
setelah selesai makan kini mereka sedang menunggu angkot untuk kembali ke pesantren. sebenarnya Shazia bisa saja memesan taxi tapi dia tidak ingin membuat Dea curiga apalagi dia masuk ke pesantren dalam keadaan amensia nant yang ada Dea akan bertanya dia dapat uang darimana jika memesan taxi online.
"ini tumben tidak ada anggota yang lewat sini". ucap Dea sambil melihat langit yang mulai mendung dan rintik rintik hujan mulai turun
"Sha ayo kesana". ajak Dea dan menarik tangan Shazia untuk berteduh di halte
"haduh kenapa malah hujan jika kita pulangnya telat pasti akan mendapatkan hukuman". ucap Dea
"pasti mereka tau kalau ini sedang hujan masa tidak ada kepedulian, apa kita harus menerobos ini hujan
"masalah hari ini yang memberikan surat izin keluar adalah mba Lela, mba Lela itu tidak menerima alasan apapun saat terlambat pulang". ucap Dea
"kenapa kamu tidak memilih kos saja daripada di pesantren". ucap Shazia
"kalau tinggal di kost biaya mahal Sha kalau di pesantren tidak mengeluarkan biaya apapun kecuali kebutuhan pribadi kita karena Abah menggratiskan biaya bagi anak yatim-piatu seperti ku". jawab Dea
Dea masih ingat dulu saat Abah mengajaknya untuk tinggal di pesantren, dulu saat bertemu dengan Abah saat di sedang mengamen dan di sana Abah melihat dirinya sedang di pukul oleh para preman karena storan yang di berikan kurang. awalnya Dea tidak mau karena tinggal di pesantren mengeluarkan biaya tapi ternyata tidak di pesantren itu Dea tinggal dan menempuh pendidikan sampai sekolah menengah atas secara gratis dan barulah saat kuliah dia mengikuti tes beasiswa.
"Banyak di pesantren An-nur anak anak yang seperti ku karena kebaikan Abah dan umi mereka memiliki masa depan yang jelas". ucap Dea
saat mereka sedang asik berbincang tiba tiba ada mobil yang berhenti di depan mereka. saat kaca mobil di turunkan mereka melihat kang Marto dan ustadz Ghazali
"assalamualaikum neng Dea dan neng Shazia". ucap kang Marto
"wassalamu'alaikum kang". jawab mereka secara bersamaan
"ayo masuk, pulang bareng saja ini sedang hujan sepertinya tidak ada angkot yang akan lewat". ucap kang Marto
Dea dan Shazia saling pandang
"Ayo tidak usah malu kita juga akan kembali ke pesantren". ucap kang Marto
Dea dan Shazia masuk ke dalam mobil, mereka duduk di kursi belakang sedang ustadz Ghazali ada di samping kang Marto.
"terima kasih ustadz, kang Marto". ucap Dea
__ADS_1
"iya sama sama". jawab ustadz Ghazali dan kang Marto secara bersamaan
"kami berdua pamit dulu assalamualaikum". ucap Dea
"wassalamu'alaikum". jawab ustadz Ghazali dan kang Marto
"Shazia tunggu". ucap ustadz Ghazali sehingga membuat Shazia menghentikan langkahnya dan begitu juga Dea
"ada apa ustadz". jawab Shazia dengan Ketus
"nanti setelah ashar belajar mengaji lagi". ucap ustadz Ghazali
"iya". jawab Shazia dengan malas lalu menarik tangan Dea untuk segera meninggalkan ustadz Ghazali
ustadz Ghazali hanya mengelengkan kepalanya saat melihat sikap dari Shazia
"kenapa bau parfum pria". ucap ustadz Ghazali saat mencium aroma parfum pria saat berbicara dengan Shazia
"apa tadi saat dia keluar menemui seseorang". ucap ustadz Ghazali
"iya kang". jawab ustadz Ghazali
"assalamualaikum ustadz ". ucap kang Marto
"wassalamu'alaikum kang". jawab ustadz Ghazali
kang Marto berjalan menuju ndalem dan membawa dua kantong plastik
"assalamualaikum kang ". ucap Kemala
"Waalaikumussalam neng ". jawab kang Marto
"apa itu kang ". tanya kemala
"ini pesanan Gus Faisal ". jawab kang Marto
__ADS_1
"biar saya saja yang mengantarkan ke ndalem kebetulan hari ini saya yang piket ". ucap Kemala
"tidak perlu neng biar saya sendiri". ucap kang Marto
"mending saya saja , soalnya tadi kang Marto di cari sana mbok Yem". ucap Kemala
"takutnya butuh sesuatu dan penting". sambung kemala
"ya sudah ini , kalau begitu saya mau menemui mbok yem dulu, assalamualaikum". ucap kang Marto
"wassalamu'alaikum". jawab Kemala
Kemala terseyum sambil menatap kantor plastik yang ada di tangannya lalu berjalan menuju ndalem. senyum Kemala langsung mengembang saat melihat Gus Faisal sedang duduk di teras. Kemala merapihkan penampilannya lalu menyemprotkan parfum ke bajunya yang dia bawa
"Arum pasti Gus Faisal alam melihatku". ucap Kemala dan melanjutkan jalannya
"assalamualaikum Gus". ucap Kemala
"wassalamu'alaikum" jawab Gus Faisal Tampa melihat ke arah Kemala
"ini Gus pesanan Gus, tadi kang Marto tidak bisa mengantarkan karena di panggil mbok Yem". ucap Kemala
"letakan di meja". ucap Gus Faisal
Kemala meletakkan plastik itu dan tetap berdiri disana dan memandangi Gus Faisal
"maaf saya ada urusan dan harus pergi, assalamualaikum". ucap Gus Faisal yang merasa risih saat berduaan dengan yang bukan mahramnya
"wassalamu'alaikum". jawab Kemala dengan lesu
"ishh kenapa Gus Faisal tidak melihat ke arah ku, sudah wangi juga gini yang di lihat lantai apa lantai lebih indah di bandingkan aku". ucap Kemala dan menghentakkan kakinya lalu meninggalkan Ndalem
"sungguh menyebalkan harus menggunakan cara apa agar Gus Faisal melihatku dan Syukur syukur di jadikan istri ". ucap Kemala sambil melepaskan satu persatu kelopak bunga mawar
"aish kenapa susah sekali sih". udah kemala dan meremas bunga itu lalu melemparkannya ke kolam
__ADS_1