
sudah seminggu Ghazali dan Shazia berada di kampung. akhir ini mereka harus kembali ke pesantren karena Ghazali tidak bisa meninggalkan pekerjaan mengajar terlalu lama. sejak tadi Shazia terus saja memeluk mama mertua.
"sayang ayo berangkat". ucap Ghazali
"nak ayo masuk ke dalam mobil". ucap Khadijah
"mama beneran tidak ikut". tanya Shazia
"untuk saat ini mama ada pekerjaan di sini nak tapi nanti kita kamu melahirkan mama akan kesana". ucap Khadijah dengan tersenyum
"janji". ucap Shazia dan Khadijah menganggukkan kepalanya
"kami berangkat dulu ma, assalamualaikum". ucap Ghazali
"waalaikumussalam". jawab Khadijah
Ghazali dan Shazia bergantian mencium punggung tangan Khadijah lalu masuk ke dalam mobil. Ghazali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Shazia memejamkan matanya karena benar benar merasa mengantuk sedangkan Ghazali fokus mengemudi. tangan terulur untuk mengusap perut Shazia
"anak anak Abi jangan rewel ya kita masih di jalan". ucap Ghazali
untuk mengurangi keheningan di dalam mobil Ghazali menghidupkan sholawat. setelah beberapa jam mobil berhenti di sebuah tempat. Shazia mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling
"mas kenapa berhenti di makam". tanya Shazia
"aku ingin mengajak mu ke makam ayah". jawab Ghazali
"jadi ayahnya mas tidak di makamkan di desa". tanya Shazia
"tidak, disini tempat peristirahatan terakhir ayah". jawab Ghazali lalu turun dari mobil
Ghazali mengitari mobil lalu membuka pintunya tempat Shazia duduk lalu mengulurkan tangannya. Ghazali mengandeng tangan Shazia lalu membawanya ke sebuah makam. Ghazali berjongkok lalu membersihkan rumput yang ada di sekitar makam lalu mendo'akan ayahnya yang di ikuti oleh Shazia.
"assalamualaikum ayah, maaf Ghazali baru datang kemari". ucap Ghazali
"hari Ghazali tidak datang sendiri tapi Ghazali bawa istri Ghazali namanya Shazia ayah, Ghazali harap ayah membrikan restu pada Kami". sambung Ghazali
__ADS_1
" ayah sebentar lagi Ghazali akan jadi ayah dan Ghazali juga sudah menepati amanah yang akan berikan sebelum pergi". sambung Ghazali
Shazia memperhatikan suaminya lalu memperhatikan nisan milik ayah Ghazali. setalah rindu terhadap ayahnya terobati Ghazali dan Shazia melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke pesantren. tidak membutuhkan waktu lama , hanya tiga puluh menit mereka sudah sampai di depan rumah mereka.
Shazia turun dari mobil dengan secara perlahan lalu mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam rumah. Shazia duduk di sofa yang ada di ruangan tamu dan berusaha memijat kakinya
"ada apa sayang". tanya Ghazali yang melihat istrinya sedikit kesulitan
"kakiku rasanya keram mas". jawab Shazia
Ghazali langsung duduk di samping istrinya lalu meraih kaki Shazia lalu memijatnya.
"apa masih terasa keram". tanya Ghazali
"sudah sedikit enak mas". jawab Shazia
dengan secara perlahan Ghazali memijat kaki istrinya
"kenapa mas bisa punya sifat seperti ini". tanya Shazia
"kenapa mas begitu memanjakan ku bahkan tidak segan segan memijat kakiku padahal di luaran sana banyak pria yang tidak peduli dengan istrinya". ucap Shazia
"mama mendidik ku untuk memuliakan seorang istri jika sudah menikah karena dengan do'a dari istri maka Rezeki dan segala urusan di permudah dan jadi istri juga tidak lah mudah karena mereka harus mengurus banyak hal apalagi nanti ketika sudah memiliki anak, istri seakan tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri". Jawab Ghazali sambil tersenyum
"andai semua suami di luaran sana seperti mas pasti banyak wanita yang beruntung dan senang". ucap Shazia
empat bulan kemudian
Shazia menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika merasa perut semakin berat di usianya sudah memasuki sembilan bulan dan perkiraan dokter dia akan melahirkan seminggu lagi.
"sudah jam sebelas malam, kenapa mas belum pulang juga". ucap Shazia dan mengintip dari balik jendela kamarnya
"biasanya paling lambat jam 9, apa aku susul aja aja tapi mas melarang ku keluar '. ucap Shazia dan berjalan keluar kamar
"nak kemana Abi mu ya kenapa belum pulang ". ucap Shazia sambil mengambil air
__ADS_1
Shazia berjalan menuju ruang tamu dengan sedikit kesulitan.
ceklek
Ghazali membuka pintu dan langsung bertatapan dengan istri, Ghazali langsung menutup pintunya lalu menguncinya karena istrinya tidak menggunakan hijab apalagi baju yang di gunakan adalah gaun malam yang tipis. semenjak kehamilan Shazia memasuki umur delapan bulan Shazia sering merasakan gerah sehingga membuat nyaman mengunakan gaun malam yang tipis dan bahannya dingin ketika tidur.
"kenapa belum tidur sayang". tanya Ghazali dan menghampiri istrinya
"aku tidak bisa tidur mas karena kamu belum pulang". jawab Shazia
"maaf , tadi ada rapat untuk penerimaan santri baru". jawab Ghazali
"sudah malam ayo masuk ke dalam kamar". ajak Ghazali
"mama kapan kesini mas". tanya Shazia
"dua hari lagi sayang". jawab Ghazali sambil melepas baju kokonya dan juga sarungnya
Ghazali menghampiri istrinya yang sudah berbaring di atas ranjang lalu membawanya ke dalam pelukannya lalu mengusap perut istrinya
"assalamualaikum anak anak Abi , sebentar lagi kita bertemu, semoga kalian jadi anak anak yang Sholeh atau Sholehah ya". ucap Ghazali
mereka berdua sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka agar menjadi kejutan nantinya. satu minggu yang lalu mereka juga sudah berkonsultasi kepada dokter bahwa Shazia bisa melahirkan secara normal
"mas aku sangat mencintaimu". ucap Shazia
cup
Shazia mencium bibir suaminya itu
"aku juga sangat mencintaimu sayang". jawab Ghazali
"aku sangat sangat mencintai mu mas Ghazali Ibrahim". ucap Shazia
sudah dua minggu ini Shazia selalu mengatakan mencintai suaminya ketika hendak tidur dan bangun tidur. Shazia mencari posisi yang nyaman lalu memejamkan matanya. Ghazali menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya lalu menatap wajah istrinya dengan intens lalu mencium dahinya dan menyusul istrinya ke alam mimpi
__ADS_1