Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Ustadz Menyebalkan


__ADS_3

Shazia bernafas lega setelah berhasil keluar dari masjid


"tulisan apa coba itu tadi, tidak bisa dibaca lagi". ucap Shazia


"aneh orang orang disini , Kenapa tulisan seperti itu harus dibaca dan katanya jika membacanya dapat pahala, apa lagi itu pahala". ucap Shazia sambil memijat dahinya


"kenapa orang orang juga betah disini padahal banyak aturan dan berpakaian besar besar seperti ini". sambung Shazia


"jauh lebih baik pakai pakaian besar yang tidak menampakkan lekuk tubuh yang akan mendapatkan dosa". ucap ustadz Ghazali yang berdiri di belakang Shazia


Shazia mendengus sebal saat ustadz Ghazali ada di belakangnya


"kenapa disini kembali ke masjid dan mengaji bersama ". perintah Ustadz Ghazali


"segera Shazia atau saya hukum kamu untuk menghafal Al-Qur'an 30 juz dalam sehari". ancam ustadz Ghazali


"ustadz saya tidak bisa baca itu apa nama Al-Qur'an, apalagi tulisan seperti itu". jawab Shazia


"kamu tidak bisa mengaji ". tanya ustadz Ghazali


"apa itu mengaji". tanya Shazia balik


"Mengaji adalah kegiatan membaca Al Qur'an . kegiatan ini dalam agama Islam termasuk ibadah dan orang yang melakukannya akan mendapatkan ganjaran dari Allah". jawab ustadz Ghazali


"maleslah tadz saya tidak paham baca itu ". ucap Shazia


ustadz Ghazali menghalangi Shazia yang pergi


"ustadz minggir". ucap Shazia


"mau kemana ". tanya ustadz Ghazali


"mau kembali ke asrama ". jawab Shazia dengan santai


"ikut saya". ucap Ustadz Ghazali


"tidak mau". jawab Shazia yang berusaha pergi tapi lagi lagi ustadz Ghazali menghalanginya


"ikut". ucap ustadz Ghazali dengan dingin


Shazia mengikuti langkah ustadz Ghazali yang menuju ke kantor. sesampainya di kantor Ghazali menyuruh Shazia untuk duduk. Shazia memperhatikan ustadz Ghazali yang sedang mencari sesuatu


"apa ini". tanya Shazia dan membukanya


"itu nama iqro, sebelum membaca Al-Qur'an kamu belajar ini dulu". jawab Ghazali


Ghazali membuka halaman pertama dan meletakan iqro itu ke hadapan Shazia, Shazia menatap iqro itu yang hampir sama dengan Al-Qur'an tetapi ini ditulis satu huruf


"saya contohkan terlebih dahulu baru kamu ikuti saya". ucap ustadz Ghazali


Shazia kesusahan untuk mengikuti ucapan ustadz Ghazali. ustadz Ghazali menarik nafasnya dan harus menyiapkan stok kesabaran yang banyak untuk mengajari gadis yang ada di hadapannya


"auwh ". ringis Shazia saat ustadz Ilham memukul punggung tangannya saat salah mengucapkan


"yang serius jangan mainan, ulang lagi ". perintah Ustadzah Ghazali


"susah ustadz " jawab Shazia


Shazia menarik nafasnya dan mengikuti ucapan ustadz Ghazali


ustadz Ghazali menghentikan pembelajaran saat mendengar suara adzan subuh


"kita lanjutkan setelah sholat". ucap ustadz Ghazali


"iya". jawab Shazia

__ADS_1


Shazia berjalan dibelakang ustadz Ghazali menuju masjid, sesampainya di masjid Shazia duduk di samping Dea


"darimana". tanya Dea


"tidak dari mana mana". jawab Shazia


saat sholat subuh ini Shazia menyelesaikan sholatnya dan saat salam terakhir Shazia merasakan sebuah kedamaian saat menyelesaikan sholatnya


"Kenapa rasanya damai dan hati ini tenang". ucap Shazia dalam hati


setelah selesai sholat Shazia melepas mukena yang dia pakai. saat keluar dari masjid Shazia melihat punggung ustad Ghazali. Shazia yang tidak ingin belajar membaca iqro yang menurutnya susah itu berjalan lewat samping masjid dan memilih kembali ke asrama tanpa mengunakan alas kaki.


