
di belakang Ghazali sedang melihat stok kain dan memang benar tinggal sedikit, Ghazali langsung mencatatnya untuk membelinya lagi. setelah itu Ghazali beralih ke tempat penjahit. ya Ghazali memilih untuk menjahit sendiri.
"kalau memang stok bahan sudah habis berhenti dulu menjahit dan di etalase itu masih cukup untuk 4 sampai 7 hal ke depan". ucap Ghazali pada karyawan
"kalau untuk offline saja itu masih cukup pak, tapi di bulan di banyak pesan dari online dan masih ada beberapa yang belum di packing dan masih ada sekitar tiga puluh pesanan online yang belum di jahit". ucap karyawan
"oke, mungkin dua hari lagi kain baru datang, untuk yang online itukan pre order jadi usahakan yang di toko jangan sampai kosong, hari ini akan saya pesankan kainnya". ucap Ghazali
"baik pak".
setelah memastikan semuanya masih bisa di handle Ghazali segera kembali ke ruangannya. sedangkan Shazia yang masih berada di ruangan Ghazali membuka sebuah buku yang terdapat lembaran kertas. kertas itu berisi sebuah desain pakaian muslim
"apa dia mendesain sendiri pakaian muslimnya". ucap Shazia dan melihat gambar gambar itu
ceklek
asiknya Shazia yang melihat gambar gambar itu sampai tidak menyadari kedatangan suaminya. Ghazali tersenyum dan menghampiri istrinya
cup
kecukupan yang di berikan Ghazali membuat Shazia terkejut dan menjatuhkan gambar gambar yang di lihat
"serius sekali sayang sampai tidak menyadari mas masuk". ucap Ghazali
"kenapa suka sekali menciumku dengan tiba tiba ". ucap Shazia dengan kesal lalu duduk kembali di sofa sambil memegang dadanya
Ghazali mengambil gambar gambar yang berserakan dan meletakan kembali ke dalam lemari.
"sudah jangan cemberut seperti itu". ucap Ghazali sambil mencolek dagu istrinya
Ghazali melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan jam sebelas siang
"sayang ayo pulang, jadi jangan di tekuk terus ini wajah atau mas cium lagi". ucap Ghazali
"ayo". ucap Shazia
mereka berdua keluar dari ruangan Ghazali, ketika melewati beberapa karyawan Shazia langsung merangkul tangan suaminya dan menatap para karyawan dengan tajam sehingga mereka menundukkan kepalanya
"ternyata istrinya pak bos posesif sekali".
"iya benar tatapan tadi menakutkan padahal aku aku padanya Bu bos bukan pak bos tapi tatapan seperti itu, aku tidak bisa membayangkan jika pak bos yang aku tatap sepertinya badanku akan diremukkan sama Bu bos"
"iya , tapi mereka pasangan serasi semoga saja bahagia terus "
Ghazali membukakan pintu mobil untuk istrinya lalu Shazia masuk dan duduk tenang di depan. Ghazali mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
" mas mas berhenti ". ucap Shazia tiba tiba
__ADS_1
Ghazali menepikan mobilnya
"ada apa sayang ". tanya Ghazali
"mas lihat deh penjual cilok itu, cilok sepertinya enak". ucap dan Ghazali mengikuti pandangan istrinya yang menoleh ke belakang
"ingin cilok". tanya Ghazali dan Shazia menanggukan kepalanya
"tunggu di sini dan jangan turun ". ucap Ghazali
Ghazali turun dari mobil dan menghampiri penjual cilok. saat berada di penjual cilok Ghazali terus memperhatikan mobilnya
"ini mang ". ucap Ghazali dan memberikan uang pada penjual cilok
"ada uang kecil mas, soalnya dari pagi sampai sekarang baru mas yang beli jadi saya tidak ada kembalinya". ucap penjual cilok
"kembalianya untuk mamang saja". ucap Ghazali lalu meninggalkan penjual cilok
"ini sayang ciloknya". ucap Ghazali
Shazia langsung menerima cilok tersebut dan memakannya
"do'a dulu sayang". ucap Ghazali
"eh iya lupa". ucap Shazia
tok
tok
ada seseorang yang mengetuk kaca mobil saat Ghazali akan melajukan mobilnya. Ghazali menurunkan kaca mobil dan saat melihat orang yang mengetuk pintu Ghazali menghembuskan nafasnya
"maaf ustad boleh saya bareng, ojek yang saya tumpangi mogok ". ucap ustadzah Dila
"itu lihat mogok di sana". tunjuk ustadzah Dila
"sayang bagaimana". tanya Ghazali
"boleh daripada dia jalan kaki sampai pesantren ". ucap Shazia
"silahkan masuk ". ucap Ghazali
ustadzah Dila membuka pintu belakang. Ghazali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil terjadi keheningan. Shazia fokus pada ciloknya dan ustadzah Dila memperhatikannya
"bagaimana cara ku memasukkan cairan ini ke makanan ". ucap ustadzah Dila dalam hati
"mas sudah kenyang ini untuk mas saja". ucap Shazia lalu menyodorkan plastik cilok yang tinggal sambalnya saja
__ADS_1
"apa yang harus mas makan sayang, itu tinggal sambalnya saja". ucap Ghazali yang mengelengkan kepalanya karena bisa bisanya tinggal sambalnya dan di berikan padanya
"ini sambalnya masih banyak jadi bisa di makan, ciloknya untuk ku dan sambalnya untuk mas ". ucap Shazia sambil tersenyum
Ghazali menerima kantong plastik itu lalu di letakan di dashboard. Shazia tengok kanan kiri
"cari apa sayang". tanya Ghazali
"minum". jawab Shazia
"pakai ini saja". ucap ustadzah Dila dan menyodorkan sebuah botol
Shazia mengambil botol itu
"ini bekas ustadzah ya". tanya Shazia
"tidak itu masih baru". jawab ustadzah Dila
"tapi ini segelnya sudah terbuka, ini aku kembalikan saja". ucap Shazia dan menyodorkan kembali botol tersebut
"aku masih bisa menahan, sebentar lagi sampai di pesantren". sambung Shazia
"minum ini saja tidak apa apa". ucap ustadzah Dila
"kalau mau ustadzah saja yang minum". jawab Shazia dengan dingin
Ghazali menghentikan mobilnya di tepi jalan
"dek kemari". panggil Ghazali pada seorang anak
"berapaan minumannya". tanya Ghazali
"5 ribu om". jawab anak itu
"satu ya". ucap Ghazali
"kembalianya ambil saja". ucap Ghazali
"terima kasih om". jawab anak itu
"ini sayang". ucap Ghazali dan memberikan botol minum
Ghazali melajukan kembali mobilnya dan Shazia menatap ustadzah Dila dengan tajam lewat kaca. mobil memasuki halaman pesantren dan menuju rumah yang di tempati Ghazali
"terima kasih ustadz untuk tumpangannya". ucap ustadzah Dila
"iya sama sama ". jawab Ghazali
__ADS_1
"eh tunggu ustadzah, jangan lupa buang botol jangan sembarangan". ucap Shazia sambil tersenyum