
setelah selesai makan Shazia memilih untuk duduk di teras rumah dan melihat para santri yang sedang beraktivitas. Shazia mengelus perutnya.
"Dea kemana ya, aku tidak pernah melihatnya". ucap Shazia
sedangkan dari kejauhan Marvin melihat apa yang sedang di lakukan Shazia. saat mengetahui bahwa Shazia hamil betapa sakit hatinya, perempuan yang sangat di cintai dan begitu sebaliknya sedang hamil anak anak lain.
"andai anak yang sedang kamu kandung anakku pasti aku sangat bahagia Shazia, aku masih tidak percaya jika sekarang kamu bahagia dengan kehidupan mu dan melupakan ku begitu saja". ucap Marvin
Marvin meninggalkan tempat itu saat melihat ustadz Ghazali keluar dari rumah.
"sayang ternyata kamu di luar". ucap Ghazali dan duduk di samping Shazia
"aku bosan di dalam ". jawab Shazia
"mau jalan jalan di sekitar pesantren ". tanya Ghazali dan Shazia menanggukan kepalanya
Ghazali mengulurkan tangannya pada Shazia dan Shazia menerima uluran tangan tersebut. mereka berjalan sangat pelan karena Shazia sudah tidak jalan dengan begitu cepat.
"assalamualaikum ustadz, Shazia ". ucap salah satu santriwati
"waalaikumussalam ". jawab Ghazali dan Shazia
"maaf ustad, hanya mau menyampaikan pesan dari Abah bahwa setelah sholat isya ustadz di minta untuk menemui Abah". ucap santriwati
"iya , terima kasih ". ucap Ghazali
"sama sama ustadz, saya permisi dulu assalamualaikum ".
"waalaikumussalam "
"ada apa apa meminta mas untuk menemuinya". tanya Shazia
"mungkin urusan pesantren". jawab Ghazali
mereka melanjutkan untuk jalan jalan di sekitar pesantren, Ghazali membawa istrinya ke taman yang ada di pesantren tersebut.
"mas sejak kapan ada taman di sini ". tanya Shazia
"tiga bulan yang lalu, Abah sengaja membuat taman ini agar para santri bisa belajar atau menghilangkan lelahnya di sini". jawab Ghazali
__ADS_1
Shazia duduk di sebuah bangku yang ada di taman itu dan dia melihat para santri yang sedang duduk di saung dengan beberapa buku.
"mereka sangat aktif sekali ". ucap Ghazali saat memegang perut Shazia dan mendapatkan tendangan yang begitu kencang
"apa sakit ". tanya Ghazali
"tidak, hanya terkejut saat mereka menendang begitu kencang ". jawab Shazia
hampir empat bulan dia tidak keluar dari rumah dan keluar hanya untuk memeriksakan kandungan. banyak yang berubah di pesantren ini. Shazia juga sudah tau perbuatan ustadzah Dila yang menyebabkan janinnya memiliki masalah tapi sekarang Shazia bersyukur karena kandungannya baik baik saja.
malam harinya setelah sholat isya Ghazali bersiap siap untuk menemui Abah.
"mas jangan malam malam pulangnya". ucap Shazia
"mas usahakan akan pulang cepat, kamu baik baik di rumah, jika butuh sesuatu bilang sama mama". ucap Ghazali
"iya mas". jawab Shazia
"mas pergi dulu, assalamualaikum". Ucap Ghazali
"waalaikumussalam". ucap Shazia
cup
"assalamualaikum". ucap Ghazali
"waalaikumussalam". jawab semua orang yang ada di sana
"masuk Ghazali". ucap Abah
Ghazali melangkah kakinya masuk dan duduk di samping Abah karena Abah memberikan isyarat pada Ghazali untuk duduk di sampingnya
"Abah ada apa memanggil Ghazali ". tanya Ghazali
"bukan Abah tapi mereka ". jawab Ghazali
Ghazali melihat sepasang suami istri yang menatapnya
"bapak ibu ada kepentingan apa menemui saya dan ada maaf sebelumnya bapak dan ibu ini siapa". tanya Ghazali
__ADS_1
"maaf jika mendadak seperti ini ustadz, kami orang tua Dila". ucap Bima
"kami tau apa yang di lakukan putri kami sangatlah salah dan kami minta maaf atas perbuatan putri kami, jadi kedatangan kami kesini kami ingin ustadz membebaskan Dila". ucap Bima
"maaf pak saya tidak bisa membebaskan ustadzah Dila karena perbuatannya saya hampir kehilangan anak saya dan saya rasa ustadzah Dila pantas untuk mendapatkan hukuman yang sekarang ". ucap ustadz Ghazali
"ustadz kami mohon bebas Putri saya dia sedang mengandung apa ustadz tidak kasihan ". ucap Mutia
ustadz Ghazali dan Abah terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh ibunya ustadzah Dila
"mengandung ". ucap Ghazali
"iya ustadz, kedatangan kami adalah karena kami tidak tega melihat Putri kami di penjara dengan keadaan hamil dan kami janji setelah itu kami akan membawa putri kami pulang, walaupun kesalahan yang di lakukan putri kami sangat besar bahkan membuat kami malu kami tidak tega melihat menderita seperti itu apalagi hamil tanpa suami ". ucap Bima
"tapi maaf pak saya tetap tidak bisa membebaskan, jika saya membebaskan saya takut Ustadzah Dila tidak jera dengan perbuatannya ". ucap Ghazali
"saya datang kemari baik baik untuk meminta kebebasan putri ku tapi kamu kekeh tidak mau membebaskannya, asal kamu tahu putri bisa berbuat seperti itu karena kamu menolaknya ". ucap Mutia dengan amarah
"andai kamu mau menikah dengannya maka putri tidak akan berbuat seperti itu ". sambung Mutia
"Bu jangan marah marah, ini juga salah ibu yang memanjakan sejak kecil karena apapun yang dia minta harus terpenuhi ". ucap Bima
"saya sebagai ayah mintalah maaf, jika tidak bisa di bebaskan, bisakah hukuman di ringankan, setidaknya sebelum Dila melahirkan Dila sudah bebas dari penjara ". ucap Bima
"akan saya usahakan untuk itu ". ucap Ghazali
bukan dendam atau apa hanya saja Ghazali ingin seseorang bisa bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.
sedangkan di dalam penjara Dila mengerang kesakitan ketika dia tawanan menjambak rambut
"aku sudah bilang diam". ucap tawanan itu yang terganggu dengan tangisan Dila
"pakaian lebar tapi penjahit juga sekarang sok sok an nangis dulu tidak berpikir apa yang di lakukan adalah kriminal".
"sakit lepaskan hiks".
"diam saya pusing dengan tangisan mu itu".
"iya iya saya akan diam". ucap Dila
__ADS_1
dua orang itu melepaskan Dila dan melanjutkan untuk tidak dan Dila meringkuk di pojokan sambil memegang kepala yang terasa sakit
Dila menutup mulutnya dan air matanya terus saja keluar dari matanya