
malam hari Shazia berjalan sembunyi sembunyi menuju rumah ustadz Ghazali. malam ini Shazia akan mengerjai ustadz Ghazali kembali, Shazia menatap plastik yang dia bawa.
"**** ini sudah malam tapi kenapa dia belum tidur". ucap Shazia saat mendengar ustadz Ghazali yang sedang mengaji
"apa dia tidak capek pagi, Siang, sore dan malam pun masih mengaji". sambung Shazia
Shazia memilih untuk duduk di bawah jendela kamar ustadz Ghazali, disini Shazia tidak akan ketahuan karena ada tumbuhan bunga yang akan membuatnya aman bersembunyi. satu jam dua jam Shazia menunggu tetapi ustadz Ghazali belum juga tertidur. Shazia mulai bosan dan kesal di tambah lagi banyaknya nyamuk
"kenapa lama sekali sudah hampir dua jam aku duduk di sini dan dia belum selesai juga". ucap Shazia sambil menepuk nyamuk
ting
*Derrel*
malam adikku sayang, temui kakak, kakak ada di di dekat pesinetron
Shazia terseyum menatap jam di tangannya yang menampilkan pesan dari kakaknya. Shazia bangkit dan berjalan menuju samping rumah ustadz Ghazali, Shazia memanjat pohon mangga untuk melompati tembok
bugh
ustadz Ghazali membuka jendelanya saat mendengar sesuatu yang jatuh. ustadz Ghazali melihat ke sekitar dan saat itu Ustadz Ghazali menemukan sebelum kantong plastik ada di bawah jendelanya, kantong plastik tersebut bergerak gerak dan keluarlah seekor ular. ustadz Ghazali menepuk jendelanya kembali.
Shazia bernafas lega saat ustadz Ghazali tidak melihat dirinya yang ada di atas pohon mangga. Shazia secara perlahan memijakan kakinya di atas pagar dan melompat Keluar. Shazia berjalan menyusuri jalan dan sampailah Shazia di sebuah danau, senyum Shazia mengembang saat melihat punggung seseorang yang dia kenal. Shazia langsung memeluknya dari belakang
"Zia rindu kakak". ucap Shazia
orang yang di peluk Shazia memutar badannya dan memeluk adiknya yang sangat dia rindukan
"kakak juga merindukan adik kakak yang cantik ini". ucap Derrel dan menarik pipi adiknya
"kapan Kakak sampai di Indonesia". tanya Shazia
"kemarin kakak pulang tetapi tidak menemukan mu dirimu dan kakak tanya sama ayah, ayah bilang kamu sedang menjalankan tugas yang ayah berikan ". ucap Derrel
kini mereka berdua duduk sambil melihat danau. Shazia menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya
"iya". jawab Shazia dengan lesu
__ADS_1
"Kenapa cemberut hmmm". tanya Derrel saat mendengar adiknya menjawab dengan lesu
"Zia sudah membuat ayah kecewa karena Zia belum bisa menyelesaikan tugas yang ayah berikan ". jawab Shazia
"tumben biasanya adik kakak ini sangat cepat menyelesaikan tugas ". ucap Shazia
"di pesantren itu banyak aturan sehingga membuat Zia sulit untuk bergerak dengan bebas dan di tambah ustadz yang sangat menyebalkan dia selalu mengawasi Zia, Zia lebih baik berhadapan dengan musuh daripada harus berperan sebagai santri". jawab Shazia
"tapi kakak yakin adik kakak ini bisa menyelesaikan tugas dan kakak juga yakin kamu bisa menyingkirkan orang orang yang menghalangi jalanmu ". ucap Derrel
"kakak bagaimana jika kakak saja yang menjalankan tugas Zia rasanya Zia sudah tidak sanggup tinggal di pesantren". ucap Shazia
"tidak bisa sayang, kakak juga banyak tugas jadi Zia selesaikan tugas yang ayah berikan, ayah pernah mengajari kita jangan muda menyerah ". ucap Derrel dan merangkul adiknya
mereka berdua diam melihat danau yang nampak tenang itu. Derrel mengusap bahu adiknya.
