Mafia Girls Vs Ustadz Tampan

Mafia Girls Vs Ustadz Tampan
Angin Malam


__ADS_3

setelah berbincang dengan kedua orang tuanya Humaira masuk ke dalam kamar dan mengucap syukur atas kelancaran acara hari ini. Humaira sangat senang orang yang dia sukai secara diam diam dan menyebutkan namanya dalam do'a kini sebentar lagi akan menikah dengan dirinya, awalnya Humaira tidak yakin akan bisa bersanding dengan Gus Amer terlebih lagi dirinya bukanlah seorang Ning dan dia hanya anak dari seorang petani dan ibunya hanya penjual nasi uduk, Humaira bisa menyelesaikan pendidikan karena beasiswa dan saat dirinya mengisi acara di kampus di Mesir tempat Gus Amer mengajar itupun karena dari perusahaan tempat dia bekerja.


"terima kasih ya Allah dan hamba mohon lancarkan sampai hari pernikahan kami". ucap Humaira


Humaira melepaskan cadar dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu sebelum tidur.


sedangkan Amer dan keluarganya baru saja sampai di rumah.


"Abah umi Amer mengucapkan terima kasih pada Abah dan umi karena mau menerima pilihan Amer walaupun pilihan Amer bukanlah seorang Ning ". ucap Gus Amer


"Amer Abah tidak akan mempermasalahkan hal itu yang penting bagi Abah adalah akhlaknya yang baik". ucap Abah


"iya Amer lagian umi sangat senang di pilihan mu, apalagi Abah dan umi sudah mengenal Humaira sejak kecil dan tidak di ragukan lagi bagaimana akhlak yang dia punya ". ucap Umi


"awalnya Amer takut Abah dan umi tidak menyetujui pilihan Amer ". ucap Gus Amer


"kami sebagai orang tua akan menerima apa kepiting anak kami Amer selagi itu baik". ucap Abah


"setelah menikah apa kamu akan kembali ke Mesir Amer". tanya Umi


"tidak umi Amer sudah membereskan pekerjaan Amer di sana jadi nanti Amer akan mendaftar di kampus yang ada di kota ini". jawab Amer


"lalu adikmu ". tanya Umi


"mungkin Faisal alam kembali Katena Faisal juga baru masuk kerja dan tidak enak jika tiba tiba keluar ". jawab Amer dan itu membuat umi menjadi sendiri

__ADS_1


"umi jangan sedih nanti Faisal akan sering sering menghubungi umi ". ucap Gus Faisal yang langsung duduk di samping uminya


"kenapa kalian itu lebih suka di Mesir daripada disini dengan umi kalian ". Ucap Umi


"umi Faisal hanya ingin mencari pengalaman lagian nanti jika Faisal menikah Faisal juga akan tinggal di sini karena Faisal ingin anak anak Faisal tinggal di lingkungan pesantren dan jauh dari pergaulan bebas ". Ucap Gus Faisal lalu memeluk Umi


Abah yang melihat itu hanya terseyum apalagi anak anak menjadi anak yang Sholeh walaupun dulunya mereka sempat nakal.


"ini sudah malam sebaiknya Kalian istirahat ". ucap Abah


"iya Abah assalamualaikum ". ucap Gus Amer dan Gus Faisal secara bersamaan


"wassalamu'alaikum ". jawab Abah dan umi


"bah bagaimana apa abah sudah menemukan kebenaran daripada perkataan Arman ". tanya Umi dan Abah mengelengkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan dari istrinya


"ayo istirahat ". ucap Abah dan mengulurkan tangannya pada umi


umi Merina uluran tangan Abah lalu mereka memasuki kamar dengan bergandengan tangan.


sedangkan di kamar asrama Shazia tidak bisa tidur dan membolak-balikan tubuhnya. Shazia sedang memikirkan bagaimana caranya bertanya pada Abah mengenai identitas seseorang.


