu dosa". ucap Shazia
"larangan macam apa itu, aneh". ucap Marvin
__ADS_1
"Marvin tinggal di sini memang banyak keanehan, disini banyak peraturan harus di taati". ucap Shazia
"kamu tau aku ada di sini dari mana". tanya Shazia
"kemarin aku melihat mu keluar dari club malam Derrel jadi aku ikuti sampai sini dan aku memutuskan untuk tinggal di sini juga agar bisa dekat dengan mu sayang ". ucap Marvin sambil memegang tangan Shazia
Shazia mendorong Marvin untuk bersembunyi saat melihat ustadz Ghazali lewat
"diam atau kita akan di hukum karena sudah berduaan dan juga melakukan kontak fisik seperti ini ". Ucap Shazia
"sayang sebaiknya kamu jangan ikut kemari kalau ayah tau nanti ayah bisa marah ". ucap Shazia
"sayang tenang saja ayahmu tidak akan tau ". ucap Marvin
Marvin langsung mencium pipi Shazia dan itu membuat Shazia langsung melihat ke sekitar
" aku janji tidak akan menganggu mu ". ucap Marvin dan Shazia menghela nafasnya
"baiklah tapi berjanji padaku jangan mencium ku atau melakukan kontak fisik dengan ku, jika ketahuan bisa gawat apalagi tugas ku belum selesai ". ucap Shazia
"tempat apa ini yang melarang adanya kontak fisik ". ucap Marvin
"berjanjilah sayang atau aku akan marah ". ucap Shazia
__ADS_1
"oke oke aku berjanji ". ucap Marvin
"dan satu lagi, kita pura pura tidak saling kenal ya soal aku masuk kemari dengan berpura-pura amensia, kalau kamu sering menyapaku aku takut ketahuan dan kamu tau apa yang akan ayahku lakukan jika aku gagal menyelesaikan tugas ku". ucap Shazia dan Marvin menanggukan kepalanya
"ya sudah aku harus pergi ". ucap Shazia
Shazia langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Marvin dan Marvin hanya menatap punggung Shazia
"aku pikir masuk ke sini bisa leluasa dekat dengan mu ternyata sama saja". ucap Marvin lalu meninggalkan tempat itu
tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka berdua dari kejauhan
"kenapa santri baru itu seperti akrab dengan Shazia bahkan melakukan kontak fisik". ucap Dea yang melihat interaksi Shazia dan santri baru itu
"apa santri itu kenal dengan Shazia lalu apa yang mereka bicarakan". sambung Dea
setalah Marvin meninggalkan tempat itu deapun ikut meninggalkan teman tersebut.
sedangkan Shazia yang sudah sampai di masjid langsung duduk dan menunggu ustadz Ghazali.
"sebenarnya malas belajar ini tapi demi tugas ini aku harus belajar huruf yang tidak aku mengerti". ucap Shazia lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar
"oke sekarang sebaiknya aku pura pura jadi santri yang baik agar ustadz Ghazali tidak mengawasi ku lagi dan dengan begitu aku bisa menyelesaikan tugas tanpa hambatan ". ucap Shazia lalu terseyum
__ADS_1