
setelah selesai membuatkan salad untuk istrinya, Ghazali meletakkan salad itu di depan istrinya. mata Shazia berbinar saat melihat sayuran segar itu. tanpa menunggu lama Shazia langsung melahap salad tersebut. Shazia menikmati salad itu dengan senyum senyum sendiri.
Ghazali dan mamanya saling pandang saat melihat Shazia tersenyum sendiri
"hmmm kenapa rasa saladnya sangat enak seperti ini". ucap Shazia dalam hati
"sayang kenapa senyum senyum sendiri". tanya Ghazali dan Shazia langsung berhenti tersenyum
"tidak apa apa". jawab Shazia dan Ghazali menanggukan kepalanya
setelah selesai makan sambil menunggu adzan magrib Shazia berdiri di depan cermin dan mengangkat bajunya lalu jarinya mengusap perutnya yang memar.
"sampai memar seperti ini, kamu begitu kuat hingga masih bertahan di dalam sini padahal pukulannya sangat kuat". ucap Shazia
Ghazali masuk ke dalam kamar membawa mangkuk dan kain, Shazia langsung menurunkan bajunya
"sayang berbaringlah mas kompres dulu perutnya sebelum di olesi salep". ucap Ghazali
Shazia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, Ghazali langsung menyibak baju Shazia sedangkan Shazia menahan malu. Ghazali mengompres perut istrinya dengan telaten dan setelah itu memberikan salep.
"kenapa mas dengan begitu mudah menerima ku bahkan mas belum tau asal usul ku". tanya Shazia
"kamu istriku dan ketika ijab Kabul sudah terlaksana mas tidak peduli seperti apa asal usul mu yang terpenting bagi mas adalah bagaimana dirimu sekarang ketika menjadi istri mas". jawab Ghazali dengan tersenyum
"lalu bagaimana jika menikah dengan ku , mas akan mengalami banyak masalah, padahal sebelum menikah dengan ku hidup mas damai dan tentram tapi setelah menikah dengan ku mas harus menghadapi masalah masalah yang belum pernah mas alami". ucap Shazia
"setiap orang yang hidup pasti akan mengalami masalah dan tidak mungkin hidupnya akan terus damai dan lurus, yang terpenting adalah kita harus hadapi masalah itu bersama sama dan saling menguatkan". jawab Ghazali
__ADS_1
"tapi jika masalahnya bukan seperti masalah yang pada umumnya bagaimana mana". tanya Shazia
"apapun masalah kita harus tetap bersama". ucap Ghazali lalu mencium bibir istrinya
Ghazali tersenyum saat terlihat semburat warna merah di pipi istrinya
"sudah jangan banyak di pikiran, apapun yang terjadi untuk ke depannya kita harus saling percaya". ucap Ghazali
"sudah adzan magrib mas tidak ke masjid ". tanya Shazia
"mas sholat di rumah saja bersama mu". jawab Ghazali
waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Shazia masih betah berdiri di dekat jendela.
"apa bisa aku bertahan di pernikahan ini dan apa bisa aku selalu bersama Suamiku yang memberiku perhatian dan kasih sayang ". ucap Shazia dalam hati
Shazia sedikit terkejut saat ada sebuah tangan melingkar di perutnya tapi setelah mencium bau mint milik suaminya Shazia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya
"jangan berpikir untuk meninggalkan ku dan aku pastikan akan aku cari sampai ke ujung dunia jika kamu berani meninggalkan ku, dan setelah itu aku berikan hukuman karena telah berani meninggalkan ku". ucap Ghazali
"mengancam nih ceritanya pak ustadz ". ucap Shazia
"bukan mengancam tapi jika itu terjadi bersiap siaplah menerima hukuman dari ku". bisik Ghazali
"jika aku pergi memangnya mas bisa menemukan ku". ucap Shazia dan Shazia yakin suaminya tidak akan bisa menemukan keberadaan
"dengan mudah mas akan menemukan mu". jawab Ghazali
__ADS_1
Ghazali menutup gorden kamar dan membalikkan badan istrinya
"sudah malam ayo tidur ". ucap Ghazali
"ayo , tapi mau di peluk ". ucap Shazia dan mengalungkan tangannya di leher suaminya
dengan senyum jahilnya Shazia mengarah bibinya ke bibir suaminya, Ghazali melebarkan matanya saat Shazia menggodanya.
"sayang hentikan". ucap Ghazali ketika ciuman Shazia sudah turun ke lehernya dan pastinya meninggalkan jejak
"hey jangan mancing mancing dokter melarang mas untuk menyentuh mu". ucap Ghazali yang berusaha melepaskan tangan Shazia yang merangkul lehernya
Shazia melepaskan tangan dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dan membelakangi Suaminya. Shazia mengigit kukunya setelah menyadari apa yang dia lakukan
"ishhh apa yang telah aku lakukan tadi, bodohnya aku". ucap Shazia
Shazia tersentak ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya, Ghazali membawa Shazia ke dalam pelukannya
"tidurlah ini sudah malam, tidak baik untuk ibu hamil". ucap Ghazali
mereka berdua terlelap dan malam itu turun hujan dan di sertai petir. Shazia tidak menyadari hal itu karena merasa nyaman saat berada di pelukan suaminya.
beda halnya dengan Ustadzah Dila yang tidak bisa tertidur karena memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa memiliki ustadz Ghazali dan ustadzah Dila sudah tidak peduli apapun dia akan menggunakan bagaimana pun caranya dan tidak masalah jika harus menjadi istri kedua.
💙💙💙💙
yuk komen yang banyak masih ada dua bab lagi, jika like dan komennya banyak bakal aku up😊
__ADS_1