Shazia sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan ustadz Ghazali tidak mengikuti dirinya


"Dea mau kemana ". tanya Shazia saat melihat Dea yang sudah rapih


"siap siap untuk berangkat kuliah ". jawab Dea


"jadi kamu masih kuliah ". tanya Shazia


"iya, aku berangkat dulu nanti ketinggalan mobil pesantren yang mengantarkan santri kuliah ". ucap Dea dan Shazia menanggukan kepalanya


"assalamualaikum ". ucap Dea


"waalaikumussalam ". jawab Shazia


setelah kepergian Dea, Shazia merebahkan dirinya ke ranjang


"assalamualaikum". ucap santri yang berada di depan pintu


"waalaikumussalam". jawab Shazia


"maaf mba, mbanya di cari ustadz Ghazali di suruh ke kantor sekarang, jika dalam sepuluh menit tidak sampai mba akan di hukum membersihkan seluruh pesantren ini". ucap santri itu


"waalaikumussalam"


"aish apa sih maunya itu ustadz, Kenapa tidak bisa membuat ku tenang, awas saja saya pastikan dalam satu minggu ini hidupmu tidak tenang dan akan meninggalkan pesantren ini". ucap Shazia lalu memakai jilbabnya


dengan rasa malas yang mendominasi Shazia melangkahkan kakinya menuju kantor dewan guru. saat melangkah kakinya Shazia melihat seseorang yang mencurigakan. Shazia mengikuti orang itu secara diam diam.


"mau apa". ucap Shazia saat melihat orang itu masuk ke ndalem


"diam atau aku bunuh". ancam orang yang menggunakan topeng itu


Shazia terkekeh saat di tuding menggunakan pisau. orang tersebut bingung saat Shazia tidak takut sama sekali


bugh


bugh


bugh


Shazia dan orang itu terlibat perkelahian,


bugh


"siapa dia tenaganya cukup kuat". ucap Shazia dalam hati sambil memegang perutnya yang terkena tendangan


"mau kemana". ucap Shazia mencekal tangan orang itu yang akan pergi membawa sebuah dokumen


"kau benar benar ingin mati ya". ucap pria itu


bugh


pria itu memang bagian alat vitalnya yang terkena tendangan dan Shazia segera mengambil dokumen itu

__ADS_1


srett


Shazia memegangi bagian lengan yang terluka


"serahkan dokumen itu". ucap pria tersebut


"tidak, kenapa kamu ingin mengambil sertifikat pesantren ini". ucap Shazia


"itu bukan urusan, anak kecil serahkan sekarang juga". ucap pria tersebut


"tidak ". jawab Shazia


bugh


bugh


Shazia berusaha mempertahankan dokumen itu


bugh


"auwh". ringis pria tersebut saat Shazia menginjak tangannya


"astaghfirullah ". ucap ustadz Ghazali yang menahan tangan Shazia yang akan mengarah pisau pada pria yang ada di bawahnya


"ustadz lepas ". ucap Shazia


"tidak, kamu bisa melukainya ". ustadz Ghazali sedikit kesusahan untuk memegangi tangan Shazia


"pencuri sepertinya harus di beri pelajaran ". ucap Shazia


Abah dan umi yang barusan masuk terkejut saat melihat pemandangan di depannya


"nduk lepaskan pisau itu ". ucap Umi menghampiri Shazia


Shazia sedikit tenang saja umi mengusap bahunya dan kesempatan itu Ghazali gunakan untuk mengambil pisau yang ada di tangan Shazia.


bugh


orang itu pingsan saat Shazia menendang kepalanya


"astaghfirullah". ucap Abah, umi dan ustadz Ghazali saat melihat apa yang di lakukan Shazia


Abah menghampiri orang yang tergeletak di lantai dan membuka topeng tersebut


"Arman". ucap Abah saat mengetahui bahwa itu adalah adiknya


Abah mengambil air dan mempercikkan di wajah adiknya itu, Arman mengerjapkan matanya dan saat itu dia melihat kakaknya ada di depannya


"berusaha ingin mengambil sertifikat pesantren ini lagi". tanya Abah dengan dingin


"aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan pesantren ini". jawab Arman dan berdiri


"Arman kenapa kamu begitu menginginkan pesantren ini". tanya Abah


"aku ingin Abang hancur seperti Abang menghancurkan ku". ucap Arman


"Arman kamu salah paham Abang tidak pernah menghancurkan mu". ucap Abah


"omong kosong aku melihat dengan mata sendiri Abang menghancurkan usahahku dan gara gara Abang aku kehilangan anak dan istriku". ucap Arman dan meninggalkan Abang tetapi saat sampai di depan pintu Arman membalikan badannya


"bagaimana rasanya kehilangan putri kalian, aku beritahu satu rahasia, Putri kalian belum meninggal, malam itu aku menukarnya dan membuang putri kalian ". ucap Arman dan meninggalkan pesantren ini


Abah dan Umi syok mendengar pengakuan Arman tentang putri mereka. umi menatap Abah dan langsung pingsan


"umi". ucap Shazia yang menahan umi agar tidak terjatuh ke lantai

__ADS_1


__ADS_2