
"ma Ghazali dan Shazia pamit dulu ya". ucap Ghazali
"iya hati hati dan jangan lupa sering sering kemari". ucap Khadijah
"nanti jika pesantren libur Ghazali pasti pulang ". jawab Ghazali
"mama harap ketika kamu pulang, kalian sudah bertiga". ucap Khadijah
"do'akan saja ma". ucap Ghazali
sedangkan Shazia hanya memperhatikan suaminya dan juga mamanya
tin
tin
"Ghazali pamit assalamualaikum ". ucap Ghazali
"wassalamu'alaikum ". jawab Khadijah
Ghazali membukakan pintu untuk istrinya lalu mereka dua masuk ke dalam mobil. Khadijah menatap mobil yang meninggalkan rumahnya. di perjalanan Shazia terus saja menguap
"tidurlah nanti kalau sudah sampai aku bangunkan ". ucap Ghazali dan meletakan kepala Shazia di bahunya
Ghazali menggengam tangan Shazia begitu erat. Shazia yang memang masih mengantuk dan juga lelah langsung terlelap. Ghazali mengusap punggung tangan istrinya.
setelah tujuh jam perjalanan akhirnya mereka sampai di pesantren An-Nur
"Shazia bangun". ucap Ghazali dan menepuk nepuk pipi istrinya
"eugh masih mengantuk". jawab Shazia
"kita sudah sampai ayo bangun". bisik Arden
Shazia membuka matanya dan benar saja mereka telah sampai di pesantren An-Nur. sebelum turun Ghazali membayar ongkos travelnya. setelah turun dari mobil Ghazali menggengam tangan Shazia dan mereka berjalan menuju ndalem. Ghazali terkejut saat Shazia menggengam tangan begitu erat
"ada apa". tanya Ghazali tetapi Shazia tidak merespon
Ghazali mengikuti pandangan Shazia dan Ghazali melihat seorang pria yang belum pernah dia lihat
"siapa dia kenapa Shazia menatapnya seperti itu". ucap Ghazali dalam hati
"Shazia ayo jalan lagi". bisik Ghazali dan mengusap tangan Shazia yang dia genggam
mereka melanjutkan jalan hingga sampai di depan ndalem
"kenapa kak Derrel ada di sini". Ucap Shazia dalam hati
"assalamualaikum abah". ucap Ghazali
"Waalaikumussalam akhirnya kalian sampai juga". ucap Abah
__ADS_1
"ayo masuk dulu". ajak Abah
mereka berdua masuk dan duduk di ruang tengah
"bagaimana liburan kalian". tanya Abah
"Alhamdulillah liburan menyenangkan". jawab Ghazali
"Shazia bagaimana suasana di kampung halaman suamimu". tanya Abah
"Bagus dan nyaman bah". jawab Shazia
"kalian pasti lelah karena perjalanan jauh, ini kunci untuk rumah kalian berdua, Ghazali kamu sudah tidak tinggal di kamar khusus pengajar tapi kalian akan tinggal di rumah samping aula itu ". ucap Abah
Ghazali menerima kunci tersebut
"terima kasih Abah". jawab Ghazali
"kemarin rumahnya sudah di bersihkan jadi bisa langsung di tempati ". ucap Abah
"iya bah kalau begitu kami pamit dulu, assalamualaikum bah ". ucap Ghazali
"wassalamu'alaikum ". jawab Abah
Ghazali membawa istrinya menuju rumah yang ada di samping aula. sepanjang perjalanan Shazia merasa tidak nyaman ketika Derrel terus menatapnya selain Derrel ternyata Marvin juga memperhatikannya. Shazia memperhatikan Derrel yang memberikan sebuah isyarat untuk menemuinya.
sesampainya di rumah yang akan mereka tempati. mereka langsung masuk
"nanti saja sebaiknya sekarang kita masuk dulu dan bersih bersih karena sebentar lagi mau magrib". Ucap Ghazali dan membawa Shazia masuk
di rumah itu hanya ada satu kamar, ruang tamu ruang makan yang bergabung dengan dapur dan kamar mandi
"Untuk sementara kita tinggal di sini dulu, sembari mencari rumah yang ada di sekitar pesantren". ucap Ghazali
Ghazali sebenarnya sudah membeli rumah yang ada di sekitar pesantren dan sedang tahap renovasi, karena Ghazali ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya tapi untuk saat ini dia memilih untuk tinggal di lingkungan pesantren terlebih dahulu sampai istrinya benar benar sudah paham tentang agama dan tidak kembali ke dunianya.
karena bagi Ghazali jika mereka tinggal di luar pesantren dia tidak bisa mengawasi istrinya apalagi waktunya akan banyak di habiskan di pesantren.
tok
tok
"assalamualaikum ustadz".