"ishh seharusnya aku masuk ke sini mendaftar sebagai santri saja bukan pura pura amnesia, kalau seperti ini Abah bisa curiga jika aku tiba tiba bertanya apalagi tentang orang itu berkas ada di kamar Abah". ucap Shazia sambil memijat dahinya


Shazia yang tidak bisa turun memilih turun dan keluar dari kamar asrama. sesampainya di depan Shazia menyandarkan tubuhnya di pilar lalu menatap langit langit malam itu. saat malam seperti ini suasana disini sangatlah sejuk apalagi di tambah ada beberapa santri yang mengngaji. Shazia menghembuskan nafasnya dengan kasar saat mengingat misinya belum selesai.

__ADS_1


Shazia sedikit meringis saat punggung bergesek dengan pilar karena lukanya benar benar belum kering.


Shazia memilih untuk berjalan jalan malam di pesantren itu dan tidak terasa kakinya berhenti di depan masjid lalu Shazia duduk di depan masjid.


"sebenarnya melihat mereka hidup secara normal tanpa adanya bayang bayang bahaya adalah hal yang menyenangkan". ucap Shazia saat melihat hidup para Santri di sini yang begitu bahagia


sebenarnya ada rasa iri di dalam hati Shazia Karena hidupnya selalu berada di dalam bahaya, ada keinginan hidup seperti Gadis gadis lainnya yang menghabiskan waktunya pergi ke mall, Salon, cafe ataupun bioskop tapi apalah data setiap kali dia menyelesaikan tugasnya ayahnya selalu memberikan tugas yang baru.


untuk sekolah saja dia harus privat bukan sekolah umum seperti anak anak lainnya dan pelajaran yang dia dapat sejak kecil hanyalah bisnis buka pelajaran umum yang ada di sekolahan.


bukan hanya waktunya untuk bermain ataupun sekolah yang di sita oleh ayahnya tapi Lucas tidak akan membiarkan dirinya untuk berpacaran bahkan Lucas melarang keras dirinya untuk menikah.


"aku harap ayah bisa memenuhi janji ayah jika aku bisa menyelesaikan tugas ini ayah akan mengizinkan aku menikah dengan Marvin". ucap Shazia


"sedang apa ya dia sekarang, biasanya kalau tugasku bukan di pesantren, kita pasti akan diam diam bertemu dan pacaran". sambung Shazia dan terkekeh saat membayangkan bagaimana dulu dia harus bersembunyi dari ayahnya kita bersama Marvin


"tunggu aku Marvin, setelah tugas ini selesai kita akan menikah dan hidup bahagia karena ayah bilang ini tugas terakhir ku dan setelah itu aku bisa memilih jalan hidup ku sendiri". ucap Shazia


Shazia mengusap lengangnya yang terasa dingin walaupun dia mengunakan gamis. sedangkan tidak jauh dari sana ustadz Ghazali memperhatikan Shazia untuk mengetahui apa yang akan di lakukan gadis itu dan ustadz Ghazali sudah bertekad akan mengikuti Shazia ketika keluar dari pesantren agar dia tau apa yang Shazia lakukan karena sering diam diam keluar dari pesantren.


"apa dia akan keluar lagi malam ini". ucap ustadz Ghazali


"aku harus tau kemana dia pergi dan siapa dia sebenarnya". sambung ustadz Ghazali


Shazia yang sudah merasa mengantuk berjalan kembali ke asrama. sesampainya di asrama Shazia langsung membaringkan tubuhnya dan terlelap.

__ADS_1


"ternyata dia kembali ke asrama". ucap ustadz Ghazali yang diam diam mengikuti Shazia


karena tidak ada yang mencurigakan ustadz Ghazali berjalan meninggalkan asrama putri dan kembali ke kamarnya. sesampainya di kamar ustadz Ghazali mengambil wudhu sebelum tidur


__ADS_2