
hari yang di tunggu tunggu akhirnya tiba yaitu hari pernikahan Amer dan Humaira
"Amer ayo berangkat". ucap Abah
"iya bah". jawab Amer
Amer masuk ke dalam mobil dan merasa sedikit gugup
"sudah di hafalkan Amer". tanya Umi
"sudah mi". jawab Amer
sepanjang perjalanan menuju rumah Humaira Amer melantun sholawat dalam hatinya. Amer menarik nafasnya saat mobil sudah berhenti di depan rumah Humaira
"Humaira pangeran mu sudah datang". ucap Jamila sahabat Humaira
"jangan gugup". sambung Jamila
sedangkan di bawah kedua orang tuanya Humaira sedang menyambut Amer dan keluarganya. kini Amer sudah memegang tangan ayah Humaira
"sudah siap Gus". ucap Damar ayah Humaira
"sudah yah". jawab Amer
"Saya nikahan engkau ananda Amer Alhadan bin Hamzah dengan Humaira Safadilah binti Damar dengan mas kawin uang sepuluh juta rupiah dan emas 10 gram di bayar tunai" ucap Damar
"Saya terima nikahnya Humaira Safadilah binti Damar dengan mas Kawin uang sepuluh juta rupiah dan emas 10 gram di bayar tunai" ucap Amer dengan tegas dalam satu kali tarikan nafas
__ADS_1
sah
Amer merasa lega saat ijab qobul berjalan dengan lancar, Amer meneteskan air matanya setelah berhasil mempersunting bidadari yang sudah memenuhi hatinya
sedangkan di dalam kamar Humaira juga meneteskan air mata karena telah menjadi istri dari pria yang namanya selalu dia sebut dalam doa
"selamat Humaira ". ucap Jamila
"terima kasih Jamila". jawab Humaira
tok
tok
tok
"silahkan Gus". ucap Jamila lalu keluar dari kamar sahabat
Gus Amer berjalan mendekati Humaira yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan kepala yang menunduk
"assalamualaikum istriku ". ucap Gus Amer
"wassalamu'alaikum Gus". jawab Humaira
"apa lantai jauh lebih menarik di bandingkan dengan suamimu ini". ucap Gus Amer
Humaira secara perlahan mengangkat kepalanya dan saat itu mata mereka langsung bertemu
__ADS_1
Gus Amer meletakkan telapak tangan di kepala Humaira lalu membaca do'a setelah selesai Gus Amer mencium kening Humaira cukup lama dan itu sukses membuat jantung Humaira berdebar lalu pipinya pasti sudah berwarna ping dan untung saja Humaira mengunakan cadarnya. Amer lalu mengandeng tangan Humaira saat keluar kamar untuk menandatangani berkas berkas pernikahan. saat pasang pengantin itu keluar semua orang mendapat dengan takjub tapi ada pula yang tidak suka dengan Humaira yang bisa mendapatkan Gus Amer. sesampainya disana mereka langsung menandantangani berkas tersebut.
Humaira merasa gugup saat Gus Amer memeluk pinggangnya untuk melakukan sesi foto
"jangan tegang istriku". bisik Amer saat melihat betapa gugup istrinya itu
"selamat nak kamu sudah menjadi seorang istri sekarang dan ikuti perintah suami selagi masih di jalan kebenaran". ucap ibu Humaira
"iya Bu". jawab Humaira
Gus Amer dan Humaira kini duduk di pelaminan untuk menerima tamu undangan, sebenarnya perayaan yang di lakukan hanya sederhana tapi warga sekitar pada datang suaminya
saat adzan Dzuhur acara sudah selesai kini pasang pengantin itu sedang ada di kamar untuk melakukan sholat
"boleh saya buka cadarnya". tanya Gus Amer
"boleh Gus". jawab Humaira
Amer melepaskan tali cadar itu dan Amer terpana dengan kecantikan Humaira, make up sederhana
"cantiknya". puji Gus Amer sedangkan Humaira tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat mendapat pujian itu
"sebaiknya sekarang bersihkan make up mu dan ambil wudhu untuk pertama kalinya kita akan sholat berdua". ucap Gus Amer
"baik Gus". jawab Humaira
Humaira langsung membersihkan makeup yang ada di wajahnya dan setelah itu langsung mengambil wudhu. setelah selesai wudhu mereka berdua langsung melaksanakan sholat
__ADS_1