"ini tadi kakak membelikan buat kesusksesan mu". ucap Derrel dan memberikan buah anggur kepada adiknya
Shazia mengambil buah tersebut dan memakannya dengan tenang. setelah cukup lama mereka berdiam disana Derrel mengambil sesuatu dalam sakunya
"ini kamu pegang". Derrel menyerahkan sebuah pisau
"ini pegangan, ini pisau ada racunnya, pisau ini bisa kamu gunakan untuk menyerang musuh jika ada yang tiba tiba menyerang mu, karena kakak yakin di pesantren tidak boleh membawa pistol jadi Kakak berikan pisau ini". jawab Derrel
"makasih kakak". ucap Shazia dan memeluk kakaknya
"sama sama adikku". jawab Derrel
"sebaiknya kamu sekarang kembali ke pesantren". perintah Derrel
Shazia menganggukan kepala dan berjalan meninggalkan kakaknya. Shazia bernafas lega saat sudah berada di dalam pesantren. Shazia berjalan menuju kamar ustadz Ghazali dan Shazia terseyum saat tidak mendengar apapun. secara perlahan Shazia membuka jendela lalu masuk. Shazia mengambil sebelum serbuk dan meletakan di pakaian ustadz Ghazali
"selamat menikmati ustadz Ghazali hahaha". ucap Shazia secara pelan pelan dan segera keluar dari kamar tersebut.
"sialnya kenapa ini tangan harus terkena itu serbuk". umpat Shazia dan menggaruk tangannya yang gatal
Shazia berjalan dengan cepat menuju kamar asramanya untuk mengobati tangannya yang gatal. sesampainya di kamar asrama Shazia mengambil sebuah salep dan di oleskan ke tangannya. Shazia melihat tangan yang sudah memerah.
__ADS_1
"harusnya tadi pakai sarung tangan". ucap Shazia dan meletakan salep tersebut
Shazia mengambil pisau yang ada di sakunya dan di letakkan di bawa bantal lalu membaringkan tubuhnya
Kemala membuka matanya dan melihat ke arah Shazia
"darimana dia kenapa baru kembali dan apa yang dia sembunyikan di bawah bantal ". ucap Kemala dalam hati
Kemala tau saat Shazia bangun dan meninggalkan kamar asrama, sebenarnya Kemala ingin mengikuti Shazia tetap saat itu dia merasakan perutnya mules dan pergi ke kamar mandi sehingga kehilangan jejak. Kemala memilih kembali ke kamarnya tetapi tidak tidur. saat mendengar pintu terbukanya Kemala berpura pura tidur
"Sangat mencurigakan, aku harus tau apa yang dia sembunyikan, besok pagi aku harus mengambilnya ". ucap Kemala dan memejamkan matanya
sedangkan di tempat lain Derrel memakirkan mobilnya dan masuk ke sebuah club
"bos ada barang baru dan masih perawan serta body bagus, aku yakin dia akan mencari incaran lelaki hidup belang". ucap Pablo
"Bagus dandani secantik mungkin karena sebentar lagi pelelangan akan di mulai ". ucap Derrel dan duduk di kursi lalu meminum alkohol
"baik bos ". jawab Pablo
Sudah lama Derrel melakukan bisnis prostitusi, dan pelelangan gadis perawan Derrel lakukan satu bulan sekali. untuk mendapatkan seorang perawan yaitu dengan cara menculiknya atau ada yang datang sendiri karena ingin hidup enak dan memilih jalan salah ini.
Derrel memasuki ruangan pelelangan di sana sudah ada dua perawan yang siap untuk di lelang, tangisan yang keluar dari salah satu gadis itu tidak membuat orang orang disana merasa iba
"bos seperti gadis yang memakai baju merah itu akan membuat kita mendapatkan keuntungan yang sangat besar karena dia masih berumur tujuh belas tahun". ucap Pablo
"yang satunya itu datang sendiri atau bagaimana". tanya Derrel
"dia datang sendiri dan sudah menandatangani surat perjanjian bahwa hidupnya akan berada di club ini jika dia melanggar maka nyawa yang akan jadi taruhan". jawab Pablo
"Bagus". ucap Derrel
Derrel tidak segan segan membunuh pelacur yang berusaha kabur atau berhenti untuk menjajakan dirinya
"Hay sayang". ucap Clara dan duduk di pangkuan Derrel
"aku merindukanmu". ucap Clara sambil mengusap dada Derrel yang terbuka karena kancingnya tidak tertutup
__ADS_1
Derrel mengusap paha Clara sambil memperhatikan berjalannya pelelangan