"wassalamu'alaikum". jawab ustadz Ghazali dan membuka pintunya
saat pintu terbuka ustadzah Dila tersenyum bahkan ustadzah Dila semakin terpana dengan penampilan ustadz Ghazali yang berbeda apalagi dengan wajah yang bersih tanpa brewok membuat ustadz Ghazali semakin tampan
"ada apa ustadzah". tanya ustadz Ghazali
"ini ustadz saya mau mengantarkan makanan". ucap ustazah Dila dan memberikan sebuah rantang
__ADS_1
"terima kasih Ustadzah Dila, nanti akan saya makan bersama istri saya". Ucap ustadz Ghazali dan itu membuat senyum dibibir ustazah Dila luntur
"jika sudah tidak ada keperluan, saya masuk dulu assalamualaikum". Ucap ustadz Ghazali
"wassalamu'alaikum". jawab Ustadzah Dila
"Shazia makan dulu , ini ada makanan ". ucap ustadz Ghazali dan meletakan makanan
Shazia keluar dari kamar dan mengahampiri suaminya. Ghazali mengambil dua piring sedangkan Shazia membukanya rantangnya. saat membuka rantang tersebut Shazia menemukan sebuah kertas
..."semoga ustadz menyukai makanan yang aku masak sendiri"...
"sepertinya ini makanan dari orang yang menyukai ustadz dan mungkin berharap untuk menjadi istri ustadz ". ucap Shazia sambil meletakkan kertas tersebut
Ghazali mengambil kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah
"tapi saya tidak akan menyukai seseorang yang tidak halal untuk saya sukai atau cintai ". ucap Ghazali dan meletakan piring yang berisi makanan di depan Shazia
"tidak percaya saat ini ustadz bicara seperti itu siapa tau dengan perhatian yang dia berikan akan membuat ustadz jatuh cinta kepada lalu menjadikan dia isteri kedua, laki laki itu semuanya sama saja sok sok nolak tapi akhirnya mau". Ucap Shazia dengan sewot
"berarti laki laki yang ada di hatimu dan yang kamu bilang tampan itu juga laki laki yang awal sok sok nolak akhirnya mau juga jika ada perempuan yang mendekatinya ". ucap Ghazali
"itu beda karena dia hanya mencintaiku". ucap Shazia
"yakin, bagaimana jika satu bulan ini dia menemukan perempuan lain ". goda Ghazali
"lagian untuk apa memikirkannya dan sebaiknya mulai hari ini hatimu kamu isi dengan namaku tapi aku yakin sih setengah dari hatimu sudah ada namaku atau mungkin malah sudah sepenuhnya ". ucap Ghazali
"sok tau ". ucap Shazia
"bukan sok tau, mana mungkin jika tidak ada namaku semalam kamu melakukan kewajiban mu". goda ustadz Ghazali sambil menaik turunkan alisnya
"itu karena kamu yang paska". jawab Shazia
"aku tidak memaksa ya, aku sudah bertanya dan kamu mengizinkan, jika memang semalam aku memaksa kenapa tidak menolaknya". ucap Ghazali
"tidak bisakan berarti sudah terbukti jika kamu mencintaiku tapi kamu tidak mau mengakuinya karena gengsi kan". goda ustadz Ghazali
"memang ustadz mencintaiku". tanya Shazia
"iya aku mencintaimu, setelah aku menyebut namaku maka detik itu juga aku mencintaimu sebagai istriku". ucap Ghazali
Shazia diam mendengar perkataan ustadz Ghazali bagi Shazia masih tidak percaya karena tidak mungkin mencintai seseorang begitu cepat
"makanlah dan mulai hari ini sebaiknya lupakan orang yang kamu cintai itu karena akan menimbulkan dosa". Ucap Ghazali
mereka berdua makan dengan diam hanya ada detingan sendok yang mengenai piring
💙💙💙💙
Hay aku menemukan lagi nih Novel yang sangat memukau dan wajib untuk di baca, cuss langsung ketik dengan judul "Author And The Baby" karya "Ingflora"
__ADS_1